
...----------------...
Asma masuk ke rumah dengan cara mengendap-endap, berharap tidak ada yang tau kalau Ia baru pulang sejak pagi.
" Ah syukurlah, tidak ada yang melihat ku. " Batin Asma.
Ia bersyukur karena suaminya belakangan ini selalu mengasingkan diri di kamar atas, jadi pasti Angga tidak akan tau kalau Ia baru saja pulang.
" Darimana saja kamu. "
Asma terkejut bukan kepalang mendengar suara yang begitu Ia kenali, ketika Ia berbalik ternyata tebakannya benar, suaminya sudah berada di depannya.
" Asma. "
Tubuh Asma gemetar karena takut mendengar suara Angga, belum lagi raut wajahnya yang nampak serius.
" A, aku..... aku tadi habis dari rumah teman Mas. Memangnya kenapa, apa ada yang salah. "
Asma mencoba menghindar agar tidak bertatapan langsung dengan sorot mata suaminya.
" Teman katamu, bukankah seharusnya kamu kerumah sakit untuk memeriksakan kehamilan mu. "
Asma semakin gugup, Ia bingung harus menjawab apa.
" Ah iya tentu dong Mas, sebelum kerumah teman aku sudah terlebih dulu ke rumah sakit, dan anak kita sehat kok. " Jawab Asma berusaha setenang mungkin.
Angga tersenyum sinis, ternyata Asma benar-benar tega membohonginya.
" Apa kamu yakin, kamu sedang tidak berbohong padaku. " Tanya Angga.
Asma semakin gugup namun Ia masih tetap pada pendirian nya, akhirnya Angga pun meninggalkan nya seorang diri di kamarnya.
Asma menghela nafas setelah Angga keluar dari kamarnya.
" Huuuhhh selamat, hampir saja. Tapi apa Mas Angga benar-benar percaya padaku. " Gumam Asma.
Di dalam kamar Angga menjadikan tembok kamarnya sebagai pelampiasan, Ia tidak bisa mengendalikan perasaan nya saat ini. Antara marah dan kecewa berbaur jadi satu.
" Bagaimana bisa Ia menutupi masalah sebesar ini dariku. " Gumam Angga menertawakan kebodohan nya selama ini.
__ADS_1
Bukan hanya istrinya yang sudah terang-terangan membohonginya bahkan Ibunya sendiri.
***
Pagi hari di meja makan
Bu Aminah melihat tangan Putranya yang di balut perban, sebagai seorang Ibu tentu hal itu membuat Bu Aminah panik.
" Nak, ada apa dengan tangan mu. Apa kamu terluka. "
Angga menarik tangannya, sungguh berada di satu meja bersama orang yang sudah membohongi nya membuat amarahnya ingin meledak, namun berusaha Ia tahan.
" Tidak apa- apa Bu, ini hanya luka kecil saja. "
Bu Aminah menghela nafas dan kembali duduk, sementara Asma sejak tadi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
" Bu, kemarin ada panggilan dari lapas, katanya ada salah satu napi yang meninggal karena sakit. Apa kalian mengenalnya. "
Asma dan juga Bu Aminah sama-sama terkejut bahkan wajah mereka sudah pucat pasi seperti mayat hidup.
" Kenapa Bu, kenapa Ibu dan juga kamu Asma nampak gugup mendengar berita ini. Apa kalian mengenalnya, karena tidak mungkin polisi menghubungi kita kalau tidak ada salah satu di antara kita yang mengenalnya. "
Asma yang sudah ketakutan memutuskan untuk menyudahi sarapannya.
Bu Aminah mengangguk, Asma langsung bergegas ke kamarnya. Angga sudah tidak bisa menahan gejolak di hatinya, Ia mengajak Ibunya ke ruang kerjanya.
Masih berusaha bersikap tenang, Bu Aminah duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
" Bu, bisakah Ibu jelaskan pada Angga ada apa sebenarnya. "
Bu Aminah masih terdiam, Ia bingung harus menjawab apa.
" Bu, kalau orang lain yang berbohong padaku mungkin masih bisa aku maklumi, tapi Ibu. Ibu yang selama ini aku percaya tapi ternyata Ibu tega menyembunyikan sebuah rahasia yang begitu besar selama ini. "
Bu Aminah terkejut mendengar ucapan Angga, Ia bingung harus bagaimana sekarang.
" Maafkan Ibu Nak, maaf karena tidak memberitahukan siapa Asma sebenarnya padamu. Tapi Nak, Ibu melakukan itu karena dulu Ibu mengira hal ini tidak terlalu penting bagimu. Lagipula Ibu juga baru tau kalau Robert di penjara, selama ini dia hilang tanpa kabar berita. Bahkan Tante mu saja tidak tau kemana dia pergi. "
Angga tertawa kecil, sulit di percaya bahwa tidak ada satu orang pun yang tau kalau mertuanya itu masih hidup di saat mereka menikah.
__ADS_1
" Sulit di percaya Bu. "
" Ibu mengatakan yang sebenarnya Nak, Ibu memang baru mengetahui hal ini beberapa bulan yang lalu. Waktu itu dia bermasalah dengan beberapa mafia dan berakhir menjadi seorang tahanan. "
" Bagaimana aku bisa mempercayai Ibu, sekarang katakan padaku apakah masih ada rahasia yang Ibu dan juga Asma sembunyikan dariku. "
Mendengar pertanyaan Angga membuat Bu Aminah dilema, Ia tidak ingin berbohong namun bukan rananya untuk mengatakan semuanya.
Tiba-tiba terdengar bunyi sesuatu yang jatuh, Bu Aminah dan juga Angga berlari ke kamar Asma setelah memastikan dimana suara itu berasal.
" Asma. " Pekik Bu Aminah
Beliau terkejut melihat menantunya sudah tergeletak di lantai dengan wajah pucat dan mulut berdarah. Angga langsung mengangkat tubuh Asma.
" Angga, cepat bawa Asma ke rumah sakit, dia harus segera mendapatkan pertolongan."
Dengan setengah berlari Angga mengangkat tubuh Asma ke tempat dimana mobilnya di parkir. Bu Aminah begitu khawatir melihat kondisi Asma, apalagi kondisi jalanan yang kebetulan sedang macet. Angga mengemudi mobilnya secepat yang Ia bisa, tanpa membuang waktu Angga kembali menggendong tubuh Asma dan mengantarkan nya ke ruangan yang seharusnya menangani penyakit yang Asma derita saat ini.
Bu Aminah pun ikut berlari mengejar Angga, beliau bingung karena melihat Angga yang langsung meminta Dokter khusus menangani istrinya.
" Apakah Angga sudah tau kalau Asma sebenarnya tidak hamil, namun mengidap kanker lambung stadium lanjut. " Gumam Bu Aminah.
" Ah sudahlah, percuma juga di tutupi. Cepat atau lambat semua nya pasti akan terbuka dengan jelas. "
Karena faktor usia Bu Aminah memilih menunggu di ruang tunggu, kakinya terasa berat untuk sekedar berjalan, belum lagi nafasnya yang tersengal karena ikut berlari.
Setelah lama menunggu akhirnya Angga datang menemuinya, Bu Aminah langsung menanyakan kondisi Asma.
" Maafkan Ibu Nak, bukan maksud Ibu untuk berbohong mengenai penyakit yang di derita Asma. Ibu hanya merasa tidak berhak untuk mengatakan ini padamu, Ibu ingin kamu mengetahui semuanya dari Asma sendiri. "
Angga menarik pelan tubuh Ibunya dan memeluknya.
" Tidak apa-apa Bu, maafkan aku. Sebenarnya aku-lah yang bersalah dalam hal ini. Aku tidak mengetahui kalau Istri ku mengidap penyakit yang cukup serius. "
Bu Aminah mengelus pundak Angga memberinya semangat.
" Sudahlah Nak, saat ini tidak perlu mencari siapa yang benar dan salah. Kita akan melakukan yang terbaik untuk Asma, semoga keberuntungan masih berpihak pada kita dan Asma bisa memperoleh kesembuhan. "
__ADS_1
Angga mengangguk membenarkan, bagaimana pun juga mereka sama-sama mempunyai kesalahan di masa lalu. Sangat tidak adil kalau mereka membenci satu orang saja.
...----------------...