
Asma bergegas keluar setelah mendapatkan telpon dari seseorang, Ia melajukan roda empatnya meninggalkan kediamannya.
Setelah mengemudi hampir setengah jam, Asma tiba di rumah sakit. Ia langsung ke ruangan yang sudah di janjikan untuknya, mengetuk pintu terlebih dahulu dan baru masuk ketika di persilahkan.
" Sore Dok. "
Dokter cantik itu tersenyum dan mempersilahkan Asma untuk duduk.
" Sore juga, dengan Ibu Asma Maulida. " Tanya Dokter Rara.
Asma mengangguk membenarkan.
" Iya Dok, Saya kemari atas rekomendasi teman Saya, katanya Dokter bisa membuat beberapa orang cepat hamil, saya ingin cepat hamil, apa itu bisa Dok ? "
Dokter Rara tersenyum, Ia merasa lucu dengan apa yang di ucapkan wanita di depannya.
" Maaf Bu, Saya ini hanya Dokter biasa. Tidak bisa membuat Ibu hamil, yang bisa membuat Ibu hamil itu adalah suami Ibu sendiri. "
Asma ikut tertawa, tentu saja satu- satunya yang bisa membuatnya hamil hanyalah spesies milik suaminya sendiri.
" Iya Dokter benar, maksud saya dengan bantuan Dokter semoga saya segera bisa punya anak. "
Rara mengangguk, Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang. Tidak berselang lama ponselnya berkedip pertanda ada pesan masuk. Rara memeriksa ponselnya dan menyunggingkan sedikit senyum di sudut bibirnya.
" Ah maaf Bu, saya tadi sedang menanyakan keadaan anak saya di rumah. Tadi dia ijin mau pergi ke acara sekolah, maklumlah sebagai seorang Ibu pasti akan selalu menghawatirkan anaknya. "
Asma tersenyum, Ia tidak punya pengalaman soal itu. Semua itu di karenakan dirinya sejak kecil di asuh oleh Tantenya dan tidak pernah mendapatkan perhatian seperti itu.
" Benarkah, apa seperti itu kalau punya anak. " Batin Asma.
Rara memperhatikan reaksi Asma yang tiba-tiba diam.
" Bu, jadi gimana ini. Mau lanjut atau gimana. "
" Ah tentu saja lanjut Bu, saya sudah lama ingin punya anak tapi tiga bulan lalu saya malah keguguran. Apa saya bisa secepatnya hamil lagi. "
Rara manggut-manggut, Ia nampak berpikir sebelum akhirnya mengutarakan apa yang ada di pikirannya.
" Gini Bu, sebenarnya kami punya cara yang sangat efektif, bisa membuat seorang wanita bisa cepat hamil bahkan tanpa operasi. "
Asma sangat bahagia, Ia bisa memberikan berapa saja yang di butuhkan pada siapa saja yang mampu membuatnya secepatnya mendapatkan keturunan dan hal itu bisa Ia persembahkan untuk Angga suaminya.
" Apa itu beneran ada dan bisa untuk saya. "
Dokter mengangguk pasti, agar wanita di depannya itu percaya.
" Ini, kami punya ramuan penyubur kandungan. Ah sebenarnya ini resep dari Tiongkok, kebetulan Ibu saya berasal dari sana. Kalau Ibu mau, Ibu bisa coba dulu ini. Kita akan lihat bagaimana obat ini bereaksi pada tubuh Ibu, tapi dari sekian banyak pasien yang pernah datang kepada saya yang keluhannya seperti Ibu, alhamdulillah Bu semuanya berhasil. "
Asma langsung mengambil bingkisan yang berada di atas meja, Ia memperhatikannya.
" Apa ini rasanya pahit. " Tanya Asma.
Asma paling tidak bisa memakan sesuatu yang pahit.
__ADS_1
" Sedikit pahit sih Bu, tapi itu sepadan dengan apa yang Ibu dapatkan. Bukankah Ibu ingin segera memperoleh keturunan. "
Asma manggut-manggut, Ia membenarkan apa yang di katakan Dokter berparas cantik itu.
" Baiklah tidak ada salahnya juga kalau saya coba. oh ya, ini cara mengkonsumsinya gimana. " Tanya Asma lagi.
" Ah gampang Bu, tinggal di seduh seperti Ibu membuat teh, apa Ibu suka minum teh. "
Lagi-lagi Asma bergidik ngeri, Ia tidak begitu menyukai jenis minuman satu itu. Namun keinginannya mendapatkan keturunan membuatnya membuang jauh- jauh rasa jijiknya.
" Baiklah, saya akan coba meskipun sebenarnya saya tidak suka teh. Oh ya, kalau boleh tau ini saya harus bayar berapa. " Tanya Asma lagi.
Rara tersenyum dan menggeleng
" Tidak usah Bu, semua yang Saya berikan untuk hari ini gratis. Nanti setelah Ibu sudah menghabiskan ramuannya baru Ibu kemari dan kita periksa lagi, kalau hasilnya positif baru Ibu bayar. "
Asma menatap Dokter Rara mencoba memastikan apa yang Ia dengar barusan.
" Iya Bu, semua gratis. Seperti pasien yang lainnya, mereka akan bayar kalau sudah ada hasilnya. "
Asma pamit pulang, Ia menyimpan ramuannya baik- baik karena takut ketahuan Bu Aminah dan juga Angga suaminya.
Setelah Asma keluar dari ruangan Rara, wanita itu juga keluar dari ruangannya. Ia melajukan mobilnya ke sebuah tempat.
Rara menghela nafas panjang ketika tiba di tempat tujuan, Ia melihat seseorang yang ingin Ia temui sudah ada disana.
" Huffftttt. " Rara menghempaskan bokongnya di kursi sembari melempar rambut palsu yang Ia gunakan.
Rara menatap tajam pada Pria di depannya.
" Sean, bisa tidak kamu itu jangan panggil aku rang- rang begitu. Namaku Rara bukan rang- rang. "
Sean malah tertawa, Ia merasa lucu melihat adiknya yang cemberut.
" Iya deh, maaf sayangnya Abang yang paling cantik. "
Rara mendengus kesal, ada maunya saja mujinya setinggi langit. Giliran sudah tidak di perlukan di ledek setengah mati.
" Gimana tadi, lancar nggak. " Tanya Sean lagi.
" Seperti biasa, jangan khawatir. Bukankah Adikmu ini memang selalu bisa di andalkan Bang. Tapi ngomong- ngomong Dia itu siapa sih Bang, apa hubungan Abang dengannya. "
Sean tidak menjawab, Ia mengambil ponselnya dan mengirimkan sejumlah uang ke rekening sang Adik.
" Sudahlah Ra, kamu tidak usah pikirkan soal siapa dia. Lebih baik kamu sekarang pergi bersenang-senang, berbelanja atau apalah yang bikin kamu senang. Jangan lupa, ajak teman-teman mu tuh sekalian. Uangnya sudah Abang transfer, terima kasih ya. " Satu ciuman mendarat di pipi Rara membuat Adiknya itu mendengus kesal.
" Ish Abang, bisa nggak sih nggak usah pakai cium- cium segala. " Protes Rara.
Sean meninggalkan Adiknya dengan tawa kecil sambil melambaikan satu tangannya kebelakang.
***
Asma yang sudah tiba di rumah segera mengambil ramuan dari dalam tasnya, Ia memperhatikan benda itu.
__ADS_1
" Ah semoga ini bisa manjur, kalau tidak bisa gawat aku. Tidak, aku tidak akan mengijinkan siapa pun menggantikan posisiku tanpa mendapatkan apapun. " Gumam Asma.
Ia melangkah kedapur untuk mengambil apa yang Ia butuhkan, sebelum kembali kekamar Ia memastikan kalau tidak ada siapa pun yang melihat apa yang Ia lakukan saat ini.
Bu Aminah yang sedang memasak untuk makan malam di kejutkan dengan hadirnya Asma, Ia tersenyum manis pada Ibu mertuanya itu.
" Ibu, Ibu mau masak apa, Asma bantu ya. "
Bu Aminah kembali terkejut, semenjak menantunya itu masuk kerumah ini baru kali ini Ia mau memasak.
" Boleh, tapi apa kamu tidak apa- apa kalau bantuin Ibu. " Tanya Bu Aminah yang masih shock.
Asma menggeleng dengan senyuman yang belum pernah di lihat oleh Bu Aminah sebelumnya.
" Nggak apa- apa Bu, Asma sekalian mau belajar. Ibu mau kan ajarin Asma, maaf ya Bu kalau selama ini Asma selalu menyusahkan Ibu. Asma tidak bisa menjadi seperti yang Ibu harapkan, seperti Mbak Naya misalnya. "
Asma menunduk dengan raut wajah sedih hal itu membuat Bu Aminah merasa tidak tega, wanita paruh baya itu tersenyum dan mengelus pundak menantunya. Ia sudah cukup bahagia melihat perubahan Asma hari ini.
" Tidak apa- apa Nak, semua orang tidak sama. Kita terlahir berbeda-beda, punya kekurangan dan juga kelebihannya masing-masing. Kamu memang tidak bisa seperti Naya tapi bukan berarti kamu tidak baik, asal mau berubah dan belajar pasti semuanya akan menjadi baik. "
Asma menghela nafas kemudian mengambil pisau untuk memotong- motong sayuran yang akan mereka masak malam ini. Bu Aminah dengan sabar mengajarkan Asma cara- cara memasak makanan yang layak untuk di konsumsi.
Setelah berkutat selama satu jam Asma kembali ke kamarnya, Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
" Huaaa lelah juga ya memasak sebanyak itu. " Asma memperhatikan jari- jemarinya yang Ia gunakan membantu Bu Aminah di dapur tadi.
" Duh kan lecet. Nggak mulus lagi deh, ternyata begini ya masak, capek banget. "
Asma melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, Ia bergegas masuk ke kamar mandi. Ia merendam tubuhnya dengan wewangian yang membuat siapa saja mampu terhipnotis dengan aromanya.
" Ah nyamannya, demi masa depanku aku akan lakukan apapun itu. " Batinnya.
Ia keluar setelah merasa tubuhnya cukup rileks, setelah berganti pakaian Asma duduk di depan meja rias, Ia menyisir rambutnya yang masih basah.
Pintu di buka dan ternyata itu adalah Angga suaminya, Asma hanya melihatnya melalui pantulan cermin.
Baru masuk Angga sudah mencium aroma yang sangat nyaman, Ia mendekat dan terperangah melihat penampilan Istrinya.
" Sayang. "
Angga langsung memeluk tubuh Asma dan mengecup leher jenjang Istrinya itu.
" Sudah siap tempur rupanya sayang. " Goda Angga.
Tangannya mulai nakal, meraba semua tempat yang selama ini menjadi tempat paforitnya.
" Sayang ah.....! nanti dulu dong. Mandi dulu dan makan, ini Mas bau banget. " Asma pura-pura menjepit hidungnya menggunakan dua jari tangannya.
Angga ikut mencium pakaian yang Ia kenakan.
" Ah benar juga, tunggu Mas ya sayang. " Angga bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Di dalam kamar mandi Angga sudah membayangkan akan berbuka puasa setelah sekian lama, hari ini adalah hari yang paling indah untuknya.
__ADS_1