Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 38 Pembicaraan Mengenai Status


__ADS_3

Angga uring- uringan ketika bangun di pagi hari, semalaman Ia susah bahkan untuk sekedar menutup mata. Sudah dua kali Ia keluar masuk kamar mandi untuk bersolo karir tapi tetap saja rasanya tidak sama. Juniornya pun tak kunjung mampu Ia jinakan.


Angga ingin marah namun tidak punya cukup keberanian, Ia tidak mungkin membuat Istri mudanya itu stress dan akhirnya akan berakibat fatal.


" Mas pergi dulu ya, kalau perlu apa- apa jangan sungkan minta langsung sama Bibi. " Angga pamit


" Mas tidak sarapan dulu sebelum berangkat kekantor. " Tanya Asma


Angga menggeleng, Ia harus cepat pergi dari sana untuk kebaikan semua orang. Kalau terus berlama-lama disana, Ia takut tidak bisa menahan diri untuk tidak meledak pada Istrinya yang tega menahan hasratnya itu.


Selepas kepergian Angga, Asma datang menemui Naya. Melangkah dengan pelan dan menaiki anak tangga menuju lantai dua. Ia membuka pintu yang ternyata tidak dikunci.


Naya yang mendengar pintu di buka langsung menoleh, Ia berpikir kalau yang datang adalah Angga suaminya tetapi ternyata lain.


" Asma, ada perlu apa kamu masuk ke kamar ku. Apa mas Angga tau kamu kemari, Hati-hati dengan kehamilan mu itu. "


Asma tersenyum sinis, Ia menatap Naya dengan tatapan meremehkan.


" Sebaiknya Mbak mengalah saja dan pergi dari sini, aku kesini datang untuk meminta baik- baik agar Mbak bersedia meninggalkan Mas Angga buatku dan juga anakku. "


Naya mengerutkan keningnya lalu kemudian tertawa kecil.


" Apa maksudmu Asma, kamu memintaku meninggalkan suamiku sendiri begitu. "


Asma mengangguk- angguk membenarkan, memang itu yang Ia mau.


" Wah, ternyata kamu wanita yang tidak tau malu ya. Sudah untung aku mau berbagi suami dengan mu, tapi kamu malah ingin memilikinya seutuhnya. "


Kini giliran Asma yang tertawa masih dengan tatapan merendahkan.


" Hei, apa aku tidak salah dengar. Sebenarnya yang tidak tau malu disini itu siapa, aku atau Mbak Naya. Sudah jelas- jelas kalau kehadiran Mbak disini itu tidak di butuhkan lagi, tapi Mbak masih saja mau bertahan. Coba Mbak pikir saja sendiri, siapa disini yang lebih berhak memiliki Mas Angga. Tentu saja aku, itu karena aku mempunyai anak dari Mas Angga, anak yang kelak menuntut pertanggung jawaban dari Ayahnya, sedangkan Mbak. Wanita mandul yang hanya menumpang status. "


Naya terkejut mendengar ucapan Asma, apalagi soal penilaian mengenai status dirinya. Ia tidak mengerti dengan jalan pikiran wanita itu.


" Bukankah kita bisa jadi saudara Asma, berbagi kasih sayang juga. Kita bisa hidup rukun bertiga Asma. "


" Cukup Naya, aku tidak sama sepertimu. Aku tidak ingin berbagi, itu sebaiknya aku memintamu dengan cara baik- baik, agar kamu mengalah dan merelakan Mas Angga untukku dan juga anakku. "


Asma sudah mulai terbawa emosi, sedangkan Naya masih bisa menanggapi semua dengan santai.

__ADS_1


" Bagaimana kalau aku tidak mau, kamu tidak bisa memaksaku menuruti semua yang kamu inginkan. "


Asma tertawa sinis dan menatap Naya, Lagi-lagi masih dengan tatapan merendahkan.


" Baiklah, semua keputusan ada di tanganmu. Aku sudah datang kemari dan meminta mu secara baik- baik tapi kamu tidak mendengarkan. Jangan salahkan aku jika hidupmu dan juga hidup keluarga mu akan menjadi tidak tenang, aku bisa melakukan apa saja, termasuk melenyapkan orang-orang yang ku anggap menghalangi tujuanku. "


Naya menoleh, Ia sedikit terpancing dan terkejut mendengar ucapan Asma yang bernada ancaman itu.


" Apa maksudmu Asma, jangan bilang kalau kejadian kemarin itu ada campur tangan mu, atau jangan- jangan kamu adalah dalang kejadian itu sebenarnya. "


Asma kembali tertawa namun kali ini dengan tawa yang nampak menyeramkan. Naya tidak menyangka wanita secantik Asma mampu melakukan perbuatan kotor itu, dia adalah ciri - ciri wanita bermuka dua.


" Aku bisa melakukan hal yang lebih keji dari itu Naya, termasuk melenyapkan semua orang yang menghalangi jalan ku. Pikirkanlah dan segera ambil keputusan secepatnya, ingat kalau aku tidak main- main dengan semua yang aku ucapkan. "


Asma meninggalkan Naya di kamarnya seorang diri, Naya duduk di sofa dan mengelus perutnya yang kini janinnya sudah memasuki usia tiga bulan.


" Apa yang harus kita lakukan Nak, Mama tidak bisa mempertaruhkan keselamatan kalian. Tapi Nak, kalian juga butuh sosok Ayah nantinya, apa yang akan Mama katakan nanti jika kalian menanyakan dimana keberadaan Ayah kalian. "


Naya mengirim pesan pada suaminya, Ia harus bertemu dengan suaminya itu di tempat lain agar tidak ada gangguan dari wanita itu.


" Bibi, Naya keluar sebentar ya. Mau ke butik, ada sedikit kendala disana. "


" Ikuti dia. " Titah Asma pada orang suruhannya. Asma ternyata memata- matai istri pertama suaminya itu.


" Iya kami melihatnya Bu, bagaimana. Apa langsung kita eksekusi saja sekarang. "


" Tidak perlu, cukup kalian pantau saja dulu. Kalian boleh mengambil tindakan kalau Dia memperlihatkan gelagat yang tidak baik, atau jika dia pergi menemui suamiku secara diam-diam "


Asma langsung menelpon orang suruhannya agar mengikuti Naya. Naya mengemudi dengan santai, setelah menempuh perjalanan setengah jam Naya baru mulai menyadari ada yang mencurigakan.


Ada yang seperti mengikutinya sejak tadi, Ia langsung teringat dengan ancaman Asma.


" Ternyata pelakor itu tidak main- main. Baiklah, ayo Nak kita lihat sampai mana mereka mengikuti kita. " Gumam Naya.


Naya memarkirkan motornya di parkiran butiknya dan dengan langkah anggun Ia memasuki butik miliknya, agar para penguntit tidak tau kalau kehadiran mereka sudah di ketahui olehnya.


Merasa aman dan tidak ada yang melihat, Naya memutuskan mengintip keluar. Benar saja, ternyata mobil berwarna hitam yang mencurigakan tadi juga berhenti tepat di seberang butik miliknya.


" Naya, ada apa, kok ngintip gitu. "

__ADS_1


Naya menggeleng dan mengatakan kalau tidak ada masalah, namun Aulia bukan orang yang mudah di bohongi.


" Aku tau kamu Naya, ini bukan dirimu. Kalau sampai kamu berprilaku aneh seperti ini pasti ada masalah. Cepat ceritakan padaku, setiap masalah kalau kita berbagi akan terasa ringan, apakah kamu masih ingin membohongiku. "


Naya akhirnya menceritakan semuanya karena dirinya memang tidak bisa berbohong pada sahabatnya itu.


" Apa....... ! "


Naya terkejut mendengar Aulia yang tiba-tiba terpekik, Ia mengelus dadanya pelan.


" Lia, pelan- pelan dong. Jantungku mau copot karena mendengar suaramu yang menggelegar itu. "


Lia cengengesan dan dengan cepat Ia meminta maaf, Ia lupa kalau sahabatnya saat ini sedang hamil.


" Habis aku juga kaget dengan semua ceritamu tadi, tapi kok tega benar Mas Angga melakukan itu padamu. Apa dia sudah tau kalau kamu sekarang juga sedang hamil. " Tanya Aulia agi.


Naya menggeleng, Ia kembali mengingat usahanya memberitahu suami dan juga mertuanya perihal kehamilannya, tapi tidak ada satupun yang percaya padanya.


" Aku sudah beberapa kali mencoba mengatakan yang sebenarnya pada mereka Lia, tapi mereka sama sekali tidak percaya, bahkan mereka mengatakan kalau aku terlalu bermimpi ketinggian. Ya, ini memang bukan sepenuhnya salah mereka, itu semua karena memang sudah sepuluh tahun bersama namun aku belum hamil juga di tambah dengan vonis dari Dokter itu. "


Aulia memeluk tubuh sahabatnya, Ia seakan ikut merasakan apa yang Naya rasakan saat ini.


" Sudah Naya, kamu yang sabar ya. Biarkan saja kalau mereka tidak percaya, nanti juga mereka akan lihat sendiri kalau perutmu mulai membesar. Memangnya orang hamil bisa di sembunyikan apa. "


Naya mengangguk, Ia merasa sedikit lega setelah curhat pada orang yang bisa Ia percaya.


" Lalu siapa orang-orang yang berdiri di luar sana Naya. "


Naya kembali menceritakan semuanya pada Aulia tanpa ada yang Ia tutupi lagi.


" Astaghfirullah kejam sekali Dia, kenapa bisa ada manusia yang tidak pandai bersyukur seperti Dia. Sudah di berikan tempat malah ingin menjadi ratu. Baiklah, kamu tidak usah khawatir, aku akan membantumu menemuinya tanpa sepengetahuan mereka. "


Beberapa Pria itu terus memata- matai butik milik Naya tanpa mereka tau kalau yang mereka mata- matai saat ini sudah tidak ada disana.


Naya merubah semua penampilannya, dari baju sampai atribut yang Ia gunakan. Ia menggunakan pakaian syar'i lengkap dengan masker, tak lupa juga Aulia meminjamkan mobil miliknya untuk Naya.


" Ah Bro, apa kalian tidak lapar. Kita sudah menunggu disini sejak tadi, namun tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Mungkin benar target sedang banyak pekerjaan disana. Bagaimana kalau kita makan saja, kalau kita terus berjaga seperti ini yang ada bukan target yang akan kita habisi tapi kita yang habis duluan karena kelaparan. "


Akhirnya mereka memutuskan untuk makan siang, kebetulan mereka berhenti tepat di depan warung makan. Aulia yang mengintip langsung tertawa senang.

__ADS_1


__ADS_2