Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 54 Usahakan Cepat Hamil


__ADS_3

Waktu yang seharusnya bisa di tempuh satu jam lebih perjalanan, karena macet membuat Angga baru tiba jam empat sore, Ia bergegas memarkirkan mobilnya dan turun di depan rumah Umi Rahayu.


Angga memanggil- manggil nama Kanaya dan juga Umi Rahayu, Ia juga membunyikan bel dan juga gembok namun tidak ada pergerakan apapun dari dalam rumah.


" Kemana Kanaya dan juga Umi, kok nggak ada orang dan ini kenapa pakai di gembok segala. " Gumam Angga.


Ia tidak putus asa dan terus memanggil wanita yang pernah menghabiskan waktu sepuluh tahun bersamanya itu.


" Mas, sini dulu sebentar. "


Angga memanggil seorang Pria yang nampak baru akan masuk ke rumahnya.


" Iya Pak , maaf ada apa ya. "


" Ah ini, apa kamu kenal sama yang punya rumah ini. "


Angga bertanya dan Pria itu mengangguk karena mereka memang tetanggaan.


" Iya Pak, siapa yang nggak kenal sama Umi. Satu kampung disini juga kenal semua Pak. "


Angga tersenyum, benar juga. Keluarga Naya juga termasuk orang terpandang, tentu banyak yang mengenal mereka.


" Oh gitu, maaf ya mau nanya nih. Apa kamu tau dimana perginya Umi dan juga Naya. "


Si Pria menggeleng, Ia tidak tau cerita yang sebenarnya


" Maaf Pak, saya tidak tau. Tapi rumah ini memang sudah kosong semenjak delapan atau sembilan bulanan yang lalu. Lebih tepatnya saya lupa. "


Angg lama terdiam mencoba menebak kemana perginya Kanaya dan juga Uminya.


" Delapan atau sembilan bulan, bukannya itu bulan dimana Naya meninggalkan rumah. Apa mereka langsung pindah rumah waktu itu juga, tapi kenapa. Apa jangan- jangan Naya sengaja ingin menghindari ku. " Batin Angga.


Ketika Ia menoleh ternyata dirinya tinggal seorang diri disana, Pria yang tadi sudah pulang kerumahnya.


" Ah sial, kemana mereka. Aku harus mencari mereka, dia tidak bisa seenaknya melakukan ini padaku. Bagaimana bisa Dia sengaja menghalangi aku untuk bertemu dengan darah dagingku sendiri. "


Angga memutari kota Bogor dengan mulut komat kamit, Ia mencari tempat- tempat keramaian yang mungkin saja bisa menemukan Naya atau mendapat sedikit petunjuk tentang dimana keberadaan Istri tuanya itu. Sayang sekali, sampai adzan magrib berkumandang Ia tidak menemukan apapun.

__ADS_1


Akhirnya Angga memutuskan mencari hotel terdekat dari kediaman lama Naya, hal itu sengaja Ia lakukan. Berharap kalau ada yang datang kerumah itu dan memberitahu keberadaan mantan Istrinya itu.


Angga menyewa salah satu kamar, Ia duduk melamun di sofa. Lama terdiam Angga baru ingat kalau ponselnya Ia matikan sejak tadi.


Baru saja ponsel di hidupkan sudah ada panggilan masuk dan setelah di cek ternyata itu dari Ibunya.


" Angga, kamu dimana saja Nak. Dari tadi Ibu telpon tapi ponselmu tidak pernah aktif. "


Bu Aminah mendengarkan apa yang di katakan Angga, sementara di sampingnya Asma sudah tidak sabar ingin berbicara dengan suaminya itu.


" Lalu bagaimana sekarang Nak, apa kamu sudah bertemu dengan mereka. " Tanya Bu Aminah lagi.


"........ "


" Iya Nak, sebaiknya kamu pulang saja dulu. Soal Naya kita bisa cari sama- sama nanti. "


Asma merebut ponsel dari tangan Ibunya namun sayang ketika Ia ingin berbicara ponsel nya sudah tidak tersambung lagi.


" Ah sial. "


****


Karena tidak menemukan keberadaan Naya akhirnya Angga memutuskan kembali ke Jakarta, Ia kembali dengan wajah uring-uringan.


" Kemana aku harus mencari Dia. Ah iya, Dimas atau Aulia. Ya, mereka berdua pasti tau keberadaan Naya sekarang. Aku akan tanyakan pada mereka saja. " Gumam Angga.


Baru juga menginjakkan kaki di rumahnya, Angga sudah di sambut dengan lengkingan suara dari Asma. Tangannya juga ditarik paksa masuk kedalam kamar.


" Apa- apaan ini Mas, kenapa kamu begitu tega melakukan semua ini padaku Mas. Kalian sudah bercerai, kenapa Mas masih repot- repot mencari wanita itu. Apa Mas tidak memikirkan bagaimana perasaan ku ketika mengetahui kalau suamiku buru- buru pergi hanya untuk mencari mantan Istrinya. "


Angga yang sudah frustasi dan juga kecewa karena tidak menemukan keberadaan Naya, saat ini di tambah lagi Asma yang langsung menyerangnya membuat Ia tak dapat menahan amarahnya.


" Apa hak mu melarang ku bertemu dengan anakku sendiri, kamu saja yang tidak berguna. Ingat Asma, diantara kami berdua belum ada putusan cerai, dia masih Istriku yang sah, karena baik aku ataupun Naya belum ada yang menggugat cerai ke pengadilan. Aku peringatkan padamu Asma, jangan pernah mengingatkan ku tentang bagaimana perasaan mu ketika aku mencari Istriku. Mungkin ini karma untuk mu. "


Maling teriak maling, penjahat membicarakan tentang karma. Ia tidak tau kalau saat ini ternyata dirinyalah yang tengah menuai kurma manis.


" Ini, bukankah ini yang kamu mau. Sudahlah Asma, selama kamu belum bisa memberikan keturunan untuk ku jangan pernah kamu coba untuk bermanja-manja padaku. "

__ADS_1


Angga menghempaskan dua gepok uang berwarna merah di depan wajah Asma.


" Itu uang yang kamu inginkan semalam kan, ambillah. Pergilah kemana pun kamu mau, silahkan belanjakan semuanya semaumu. "


Asma mengambil sejumlah uang yang di berikan Angga untuknya.


" Mas, aku membutuhkan kamu bukan uangmu. Bagaimana aku bisa memberimu keturunan kalau kamu sendiri bahkan jarang menyentuh ku. "


Angga menatap Asma, memang bagaimana caranya Ia berhubungan agar cepat memperoleh keturunan.


" Apa maksud mu Asma, apa yang kita lakukan tiap hari ini masih kurang untuk mu. " Tanya Angga.


Asma mengangguk, Ia harus mencari alasan yang tepat untuk suaminya.


" Kamu harus melayani ku setiap saat aku ingin, karena bayi itu akan hadir ketika kita sama- sama melakukan nya dengan penuh cinta. "


Mendengar apa yang di ucapkan Asma, Angga langsung mendorong tubuh Asma ke atas ranjang. Tanpa meminta ijin terlebih dahulu Angga langsung menyerang Istrinya dengan ciuman kasar.


Ciuman yang awalnya lembut kini menjadi ciuman penuh gairah, Angga yang tengah di selimuti amarah langsung melepas satu persatu pakaian yang melekat di tubuh Asma dan juga dirinya sendiri.


Asma yang takut suaminya meninggalkannya, akhirnya memilih melayani keinginan suaminya itu.


Asma hanya bisa menjerit dengan suara tertahan ketika Angga menghujamkan pusaka miliknya dengan kasar pada bagian intinya.


" Ah ya Mas, lebih dalam lagi Mas. " Jerit Asma tertahan ketika Angga dengan kuat menghujamnya tanpa ampun.


Siang itu mereka melakukannya entah sudah yang keberapa kalinya, Angga benar-benar membuktikan keperkasaannya dengam cara menggempurnya tanpa ampun.


" Bagaimana apa masih kurang Asma, usahakan agar kamu bisa hamil secepatnya. Kalau kamu tetap tidak hamil juga, maka jangan salahkan aku kalau sampai kamu mengalami hal yang sama dengan yang Naya rasakan. "


Angga turun dan mengambil satu persatu pakaiannya yang berserakan di lantai, Ia ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu Ia keluar kamar karena perutnya sejak tadi sudah keroncongan, semua tenaganya seakan sudah terkuras habis karena melayani istrinya dengan perasaan penuh amarah.


Sementara Asma juga memutuskan membersihkan diri, Ia memandang pantulan dirinya di cermin.


" Bagaimana caranya agar aku bisa hamil dalam waktu sesingkat ini. Ah semoga saja ramuan yang di berikan Dokter itu manjur, agar aku tetap bisa berada disini. "


Asma keluar untuk mencari suaminya, namun tidak Ia temukan. Di meja makan pun hanya ada Ibu mertuanya yang sedang menikmati makan siangnya.

__ADS_1


__ADS_2