
Umi masih begitu mengagumi interior dalam rumah mewah itu, sementara Angga begitu gugup akan bertemu kembali dengan wanita yang di cintainya beserta anaknya yang selama ini sangat di rindukannya namun belum pernah bertemu.
Naya datang namun tidak sendiri, Ia bersama seorang Pria berjas yang memang sengaja di mintai tolong olehnya.
" Maaf menunggu lama. "
Bu Aminah terkesima melihat penampilan menantunya yang dulu di sia- siakannya.
" Jadi benar dia Kanaya, mantan Istrimu. " Bisik Bu Aminah sembari mencubit pelan pinggang putranya.
Angga tersenyum canggung, jantungnya berdebar kencang saat mata mereka bertemu.
" Hai, bagaimana kabarmu Naya. "
" Seperti yang Mas lihat, aku baik- baik saja dan sangat bahagia. " Naya tersenyum sebagai bukti bahwa saat ini memang dirinya dalam keadaan baik.
Angga semakin gugup, apalagi melihat senyum Kanaya. Senyum yang dulu pernah membuatnya tergila- gila.
Angga memindai seisi ruangan, Ia mencari keberadaan kedua buah hatinya namun tidak menemukan apapun.
" Kami punya syarat, dan silahkan Pak Angga mempelajarinya terlebih dahulu. "
Pengacara yang khusus di sewa Kanaya untuk menangani kasusnya langsung menyerahkan berkas penting di hadapan Angga ketika melihat Pria itu memindai seisi rumah kliennya.
Dengan ragu dan bingung Angga mengambil berkas yang di sodorkan pengacara dari Istrinya itu, Angga membukanya perlahan dan terkejut melihat isi dari berkas tersebut.
" Bacalah pelan- pelan Pak, kami akan menunggu. "
Angga mengepalkan tangannya, Ia tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Syarat yang di ajukan Kanaya sebagai bayaran agar Ia bisa bertemu kedua buah hatinya sangatlah sulit untuk Ia kabulkan.
Angga kembali memandang wajah Naya, seolah memohon Naya agar tidak mengajukan syarat itu namun Naya sudah mantap hatinya, Ia bahkan berpura-pura tidak mengerti apa yang di inginkan Angga.
" Bu, ayo kita pergi dari sini. "
Bu Aminah bingung, Ia bahkan belum bertemu dengan kedua cucunya namun Angga sudah mengajaknya kembali.
" Tapi Angga, kita belum bertemu cucu- cucu Oma loh. "
" Bu, ayo. "
Melihat raut wajah serius Angga akhirnya Bu Aminah pun mengekor di belakang Putranya.
__ADS_1
Angga terdiam di samping kemudi, rasanya dirinya belum siap melepaskan semua. Ia melajukan kembali mobilnya meninggalkan kediaman Kanaya.
Sampai di rumah Angga uring- uringan, Asma bertanya apa sebenarnya yang terjadi pada suaminya. Umi menggeleng pelan karena beliau memang tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.
Kembali ke kediaman Kanaya.
Setelah pengacara pulang, Naya mengingat kembali tawaran Sean. Waktu itu Sean mengajaknya makan malam di luar dan Pria itu mengutarakan maksudnya ingin menjalani hubungan khusus dengannya.
Naya menolak karena merasa tidak pantas bersanding dengan Sean karena statusnya saat ini. Dirinya yang hanya seorang janda merasa tidak percaya diri untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius, belum lagi statusnya yang belum pasti.
Naya mengingat kenangan mereka dulu, saat itu mereka masih sama - sama berusia remaja. Dirinya yang waktu itu baru berumur dua belas tahun sedangkan Sean sudah berumur tujuh belas tahun.
Sean selalu memanggilnya anak kecil dan juga keong karena tubuhnya yang kecil, Naya marah karena Sean menyebutnya anak kecil padahal Ia merasa sudah besar.
" Kalau besar nanti aku akan meminta Mas Kevin untuk meminang mu, aku akan menjadikan mu sebagai suamiku. " Itulah janji yang di ucapkan Kanaya dulu.
Sean yang memang saat itu tubuhnya tinggi dan besar semakin menggoda Naya, meskipun Ia juga menyadari perasaannya pada gadis kecil yang sok berpikir dewasa itu.
Naya merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang, meskipun awalnya ragu akhirnya Naya berhasil memberanikan diri.
Naya yang merasa kembali seperti anak remaja turun dari mobilnya, Ia melirik jam di pergelangan tangannya.
Meskipun pada akhirnya ternyata tetap saja Ia yang terlambat datang karena Sean ternyata sudah lebih dulu tiba disana.
" Minumlah, aku sudah pesankan minuman kesukaan mu. "
Naya meremas tangannya sendiri, Ia sedikit grogi apalagi melihat penampilan Sean dengan jas kerja yang malah membuatnya semakin tampan.
" Makasih. " Ucap Naya.
Sean tersenyum dengan menaikan kedua alisnya.
" Apakah aku mengganggumu. " Tanya Naya.
Sean menggeleng, Ia diam- diam mengirim pesan pada orang kepercayaannya untuk meng-handle semua pekerjaannya hari ini. Karena hari ini Ia ingin menemani wanitanya untuk berkeliling kota.
Cukup sudah dua tahun lamanya Naya berada di ruang bawah tanah dan tidak pernah keluar lebih dari satu tahun lamanya.
" Aku free hari ini, apa kamu punya waktu. Aku ingin mengajakmu kesebuah tempat, itupun kalau kamu tidak keberatan. "
Naya ingin mengangguk namun Ia teringat si kembar yang Ia tinggalkan di rumahnya.
__ADS_1
" Soal si kembar tidak perlu kamu cemaskan, mereka aman bersama onty Leony. "
Naya akhirnya ikut bersama Sean, mereka menghabiskan waktu mengunjungi tempat- tempat yang dulu pernah mereka kunjungi.
Setelah puas mendatangi beberapa tempat, Sean kembali menanyakan apa yang di rasakan Naya saat ini padanya. Apa dirinya memiliki rasa yang sama dengan yang Ia rasakan.
" Apa arti diriku selama ini Naya, apa semua yang aku lakukan selama ini belum bisa meyakinkan mu tentang ketulusan cintaku. "
Naya menunduk, Ia bingung harus menjawab apa. Sean akhirnya meminta maaf karena membuat Naya ketakutan dan juga bingung.
" Ayo kita pulang sekarang, si kembar pasti sudah menunggu kita pulang. "
Naya mengangguk dan melangkah perlahan mengikuti Sean.
Di tempat lain
Albert yang sudah babak belur dan di kurung di sebuah gudang, mulai merogoh sakunya. Ia mengambil sebuah foto disana, memandangi serta mengelusnya perlahan.
" Leony, aku tidak tau apa yang sudah kamu lakukan padaku. Namun satu yang harus kamu tau, bahwa aku benar-benar mencintaimu. Rasa ini belum pernah aku rasakan kepada siapapun seumur hidupku. Ya Allah, ijinkan aku yang penuh dengan dosa ini meminta kepadaMu. Pertemukanlah aku dengannya, jadikanlah dia sebagai pendamping hidupku kelak, kalaupun tidak bisa maka jadikanlah dia sebagai Ibu dari anak-anakku. "
Albert tersenyum memandangi foto Leony yang baru Ia ambil beberapa hari lalu ketika masih dirawat di rumah sakit. Ia menertawakan kekonyolannya, karena permohonannya yang seolah terkesan memaksakan kepada sang Khaliq agar wanita yang di cintainya menjadi miliknya kelak.
Albert memindai ruangan tempat Ia di kurung, Pria itu mencoba mencari celah yang bisa Ia gunakan untuk kabur dari sana.
Di dalam kamar, Leony mencoba menghubungi ponsel Albert namun tidak ada jawaban. Dokter cantik itu terus menghubungi nomor Albert namun akhirnya hanya suara operator yang Ia dengar.
" Kamu dimana, apa kamu sudah sembuh. " Gumam Leony.
Sean memperhatikan gerak- gerik sang Adik, Ia kemudian menuju ruang rahasia mereka, disana Ia bertemu dengan kedua orang kepercayaannya.
" Bagaimana, apa sudah ada petunjuk. " Tanya Sean.
Haris menggeleng pelan dengan raut penyesalan, berbeda dengan Willi. Pria berpangkat kolonel itu nampak sedang merangkai satu kejadian dengan kejadian yang lain.
" Aku pikir yang lebih tau markas rahasia klan Cobra adalah.....
Mereka bertiga saling pandang dengan pemikiran yang sama.
" Tidak William, aku tidak bisa menjadikan nyawa Lionel sebagai taruhan. Ini sangat berbahaya, sudah cukup Ia tersiksa selama ini. Biarlah dia hidup tenang tanpa harus terlibat dalam masalah ini. "
Haris dan William kembali diam, kedua Pria itu kembali sibuk mengumpulkan beberapa informasi dari orang-orang kepercayaan mereka.
__ADS_1