
Angga merasa bahagia karena merasa berhasil meluluhkan hati Kanaya, bahkan tanpa harus mengalami kesulitan apalagi berderai air mata.
" Aku bilang juga apa, dia pasti masih mencintai ku. Angga gitu loh, pesona mu masih belum luntur. Buktinya dengan begitu mudah Kanaya menuruti semua keinginan mu. "
Angga berbicara pada dirinya sendiri melalui pantulan cermin sebelum berangkat bekerja, wajahnya begitu berseri-seri karena belakangan ini banyak hal positif terjadi padanya.
" Ada apa sih Mas, kok senyam- senyum dari tadi. "
Angga memandang siapa yang sedang berbicara dengan nya melalui pantulan cermin dan itu ternyata adalah Asma. Ia mendengus kesal karena hayalan indahnya terganggu.
" Aku senyam- senyum atau apapun itu, semua bukan urusan mu. "
Angga melangkah membuka lemari untuk mengambil jas kerjanya.
" Mas, kok Mas marah sih. Aku tanya baik- baik loh, kok jawabnya gitu. " Asma sedikit terkejut mendengar jawaban suaminya.
Ia semakin marah karena Angga seakan mengabaikan dirinya, matanya mengikuti kemana arah langkah suaminya. Ketika Angga ingin memakai sepatu miliknya, Asma bergegas merebut sepatu itu dan memasangkan pada kaki suaminya. Namun kali ini Angga menolak, justru Ia bingung dengan sikap Asma. Biasanya dia acuh saja bahkan tak pernah memperhatikan apapun yang di lakukan suaminya ketika bersiap- siap.
" Tidak perlu Asma, aku bisa sendiri. Lagian tumben kamu pagi- pagi mau ngurusin aku. Biasanya juga kamu selalu sibuk dengan ponsel mu itu atau dengan alat-alat make-up mu. "
Masih dengan gaya jongkok, Asma memandangi kepergian suaminya yang nampak dari wajahnya tengah berbahagia.
" Ada apa dengan Mas Angga, tidak biasanya dia seperti itu. Ah..... jangan bilang kalau sudah ada wanita lain, bukankah dia pernah katakan sebelumnya. Kalau sampai aku tidak juga hamil maka dia akan mencari istri ketiga. Tidak..... aku tidak akan membiarkan itu sampai terjadi. "
Ia ingin berlari keluar mengejar suaminya namun saat ini dirinya saja masih memakai baju tidur, bagaimana mungkin Ia keluar rumah dalam keadaan seperti ini.
" Astaga Asma, kamu tidak mungkin pergi dalam keadaan seperti ini. Aku harus terlihat sempurna, tidak boleh kalah dengan wanita manapun. " Gam Asma.
Ia berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri, Ia memakai pakaian yang menurutnya paling pas di tubuhnya tentu dengan memperlihatkan bentuk tubuhnya, begitu juga dengan riasan di wajahnya.
Ketika hendak keluar, Ia berpapasan dengan Ibu mertuanya yang langsung bertanya kemana Asma akan pergi dengan penampilan seperti itu.
__ADS_1
" Ah sudahlah Bu, aku juga banyak pekerjaan di luar. Aku tidak bisa seperti Ibu yang hanya bisa berdiam diri di rumah saja tanpa melakukan apapun. "
Asma melenggang keluar rumah sementara Bu Aminah hanya berusaha sabar sambil mengusap dadanya pelan. Sampai saat ini hanya itu yang bisa wanita itu lakukan, sabar dalam menghadapi perlakuan dari menantunya itu. Bagaimana pun juga Asma adalah menantu pilihannya, karena dialah Angga akhirnya menikahi Asma.
Asma melajukan mobilnya, tujuannya adalah ke kantor suaminya. Ia langsung masuk ke dalam gedung bertingkat lima itu. Namun kemudian Ia di tahan oleh resepsionis. Asma yang tidak terima akhirnya terjadi keributan disana.
" Bisa- bisanya kamu harus bertanya alasan aku menemui suami ku ha.... Kantor ini adalah milik suami ku yang artinya adalah milikku juga, kamu itu hanya pegawai disini. Apa hak mu berbicara dengan ku. "
Resepsionis menjadi bingung, karena niatnya bukan seperti itu. Ia tidak melarang Istri dari atasannya itu untuk masuk.
" Ada apa ini, kenapa ribut- ribut. "
Ternyata itu adalah suara Bimo, asisten Angga dan termasuk orang yang paling di percaya oleh suaminya.
" Oh Bagus, belum cukup yang satu kini di tambah lagi satu. Kalian itu nggak guna tau, kalian menghambat pekerjaan ku. "
Bimo menatap Indah, meminta penjelasan mengenai apa yang terjadi sebenarnya.
" Bu Asma ingin bertemu Pak Angga Pak, saya hanya mengatakan kalau Pak Angga tidak ada di tempat tapi Bu Asma tidak terima dan menyebut kalau saya sengaja melarang nya masuk. "
" Maaf Bu, apa yang di katakan Mbak Indah benar. Pak Angga memang pagi ini tidak masuk. "
Asma semakin marah, Ia bahkan menertawakan kedua pegawai suaminya itu.
" Eh kalian itu, sama-sama karyawan. Tidak usah banyak alasan hanya untuk menghalangi aku bertemu dengan suami ku, jelas- jelas tadi suamiku sudah berangkat bekerja. Minggir..... !!. "
Bimo meminta Indah untuk diam, mereka membiarkan Asma pergi ke ruangan Angga agar Ia tau kebenarannya.
" Mas...... !!. "
Asma mengetuk pintu ruangan suaminya namun tidak ada jawaban dari sang empunya ruangan. Bimo datang dari arah belakang, Ia hanya berdiri agak jauh dari tempat Asma berdiri.
__ADS_1
Asma membuka pintu yang ternyata tidak di kunci, Asma masuk dan mencari suaminya ke semua penjuru.
" Mas, kamu dimana. " Panggil Asma.
Sudah semua ruangan Ia masuki namun tidak juga Ia temukan keberadaan suaminya. Akhirnya Ia memutuskan keluar, Ia melihat kesana kemari dan melihat Bimo.
" Hey kamu, kesini sebentar. " Panggil Asma.
Bimo langsung menoleh karena Ia tau di lantai tempat Ia berpijak tidak ada orang lain selain dirinya dan juga atasannya itu.
" Ish lama amat. " Gerutu Asma.
Bimo berdiri di depan Asma menunggu apa yang akan di katakan wanita itu.
" Katakan padaku, dimana Mas Angga sekarang. "
Bimo akhirnya mengatakan kemana atasannya itu pergi pagi ini, sehingga Ia tidak masuk kerja dan melimpahkan semua pekerjaannya pada dirinya.
" Oh gini Bu, pagi ini Bapak memang ijin tidak masuk. Katanya Ia ada pertemuan di luar bersama orang yang sangat penting dalam hidupnya, katanya ini menyangkut kebahagiaan masa depannya. "
Asma mendengarkan semua yang di katakan Bimo yang membuat darahnya mendidih seketika.
" Baiklah, terima kasih. Kamu bisa kembali bekerja. "
Asma mengepalkan tangannya sembari berlari menuju lift.
" Sial, rupanya dia ingin main- main dengan ku. Ternyata dia tidak main- main dengan ucapannya, aku akan melenyapkan siapapun yang menjadi penghalang kebahagiaan ku. " Ucapnya geram.
Ia pergi meninggalkan kantor suaminya dengan emosi yang membuncah di hatinya, beberapa karyawan yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala.
Tentu mereka membanding- bandingkan perbedaan Asma dengan istri tua dari atasan mereka. Dua wanita dengan kepribadian yang berbanding terbalik, bagaikan langit dan bumi.
__ADS_1
Banyak dari mereka yang menyayangkan keputusan atasan mereka, Angga memilih menceraikan istri tuanya demi menikahi istri mudanya.
Mereka yang bekerja disana tentu bisa merasakan perbedaan di kantor tempat mereka bekerja, saat Kanaya sedang menjadi Istri Angga dan ketika Ia di gantikan dengan wanita lain.