Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 77 Aku Lebih Berhak


__ADS_3

Asma kembali ke rumah dengan hati di selimuti amarah, Ia merasa hari ini benar-benar di tipu mentah-mentah oleh suaminya. Bagaimana tidak, suaminya berangkat dari rumah menggunakan pakaian kerja lengkap dengan jas nya, namun ternyata hari ini Ia tidak ke kantor. Bukan hanya tidak ke kantor, menurut Bimo suaminya itu bahkan tidak punya jadwal pertemuan di luar.


Seperti biasa, Asma menghubungi Tantenya untuk mengadukan semua yang terjadi padanya.


" Bagaimana aku tidak marah Tante, dia sudah jelas- jelas tidak jujur padaku. " Protes Asma setelah mendengarkan saran dari Tantenya.


Terjadi perdebatan di antara keduanya hingga satu perkataan Tante Lili membuat Asma diam, Ia menoleh ke arah luar dan mengelus dadanya karena apa yang mereka takutkan tidak terjadi.


Di tempat berbeda.


Angga begitu bahagia karena akan bertemu kedua buah hatinya di kediaman Kanaya, Ia sudah menyusun rencana sedemikian rupa untuk mengambil perhatian Kanaya dan juga Uminya, begitu juga dengan si kembar.


Benar saja, tidak lama setelah Ia duduk dan menikmati cemilan dan juga minuman yang di suguhkan oleh asisten rumah tangga, nampak Kanaya keluar bersama kedua buah hatinya yang menggenggam tangannya di kiri dan kanan.


Senyum terbit di bibir Angga ketika melihat dia bocah menggemaskan. Cantik dan juga tampan, sekaligus bonus satu ratu yang sangat cantik.


" Sayang, sini.... ! " Panggil Angga sambil merentangkan kedua tangannya.


Ia ingin memeluk kedua buah hatinya namun ternyata reaksi kedua buah hatinya tidak sesuai apa yang Ia pikirkan. Kedua bocah menggemaskan itu justru bersembunyi di belakang Kanaya, Angga sedikit kecewa namun tidak menyerah. Ia berusaha menghampiri kedua buah hatinya namun keduanya justru menangis histeris, sontak seisi rumah jadi heboh.


Kanaya jongkok di depan kedua buah hatinya, Ia mencoba menenangkan keduanya namun ternyata sangat sulit. Ia sampai bingung, tidak biasanya si kembar menangis sampai seperti ini.


" Sayang, ini Papa..... jangan takut. Papa sangat menyayangi kalian. "


Angga mencoba menyentuh kedua buah hatinya namun keduanya bukan diam justru semakin histeris.


" Mas, kembalilah ke tempat duduk mu. " Pinta Kanaya pada Angga.

__ADS_1


Angga tidak mengindahkan ucapan Kanaya, Ia merasa pasti akan bisa meluluhkan kedua buah hatinya. Karena suara si kembar yang begitu keras, dari luar muncul seseorang.


Kedua bocah kembar itu langsung berlari bahkan tanpa melihat siapa yang datang, mereka langsung mengenali hanya dari suaranya saja.


Sungguh pemandangan yang mengharukan ketika kedua bocah kembar itu memeluk seorang yang baru datang dari arah luar.


" Sayang, ada apa. "


Sean langsung memeluk keduanya dan mengelus punggung mereka dengan lembut.


" Nggak apa- apa sayang, sudah jangan takut, ada Om Sean. "


Keduanya sontak berhenti menangis dan mengangguk pelan, tanpa melepas pelukan pada Sean. Akhirnya Sean menggendong si kembar masuk kedalam rumah. Ia melihat Kanaya yang berdiri tak jauh dari sana, ketika hendak bertanya perihal kenapa si kembar menangis, mata Sean melihat ada orang lain disana. Berdiri tidak jauh dari tempat Kanaya berdiri.


" Aku akan jelaskan nanti Mas, sekarang bawa mereka masuk kedalam lebih dulu. " Ucap Kanaya pada Sean.


Sean mengangguk dan melangkah kedalam rumah dengan si kembar berada dalam kendongannya.


Kanaya dengan santainya duduk di sofa yang berseberangan dengan tempat Angga duduk.


" Aku rasa Mas tidak memiliki hak untuk menanyakan siapa Dia. "


Angga mengepalkan tangannya, sejak tadi Ia sudah mencurigai kalau ada sesuatu pada Pria itu.


" Tentu saja aku berhak, aku ini Ayah dari si kembar. Aku lebih berhak berada di samping mereka, kamu melarang ku dekat dengan anakku, sedangkan Pria itu. Dia bebas bersama kedua anak ku. "


Kanaya tersenyum sinis, hanya dirinya yang tau bagaimana perasaannya saat ini.

__ADS_1


" Terserah kamu Mas, kamu mau bilang kalau kamu berhak untuk si kembar. Tapi apa kamu tidak melihatnya sendiri, anak kecil saja tau dimana orang yang tulus menyayangi mereka. Dimana tempat yang paling nyaman untuk mereka. "


Kanaya berucap pelan dan santai tapi menusuk tepat pada sasaran, hal itu membuat Angga semakin berang.


" Elaaaahh, itu juga karena kamu. Coba tadi kamu biarkan aku bersama mereka, lama-lama juga mereka akan terbiasa. Ini hanya masalah waktu, mereka pasti akan lebih memilih aku yang jelas- jelas Ayahnya di banding orang lain. "


Kanaya geleng-geleng kepala, ternyata begitu besar perubahan yang ada pada mantan suaminya itu. Tidak ada lagi Angga yang dulu penuh dengan kasih sayang, yang dulu pernah Ia rasakan.


" Sudahlah Mas, aku malas berdebat dengan mu. Sekarang kamu sudah melihat bagaimana mereka, mereka tumbuh begitu baik walau tanpa sosok Ayahnya. Sebaiknya sekarang Mas pulang dulu, aku ingin melihat mereka. "


Angga awalnya menolak dan ingin masuk menemui kedua buah hatinya, namun niatnya akhirnya Ia urungkan setelah mendengar suara seseorang. Seorang wanita yang selama ini juga terluka atas perbuatan Angga.


" Baiklah, aku akan pulang. Salam buat si kembar, katakan kalau besok aku akan kembali lagi. Oh, ya. Tolong jangan ajarkan mereka membenci Ayahnya, biar bagaimana pun juga aku ini adalah Ayahnya, aku berhak ada di dekat mereka. "


Kanaya hanya bisa menghela nafas, menatap kepergian Pria yang dulu mendiami tahta di hatinya. Disertai gelengan kepala, Kanaya melangkah masuk kedalam rumah menemui kedua buah hatinya.


Baru akan memanggil nama keduanya, Sean mengacungkan jari telunjuknya di bibir, meminta Kanaya untuk tidak bersuara. Kanaya melangkah pelan, hatinya merasakan kesedihan ketika melihat kedua buah hatinya tertidur pulas. Meskipun begitu nampak keduanya masih sesegukan dan bahkan di pipinya masih terlihat bulir air mata yang menggenang disana.


Sean mengajak Kanaya pergi menjauh, Kanaya mengangguk pelan dan mengikuti kemana perginya Sean. Umi mengangguk ketika melihat Kanaya menatapnya, seolah meminta ijin dan sekaligus menitipkan si kembar padanya.


Kanaya menceritakan semua yang terjadi pada Sean, Sean bisa memaklumi semuanya. Bagaimana pun juga Pria itu adalah Ayah biologis dari si kembar, Ia hanya menyayangkan sikap Angga yang tidak sabaran hingga membuat si kembar histeris seperti tadi. Untung dia kebetulan lewat tadi dan hati kecilnya seolah memintanya untuk mampir ke rumah si kembar.


Ternyata firasatnya benar, si kembar sedang membutuhkan dirinya.


" Apa kamu marah. " Tanya Kanaya yang melihat Sean tiba-tiba diam ketika dirinya selesai menjelaskan semua yang terjadi sebenarnya.


Sean menggeleng pelan, untuk saat ini dia memang tidak punya hak untuk marah.

__ADS_1


" Oh. "


Suasana menjadi sangat mencekam, keduanya memilih diam. Entah mengapa Kanaya merasa ada yang aneh, Ia tau itu apa namun Kanaya merasa aneh kenapa hal itu terjadi padanya.


__ADS_2