
Asma terkejut ketika membuka pintu kamar mandi, karena di depan pintu Angga sudah berdiri dengan wajah yang sulit di artikan.
" Ada apa dengan mu, wajah mu sudah seperti ini kamu masih bilang baik- baik saja. Baiklah kalau kamu tidak mau ke rumah sakit maka tidak usah ke rumah sakit. "
Asma tersenyum karena akhirnya Angga tidak memaksanya untuk ke rumah sakit hari ini. Setidaknya untuk hari ini Ia aman, masalah hari- hari berikut nya Ia akan pikirkan nanti.
" Aku akan panggil Dimas kemari dan memeriksa kesehatan bayimu. "
Baru juga Asma senang sebentar sudah di buat ketar- ketir, sepertinya Angga memang tidak akan mengijinkan hidupnya tenang.
" Sudahlah Mas, bukankah Mas harus bekerja. Aku akan pergi ke rumah sakit sendiri, nanti aku akan beritahu ke Mas bagaimana hasil pemeriksaan nya. "
Meskipun ada yang mengganjal di hati Angga namun Ia akhirnya memilih mengikuti ucapan Asma, karena memang ini sudah waktunya Ia berangkat bekerja.
" Baiklah, kamu hati- hati di jalan. Jangan lupa untuk memberitahukan aku hasilnya. "
Asma mengangguk mengiyakan dan dengan cepat mendorong suaminya keluar kamar, Asma mondar-mandir di dalam kamarnya memikirkan apa yang harus Ia lakukan sekarang.
" Bu, aku pamit keluar sebentar ya. Tadi sudah ijin ke Mas Angga kok. "
Asma buru- buru melangkah keluar dan langsung mengemudikan roda empat nya menuju rumah sakit. Meskipun ragu akhirnya Asma menemui seorang Dokter, Ia mengamati sekitarnya sebelum masuk ke dalam ruangan. Tanpa Ia sadari kalau sejak tadi ada yang tengah mengabadikan setiap gerak-geriknya.
Setelah melakukan beberapa tes, Asma semakin terkejut ketika mengetahui hasilnya.
" Apa ini tidak salah Dok, aku tidak mungkin menderita penyakit ini. "
Dokter mencoba memberi semangat pada Asma, ingin rasanya Ia tidak mengatakan penyakit yang di derita pasien nya namun sebagai Dokter beliau tidak bisa menutupi penyakit pasien. Ini semata-mata agar pasien mau menjalani pengobatan lebih lanjut.
Asma keluar dari ruangan Dokter dengan langkah gontai, rasanya semangat hidupnya hilang seketika. Di saat pikiran nya sedang kalut Ia mendapatkan telpon dari seseorang, lagi-lagi Ia di kejutkan dengan kabar yang baru saja Ia dengar.
Saking terkejutnya ponselnya tidak terasa lepas dari genggamannya, Ia menangis sambil menyenderkan tubuhnya di dinding rumah sakit.
__ADS_1
" Apa aku juga akan meninggal. " Gumam Asma prustasi.
Di tempat berbeda Sean juga baru mendapatkan kabar dari seseorang, Kanaya yang berada tidak jauh darinya langsung menanyakan apa yang terjadi pada suaminya.
" Kabar dari kepolisian, katanya baru saja Robert meninggal. Mereka tidak sempat membawanya ke rumah sakit. "
" Innalillahi wainnailaihi raji'un, apa mereka tau apa penyebab Pak Robert meninggal. "
Sean menggeleng karena Ia tidak sempat bertanya.
" Sayang, aku ijin kesana sebentar ya, tidak apa-apa kan. "
" Sekarang Mas, aku ikut. "
Sean mengangguk dan mengijinkan Kanaya ikut bersamanya, Kanaya bergegas berganti pakaian yang lebih rapi.
" Yuk Mas. "
" Sayang, jalannya pelan- pelan saja, nggak usah terburu-buru begitu. " Protes Sean.
Kanaya akhirnya melangkah sejajar dengan suaminya bahkan Ia menggandeng tangan suaminya itu, merasa Kanaya menggandeng tangannya tiba-tiba suasana hati Sean langsung membaik, Ia bahkan tersenyum bahagia.
Sean dan Kanaya sudah tiba di rumah sakit karena mereka baru di beri kabar kalau jenazah Robert sudah di bawa ke rumah sakit oleh pihak lapas untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Di sisi lain Asma yang ingin menemui Ayahnya dengan penampilan tertutup, namun tiba-tiba Ia terkejut melihat keberadaan Kanaya, akhirnya Ia memilih untuk bersembunyi.
" Apa mereka sudah mengetahui apa penyebab kematian nya Mas. " Tanya Kanaya.
" Hm, dari hasil pemeriksaan beliau meninggal karena mengidap kanker lambung dan sudah stadium akhir. "
Kanaya menghela nafas, Ia tau semua yang bernyawa pasti akan mengalami hal semacam itu.
__ADS_1
" Mas, bukankah Pak Robert ayahnya Asma. Apa sudah ada yang memberi kabar padanya kalau Ayahnya meninggal, bagaimana pun juga nanti keluarga nya pasti akan di cari untuk mengurus kepulangan jenazah. "
Sean hanya manggut-manggut, Ia bingung apa yang harus mereka lakukan. Apakah mereka akan mengabari Asma langsung atau biar dari pihak lapas atau rumah sakit saja yang memberitahukan kabar ini.
Di tempat lain, Bimo juga baru mendapat kabar. Ia langsung menyampaikan kabar duka itu pada Angga, Angga bingung kenapa Bimo memberitahukan kabar itu padanya.
" Apa hubungan kita dengan napi yang meninggal itu Bimo, kenapa kita harus di minta kesana. "
Bimo menghela nafas, meskipun sulit Ia harus menyampaikan kenyataannya.
" Beliau adalah Ayah dari Istri mu Angga, Ayah mertua mu. "
" Ha, apa maksud mu. Apa dia Ayahnya Kanaya. " Tanya Angga yang terkejut.
Bimo menggeleng dan mengingatkan kalau Kanaya bukan Istrinya lagi.
" Maksud mu dia Ayahnya Asma, bagaimana bisa. Bukannya kedua orang tuanya sudah meninggal, dia yatim piatu yang di besarkan oleh Tanteku. "
Angga merasa jadi orang yang benar-benar bodoh, sampai saat ini Ia bahkan tidak tau asal usul Istrinya itu.
" Ibu, jadi selama ini Ibu juga membohongi ku. Tidak mungkin kalau Ibu tidak tau siapa Asma dan bagaimana asal usulnya. "
Bimo memilih diam karena Ia juga baru mengetahui kebenarannya hari ini.
" Lalu dimana Asma, bukankah orang tuanya meninggal. Tunggu, tadi katanya Asma di rumah sakit. "
Bimo mengangguk dan terpaksa menjawab pertanyaan Angga mengenai apa yang di lakukan Istrinya itu hari ini.
" Apa !! untuk apa Asma masuk ke ruangan penyakit dalam, bukankah seharusnya Ia ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilannya. "
Angga semakin di buat bingung dengan semua penjelasan Bimo, akhirnya mereka memutuskan untuk ke rumah sakit.
__ADS_1
...----------------...