
Arman terkejut mendengar pertanyaan Danang yang tiba-tiba, Ia gugup dan bingung harus menjawab apa.
" Apa maksud mu Danang ?. "
Danang tertawa kecil melihat perubahan di wajah Arman.
" Sampai kapan kamu akan seperti ini Arman, kenapa kita harus menyiksa diri dalam situasi seperti ini. "
Danang menyeruput sisa kopinya dan pergi meninggalkan Arman yang masih menatap kepergian nya dengan tatapan bingung. Di dalam mobil Danang menatap ke arah cafe, Ia kembali menghela nafas berat.
Danang mengambil ponselnya dan memandang layarnya begitu lama sebelum akhirnya Ia memutuskan menekan mode pemanggil, namun hingga kesekian kalinya nomor yang Ia tuju tetap berada di luar jangkauan.
" Asma...
" Bu. " Asma langsung memotong ucapan Ibu mertua nya.
" Kalau Ibu ingin menanyakan soal semua yang Ibu dengar saat ini, Asma tidak ingin berbohong.... Ya, semua itu benar, bukan hanya isu belaka. Tapi Bu, Asma melakukan semua itu karena Mas Angga, dia tidak benar-benar peduli pada Asma. Asma tau kalau selama ini yang ada di pikiran Mas Angga hanyalah wanita itu, wanita yang bahkan saat ini sudah bahagia bersama Pria lain. Mas Angga begitu terobsesi padanya, bahkan masih saja ingin memilikinya. Dia bahkan tidak pernah menatap ku, seolah kehadiran ku tidak ada artinya baginya. "
Bu Aminah terkejut mendengar penuturan Asma, Ia menggeleng pelan. Jujur Ia menyayangkan sikap menantunya itu.
" Asma, selama ini Ibu selalu mendukung mu, bahkan tidak jarang Ibu menomor duakan yang lain. Tapi kali ini, jujur Ibu benar-benar kecewa padamu. Kamu membuat alasan yang tidak masuk akal hanya untuk membenarkan semua perbuatan ..... mu di luar sana. "
Bu Aminah merasa malu membayangkan apa yang sudah di lakukan menantunya di luar sana, sehingga beliau begitu sulit mengatakan kata yang tepat untuk perbuatan Asma.
Di kantor, karena begitu banyaknya rumor yang beredar dan sudah menjadi konsumsi umum, bahkan menjadi topik utama di dunia maya. Hal itu berimbas pada pasar saham, Angga melamun di ruangannya menatap keluar jendela.
__ADS_1
Terdengar ketukan pintu dan Angga hanya menoleh sekilas kemudian kembali menatap keluar jendela.
" Angga, berita yang sudah terlanjur menyebar mempengaruhi pasar saham hari ini. "
" Ya, aku sudah tau. Bimo, apa kamu sudah cari akun mana yang pertama kali menyebarkan berita ini. "
Bimo mengangguk dan mengatakan siapa yang di maksud, Angga menoleh karena tidak sesuai dengan tebakannya.
" Bukan wanita itu yang menyebarkan nya, tapi tenang saja. Pelakunya sudah kami amankan dan motif pelaku adalah sakit hati karena wanitanya lebih mencintai orang lain. "
Keduanya saling pandang dengan pikiran mereka masing-masing.
Di tempat lain Andini sedang mendapatkan perawatan atas penganiayaan yang di lakukan suaminya, di temani Arman yang sejak tadi terlihat begitu mengkhawatirkan kondisinya.
" Pak, bisa bicara berdua sebentar. "
" Pak, mohon maaf. Apa Bapak dan Ibu sedang ada masalah, saya sarankan kalaupun ada masalah agar di selesaikan dengan baik- baik, jangan menggunakan kekerasan. Kalau sampai pasien membawa kasus ini ke rana hukum beserta semua bukti- bukti yang ada, saya yakin Bapak.....
" Apa maksud Dokter. " Tanya Arman.
Dokter tersenyum dan menatap pasien dan juga Pria yang di depannya bergantian.
" Maaf Dokter, sepertinya Dokter sudah salah paham. Dia bukan suami saya, mengenai luka- luka di tubuh saya sama sekali tidak ada hubungannya dengan Mas Arman atau orang lain. Semua hanya salah paham dan saya juga tidak akan memperpanjang masalah ini. "
Dokter segera menghampiri Andini di susul Arman, beliau tersenyum meskipun sedikit iba melihat kondisi pasiennya.
__ADS_1
" Ho..... mohon maaf kalau begitu Pak Arman, kalau begitu saya ijin pamit dulu. Tolong untuk lebih di perhatikan kondisi pasien, nanti akan ada suster yang datang kemari untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. "
Arman mengangguk dan mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan sang Dokter.
" Tidak apa- apa Bu, Pak. Ini sudah jadi tugas saya, mari permisi..... !! "
Arman menarik kursi dan duduk di samping ranjang pasien, Ia ingin menggenggam tangan Andin namun Andin menarik tangannya.
" Terima kasih karena sudah mengantarkan aku kemari, mohon maaf karena selalu merepotkan mu. "
Arman berusaha tersenyum mengurangi ketidaknyamanannya karena Andini menolak genggaman tangannya.
" Ah tidak jadi masalah, aku juga tidak merasa di repotkan sama sekali, justru aku merasa senang karena bisa menolong mu. "
Begitu terasa suasana canggung di dalam ruangan itu, hingga akhirnya Arman memilih pamit. Ia tau kalau sejak pagi Andini belum makan apapun untuk sekedar mengisi perutnya.
" Ah Ndin, aku keluar sebentar. Tidak ama kok, aku akan segera kembali. "
Andin mengangguk dan Arman pun bergegas keluar, Andin menatap kepergian Arman dengan tatapan kosong. Bukan Ia tidak tau bagaimana perasaan Pria itu padanya, namun cinta memang begitu rumit. Ia sudah melabuhkan cintanya pada Pria lain yang bahkan sampai di tiga tahun pernikahan mereka tidak pernah menganggapnya ada. Air mata jatuh menetes di pipinya, bayangan tiga tahun bersama Danang kembali menari- nari di benaknya.
" Apakah ada penyesalan di hatimu Mas. "
Andin memandang kearah pintu berharap seseorang yang Ia tunggu kehadiran nya datang mengunjunginya.
" Andai kamu berbohong aku juga tetap akan mempercayaimu Mas. " Gumam Andini dengan wajah sedih.
__ADS_1
Arman membeli banyak makanan serta minuman untuk Andin, meskipun hatinya selalu terluka namun sama sekali tidak melunturkan perasaannya yang sudah tertambat selama ini.