
Asma ketakutan selepas kembali dari rumah sakit, Ia berlari kedalam rumah dan mengunci pintu rapat- rapat. Tubuhnya gemeteran sambil terus memindai seisi rumah, hal itu membuat Bu Aminah heran.
" Asma, kamu kenapa, hei.....! " Bu Aminah melambai- lambaikan tangannya di depan wajah menantunya itu namun keberadaannya sepertinya tidak nampak oleh Asma.
Angga yang mendengar pintu di tutup dengan keras bergegas keluar dari dalam kamar, Ia melihat Ibunya yang sedang berbicara dengan Istrinya, namun seperti ada yang aneh.
" Bu, ada apa. " Tanya Angga.
Bu Aminah mengangkat bahunya pelan, pertanda kalau beliau juga tidak tau persis apa yang terjadi.
" Ibu juga tidak tau Ngga, tadi Ibu keluar karena mendengar bunyi yang keras, pas Ibu lihat dia sudah begini. "
Angga melakukan hal yang sama, Ia melambai- lambaikan tangannya di depan wajah Asma namun tidak ada hasil.
Plakkk !!!
Bu Aminah terkejut karena Angga tiba-tiba menepuk jidat Asma dengan cukup keras hingga membuat sang Istri menjerit.
" Awww, sayang..... sakit ih. Kok aku di pukul sih. " Protes Asma.
Angga melipat kedua tangannya di dada sembari menatap Asma.
" Siapa suruh datang- datang langsung buat kekacauan. Kerasukan apa ha.... ditanya nggak jawab. Ini lagi, barang belanjaan mana, katanya keluar mau belanja kebutuhan bulanan. Terus mana barang belanjaannya sekarang. "
Asma mulai mengumpulkan kesadarannya, Ia meminta maaf karena tidak jadi belanja. Ia ingin mengatakan yang sebenarnya tapi takut rahasianya beberapa bulan ini ketahuan, Ia tidak ingin suami ataupun mertuanya mengetahui kalau dirinya sedang berkonsultasi dengan Dokter agar bisa secepatnya hamil kembali.
" Ah maaf Bu, tadi Asma di kejar- kejar beberapa preman jadi Asma langsung kabur. Sekali lagi maafkan Asma Bu, sayang..... maafkan aku. "
Angga hanya bisa geleng-geleng kepala, pasalnya Ia sudah kelaparan sejak tadi namun Ibunya belum menyediakan apapun karena stock bahan makanan di kulkas habis.
" Tidak apa- apa Nak, yang penting kamu tidak apa- apa. Ya sudah kamu dirumah saja, biar Ibu saja yang berbelanja sebentar. Angga, kamu makan kue bronis buatan Ibu dulu, Ibu pergi dulu ya. "
Bu Aminah memanggil satpam agar menemaninya ke supermarket. Di tengah perjalanan Supir tiba-tiba melihat seseorang yang sangat di kenalinya, supir mengikutinya tanpa sadar mereka sudah pergi jauh.
" Pak, kita mau kemana. Ini sudah sangat jauh dari tempat kita, itu singgah di depan sana ada supermarket. "
Satpam mengangguk dan tersenyum, Ia pun menuju ke supermarket yang berada tak jauh dari posisi mereka sekarang.
" Ibu duluan saja, saya cari tempat parkir dulu ya. "
Bu Aminah mengangguk dan memilih masuk, Ia mengambil keranjang dan mulai memilih semua barang- barang yang di butuhkan.
Setelah lama mengantri akhirnya Bu Aminah mendapat giliran di meja kasir.
" Iya Mbak, berapa semua. "
Samar- samar Bu Aminah mendengar suara seseorang yang begitu sangat Ia kenal. Ia mencari kemana asal suara itu, Bu Aminah tercengang setelah melihat pemandangan di depannya, ternyata benar suara itu berasal dari orang yang begitu sangat di kenalinya.
" Na~ Naya..... ! "
Bu Aminah terus memandangi wajah wanita yang Ia yakini itu adalah seseorang yang Ia kenali selama ini. Ingin mengejar tapi barang belanjaannya belum Ia lunasi.
" Aduh Mbak, cepat. Berapa semua. "
__ADS_1
Mbak penjaga kasih hanya tersenyum sambil menyembut jumlah barang belanjaan yang harus Bu Aminah lunasi.
" Satu juta dua ratus lima puluh ribu Bu. "
Bu Aminah mengambil uang ratusan sebanyak tiga belas lembar, dan menyerahkannya pada petugas kasir.
" Sisanya ambil saja. "
Bu Aminah langsung membawa barang belanjaannya, sambil mendorong troli Ia berlari keluar.
" Kanaya.... Nak, tunggu Ibu. " Bu Aminah memanggil- manggil nama Kanaya namun yang di panggil terus melangkah keluar dengan santai.
Bu Aminah terus berlari keluar dengan pandangan mata tertuju pada wanita yang Ia yakini itu adalah Naya mantan menantunya.
" Bu, ada apa. " Tanya Amang satpam.
" Amang, cepat bawa barang belanjaannya ke mobil dan cepat kejar mobil berwarna merah itu. "
Amang satpam mengikuti arah yang di tunjuk majikannya dan melihat mobil yang di tunjuk wanita itu. Dengan sigap Amang memindahkan semua barang belanjaan Bu Aminah dan bergegas meninggalkan tempat itu.
" Lebih cepat Amang, kita tidak boleh kehilangan jejak. " Ujar Bu Aminah gelisah.
Amang satpam melaju dengan kecepatan yang Ia bisa, meskipun bingung kenapa harus mengejar mobil itu.
" Bu, kenapa kita harus mengejar mobil itu. Apa ada maling, apa tadi Ibu kecopetan di dalam. "
Amang satpam mulai khawatir, kalau sampai itu benar terjadi maka tamatlah riwayatnya. Sekali di ajak keluar, majikannya malah kerampokan.
Mobil yang mereka kejar berhenti di sebuah parkiran khusus.
" Stop Amang, kita turun disini saja. "
Bu Aminah turun lebih dulu dan berlari mengejar seseorang yang sedari tadi membuatnya penasaran.
" Bu, astaghfirullah. Sebenarnya Bu Aminah ngejar siapa sih. " Gumam si satpam sambil ikut berlari setelah menepikan mobil di tepi jalan.
Bu Aminah memasuki gang dan terus berlari mengejar, tanpa sadar beliau sudah melangkah kearah tepian hutan. Satpam terus mengejar Bu Aminah yang terus berlari tanpa memandang kebelakang.
Dari jauh Bu Aminah melihat wanita yang Ia kejar tadi berdiri mematung, beliau sudah merasa senang karena wanita yang Ia kejar tidak berlari lagi.
Bu Aminah kembali mengejar sampai ketitik dimana wanita tadi berdiri, Ia menatap sekeliling dan ternyata tidak ada siapapun disana. Hanya ada pepohonan dikiri dan kanan.
" Dimana dia, kok aneh sih. Aku yakin kalau tadi aku melihat dia berlari kemari, tapi dimana dia. "
Bu Aminah mencari jalan lain disana, ada dua jalan kecil sehingga membuat wanita yang sudah berumur itu bingung.
Ketika akan melangkah ke hutan, satpam mengejutkannya.
" Bu, tunggu. "
Bu Aminah menoleh, ternyata itu adalah satpam yang tengah berlari kearahnya.
" Ada apa Bu, kenapa Ibu sampai berlari kemari. Ini jalan menuju hutan, sebenarnya Ibu mau kemana. "
__ADS_1
Bu Aminah melihat jalan setapak menuju ketengah hutan, sebenarnya wanita itu sedikit takut namun Ia juga bingung, kemana menghilangnya wanita yang Ia kejar tadi.
" Ibu tadi mengejar seseorang, Ibu sangat yakin kalau dia lari kemari, tapi kok aneh ya. Sampai disini tiba-tiba hilang. "
Satpam merinding, Pria berumur hampir lima puluh tahun itu sedikit takut. Antara dua, majikannya itu melihat hantu tak kasat mata atau majikannya itu sudah mulai berhalusinasi.
" Bu, mungkin Ibu salah. Coba perhatikan baik-baik baik kita berada dimana. Kita berada hampir satu kilometer dari jalan besar, tidak ada rumah lagi disini, sebaiknya kita pulang sekarang. "
Sementara di kediaman Sean, Haris terkejut ketika memeriksa CCTV. Ia langsung memanggil Williams dan juga Sean.
" Astaga, coba lihat ini. "
Sean dan juga Williams mendekat dan mulai meneliti dari CCTV pertama sampai akhir.
" Wanita itu. "
" Beliau adalah Ibu dari Erlangga. " Jawab Haris.
Sean mengerutkan keningnya bingung, bagaimana bisa mertua dari teman masa kecilnya itu bisa sampai ketempat dimana Ia berada saat ini.
" Sepertinya Bu Aminah mengikuti Bu Kanaya dari supermarket. " Jawab Haris.
Sean menepuk dahinya sendiri, Ia memeriksa ponselnya. Ternyata banyak sekali panggilan tak terjawan dan juga pesan dari Naya untuknya.
" Astaghfirullahalazim, Haris. Ternyata banyak pesan dari Naya yang tidak aku baca. Aku lupa mengirim stock bulanan buat mereka, ternyata si kembar kehabisan susu sejak semalam. "
Sean merasa bersalah karena teledor
" Lalu kita harus bagaimana sekarang. " Tanya Haris, ketiga Pria itu saling pandang dengan pikiran mereka masing-masing.
Naya tersenyum melihat hasil belanjan di tangannya.
" Sayang, Mama pulang. Lihat ini Mama bawa apa. "
Kedua bocah yang sangat menggemaskan itu langsung berhamburan kepelukan Naya.
" Susu, mau. Abi mau Ma. " Ucap Abidzar
" Bibah juga mau. " Si bungsu pun tak mau ketinggalan.
Naya tersenyum bahagia melihat senyum kedua buah hatinya.
" Sayangnya Oma, main sama Oma dulu yuk. Biar Mama buatkan susunya dulu buat Abi dan Dibah ya sayang. "
Kedua bocah itu mengangguk dan duduk berbaris dengan rapi, Umi Rahayu tersenyum melihat keduanya yang nampak anteng- anteng saja selama ini.
Meskipun begitu Umi kadang sedih, sampai kapan mereka akan berada disana. Mungkin satu atau dua tahun kedua cucunya itu akan baik- baik saja, tapi lambat laun mereka juga akan menginginkan dunia luar.
Naya datang membawa dua botol susu buat kedua buah hatinya itu.
" Sayang, ayo susunya sudah jadi. Yuk siapa yang mau. "
Keduanya berlari dan memeluk Naya, menciumnya sebelum mengambil susu dari tangan Ibunya. Naya benar-benar bahagia melihat kedua buah hati yang menjadi kekuatannya selama ini.
__ADS_1