Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 43 Menanggung Malu


__ADS_3

Angga kembali kerumah dengan wajah yang kusut, hari ini Ia benar-benar sial. Pria itu melempar jasnya ke sembarang arah.


" Sayang, buatkan kopi dong. "


Angga duduk disisi ranjang dan meminta sang Istri membuatkan kopi untuknya. Hingga beberapa menit kemudian tidak ada juga tanda- tanda kehidupan disana.


" Sayang, kamu dimana. Buatkan Mas kopi, Mas capek. " Angga mengulang ucapannya lagi.


Angga mendongakkan wajahnya ketika mengingat semua yang sudah terjadi, Ia mengusap wajahnya kasar. Ternyata wanita yang Ia panggil sejak tadi sudah tidak ada disana lagi, bukan hanya tidak ada tapi mereka memang sudah tidak punya ikatan apapun.


Dimata agama mereka bukan suami istri lagi, itu semua karena dirinya telah menjatuhi talak pada istrinya itu.


Angga melangkah turun kebawah, karena perutnya yang mulai keroncongan Angga memilih kedapur di banding kekamar Istri mudanya.


Ia membuka penutup makanan namun tidak ada apapun disana, keningnya berkerut melihat hal itu.


" Kemana Ibu dan juga Asma, apa mereka tidak memasak hari ini. " Gumam Angga.


Ia berteriak memanggil Istri dan juga Ibunya itu.


" Bu.....  Asma..... ! " Panggil Angga berulang-ulang.


Bu Aminah keluar dari dalam kamar dengan mengelus perutnya, tidak berselang lama Asma juga ikutan keluar karena terganggu dengan suara teriakan Angga.


" Apaan sih Angga, pulang- pulang ribut. " Protes Bu Aminah.


" Iya nih Mas, datang- datang kaya orang kesurupan, ganggu orang tidur saja tau. " Protes Asma juga.


Angga melongo mendengar jawaban keduanya.


" Bu, Asma, apa kalian sejak tadi hanya tidur saja, tidak masak gitu. " Tanya Angga lagi.


Bu Aminah mengangguk pelan begitu juga dengan Asma, dirinya yang memang sudah makan banyak pagi tadi tentu tidak memusingkan masalah perutnya.


" Ibu tidak masak, Ibu capek. Pagi tadi kan Ibu yang masak, Istrimu tuh yang tidak mau masak, malah masakan Ibu tadi pagi yang dia habiskan. "


Bu Aminah menunjuk kearah Asma yang berdiri tidak jauh dari tempat Angga berdiri, mendengar namanya disebut Asma langsung mengelus perutnya.


" Awww sayang, perutku sakit sejak tadi makanya aku rebahan saja. Mas kan dengar apa kata Dokter, aku tidak boleh bekerja berat dan strees juga. "


Angga semakin frustasi mendengar jawaban kedua wanita yang berada dirumah itu, hidupnya benar-benar kacau saat ini.

__ADS_1


" Kamu juga yang salah Angga, kenapa tadi nggak makan di luar saja. Belikan juga untuk kami, lagi pula mana pembantunya. Bukankah tadi Ibu memintamu untuk mencari asisten rumah tangga buat kita. "


Angga berlari kecil meninggalkan meja makan menuju kamar dirinya dan juga Naya, Ia mengunci pintu rapat- rapat bahkan tidak mengindahkan suara Asma yang memanggil namanya.


Angga berteriak mengeluarkan kekesalannya, Ia marah dan juga kecewa pada dua wanita dirumah itu yang mempunyai sifat sama yaitu manja. Mereka tidak memikirkan dirinya yang bahkan belum makan sejak pagi.


Angga melangkah kearah lemari, Ia membuka laci satu persatu. Mengambil cincin milik Istrinya dan juga kartu ATM berwarna gold yang dulu Ia berikan untuk Naya.


" Apa yang kulakukan ini salah Naya, apa kamu sudah menghukumku dengan kesulitan seperti ini. Sayang, kenapa kamu tidak mengerti aku, aku hanya ingin punya anak karena kamu tidak bisa memberikannya untukku jadi aku menikah lagi. Seharusnya kamu tidak pergi dan masih tetap disini bersamaku. "


Suami gila dan tengil, sampai titik ini bukannya menyesali semua perbuatannya justru masih saja menyalahkan mantan Istrinya.


" Kita lihat saja nanti, apa kamu bisa hidup tanpa membawa ini semua. Sok hebat kamu hingga merasa tidak membutuhkan seorang suami. "


Angga mengambil kunci mobilnya dan berlari keluar, Ia harus mencari sesuatu yang bisa Ia makan demi kelangsungan hidupnya.


" Kamu pikir aku tidak akan bisa hidup tanpamu, tidak apa- apa. Aku baik- baik saja dan sebentar lagi aku akan punya anak sendiri. Di banding sama kamu, lagian siapa juga yang membutuhkan wanita mandul sepertinya. "


Angga terus meyakinkan dirinya bahwa Ia akan baik- baik saja tanpa Naya Istrinya yang dulu.


" Mas, Mas mau kemana. " Tanya Asma yang melihat suaminya melangkah tergesa-gesa.


Angga menghentikan langkahnya dan menoleh, hatinya sedikit melunak ketika melihat Asma mengelus perutnya.


Mendengar ajakan suaminya Asma bersorak kegirangan, akhirnya Ia bisa makan enak tanpa harus repot- repot memasak.


" Tunggu sebentar Mas, aku ganti baju dulu. "


Angga duduk di sofa menunggu Istrinya, lima menit sudah berlalu namun Istrinya belum muncul juga. Ia masih mencoba sabar, hingga menit kedua puluh kesabarannya mulai menipis.


" As........ ! " Baru akan memanggil istrinya seketika Angga melongo melihat penampilan Istrinya.


" Astaghfirullah Asma, kita ini hanya keluar cari makan, bukan mau menghadiri undangan pernikahan. "


Asma tersenyum genit, Ia malah menggoda suaminya. Wanita itu berpikir suaminya mencintainya hingga begitu terpesona melihat penampilannya.


" Mas, aku ini kan Istrinya seorang pengusaha. Mulai sekarang aku harus berpenampilan cantik, agar kamu tidak malu ketika tiba-tiba bertemu dengan rekan kerjamu di luar sana. Apa kata orang nanti kalau aku memakai baju tidur ketika keluar rumah, mereka akan mencemooh padaku karena aku tidak secantik Istri- Istri mereka. "


Angga bertambah pusing, moodnya tiba-tiba buruk kembali melihat penampilan Istrinya.


" Ayo dong sayang, buruan. Ini anakmu sudah laper ingin makan, bagaimana kalau dia nanti ileran. "

__ADS_1


Lagi dan lagi masalah anak membuat Angga luluh, Ia menggandeng tangan Asma yang nampak kesusahan berjalan karena memakai sepatu dengan tumit melebihi batas.


" Pelan- pelan dong jalannya sayang, aku harus terlihat anggun. "


Angga mengusap wajahnya kasar, perutnya sudah keroncongan. Bukannya jalan cepat ini malah kaya jalan pengantin.


Mereka tiba di sebuah resto ternama di ibukota karena Asma tidak mau makan di sembarang tempat, lagi- lagi karena alasan cabang bayinya. Asma selalu mengancam sesuatu menggunakan bayinya dan bodohnya Angga selalu menuruti apa yang dikatakan wanita itu.


Semua pasang mata menatap kehadiran Asma dan juga Angga, mereka memandang dengan tatapan aneh. Bagaimana bisa ada pasangan yang datang ke restoran mewah, yang satu pakai baju biasa dan juga celana pendek dan yang satu bak artis Korea.


" Lihat itu Mas, mereka memperhatikan kita kan, mereka pasti memuji kecantikan ku. Seorang Istri satu- satunya dari Angga Saputra Wardhana, ah..... alangkah bahagianya. "


Berbeda dengan Asma yang di selimuti kehaluan tingkat tinggi, Angga justru menanggung malu. Ia tau arti dari tatapan para pengunjung resto, mereka orang-orang terpandang tentu akan merasa lucu dengan penampilan Istrinya.


" Duduk saja sayang, kamu tidak usah kemana-mana. Biar Mas yang pesankan untukmu. "


Asma yang belum puas memamerkan bodinya enggan untuk duduk.


" Ish Mas, nggak usah cemburu napa. Aku ini Istrimu dan sampai kapan pun hanya akan jadi Istrimu, aku tidak akan tergoda pada mereka. "


Beberapa pengunjung yang mejanya berdekatan dengan meja Anga hanya tertawa geli. Mereka merasa aneh dengan pasangan suami Istri itu.


Asma yang melihat itu justru merasa senang, Ia malah semakin membuka belahan gaun bagian depannya, sehingga hampir menyembulkan bongkahan kembar miliknya.


" Apa lihat- lihat, suka ya. " Bisik Asma


Angga tidak peduli lagi pada tingkah Istrinya, wajahnya sudah memerah menahan malu. Ia memesan makanan tapi bukan untuk dimakan disana melainkan untuk dibawa pulang.


" Bungkus kan tiga Mbak. " Pinta Angga sembari menunjuk menu apa yang ingin Ia beli.


" Berapa Mbak. " Tanya Angga ketika bingkisan nya sudah berada di tangannya.


" Empat ratus limah puluh ribu Pak. " Jawab wanita cantik di depannya.


Angga mengeluarkan uang dari dalam dompetnya dan memberikan sesuai jumlah yang di minta.


Ia segera mengajak Asma meninggalkan tempat itu, Asma awalnya menolak namun melihat wajah Angga yang memerah akhirnya Ia pun menurut.


" Apaan sih Mas, Mas cemburu ya sama aku. Aku ini memang cantik dan masih muda lagi, wajarlah kalau para Pria menatapku seperti tadi. Kamu saja siap- siap, meskipun aku sedang hamil tapi jangan harap kalau aku akan diam saja kalau kamu menyakiti aku. Seperti yang kamu lakukan pada Mbak Naya, aku tidak akan tinggal diam dan menerimanya, aku juga akan mencari Pria lain yang bisa membahagiakan aku diluar sana. "


Angga yang ingin marah akhirnya memilih diam, itu semua karena Ia bingung dengan apa yang di katakan Asma. Sungguh tidak sesuai dengan jalan pikirannya.

__ADS_1


" Bisa diam tidak, jangan ganggu konsentrasi ku dalam mengemudi kalau kamu tidak ingin kita mati bersama- sama dan semua mimpi mu itu jadi sia- siapa. "


Asma akhirnya memilih diam, Ia juga tidak ingin mati sia- sia di usianya yang masih sangat muda.


__ADS_2