
Angga terus mencoba menghubungi Naya yang sampai saat ini tak kunjung memberi kabar, sekarang Ia semakin kecewa karena nomornya kini sudah tidak aktif lagi.
" Bagaimana Mas, apa sudah ada kabar. " Tanya Asma dan Angga pun menggeleng.
" Jangankan kabar, sekarang nomornya pun benar-benar tidak aktif lagi, maaf Asma, tapi Mas harus menyusulnya kesana, Mas tidak ingin sesuatu terjadi padanya. "
Asma terkejut, Ia mengepalkan tangannya kuat.
" Sial, kenapa tidak mati saja sih, merepotkan saja. " Batin Asma.
Asma mengejar langkah Angga dan terus memanggilnya, karena fokus melihat kedepan tanpa sengaja Ia menabrak pinggiran brangkar.
" Awww Mas, Mas Angga..... sakit....... ! " Rintihnya tertahan sembari memegang perutnya yang sakit.
Ia melihat kakinya ada darah mengalir, hal itu membuatnya panik dan semakin berteriak.
" Mas....... Mas Angga, sakit...... tolong Mas.....! "
Angga menoleh ketika mendengar namanya di panggil, Ia kembali masuk karena takut sesuatu terjadi pada Asma. Ternyata benar, Ia melihat Asma yang meringis kesakitan dan berpegangan erat pada sisi ranjang.
" Asma, sayang. Kamu kenapa, kamu tidak apa- apa kan ?. "
Asma yang merasa kesakitan akhirnya tidak dapat lagi menahan bobot tubuhnya dan jatuh tersungkur, Angga dengan cepat menahan tubuh Asma agar tidak jatuh ke lantai.
Dalam keadaan panik Angga berteriak meminta pertolongan, apalagi melihat darah yang mengalir di kaki Asma membuatnya semakin khawatir.
" Dok, Dokter...... tolong. ! Dok...... ! " Teriak Angga.
Ia menepuk-nepuk pipi Asma pelan, dengan berlinang air mata Angga mengutarakan penyesalannya pada Asma.
" Sayang, maafkan Mas. Maaf, kamu harus bertahan. "
Beberapa Dokter dan Suster tiba di ruangan Asma, mereka membantu mengangkat tubuh Asma keatas ranjang rumah sakit.
" Kenapa ini bisa terjadi Pak. " Tanya Dokter Husna, Dokter yang menangani Naya dan juga Asma.
Angga yang sudah frustasi berulang kali menggeleng seperti orang linglung.
" Tolong selamatkan janinnya Dok. "
Dasar nggak ada akhlak, bukannya meminta menyelamatkan Ibunya atau keduanya, Angga justru hanya menyebutkan janinnya saja. Seolah mengabaikan keberadaan Ibunya.
__ADS_1
" Maaf Pak, sebaiknya Bapak tenang disana atau Bapak bisa keluar untuk saat ini, agar kami bisa memeriksa dan memberikan penanganan optimal pada pasien "
Angga tidak ingin meninggalkan Asma sendiri, Ia ingin tetap berada disana sampai Suster terpaksa memintanya untuk duduk.
" Maaf Pak, sebaiknya Bapak duduk disana saja agar Bu Asma segera ditangani. "
Angga akhirnya menyerah, Ia melangkah dan duduk di salah satu kursi yang ada di dalam ruangan itu.
Air matanya terus mengalir, menyesali semua yang Ia lakukan. Andai tadi Dia tidak memaksakan kehendaknya untuk mencari Naya, andai tadi Dia tetap disamping Asma pasti Istrinya itu akan baik- baik saja.
Dokter nampak sibuk dengan tugasnya masing-masing, semua itu tidak luput dari pantauan Angga.
Di tempat lain.
Naya memilih diam setelah mendapat tatapan menyeramkan dari Sean, Ia juga bingung kenapa tiba-tiba bayangan kata singa muncul di benaknya. Tapi yang lebih bingung lagi adalah, kenapa sampai Pria itu marah padanya hanya karena Ia mengatakan singa.
" Sudahlah Sean, maafkan Dia. Dia memang suka ngomong aneh tiba-tiba, tapi jangan terlalu galak- galak padanya. "
Dimas sampai melupakan sesuatu yang sangat penting, Ia segera bertanya pada Naya mengenai kondisinya.
" Naya, apa kamu merasakan sesuatu. Maksudku bagaimana keadaan mereka, apa mereka baik- baik saja. "
Hanya Naya yang mengerti maksud Dimas sedangkan Sean hanya menatap keduanya bingung.
Akhirnya Dimas mengatakan yang sebenarnya pada Sean perihal kondisi Naya, bahwa saat ini Ia sedang mengandung dengan dua bayi kembar.
Di rumah sakit, Bu Aminah melangkah dengan cepat. Ia langsung ke rumah sakit setelah mendengar kondisi Asma. Beliau langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
" Ibu. " Angga langsung mendongakkan wajahnya ketika mendengar pintu terbuka.
Bu Aminah langsung menyerangnya dengan berbagai macam pertanyaan.
" Angga, apa yang sudah kamu lakukan. Kenapa ini sampai bisa terjadi padanya, bukankah Ibu memintamu agar menjaganya dengan baik. "
Angga hanya bisa menduduk, ini memang adalah murni kesalahannya. Andai Ia lebih bersabar dan menunggu orang suruhannya datang dan membawa kabar tentang Naya, mungkin mereka tidak akan mengalami kejadian menegangkan seperti ini.
" Iya Bu, maafkan Angga. Ini semua memang kesalahan Angga. Angga tadi memaksakan diri untuk mencari keberadaan Naya, Asma mengejar Angga sampai perutnya terbentur pinggiran ranjang. Tapi alhamdulillah Bu, Allah masih berbaik hati dan Asma serta bayi kami masih bisa diselamatkan. Hanya saja kata Dokter, hal ini tidak boleh terulang lagi kalau tidak ingin kehilangan mereka. "
Bu Aminah langsung marah mendengar penjelasan Angga.
" Apa maksudmu Angga, mencari Naya. Naya lagi, Naya...... lagi, kenapa lagi dengannya. Kenapa wanita mandul itu selalu buat masalah di keluarga kita, sampai- sampai kalian hampir membahayakan cucu Ibu Angga, Ibu tidak ingin mendengar apapun tentang wanita itu lagi. Sepertinya sekarang kamu harus mengambil keputusan padanya, ini semua demi kebaikan cucu Ibu. Penerus keturunan Wardana. "
__ADS_1
Angga masih tidak mengerti apa yang dimaksud Ibunya itu.
" Ibu, Naya hilang. Ada yang menemukan mobilnya hangus terbakar di pinggir jalan, namun tidak menemukan korban di tempat kejadian. "
Bukannya prihatin, Bu Aminah justru tersenyum bahagia.
" Ya sudah, kalau dia hilang itu malah lebih bagus. Untuk apa kamu harus mencarinya lagi, bila perlu kamu harus mengambil keputusan untuknya. Angga, cepat kamu ceraikan Naya dan menikahi Asma secara sah. "
Bagai petir disiang bolong, Angga terkejut mendengar ucapan Ibunya. Bagaimana mungkin Ibunya sendiri menyarankan dirinya untuk menceraikan Istri pertamanya, wanita yang Ia cintai dan sudah membersamainya selama puluhan tahun lamanya.
" Ibu, Ibu bicara apa. Apa Ibu sadar dengan semua yang Ibu katakan saat ini. Ibu, terlepas dari kekurangannya karena tidak bisa memberi keturunan, Naya tetaplah Istri yang baik. Dia tidak pernah melakukan kesalahan apapun selama ini, bahkan melakukan semua tugas yang tidak seharusnya Ia lakukan. Itupun dilakukannya dengan tulus tanpa pernah mengeluh, lalu kenapa Ibu tega meminta Angga menceraikan nya. "
Bu Aminah yang sudah diliputi kekecewaan pada menantunya itu, seakan menutup mata hati dan juga melupakan semua kebaikan Naya selama ini.
" Lalu apa mau mu Angga, apa kamu akan terus membiarkan semua ini terulang dan bisa saja hal paling buruk yang akan terjadi kedepannya. Apa kamu mau kelihangan anakmu dan tidak akan bisa memiliki anak seumur hidupmu, begitu maumu. Angga, ingat. Wanita hamil itu sensitif dan ingin selalu di beri perhatian. Saat ini perhatian mu terbagi dua, apa kamu pikir Asma tidak sakit hati. "
Angga mengusap wajahnya kasar, niatnya menikah adalah hanya ingin memiliki keturunan. Tidak pernah terlintas di benaknya kalau hidupnya akan serumit ini.
" Mas...... ! "
Bu Aminah dan Angga segera menoleh ke asal suara, ternyata itu adalah suara Asma yang sudah mulai siuman.
" Nak, kamu sudah sadar sayang. Bagaimana perasaanmu sekarang, apa perutnya masih sakit. " Tanya Bu Aminah.
Asma memandang Ibu mertuanya dan juga Angga bergantian, dengan air matanya yang mulai membasahi pipinya.
" Mas, Mbak Naya mana. Apa sudah ada kabarnya. " Tanya Asma.
Bu Aminah melirik Angga sedangkan Angga nampak mengelus kepala Asma pelan.
" Sudah sayang, tidak usah pikirkan yang lain. Fokus pada kesehatanmu dan juga calon bayi kita, beruntung yang kuasa masih berbaik hati pada kita sehingga Dia baik- baik saja. Tapi Dokter mengatakan agar kamu lebih hati- hati, jangan sampai hal ini terjadi lagi kalau tidak ingin kehilangannya. "
Asma menatap lurus kedepan, air matanya masih jatuh membasahi pipinya.
" Bagaimana aku bisa tenang dan fokus padanya kalau psikis ku terganggu, sepertinya lebih baik Asma kembali ke Banjarmasin saja. Asma ingin sendiri dan hidup bersama bayi Asma agar Mas bisa fokus dengan Mbak Naya tanpa gangguannya dari Asma. Asma takut kalau terus seperti ini, Asma akan kehilangan calon bayi Asma. Asma tidak ingin hal ini terjadi, biarlah Asma hidup sendiri dengan tenang daripada Asma terus berada disini dan kehilangan bayi Asma. "
Bu Aminah dan Angga nampak terkejut, tentu saja mereka tidak ingin jauh apalagi kehilangan satu- satunya penerus Wardhana.
" Jangan seperti ini Asma, Mas tidak suka mendengarnya. Kamu akan tetap disini sampai anak kita lahir. "
Berbeda dengan Angga, Bu Aminah justru kembali menyalahkan Angga atas semua yang sudah terjadi.
__ADS_1
" Kamu dengar kan Angga, apa yang Ibu katakan. Ibu tidak mau kehilangan Asma dan juga calon cucu Ibu, baiklah kalau begitu. Kalau Asma ingin ke Banjarmasin maka Ibu juga akan ikut dengannya. Biar Ibu saja yang merawat cucu Ibu sendiri disana. "
Angga di buat dilema dengan keputusan apa yang harus Ia ambil saat ini, keduanya sangat berarti baginya. Jujur kalau di suruh memilih, maka ini adalah pilihan yang sangat sulit untuknya.