Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 107 Jodoh Adalah Cerminan Diri


__ADS_3

Bimo kembali mendapatkan kabar dari orang kepercayaan nya, Ia bergegas menemui Angga dan memberitahukan kabar penting yang baru saja Ia terima.


       " Apa...... !! baiklah Bimo, kita kesana sekarang. "


Kedua Pria tampan itu melangkah setengah berlari keluar, sontak kehadiran mereka menjadi pusat perhatian para karyawan yang melihat kedua Pria tampan itu melangkah tergesa-gesa.


      " Cepat Bimo. " Pinta Angga.


Bimo mengemudi dengan kecepatan penuh, sementara di tempat lain. Karena suara Dini yang begitu keras berhasil memancing keramaian, ada beberapa Pria yang berusaha merelai keduanya sementara yang lain sibuk menggunakan ponsel mereka untuk mengabadikan momen tersebut.


Dari jauh Danang yang tadinya ingin menenangkan diri di tempat biasa, tiba-tiba terkejut melihat ada keramaian disana. Ia mencoba mendekat memastikan apa yang sebenarnya terjadi, namun betapa terkejutnya Ia ketika melihat dua wanita yang begitu Ia kenali saling menyerang satu sama lain.


       " Asma, Andini. Duh, mereka sudah bertemu, bagaimana ini. Aku tidak mungkin melerai mereka, bagaimana kalau ada yang melihat keberadaan aku disini, lebih baik aku pergi saja. " Gumam Danang bersiap mengambil langkah seribu.


Baru juga Ia berbalik badan, tiba-tiba tubuhnya menabrak dua orang bertubuh kekar yang ternyata sejak tadi sudah berdiri tepat di belakangnya.


       " Mau kemana Pak Danang, mau coba lari dari masalah hmmm. "


Danang menyipitkan matanya, melihat kedua Pria yang sama sekali tidak Ia kenal itu dan kini sudah memegang kedua tangannya.


       " Kalian siapa, minggir. Lepaskan aku, aku tidak mengenal kalian. "


Danang mencoba melepaskan diri namun cengkraman tangan kedua Pria itu begitu kuat sehingga sulit untuk nya melepaskan diri.


        " Danang Armanto. "


Danang menoleh ke asal suara yang menyebut namanya, Ia terkejut melihat kedatangan seseorang. Tentu saja Ia tau itu siapa, siapa yang tidak mengenal Erlangga.


Angga melihat istrinya yang berada tidak jauh dari mereka dan dengan lirikan mata Angga langsung meminta orang kepercayaan nya untuk segera bertindak.

__ADS_1


Dua orang Pria berpakaian hitam langsung menerobos kerumunan dan menghampiri kedua wanita yang sedang melampiaskan kekesalan mereka.


     " Ikut dengan kami sekarang Bu, Pak Angga menunggu di mobil. " Ucap salah seorang Pria dengan suara pelan.


Asma terkejut, tubuhnya bergetar hebat. Ia benar-benar ketakutan karena ternyata suaminya mengetahui keberadaan nya disini.


       " Hei, jangan pergi wanita ja*ang. Aku masih belum puas memberimu pelajaran. " Teriak Andini masih dengan amarah yang memuncak.


Asma semakin ketakutan dan memilih diam, apalagi ketika mereka hanya berdua saja di dalam mobil, nampak terlihat kalau suaminya saat ini sedang tidak baik- baik saja.


" Cepat keluar. "


Asma yang sepanjang jalan sudah memikirkan cara dan juga alasan yang tepat untuk Ia katakan pada suaminya berusaha terlihat baik, seolah Ia tidak pernah melakukan kesalahan.


Untuk yang kedua kalinya Angga meminta Asma untuk turun dan kali ini nada suaranya sedikit meninggi hingga terdengar ke dalam rumah.


Asma melangkah dengan cepat dan setengah berlari.


Bu Aminah tersenyum menyambut anak dan juga menantunya, hanya Angga yang menjawab pertanyaan Ibunya bahkan menvium punggung tangan wanita yang sudah melahirkan nya itu.


" Nak, ada apa lagi. "


Bu Aminah bertanya karena melihat menantunya yang langsung melenggang masuk, begitu juga dengan wajah Angga yang nampak menahan sebuah kemarahan.


" Nak, kalau ada masalah sebaiknya kalian selesaikan secara baik- baik ya. "


Angga mengangguk pelan dan masih berusaha tersenyum, Angga pamit untuk menemui Asma dan Bu Aminah pun mengangguk seraya menepuk pelan pundak Putra kesayangannya itu.


Angga masuk dan langsung menutup pintu kamar, Ia mencari keberadaan istrinya di kamar namun tidak ada. Angga masih berusaha tenang menunggu Asma, namun ternyata kesabaran nya benar-benar sudah pada batasnya. Angga mendobrak pintu kamar mandi yang ternyata Asma juga baru bersiap membuka pintu.

__ADS_1


" Ahhhh Mas apa- apaan sih, nggak jelas amat.


Asma menuju lemari mengambil pakaiannya, ekor mata Angga mengikuti kemana langkah istrinya. Ia menggeleng pelan ketika Asma melakukan sesuatu yang sebelum nya mereka sukai, mungkin istrinya itu sengaja menggodanya.


Andai masalah mereka tidak saat ini mungkin Angga akan langsung menjalankan aksinya karena di suguhi sesuatu yang sangat menyenangkan, namun tiba-tiba Ia teringat semua bukti- bukti yang di berikan Bimo. Darahnya langsung mendidih, kemarahannya mulai terpancing kembali.


" Sudah berapa lama kalian berhubungan. " Tanya Angga masih berusaha menekan kemarahannya dengan mengepalkan kedua tangannya.


Asma terkejut namun Ia berusaha untuk bersikap tenang.


" Hubungan, apa maksudmu. "


Kali ini Angga benar-benar sudah tak mampu menahan kemarahan nya, Ia menarik tangan Asma dengan kasar.


" Tidak perlu bersandiwara Asma, kamu pikir aku buta dan tuli begitu. Cepat katakan, sudah berapa lama kalian berhubungan. "


Angga menatap sinis pada Istrinya, tiba-tiba ada rasa jijik melihat tubuh wanita itu.


" Kami hanya berteman biasa, dia itu teman lama ku hanya saja Istrinya memang sejak dulu tidak menyukai aku makanya dia membuat berita yang menjelek- jelekkan aku, agar aku terlihat buruk di mata semua orang. " Jawab Asma memberi alasan.


Angga tertawa sinis, Ia menertawakan kebodohan nya.


" Ternyata aku memang buta selama ini, bukan hanya buta tapi aku adalah orang yang bodoh. Aku tidak bisa melihat wanita seperti apa yang telah aku nikahi, bodoh karena lebih memilih setumpuk sampah dan membuang berlian yang begitu berharga. "


Asma menatap Angga dengan penuh kemarahan, Ia tidak terima di katakan sebagai setumpuk sampah oleh Pria yang sama menurutnya tidak lebih baik darinya.


" Kamu bilang aku sampah ha, kamu pikir kamu siapa. Mengaca dulu sebelum menilai seseorang, jangan pernah menyalahkan ku dengan semua hal buruk yang kamu dapatkan selama ini. Bukankah kamu dulu yang menghancurkan hidup ku dan membuat aku menjadi sampah seperti ini, jangan pernah menilai buruk seseorang kalau dirimu saja lebih buruk dari orang itu sendiri. Mungkin ini memang sudah takdir mu, asal kamu tau ya, jodoh itu adalah cerminan dari dirimu. Mungkin karena kamu sampah Mas makanya sekarang kamu dapat sampah juga. "


Suara keduanya sangat keras sampai terdengar keluar, membuat Bu Aminah hanya bisa menghela nafas berulang kali. Wanita lanjut usia itu menitikkan air mata mengenang kembali kesalahan nya di masa lalu.

__ADS_1


Semua yang di alami anak dan juga menantunya saat ini adalah buah ke egoisan nya dulu.


__ADS_2