
Asma membujuk suaminya agar mengijinkannya ikut bekerja, setelah lepas empat puluh hari Asma mulai bosan di rumah.
" Mas, boleh ya. Aku juga ingin jadi wanita karir, ingin bekerja di luar rumah. "
Angga menolak karena memang dirinya sejak dulu tidak menginginkan Istri yang ikut berkarir, Angga menginginkan Istri yang selalu stay di rumah dan senantiasa ada untuknya ketika Ia perlukan. Belum lagi mengingat Ibunya yang sudah tua, Ia ingin Istri yang bisa mengurus Ibunya itu.
" Asma, untuk apa kamu harus bekerja di luar. Disini pun kamu juga bisa bekerja, ada banyak hal yang bisa kamu kerjakan. Lagipula kasihan Ibumu kalau di tinggal sendiri di rumah. "
Angga tetap bersikeras untuk tidak memberi ijin, akhirnya Asma memilih diam dan tidak ingin lagi memaksakan kehendaknya.
Selepas kepergian Angga, ponsel Asma bergetar pertanda ada pesan masuk di ponselnya itu.
Asma segera menghubungi si pengirim pesan setelah membaca pesan yang di kirimkan oleh orang tersebut.
" Bagaimana, apa kamu sudah menemukan Dokter itu. " Tanya Asma langsung pada seseorang di seberang telpon.
" Baiklah, atur saja waktunya kapan, aku akan segera menemuinya secepatnya. "
Sementara di kota T
Naya sedang berbahagia karena hari ini mereka sedang mengadakan acara tujuh bulanan, mereka mengadakan acara syukuran dengan mengundang beberapa anak yatim yang berada di sekitar daerah tempat tinggal mereka.
Acara berjalan lancar, banyak yang datang dan mendo'akan kehamilan Naya lancar hingga ke persalinan nanti. Naya sangat bahagia, lantunan ayat-ayat suci Al-Quran seolah bisa di dengarkan oleh si kembar yang nampak begitu aktif menendang.
Naya tidak sabar menunggu dua bulan lagi ketika momen berharga itu tiba. Kevin yang datang terlambat segera bergabung dengan beberapa tamu yang datang.
Ada seseorang yang datang bersama Kevin, Ia juga ikut duduk sambil mengamati satu demi satu yang hadir disana, namun tidak bisa melihat adik dari teman lamanya itu.
Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah pigura di dinding, seorang wanita cantik yang membuat mulutnya melongo.
" Dia, dia kan wanita itu. Ngapain fotonya ada disini. " Gumamnya.
Kevin yang duduk di sampingnya mengerutkan keningnya. Ia masih mendengar gumaman sahabatnya itu, Kevin langsung bertanya siapa wanita yang dimaksud oleh sang sahabat.
" Ada apa Bro, apa ada masalah. "
Sang Pria menggeleng mencoba bersikap biasa saja.
" Ah tidak apa- apa. " Jawabnya masih dengan raut bingung.
" Benar tidak ada apa-apa, aku dengar tadi kamu mengatakan wanita itu, wanita siapa. " Tanya Kevin lagi.
Kevin manggut-manggut setelah temannya meyakinkannya kalau Ia memang baik- baik saja.
Satu persatu yang hadir mulai kembali kerumah mereka masing-masing, Kevin ikut membagikan bingkisan berupa kotak nasi dan juga amplop pada semua yang hadir. Mereka sangat senang karena mendapatkan buah tangan dari sang empunya hajatan.
" Makasih banyak Pak, semoga Ibu hamilnya selalu sehat dan lancar sampai persalinan nanti. "
" Semoga keponakannya jadi anak yang sholeh sholehah ya, Aamiin. " Timpal yang lain.
" Aamiin Bu, makasih atas do'a nya. Do'a yang sama buat Ibu, semoga selalu sehat dan bahagia. "
Kevin mengaminkan Do'a mereka yang mendoakan semua kebaikan untuk sang Adik, Ia juga mendoakan yang terbaik untuk Kanaya.
" Nak, bukannya tadi kamu datang bersama teman kamu. Dimana dia Nak, ajak makan sekalian. "
Kevin mencari seseorang yang datang bersamanya tadi yang tiba-tiba saja menghilang. Sementara di luar, seseorang yang tak lain adalah Sean sedang menerima panggilan.
__ADS_1
" Iya, maaf tadi ada kesibukan jadi tidak mendengar bunyi ponsel. Bagaimana, apa ada sesuatu yang penting. "
Sean mendengarkan apa yang di laporkan orang-orang suruhannya.
" Wah ternyata benar dia, baguslah kalau begitu. Kalian atur saja semua seperti yang sudah kita rencanakan. "
Sean segera mengakhiri panggilan setelah melihat Kevin yang menatap ke arah dirinya. Sean mengikuti langkah kaki Kevin hingga kedalam rumah.
" Umi, ini dia. Apa Umi masih ingat dia. "
Kevin mengenalkan Sean pada Uminya, Umi mengamati wajah Sean namun tidak mengenalinya.
" Umi, apa Mas Kevin sudah datang. Soalnya sejak tadi Naya belum melihatnya sama sekali."
Kanaya keluar dari kamarnya untuk makan siang, semenjak usia kandungannya lima bulan Umi meminta Naya tidur di kamar yang berada di lantai bawah. Kehamilannya yang kembar membuatnya kelihatan berbeda dari kehamilan wanita pada umumnya.
Di usia kehamilannya yang tujuh bulan sudah seperti mau melahirkan saja.
" Mas disini De, maaf Mas telat tadi soalnya macet. "
Kevin berlari kecil menghampiri Adiknya dan membantunya jalan. Sean terkejut melihat Naya, begitu juga dengan Naya.
" Kamu......! "
Naya menatap bingung pada Sean, Ia bingung kenapa Pria itu bisa berada di rumahnya.
" Vin, siapa Dia. " Seolah mengerti kode yang di berikan Sean.
Kevin tersenyum melihat kebingungan sahabat dan juga Adiknya.
" Duduk dulu sini De. "
" Kalian berdua beneran sama-sama tidak saling mengingat satu sama lain Sean, ini kembaran ku yang paling cantik. "
Sean terkejut, jantungnya berdegub kencang ketika melihat wanita yang berada di depannya saat ini. Bayangan masa lalu kembali muncul di benaknya.
" De, apa kamu kenal Dia. " Tanya Kevin.
Naya mengangguk, meskipun masih belum hilang rasa bingungnya.
" Iya Mas. " Jawab Naya.
Kevin merasa senang dan mengucap syukur.
" Naya bertemu dengannya kalau tidak salah lima bulan yang lalu. " Jawab Naya sembari mengingat kejadian mengerikan waktu itu.
Kevin mengerutkan keningnya, Ia ingin bertanya tapi tiba-tiba Bi Nur datang dan mengabarkan kalau makan siang sudah siap. Akhirnya Kevin menahan keinginan tahuannya.
Kevin mengajak Sean untuk makan siang, sedangkan Umi menuntun Naya ke meja makan.
Selama makan Sean curi- curi pandang, Ia masih belum percaya bahwa wanita yang Ia tolong beberapa bulan lalu dengan mempertaruhkan nyawanya ternyata adalah wanita dimasa lalunya.
Naya yang mendapat tatapan dari Sean memilih menunduk sembari menyantap makan siangnya dengan tenang.
" Sean, bisa kita bicara sebentar. "
Sean mengangguk dan mengikuti langkah kaki Kevin yang membawanya ke taman belakang.
__ADS_1
" Ada apa Vin. " Tanya Sean ketika Ia sudah duduk di samping Kevin.
Kevin nampak bepikir sebelum menanyakan apa yang sejak tadi mengganggu pikirannya.
" Hm, ini soal Adikku. Tadi Dia bilang ketemu kamu lima bulan yang lalu, maaf kalau boleh aku tau, kamu ketemu dimana Sean. " Tanya Kevin.
Sean menghela nafas, Ia pikir tadi ada masalah serius yang ingin di tanyakan Kevin sehingga bela- belain mengajaknya menjauh dari yang lain.
" Ah itu Vin, bertemu tidak sengaja. "
Sean menceritakan semua kejadiannya dari awal hingga akhir dan sontak membuat Kevin kaget dengan cerita Sean, Ia tidak menyangka kalau Adiknya mengalami kesulitan setelah kembali dari rumah mereka.
" Aku juga menolongnya karena kebetulan, waktu itu aku tidak sengaja mendengar bahwa Geng cobra merencanakan akan menghabisi nyawa seorang wanita, karena tidak tega jadi aku membantunya membawa ketempat yang aman. "
Kevin langsung memeluk tubuh Sean dan mengucapkan ribuan terima kasih, andai tidak ada Pria itu mungkin dia tidak akan pernah bertemu lagi dengan Adik tercintanya itu.
" Ah sudahlah Vin, kamu ini terlalu berlebihan. Santai saja Bro, come on. "
Sean meminta Kevin melepaskan pelukannya, dengan alasan malu kalau di lihat orang. Berpelukan dengan sesama jenis.
***
Sean melangkah pelan, Ia menatap wanita yang sedang duduk di kursi membelakanginya. Rambut panjangnya di biarkan terurai.
" Ehem. " Sean berdehem pelan.
Naya menoleh ke asal suara, Ia melihat Pria yang beberapa bulan lalu menolongnya.
" Hai, boleh a..... em......
" Duduklah Mas. " Naya mempersilahkan Sean duduk ketika melihat kebingungan Pria itu.
Sean yang sedang grogi, perlahan duduk di bangku yang bersebelahan dengan bangku yang Naya duduki. Ia memperhatikan gelagat Sean yang sedari tadi nampak bingung, Pria itu bahkan *******- ***** tangannya sendiri.
" Oh iya, makasih Mas. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih atas semua pertolongan Mas lima bulan yang lalu. "
Naya mengucapkan terima kasih dengan tulus di sertai senyum yang membuatnya semakin terlihat cantik. Kehamilannya semakin membuat wajahnya berseri apalagi bobot tubuhnya yang sedikit lebih berisi di bandingkan ketika Ia sedang tidak hamil.
" Hmm, ternyata kamu setelah gede masih saja kaya keong ya. Selalu saja di selamatkan oleh orang lain. "
Naya menatap Sean dengan tatapan bingung, itu karena Pria di depannya menyebut dirinya keong. Nama yang disematkan seseorang dan hanya dirinya beserta orang- orang terdekatnya yang tau.
" Siapa kamu, kenapa kamu memanggil ku dengan nama itu. " Tanya Naya dengan tatapan penuh selidik.
" Ahhaaaauuuumm. " Sean menirukan suara singa mengaum lengkap dengan gayanya.
Naya menatap wajah Sean secara intens, mencoba mengenali wajah Pria di depannya, hingga tatapan mereka beradu.
" Jangan terlalu di pandang, nanti jatuh cinta. " Goda Sean dengan senyum yang berusaha di tahan.
Dirinya yang sedari tadi menahan tawa karena melihat reaksi wajah Naya, akhirnya tidak dapat menahan tawanya lagi. Sean tertawa kecil membuat Naya mulai mengingat sesuatu.
" Kamu, kamu.....!
" Iya Wulan, ini aku. Si singa dari dari dapur emak. Gimana, masih ingat nggak. "
Naya menutup mulutnya dengan kedua tangannya, sedangkan Sean menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
__ADS_1
" Ternyata kamu adalah gadis dimasa laluku Wulan. " Batin Sean.
Ia merasa lega karena bisa menolong wanita itu dari bahaya yang hampir merenggut nyawanya, meskipun Ia harus menelan pil pahit karena kenyataannya mimpinya kandas di tengah jalan