Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 116 Meminta Dukungan mertua


__ADS_3

Asma yang mendengar ucapan Angga yang tiba-tiba tentu saja tidak terima, Ia tidak ingin berpisah, apalagi membiarkan Pria yang selama ini sudah membuatnya hancur bahagia begitu saja.


" Cerai !! Kenapa ?? " Tanya Asma


" Asma, hubungan kita memang sejak awal sudah salah. Aku juga sudah mengikuti semua yang kamu inginkan selama ini tapi.... semua yang terjadi belakangan ini, jujur aku sudah tidak alasan untuk mempertahankan semuanya. "


Wajah Asma langsung panik, Ia mencoba memutar otak nya supaya bisa mempertahankan pernikahan mereka.


" Tidak bisa Mas, kita tidak bisa cerai begitu saja. Kamu tidak bisa meninggalkan aku begitu saja. " Ucap Asma.


Ia mencoba memeluk tubuh Angga namun Angga menepis nya.


" Asma, terlalu banyak masalah yang sudah kita lalui. Kedepannya tidak akan ada kebahagiaan lagi karena setiap kali mengingat semua yang terjadi, maka masalah ini akan terus menghambat kebahagiaan kita masing-masing. Asma, mari kita cari kebahagiaan kita masing-masing, kamu cari kebahagiaan mu begitupun aku. "


Asma menjerit histeris, Ia tidak bisa menerima keputusan Angga. Karena kerasnya Ia berpikir dan histeris, Ia tiba-tiba merasakan sakit yang teramat sangat pada perutnya.


Asma merintih memegangi perutnya yang terasa nyeri, kepalanya pun terasa sakit, pandangannya terlihat berkunang- kunang.


" Asma, kamu kenapa, kamu tidak apa- apakan, kita ke rumah sakit ya. "


Meskipun Angga sedikit membenci perbuatan Istrinya namun Ia juga tidak tega melihat orang lain menderita kesakitan di depan matanya.


" Tidak perlu Mas, ini sudah biasa. Aku memang tidak boleh terlalu banyak berpikir apalagi stres, kalau hal itu terjadi maka kita akan kehilangannya lagi. " Ucap Asma.


Angga mengerutkan keningnya, Ia tidak mengerti apa yang di maksudkan oleh Asma.


" Kehilangan, maksud mu apa. " Tanya Angga.


" Iya Mas, aku..... saat ini aku sedang hamil. "


Angga terkejut, Ia menatap Asma dengan tatapan tidak percaya. Angga berdiri dan mengusap wajahnya kasar.

__ADS_1


" Kamu hamil ? Apa itu benar ? "


Entah mengapa hati kecil Angga menolak untuk mempercayai apa yang di ucapkan Asma kali ini.


" Untuk apa aku berbohong, aku memang sedang hamil Mas. "


Angga menghempaskan bokongnya di atas kursi kayu, masih dengan perasaan tidak tenang. Lama mereka terdiam akhirnya Angga mengajak Asma kembali ke rumah.


Tidak ada kata yang keluar di bibir Angga meskipun Asma sudah berusaha mengajaknya bicara. Sampai mereka tiba di rumah, Angga tetap memilih diam.


" Mas, kamar kita disini. Jangan selalu mengabaikan aku, kenapa kita tidak tidur bersama, aku membutuhkan mu. "


Angga menepis tangan Asma yang memaksa menariknya ke kamar mereka.


" Asma, aku ingin sendiri, tolong hargai aku. "


Setelah mengatakan itu, Angga langsung melangkah cepat ke kamar atas. Asma yang melihat kepergian Angga hanya bisa menghentakkan kakinya karena tidak bisa membujuk suaminya itu agar menghabiskan waktu bersamanya.


Di dalam kamar, Angga menatap keluar jendela. Mengingat apa yang di katakan Asma beberapa saat yang lalu.


" Apa dia benar-benar hamil, kenapa..... kalau memang dia benar-benar hamil, seharusnya aku bahagia kan. Sebentar lagi aku akan jadi Ayah lagi, tapi...... " Angga geleng-geleng kepala.


Berulang kali Ia menghela nafas berat, Ia benar-benar gusar malam itu.


" Kalau benar Asma hamil, belum tentu janin itu milikku. Bukankah selama ini Ia telah menghabiskan waktu bersama orang lain, tapi....... bagaimana pun juga, saat ini semua orang tau kalau dia adalah Istri ku, aku tidak bisa mengabaikan nya begitu saja. " Gumam Angga.


Ia merogoh ponselnya dan mengetik pesan yang di kirimkan untuk seseorang, sementara Asma Ia bergegas menemui Ibu mertuanya. Lagi-lagi Bu Aminah terkejut dengan kehadiran Asma, Asma memintanya untuk berbicara pelan.


" Ibu, aku tidak menyangka kalau Ibu mempunyai hati yang busuk. "


Bu Aminah bingung apa yang di maksud oleh Asma, beliau tidak merasa berbuat salah tapi tiba-tiba di kata- katai yang tidak mengenakan.

__ADS_1


" Apa maksud mu Asma, Ibu salah apa. " Tanya Bu Aminah.


Asma mendecih pelan, Ia menertawakan kemunafikan Ibu mertuanya.


" Tidak perlu pura-pura Bu, bukankah Ibu yang meminta agar Mas Angga menceraikan aku. Asal Ibu tau, Mas Angga mengajak ku keluar hanya untuk memintaku bercerai dengan nya. Kalian benar-benar egois. "


Bu Aminah menggeleng pelan, karena Ia tidak pernah melakukan hal semacam itu.


" Itu tidak benar Nak, Ibu tidak pernah meminta Angga untuk menceraikan kamu. Mungkin itu adalah kemauannya sendiri. " Ucap Bu Aminah.


Asma tertawa kecil, baginya Ibu dan anak sama saja.


" Baguslah kalau begitu, Ibu harus mendukung ku. Jangan pernah ijinkan Angga untuk menceraikan aku, karena aku seperti ini juga karena Ibu. "


Bu Aminah memilih diam, apa yang di katakan Asma adalah benar. Pokok dari semua permasalahan anaknya adalah karena keegoisan nya.


" Lalu apa yang harus Ibu lakukan untuk mu, Ibu tidak bisa melarang Angga kalau memang Ia ngotot meminta bercerai. Ibu hanya menginginkan kebahagiaan untuk anak-anak Ibu, itu saja. "


Lagi-lagi Asma tertawa kecil, Ia seolah mendapat kartu As yang bisa memuluskan rencananya.


" Mas Angga tidak akan menceraikan aku selama Ibu tutup mulut, aku sudah mengatakan pada Mas Angga kalau aku saat ini sedang hamil dan dia tidak akan mungkin mengajukan surat cerai. "


Bu Aminah terkejut, Ia geleng-geleng kepala.


" Tapi Asma, bukankah itu......


" Cukup Bu, hanya Ibu yang tau masalah ini. Ibu hanya cukup mendukung ku saja, selebihnya biar menjadi urusan ku, bagaimana Bu. "


Bu Aminah menghela nafas, sungguh Ia tidak ingin berbohong tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa. Mungkin saat ini lebih baik diam.


" Bagaimana Bu, apa Ibu setuju. "

__ADS_1


Bu Aminah masih tetap diam, Asma memilih keluar karena Ia yakin kalau Ibu mertuanya akan mendukungnya.


__ADS_2