
Sudah tiga hari Andini di rawa di rumah sakit, sampai saat ini Ia masih berharap Danang akan datang mengunjunginya namun harapannya hanya sia-sia belaka. Kenyataannya selama tiga hari disana hanya ada Arman yang begitu setia menemaninya.
"Hmm. " Gumam Andin
Arman menoleh kearah Andini, Ia melihat Andini yang sedang menatapnya.
" Ada apa Dini, apa kamu ingin sesuatu. " Tanya Arman namun Andin langsung menggeleng.
" Apa, Dia tidak pernah kemari ?. " Tanya Andin pelan.
Arman nampak berpikir dan akhirnya Ia menggeleng pelan setelah mengetahui siapa yang di maksud oleh Andin. Andin langsung menunduk menyimpan kekecewaan yang begitu mendalam, hal itu membuat Arman ikut merasakan sakit.
" Ah Dini, aku lupa ada urusan sebentar. Kamu tidak apa- apa kan kalau aku tinggal sebentar, nanti aku minta suster untuk menjagamu di sini selama aku tidak ada. "
Andini langsung mengangguk cepat, sejujurnya Ia merasa tidak enak hati karena kebaikan Arman yang harus meninggalkan pekerjaannya hanya demi menemaninya menjalani perawatan.
" Ah tidak apa - apa Mas, Mas Arman pergi saja, aku bisa sendiri kok. " Jawab Andini.
Arman bergegas menuju mobilnya dan mengemudikan nya dengan kecepatan penuh. Tanpa membuang waktu Arman segera berlari untuk menemui seseorang.
Danang terkejut ketika seseorang melemparkan sebuah foto di depannya, ternyata itu foto sang istri. Danang tersenyum melihat kedatangan sahabatnya.
__ADS_1
" Kenapa Danang, apa sebegitu bencinya kamu padanya sampai- sampai sekedar menengok nya saja kamu tidak ingin. "
Andai Arman tidak memandang persahabatan mereka, rasanya Ia ingin memberi pelajaran pada Pria yang menurutnya tidak tau bersyukur itu.
" Aku sibuk Danang, bukankah ini waktu yang tepat dan menguntungkan buat mu. Kamu bisa punya banyak waktu untuk menemaninya, siapa tau setelah ini hatinya bisa terbuka untuk mu. "
BRAAAAKKKKKK !!!!!!!
Danang terkejut karena tiba-tiba Arman menggebrak meja yang berada di depannya, saking kuatnya gebrakan itu membuat tangan Arman terluka karena meja itu terbuat dari kaca.
" Begitu dangkalnya pemikiran mu Danang, aku benar-benar kecewa padamu. Aku akui kalau aku memang begitu mencintai Andini, tapi aku tidak akan pernah merebutnya darimu apalagi membuatnya sakit hati karena berpisah darimu. Aku tahu kebahagiaan nya ada pada padamu, sedangkan kamu, lihat apa yang sudah kamu lakukan. Dia sudah begitu setia mendampingi mu selama tiga tahun ini, tapi kamu selalu saja menyakitinya. Danang, apakah pernah Andini menyakiti mu, mengecewakan mu. Apa pernah dia mengeluhkan perlakuan kasar mu selama ini, bahkan sampai Ia harus menginap di rumah sakit dan itu semua karena ulah mu. Dia memilih untuk tetap diam tanpa harus memperkarakan kepada pihak berwajib. Aku peringatkan sekali lagi Danang, jangan pernah menyia- nyiakan seseorang yang begitu mencintai kamu karena hal seperti itu mungkin tidak akan pernah datang untuk yang kedua kalinya dalam hidup mu. "
Arman mencoba mengatur nafasnya yang tersengal karena menahan amarah, suasana menjadi hening karena kedua Pria itu memilih diam. Setelah cukup lama terdiam akhirnya Arman memutuskan pergi karena Ia mengingat Andini yang kondisinya belum pulih dan di tinggalkan sendirian.
Setelah mengucapkan pesannya pada Danang, Arman bergegas kembali ke rumah sakit. Sekembalinya Arman, Danang mulai merasa tidak tenang. Berulang kali Ia mencoba fokus pada pekerjaannya namun tetap saja tidak bisa, akhirnya Ia memilih pulang.
Sampai di rumah Ia langsung di sambut oleh Asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya beserta orang-orang kepercayaannya.
" Bapak sudah pulang, apa mau makan biar Bibi siapkan. " Tawar sang asisten rumah tangga.
" Ah tidak perlu, lanjutkan saja pekerjaan Bibi, aku ingin istrahat. "
__ADS_1
Danang berdiri di depan meja rias dengan kedua tangan di letakkan di atas meja, semua ucapan Arman kembali terngiang di benaknya. Ia menarik dasinya dan melepaskan pakaiannya, kepalanya serasa ingin pecah akhirnya Ia memutuskan untuk membersihkan diri berharap beban berat nya akan hilang.
Ia mengerang dan meninju kaca yang ada di dalam kamar mandi karena bayangan kebersamaan nya selama tiga tahun tiba-tiba menari- nari di benaknya. Tidak pernah ada kebahagiaan yang Ia berikan kepada Andin, selama tiga tahun ini hanya siksaan yang wanita itu dapatkan.
Tidak sampai disana saja, Danang semakin merasa tidak tenang ketika mendapati hampir setiap sudut ruangan itu bayangan istrinya berada, bagaimana istrinya melayani nya dengan baik meskipun ujung-ujungnya yang Ia dapat hanyalah siksaan. Selera makannya pun hilang dan akhirnya Ia memilih kembali ke kamar, namun disana pun ketenangan itu tak jua Ia dapatkan.
\*\*\*
Arman menoleh kearah pintu ketika terdengar suara pintu di buka, Ia terkejut melihat siapa yang datang. Meskipun awalnya ragu namun akhirnya Danang melangkah menghampiri ranjang pasien dimana disana Andini sedang tertidur pulas.
" Dia......
" Terima kasih Arman, kamu bisa kembali. " Ucap Danang dengan suara pelan.
Arman ragu apakah Ia akan meninggalkan Andini di tangan Pria kejam seperti Danang namun mengingat keinginan Andin akhirnya Ia memilih mundur. Ia tersenyum sebelum pergi meninggalkan ruangan dimana Ia berdiri saat ini.
" Andini, aku sudah membawanya untuk mu, semoga saja kamu merasa senang. Aku selalu mendoakan untuk kebahagiaan mu, semoga setelah ini Danang bisa sedikit menghargai keberadaan mu. " Gumam Arman di sertai helaan nafas.
Danang duduk di samping ranjang pasien, Ia menatap wajah pucat Andini. Bayangan semua kesakitan yang di alami wanita itu langsung muncul seperti roll film. Tanpa sadar Danang mengulurkan tangannya dan menyentuh tangan istrinya. Ada perasaan aneh yang Ia rasakan, namun tiba-tiba Ia merasakan sesuatu, Danang menyentuh kening Andin dan mulai di hinggapi rasa khawatir.
" Tubuhnya panas sekali. " Gumamnya.
__ADS_1
Danang mencari sesuatu yang bisa Ia gunakan untuk menurunkan suhu tubuh Andin, malam itu untuk pertama kalianya Danang merawat istrinya. Berulang kali Ia memeriksa suhu tubuh Andin hingga akhirnya Ia tertidur karena rasa lelah yang menderanya.
***