
William, Haris dan juga Sean sedang berada dalam satu ruangan, ketiga Pria tampan yang nggak ada obatnya itu tengah membicarakan sesuatu hal yang sangat penting.
" Apa ini. " Tanya Sean memandang kedua orang kepercayaannya dan juga berkas yang ada di tangannya secara bergantian dengan wajah serius.
Haris yang cenderung mudah bicara di bandingkan Williams nampak manggut-manggut sebelum angkat bicara.
" Kami menemukan bukti mencengangkan, bahwa ternyata pemimpin King Cobra terlibat dalam tragedi sepuluh tahun silam. "
Sean mendongakkan wajahnya menatap Haris, Ia kemudian memeriksa lembar demi lembar berkas yang ada di tangannya.
Sean tertegun melihat beberapa foto yang mengingatkannya pada tragedi mengerikan sepuluh tahun yang sudah lampau.
" Albert menyandera satu-satunya penumpang yang masih hidup pada kecelakaan waktu itu. " Jelas Haris lagi.
Sean mengerutkan keningnya
" Apa maksud mu, bukannya kecelakaan itu tidak menyisahkan satu orang pun penumpang yang hidup. "
Haris menatap penuh arti pada Williams yang sejak tadi hanya diam saja.
" Tidak semua Sean, ada tersisa satu anak laki-laki yang hidup pada saat itu. Dulu ada seorang wanita yang membawa kasus itu ke jalur hukum, tapi entah mengapa kasus itu tiba-tiba hilang begitu saja. "
Sean yang mendengar itu terkejut, dengan wajah penuh tanya Sean mencoba merangkai semuanya.
" Lionel, apa benar dia masih hidup. " Tanya Sean dengan suara hampir tak terdengar.
William dan juga Haris menjawab dengan anggukan kecil.
" Sepertinya Sean, setidaknya itu bukti yang kami dapatkan saat ini. "
***
Asma sedang serius berbicara dengan seseorang melalui sambungan telponnya.
" Jangan takut, itu hanya gertakan saja. Mereka tidak akan berani menyakitimu. "
Asma keluar rumah secara mengendap- endap, hal itu mengundang kecurigaan Bu Aminah. Bu Aminah mencoba mengikuti menantu kesayangannya itu namun tidak bisa.
" Kenapa Mas kemari, bukankah Mas yang bilang kalau ada apa-apa tinggal telpon atau kirim pesan saja. "
" Maaf, Mas kemari hanya ingin melihat mu saja, sekalian ingin memperingatkan mu agar kamu berhati-lhati. Ingat tujuan kita, jalani semua dengan baik dan satu hal lagi, jangan pakai perasaan karena jika itu sampai terjadi, kau akan tanggung akibatnya. "
Bu Aminah mencoba mengintip melalui hordeng yang di buka sedikit namun tidak nampak siapa lawan bicara Asma, Bu Aminah tidak putus asa, wanita yang sudah berumur itu mencari celah lain dan berhasil melihat seseorang yang sedang bersama Asma, tapi sayang hanya terlihat belakangnya saja.
" Dengan siapa Asma bicara, kenapa sembunyi- sembunyi seperti itu. " Gumam Bu Aminah.
Bu Aminah yang penasaran memberanikan diri keluar menemui Asma.
" Asma. "
Bu Aminah melihat kesana kemari namun tidak melihat siapapun yang mempunyai ciri-ciri seperti yang Ia lihat tadi.
__ADS_1
" I, iya Bu, ada apa. " Tanya Asma terkejut namun masih mencoba berusaha tenang.
" Aneh, jelas- jelas tadi aku melihat ada orang lain bersamanya. Kok setelah di dekati tidak ada, apa dia sudah pergi. " Batin Bu Aminah.
" Ah tidak apa- apa Nak, Ibu kira tadi ada tamu. Karena Ibu lihat tadi kamu seperti bicara sama orang lain. "
Asma mencoba tersenyum agar Ibu dari suaminya itu tidak semakin mencurigainya.
" Bicara sama orang, orang siapa Bu. Mungkin Ibu salah lihat, dari tadi Asma hanya sendiri saja disini. Asma sedang nungguin paket, tapi ternyata belum datang. "
" Oh gitu ya, ya sudah Ibu masuk dulu. Kamu hati- hati di luar, belakangan ini banyak kasus pembunuhan oleh orang tak di kenal. "
Bu Aminah memilih masuk dan masih mengintip di selah- selah gorden.
" Ahhhh, untung nggak ketahuan. Lain kali aku tidak bisa teledor lagi, jangan sampai wanita tua itu mencurigai ku. " Gumam Asma.
Asma bergegas masuk setelah Pria yang Ia temui sebelumnya pergi.
Di markas King Cobra.
Ray keluar dari persembunyiannya, laki-laki muda berusia dua puluh tahun itu melangkah seperti tidak terjadi apapun padanya sebelumnya.
" Bos, Dia ada disini. Sepertinya Dia baik- baik saja. " Lapor salah satu rekannya.
Ray mendengar semuanya kalau ada yang selalu memantau dirinya, memberikan laporan mengenai apapun yang Ia lakukan.
Dreet !!!
Ting~~~
Setelah memutuskan panggilan, langsung ada notif pesan masuk. William segera menemui Sean dan menyerahkan ponselnya pada atasannya itu.
" Siapa ini. " Tanya Sean.
" Sepertinya Dia baru saja menemui wanita itu. " Jawab William.
" Asma ? Tapi apa hubungannya Dia dengan wanita jadi- jadian itu. " Tanya Sean.
William dengan wajah seriusnya nampak berpikir, mengaitkan antara satu dengan yang lain.
" Apa mereka punya hubungan dekat. " Gumam Sean, keduanya larut dengan pikirannya masing- masing.
***
Leony yang baru kembali dari rumah sakit, sedikit berlari kecil memasuki rumahnya. Ia tadi melihat dua orang yang sepertinya mengikutinya dari arah belakang.
" Uhhh alhamdulillah aman, sebenarnya tadi itu siapa. Aku yakin kalau tadi mereka mengikuti. " Gumam Leony.
Leony mengintip di balik tirai, Ia mengelus dadanya pelan setelah merasa bahwa Ia sudah aman
Bugh !!!!
__ADS_1
Sean menopang tubuh Adiknya yang hampir terjatuh karena terkejut melihat kedatangannya.
" De, ada apa. Apa ada masalah, kenapa kamu nampak gugup. "
Leony menggeleng pelan, Ia tidak mau membuat Abangnya khawatir.
" Tidak ada apa- apa Abang. Oh ya Abang, Rara ke kamar dulu. Mau istrahat. "
Sean mengangguk, Ia merapikan rambut Leony yang berantakan.
" Ada yang mengikuti Nona Leony sejak tadi, mulai dari rumah sakit hingga seratus meter dari sini. "
Sean terkejut membaca pesan yang di kirim oleh orang kepercayaannya.
" Apa dia orang yang sama dengan orang yang menemui wanita itu kemarin. " Tanya Sean.
" Sepertinya beda Bos. "
Sean mengetuk pintu kamar adiknya pelan, Ia harus memastikan sesuatu kalau adiknya baik- baik saja.
" Masuk saja Abang, pintunya nggak di kunci kok. "
Sean melangkah masuk dan berdiri memandang sang Adik yang masih memandang laptopnya yang menyala.
" Ada apa Abang, kok berdiri saja disana. "
Sean tersenyum dan melangkah menghampiri Leony, Ia mengelus kepala adik perempuannya itu.
" Abang, ada apa. " Tanya Leony
" De, maafkan Abang kalau gara-gara Abang kamu mengalami masalah. "
Leony menutup laptopnya, Ia meminta Sean duduk berseberangan dengannya.
" Abang tidak perlu merasa bersalah, sebelum Abang juga keluarga kita sudah seperti ini. Abang tenang saja, Leony selalu ingat pesan Abang untuk hati- hati. "
Sean menghela nafas lega, akhirnya tanpa Ia minta pun sang Adik sudah faham dengan apa yang Ia maksud.
" Apa kamu ingat siapa yang mengikuti mu hari ini De. " Tanya Sean lagi.
Leony menggeleng tapi kemudian mengangguk lagi, Ia menyerahkan sebuah kertas bergambar. Ia baru saja melukis apa yang Ia lihat hari ini.
" Apa nih, apa lebih dari satu. " Tanya Sean lagi.
Leony mengangguk, Ia kemudian mengangguk berulang kali dengan mimik lucu.
" Mereka memakai baju yang sama, lengkap dengan penutup wajah dan kepala Abang. Tapi...... kalau di lihat dari gerak gerik keduanya ada perbedaan Abang. "
Sean mengerutkan kening, Ia bingung namun juga penasaran.
" Iya Abang, menurut kata hati Rara mereka berdua itu beda, hanya saja Rara tidak tau itu apa. "
__ADS_1
Sean mencoba tersenyum walau Ia juga khawatir, bukan karena Ia takut pada ancaman musuh. Pria tampan itu hanya khawatir kalau para musuhnya di luar sana memilih mentargetkan Adik perempuannya itu.