Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 113 Membantu Susi


__ADS_3

Di sebuah rumah sakit pinggiran kota, Susi sedang bingung. Beberapa jam yang lalu Nenek tercintanya harus di larikan ke rumah sakit karena penyakit yang memang sudah di deritanya selama ini kambuh secara tiba-tiba dan harus segera di lakukan operasi.


Susi baru mengetahui kalau Neneknya ternyata mengalami gagal ginjal, Ia bingung kemana harus mencari uang agar Nenek nya bisa secepatnya menjalani operasi itu. Sementara Ia tau, untuk menjalani operasi tersebut tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.


" Dok, bisakah operasi nya di lakukan saja lebih dulu. Saya janji akan segera melunasi pembayarannya setelah nya. "


" Mohon maaf Mbak, tapi ini sudah menjadi peraturan rumah sakit, kami tidak bisa melakukan apapun. Sebaiknya Mbak segera mencarikan uang untuk biaya operasi, lebih cepat tentu akan lebih baik. Karena kalau terlambat kami tidak bisa menjamin keselamatan pasien. "


Susi mengusap wajahnya kasar, untuk makan sehari-hari mungkin bisa Ia penuhi tapi untuk biaya operasi rasanya sangat mustahil untuk nya menemukan uang tiga puluh juta dalam beberapa jam ini.


" Terima kasih Pak, saya akan secepatnya mencarinya. Saya permisi dulu. "


Susi melangkah keluar, Ia bingung harus kemana. Meminjam uang pada pemilik toko tempat nya bekerja rasanya tidak mungkin.


Susi semakin bingung setelah memberanikan diri meminjam uang pada beberapa teman-teman nya namun tidak kunjung dapat. Akhirnya ponselnya berdering, tangannya bergetar ketika melihat itu adalah panggilan dari rumah sakit.


Banyak prasangka buruk menyinggapi pikirannya, karena ini sudah empat jam Ia meninggalkan rumah sakit. Susi memberanikan diri menerima panggilan dari pihak rumah sakit.


" I, iya hallo. " Jawab Susi dengan suara bergetar.


" Ba, baiklah. Saya akan langsung kesana sekarang. "


Susi berlari cepat menuju motor butut miliknya, Ia mengendarai dengan kecepatan yang Ia bisa. Tanpa membuang waktu Susi segera berlari melewati koridor rumah sakit, Ia melihat sang adik yang sedang duduk di ruang tunggu.


" Mutia. "


Susi langsung memeluk sang adik perempuan nya yang juga menangis terisak, sama seperti dirinya. Tidak lama kemudian Dokter pun keluar, Susi dengan cepat menemui Pria dengan pakaian serba putih itu.


" Dok, bagaimana dengan keadaan Nenek saya. " Tanya Susi.


Dokter mencoba tersenyum meskipun wajahnya nampak pucat.


" Alhamdulillah operasi nya berjalan lancar, namun untuk mengetahui lebih jelasnya nanti kita lihat setelah pemeriksaan selanjutnya. "


Dokter berpamitan karena ingin menenangkan diri, operasi yang baru saja mereka lakukan membuat jantung nya hampir copot, meskipun pekerjaan ini sudah sering Ia lakukan namun membuatnya senam jantung.

__ADS_1


" Dok, tunggu sebentar. Ah maaf, kalau boleh tau siapa yang sudah melunasi biaya operasi nya, masalahnya saya sampai saat ini belum mendapatkan pinjaman apapun. "


Susi akhirnya jujur karena memang usahanya tidak berhasil, meskipun sudah hampir tidak terhitung berapa orang yang Ia datangi.


" Oh itu tadi, ada seorang Pria dan seorang Ibu, katanya teman Mbak dari Jakarta. Beliau sudah melunasi semua biaya rumah sakit bahkan untuk kamar dan juga biaya rawat yang lainnya. "


Susi terkejut, namun Ia mengangguk pelan dan tak lupa mengucapkan terima kasih pada Dokter yang nampak masih muda itu.


" Teman, Jakarta, tapi siapa ?. " Gumam Susi.


Dari kejauhan Susi melihat orang yang sangat Ia kenali berlari kearahnya.


" Bu. "


Ternyata itu adalah Bu Aminah dan juga Erlangga, Bu Aminah langsung memberi pelukan hangat kepada Susi.


" Sudah Nak, tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja, kita hanya perlu berdoa saja, semoga Nenek kamu bisa melewati semua ini. "


Susi mengangguk, Bu Aminah mengusap air mata yang jatuh di pipi mantan asisten rumah tangga nya itu.



" Tidak apa-apa Nak, jangan di pikirkan soal itu. Kenapa kamu tidak mengatakan nya kepada Ibu kalau kamu sedang dalam kesulitan, coba kalau keponakan Ibu tidak memberitahukan ini, Ibu bahkan tidak tau kalau saat ini kamu tengah mengalami kesulitan. "


Susi merasa tidak enak hati, bagaimana mungkin Ia mengatakan masalahnya pada Bu Aminah. Mereka bahkan tidak punya hubungan dekat sama sekali, Ia hanyalah mantan asisten rumah tangga di keluarga itu.


" Iya Susi, seharusnya kamu mengabari kami. Kamu kan tau kalau Ibu sangat menghawatirkan mu dan sudah menganggap mu sebagai Putrinya. "


Bu Aminah mengangguk mengiyakan apa yang di ucapkan Angga, Ia kembali memeluk Susi dan juga Mutia adiknya.


***


Di Jakarta


Asma sedang kebingungan mencari semua orang di rumah, karena mendapati rumah yang kosong. Bahkan satpam pun tidak ada.

__ADS_1


" Kemana mereka, apa ada acara di luar. Tapi kenapa Mas Angga tidak memberi kabar padaku sih. "


Asma merogoh ponselnya dan mencoba menghubungi ponsel suaminya namun tidak ada jawaban.


" Sial, tidak di angkat. Lagi ngapain sih, apa ada yang lebih penting dari pada aku. "


Asma memaki-maki suaminya dan juga Ibu mertuanya karena panggilan nya tidak di jawab.


Bu Aminah bertanya pada Angga siapa yang menghubunginya karena Putranya itu tidak ada niat untuk menerima panggilan masuk dari ponselnya itu.


" Ah bukan apa- apa Bu, ini soal kantor. Nanti Angga hubungi balik saja. " Jawab Angga berbohong, Ia menonaktifkan ponselnya agar tidak mendapatkan gangguan dari Istrinya.


Bu Aminah mengangguk tanpa menaruh curiga sama sekali atas jawaban dari Putranya.


Angga dan Bu Aminah memilih menginap beberapa hari di kota tempat Neneknya Susi di rawat, beliau baru mengingat kalau belum memberi kabar pada menantu nya. Keberangkatan mereka yang mendadak membuatnya melupakan keberadaan Asma.


Tiba-tiba ponsel Angga berdering kembali sesaat setelah ponselnya di aktifkan, awalnya Angga enggan memeriksa ponselnya karena mengira itu dari Istrinya, namun matanya terbelalak ketika melihat nama siapa yang tertera di layar ponselnya.


" Siapa Nak, kok kamu seperti kaget gitu. " Tanya Bu Aminah yang ikut penasaran.


" Naya Bu. " Jawab Angga.


Bu Aminah pun sama terkejutnya dan meminta Angga segera menerimanya dan menggunakan pengeras suara agar beliau bisa mendengar suara wanita yang pernah begitu baik padanya.


" Iya Naya, ada apa. " Tanya Angga.


" Ah alhamdulillah Mas akhirnya ponsel Mas aktif juga. " Terdengar sangat jelas suara Kanaya karena menggunakan pengeras suara.


Erlangga menatap sang Ibu, keduanya sama-sama terkejut dan saling pandang.


" Ah iya maaf Naya, Mas sebenarnya ada di luar kota. Disini sinyal agak susah, ini Mas baru ketempat jaringan. Memangnya ada apa ya. "



" Ah bukan apa apa Mas, pantas saja susah di hubungi. Oh ya, aku cuma mau memberi kabar kalau aku dan Mas Sean akan melangsungkan resepsi minggu besok. Aku sudah menghubungi Mas beberapa hari ini tapi ponselnya tidak aktif, tapi aku sudah menyuruh orang untuk mengantarkan undangan ke rumah. "

__ADS_1


Erlangga memandang Ibunya, nampak Bu Aminah mengangguk pelan. Angga menghela nafas sebelum akhirnya Ia mengucapkan selamat pada mantan istrinya itu, Ia berjanji akan menghadiri resepsi di hari bahagia mereka.


__ADS_2