
Leony masih setia duduk di samping brangkar Ray, semalaman Ia bahkan tidak pulang dan memilih tidur di rumah sakit.
Ray perlahan membuka mata, Ia memindai sekeliling dan mendapati Leony sedang tertidur dengan menyandarkan kepalanya di ranjang pasien.
Ray memilih diam karena tidak ingin mengganggu tidur Leony, ternyata Ray salah. Leony terbangun setelah merasa ada gerakan di ranjang.
" Eh maaf, aku membangunkanmu ya. "
Ray menggeleng pelan
" Tidak, memang sudah sebaiknya aku bangun Dokter...... Leony. "
Ray membaca tag nama yang di pakai Leony.
" Ray, bagaimana perasaan mu saat ini, apa kamu merasakan sesuatu. " Ray menggeleng pelan
Leony kecewa karena ternyata kenyataan tidak sesuai dengan yang Ia harapkan. Adiknya bahkan masih sama, belum ada perubahan yang signifikan.
" Baiklah, istirahatlah. Aku keluar sebentar, kalau ada apa-apa tekan saja tombol di samping mu itu, maka Dokter akan langsung datang untuk memeriksa mu. "
Leony melangkah keluar, Ia mengingat percakapannya dengan Ray. Berharap Adiknya itu akan mengingat dirinya sebagai seorang kakak.
" Ah iya halo Abang. " Leony menerima panggilan telpon dari sang Kakak.
" Ya sudah Abang, terserah Abang saja. "
Leony menutup panggilan masuk dan kembali keruangannya. Sean berlari kecil ketika memasuki area rumah sakit, Ia langsung ke ruangan sang Adik.
" Masuk. "
Leony langsung mempersilahkan seseorang yang mengetuk pintu dan ternyata itu adalah Sean.
Sean memperhatikan raut wajah Adiknya.
" De, jangan di paksakan. Kalau kamu merasa lelah maka istrahatlah. Kamu selalu memperhatikan kesehatan orang lain, sementara kesehatan mu sendiri kamu abaikan. Abang tidak ingin kalau sampai kamu sakit. "
Leony tersenyum, memang benar. Semalaman Ia menjaga sang Adik sampai siuman. Berharap Ray bisa mengingatnya namun ternyata Ia salah.
" Sudahlah, ini untuk mu De, ayo sarapan dulu. "
Sean memberikan salah satu kotak nasi pada Leony, Leony menerimanya dan membukanya perlahan.
" Abang, apa Abang sudah makan. " Tanya Leony lagi
Sean mengangguk, Ia duduk di kursi sambil memperhatikan Adiknya yang tengah menikmati sarapannya.
" De, bagaimana kabar Lion, apa sudah ada perkembangan. "
Raut wajah Leony langsung berubah murung dan hal itu sudah membuat Sean mengerti jawabannya.
__ADS_1
" Ya sudah De, tidak apa- apa. Pelan- pelan saja, nanti juga dia akan ingat siapa dirinya yang sebenarnya. "
Leony mengangguk dan kembali menyantap sisa sarapannya.
" De ikut Abang nggak, kita keruangan Lion. Kasihan, dia juga belum sarapan. "
Leony sedang enggan menemui saudaranya itu alhasil Sean pergi seorang diri.
" Hai, bagaimana kabarmu. " Tanya Sean langsung ketika tiba di ruangan Ray.
Ray menatap wajah Sean dengan insten
" Sudah tidak apa-apa, sekarang lebih baik kamu sarapan dulu. Ini tadi aku bawakan sarapan dari rumah. "
Sean membantu Ray untuk bangun dan duduk dengan benar, agar sang Adik bisa menikmati sarapannya dengan nyaman.
" Kamu harus makan yang banyak ya, biar cepat pulih dan balik ke rumah. "
Ray memandangi wajah Sean yang berbicara tanpa menatapnya, Ia sibuk menata sarapan untuk dirinya.
Sungguh jauh dari kata Pria dingin dan juga menyeramkan seperti yang kebanyakan orang katakan. Pria yang ada di hadapannya adalah Pria yang hangat.
" Silahkan di nikmati, aku ambilkan minum dulu. Tadi lupa beli. "
Sean melangkah keluar namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara sang Adik kecil yang telah lama di nantinya selama ini.
Sean mengangguk dan tersenyum, ketika hendak melangkah lagi Ia kembali di kejutkan dengan panggilan sang Adik.
" Abang Alex, benarkah itu Abang. "
Jantung Pria dewasa berumur dua puluh delapan tahun itu bergemuruh, nama kecilnya dulu yang hanya di pakai untuk seseorang ternyata bisa Ia dengar lagi.
Sean melangkah cepat menghampiri sang Adik, matanya sudah memerah karena menahan haru.
" Kamu panggil apa tadi, coba ulang lagi. Apa Abang salah dengar. "
" Abang Alex. "
Sean langsung memeluk tubuh Adik kecilnya, Ia tidak bisa mengukur bagaimana perasaannya saat ini.
" Alhamdulillah akhirnya kamu ingat Abang, Abang senang ingatan mu sudah kembali. " Senyum bahagia terukir di wajah Sean.
Sean mengacung- acungkan satu jarinya kedepan, Ia begitu bahagia hingga sulit untuk berbicara.
" Kakak mu pasti senang kalau dia tau kamu sudah mengingatnya, kamu tau kalau tadi dia begitu sedih dan murung karena kamu tidak juga mengingatnya. "
Kening Ray berkerut, Ia belum konek dengan apa yang di katakan Sean.
" Kakak, maksud Abang siapa. "
__ADS_1
Sean tertawa kecil, Ia menyentuh kening sang Adik, takut Ray sedang demam jadi lupa.
" Maksud Abang, em..... kamu ingat Rang- Rang, bukankah dia Kakak perempuan mu. Apa kamu benar-benar melupakannya De. "
Ray mencoba mengingat sebagian memorinya dan akhirnya Ia bisa mengingat momen dirinya bersama kakak perempuannya yang bernama Rang- rang.
" Ah iya Abang, Lion ingat. Sekarang dimana dia Abang. " Tanya Ray.
Dari balik pintu rupanya sedari tadi Leony mendengar namanya di sebut.
" Kakakmu selalu ada di dekatmu, bahkan semalaman menjagamu disini. " Jawab Sean.
Ray terkejut mendengar penuturan Sean, ternyata Ia selama ini begitu dekat dengan kedua saudaranya tapi kenapa Ia baru ingat.
" Jadi Dokter Leony adalah.....
" Kakak mu Adikku yang nakal. "
Sean dan Ray menoleh kearah pintu, nampak Leony yang melangkah kearah keduanya.
" Kak Rang- Rang. "
Sean memandang Leony, ternyata sang Adik tidak marah. Coba tadi nama itu Ia yang sebutkan, pasti sang Adik sudah protes.
" Iya lion, sini peluk kakak. "
Leony langsung memeluk sang Adik, air mata menetes di wajah cantiknya.
" Maafkan Lion Kak, Lion tidak mengenali Kakak. "
Leony mengelus punggung sang Adik berulang-ulang.
" Tidak apa- apa De, ini bukan salahmu juga. Kamu kan memang tidak mengingat apapun, seharusnya kami yang minta maaf karena kami tidak menemukanmu di kecelakaan itu. Itu semua karena mereka mengatakan kamu sudah meninggal, tapi nyatanya tidak. Maaf karena sudah menempatkan mu dalam kesulitan selama bertahun-tahun. "
Ray menggeleng, Ia tau kalau ini adalah musibah. Tidak ada seseorang pun yang mau melihat saudaranya kesulitan.
Akhirnya ketiganya berpelukan dan melepas rindu satu dengan yang lain.
" Sudah- sudah, sekarang waktunya sarapan. Biar kakak yang suapin. "
Ray menolak dan ingin makan sendiri, namun Leony tetap bersikeras menyuapi Adik laki-lakinya itu.
Sedangkan Sean hanya tersenyum melihat dua harta titipan mendiang orang tuanya. Harta yang harus Ia jaga sepenuh hati sebagai seorang kakak tertua.
Di tangan Leony, Ray di rawat dengan sempurna.
Di tempat yang berbeda, Albert sedang menerima amukan dari Robert. Pria itu marah besar karena Albert tidak bisa menjalankan tugasnya dan malah jatuh cinta.
Dari awal sudah mereka sepakati bersama, bahwa siapapun dari mereka tidak boleh ada yang memakai perasaan apalagi sesuatu yang namanya cinta.
__ADS_1