Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 95 Pembatalan kerja sama


__ADS_3

Susi menemani Bu Aminah ke pasar, maklum Ia masih baru di kota itu jadi belum tau seluk beluk kota besar. Bu Aminah juga tau itu, makanya kali ini beliau sengaja mengajak Susi berbelanja, agar kelak asisten rumah tangganya itu bisa pergi sendiri kalau ada bahan bulanan yang habis.


Susi memandang ke arah luar, Ia memperhatikan setiap jalan yang mereka lalui. Tiba-tiba di pertengahan jalan perhatian Susi tertuju pada seseorang.


" Bukankah itu..... !! " Gumam Susi.


" Ada apa Sus, itu apa ?" Tanya Bu Aminah yang ternyata mendengar gumaman Susi.


Susi masih memperhatikan seseorang yang Ia yakin sangat Ia kenali.


" Ah nggak kok Bu, bukan apa- apa. Saya salah lihat saja Bu. " Jawab Susi mencoba tenang.


Susi mencoba mengusir berbagai dugaan yang muncul di benaknya.


" Pak, kita ke supermarket terdekat saja, nggak jadi ke pasar. "


Pak satpam yang merangkap sebagai supir hanya mengangguk dan mengikuti apa yang di perintahkan oleh majikannya.


Bu Aminah begitu nyaman berbelanja bersama Susi, meskipun Susi hanyalah seorang asisten rumah tangga namun Bu Aminah memperlakukan nya dengan baik.


Sudah lebih dari tiga puluh menit mereka keliling- keliling, mencari semua yang di butuhkan.


" Bu, apa saya bisa ijin sebentar. "


Susi memberanikan diri bertanya karena Ia tidak punya waktu untuk mencari tempat pengiriman terdekat.


" Ijin ? ijin apa Sus ? " Tanya Bu Aminah lagi.


" Ah ini Bu, saya ingin kirim sedikit uang untuk biaya sekolah adik saya di kampung. "


Kebetulan tempat yang Ia maksud berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.


" Tentu saja boleh dong, apa kamu punya uangnya. Ah ini, tunggu sebentar. "


Bu Aminah merogoh tasnya, hendak mengambil beberapa lembar ratusan namun Susi menolaknya.


" Tidak usah Bu, saya masih punya uang simpanan. Ini juga cukup. "


Akhirnya Bu Aminah memasukkan kembali ke dalam tas miliknya dan menunggu Susi di mobil.


Susi menatap uang di tangannya, sepuluh lembar ratusan yang tadi pagi di berikan Angga padanya.


" Sudahlah aku pakai saja uangnya, lagipula saat ini Sanah dan juga Nenek begitu memerlukan uang ini. "


Susi mengirimkan semua uang dari Angga dan kembali menemui Bu Aminah. Sampai di rumah Susi menyusun semua barang belanjaan mereka di dalam kulkas, tiba-tiba Ia teringat kembali pada kejadian beberapa jam lalu.

__ADS_1


" Aku yakin tadi itu Bu Asma, tapi kemana dia. Bukankah tadi itu hotel, apa Bu Asma ada pekerjaan disana. Ah sudahlah, bukan urusan ku juga. " Batin Susi kemudian.


Di kantor Angga justru senyum- senyum sendiri mengingat kejadian pagi tadi.


" Angga, sadarlah dia itu hanya seorang pembantu di rumah mu. Tapi Angga, dia cantik juga loh, duh...... apa aku sudah gila. "


Erlangga gelisah sendiri, Ia mengelus bibirnya yang masih terasa manis bekas Ia melu*** bibir seksi milik pembantu nya.


Tiba-tiba pintu di buka tanpa di ketuk terlebih dulu, Angga terkejut karena ada orang yang mengganggu lamunannya.


" Bimo !! Ada apa, tidak biasanya kamu masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. "


Bimo menyadari kesalahannya namun karena Ia juga sedang membawa berita yang boleh di bilang tidak baik jadi Ia mengabaikan ucapan Angga.


" Maaf Pak, tapi saya punya kabar buruk. " Ucap Bimo dengan wajah serius.


" Kabar buruk ? Kabar apa itu, cepat katakan. "


" Ini soal perusahan Mitra Abadi. "


Angga mendengarkan apa yang di sampaikan oleh sekertaris nya.


" Mitra Abadi ! maksudmu perusahaan yang baru saja bekerja sama dengan kita, begitu. " Tanya Angga.


" Mereka tiba-tiba menolak bekerja sama dengan perusahaan kita, dengan alasan semua bahan baku yang kita punya tidak sesuai dengan standar pasaran. "


Angga terkejut mendengar ucapan Bimo


" Bagaimana mungkin, mereka tidak bisa seenaknya seperti ini. Kita akan rugi besar, aku harus menemui mereka sekarang. Mereka tidak bisa seenaknya saja seperti ini. "


Angga mengambil ponsel dan juga kunci mobilnya hendak berlari keluar, namun Bimo menahannya.


" Tunggu Pak, sepertinya percuma saja kita menemui mereka. "


Angga menghentikan langkahnya dan menoleh dengan kening berkerut.


" Apa maksud mu Bimo, aku harus menemui pemiliknya dan meminta pertanggung jawaban darinya. Mereka harus ganti rugi atas semua biaya yang sudah kita keluarkan karena mereka yang memutuskan kerja sama secara sepihak. "


Bimo menggeleng pelan


" Pak, sepertinya ini memang di sengaja. Mereka memang sudah berniat sejak awal untuk menjatuhkan kita. " Ucap Bimo lagi.


" Apa maksud mu ? " Tanya Angga.


" Iya Pak, pemilik perusahaan itu adalah Alvaro Adijaya. Mereka masih kerabat dekat dengan pemilik perusahaan LBS, Sean Alexander Prawijaya. "

__ADS_1


" Apa !!! Sean, pria brengsek itu. "


Angga menggebrak mejanya karena geram, wajah serta matanya memerah. Dendamnya kembali muncul mengingat semua yang sudah Pria itu perbuat padanya.


" Dia lagi, dia sudah merebut semua yang aku punya. Istriku, perhatian anak- anak ku. Ternyata dia belum puas juga, sekarang dia ingin menghancurkan perusahan ku yang aku bangun mati- matian dari nol. "


Bimo hanya diam saja, Ia tidak berani mengeluarkan sepatah katapun. Pria itu tau bagaimana watak atasannya itu, bagaimana pun juga dia yang selama ini sudah menemani Angga mulai dari awal memulai bisinisnya hingga sekarang.


Angga berlari keluar meninggalkan Bimo yang juga ikut berlari mengejarnya.


" Pak, eh Angga ! kamu mau kemana. "


Karena bingung akhirnya Bimo memanggil nama Angga tanpa embel- embel Bapak lagi.


" Bimo, kamu tunggu disini saja. Aku keluar sebentar, tidak lama kok. "


Akhirnya Bimo pun mengangguk dan kembali ke ruangannya, meskipun Ia sendiri khawatir. Angga mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, beberapa kali mulutnya mengumpat saat terjebak kemacetan.


Sampai di sebuah rumah mewah Angga menghentikan mobilnya, Ia keluar dengan tergesa-gesa. Ia membunyikan bel berulang kali hingga dia orang Pria berlari ke arah pintu gerbang.


" Oh Pak Erlangga. " Ucap salah satu yang mengenali siapa Angga sebenarnya karena Angga sudah beberapa kali berkunjung ke rumah mewah itu.


" Buka pintu nya Pak, aku ingin bertemu dengan Kanaya. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan, tidak perlu menghubunginya karena kami memang sudah janjian sebelumnya. " Ucap Angga berbohong


Satpam mengerutkan keningnya, Ia nenantap Angga dengan tatapan bingung.


" Maaf Pak, tapi Ibu Kanaya..... "


Belum selesai Pria itu berucap, dari depan muncul sebuah mobil mewah berwarna merah, dengan cepat satpam membuka pintu pagar dan Angga juga sedikit menghindar memberi jalan untuk sang pengemudi.


" Mas Angga, ada hal apa yang membuat dia kemari. " Gumam Naya.


Ia turun dari mobilnya, Angga yang melihat kalau yang baru saja keluar dari mobil mewah itu adalah Kanaya, langsung berlari mendekat.


" Ada perlu apa Mas. " Tanya Kanaya.


" Aku ingin bertemu dengan pria brengsek itu, katakan padaku dimana dia. "


Kanaya tidak mengerti apa yang di maksud oleh Angga.


" Pria brengsek, maksud Mas siapa. " Tanya Kanaya.


" Siapa lagi, dimana kekasih mu itu. Aku ingin bertemu dengan nya dan membuat perhitungan dengan nya. "


Kanaya tersenyum canggung, Ia tidak menduga kalau Angga akan mencari Sean dan mengatakan kalau Pria itu adalah kekasihnya.

__ADS_1


__ADS_2