
"Aku ingin kau mencaritahu gadis bernama Karla, aku ingin detail nya, dan seperti apa dirinya." Isya sangatlah penasaran dengan Karla, sejak pertemuannya kemarin membuat Isya tertarik untuk mengenal lebih jauh siapa sebenarnya Karla.
"Baik tuan kalau begitu saya pamit."
Isya menyenderkan kepalanya dikursi tempat kerjanya, pikirannya selalu tertuju pada Karla, bisa dibilang itu cinta pandangan pertama, ya Isya adalah tipe laki-laki yang tidak tertarik akan hal percintaan, tapi setelah melihat Karla kemarin, entah kenapa dia ingin sekali bisa mengenal gadis yang kemarin telah menolong adiknya.
Isya memang belum pernah jatuh cinta sebelumnya, dan ini kali pertma dia merasakannya, hal aneh yang terjadi pada perasaannya, sungguh menyenangkan.
"Aku akan berusaha mencaritahu tentangmu Karla, tunggulah aku pasti bisa mendapatkanmu." tekad kuat yang sudah Isya ucapkan, dia tidak akan mengingkari.
💕💖💕💖💕💖💕
"Aku akan berbicara penting kak... " mereka berdua benar-benar berbicara empat mata, ya keduanya akan membuka kebenaran yang mereka sembunyikan satu sama lain, yaitu masalah perusahaan dan Markas pribadi milik mereka.
"Katakan saja, aku akan mendengarkan." Katrin mengatur nafas nya, akhirnya tiba dimana dia akan memberitahukan rahasianya pada Karla, begitu juga dengan Karla yang akan memberitahu pada Katrin.
"Huft... baiklah, maafkan aku selama ini aku menyembunyikan sesuatu padamu kak.... sesuatu yang amat sangat penting, tapi sekarang lah saat yang tepat untuk bisa mengatakan ini." Katrin menjeda perkataan nya, dan menatap Karla, dia mendengarkan dengan seksama.
"Sebenarnya pada saat kejadian kakek, aku memutuskan untuk membangun perusahaan sendiri, dan ya aku sudah memiliki perusahaan sendiri, aku sengaja kak maaf, karena aku takut perusahaan ayah hancur, jadi aku membantunya diam-diam." jelas Katrin, Karla terlihat begitu tenang, dia menatap adiknya.
"Dan perusahaan mu maju kan? itu sangat hebat adik, kamu hebat..... kamu telah membantu daddy dan keluarga kita." puji Karla bangga, kemampuan adiknya sungguh diluar perkiraan nya, dia sudah meningkat pesat, dasar gadis nakal, dia begitu genius, hebat.
"A-ahh kakak bisa saja. " Katrin gugup, pujian Karla membuat dia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, dia benar-benar tersipu.
"Kamu harus terus belajar agar perusahaan mu makin sukses, dan kamu bisa dengan bangga memperlihatkan usahami selama ini setelah selesai pendidikan, setelah itu tetaplah fokus akan tujuanmu." Katrin tidak menyangka Karla akan memberikan wejangan seperti itu, sungguh kakak yang sangat penyayang.
__ADS_1
"Dan aku akan terus memperhatikan mu, dan memberi dukungan serta aku akan selalu melindungimu Katrin." batin Karla, dia akan terus mengawasi dan memperhatikan pertumbuhan kembarannya, serta Karla akan selalu menjaga adiknya.
Katrin tersenyum manis, dia senang bisa membuat kakaknya bahagia, dia akan terus melangkah maju, jalan mereka masih panjang.
"Aku juga punya satu rahasia yang belum kamu ketahui, dan maaf memang aku berencana memberitahukan setelah lulus sekolah menengah pertama." Katrin menatap dengan serius, dia juga tidak tahu jika Karla memiliki rahasia.
"Hah kakak juga? wah rahasia apaan nihh." goda Katrin, tapi tak berefek apapun pada Karla.
"Aku punya markas khusus, dan pribadi milikku, yaitu markas detektif rahasia dan juga markas untuk penelitian alat canggih milikku." Katrin tercengang mendengar penjelasan Karla, dia tidak tahu jika kakaknya juga diam-diam membuat markas pribadi.
"Whatt?! beneran kak..... ya ampun kakakku hebat, boleh lah sekali-kali ajak aku kesana." Katrin penasaran dengan markas milik Karla. Karla melirik kilas, bibirnya tertarik keatas, senyum tipisnya terlihat disana.
"Bukanlah sudah? apa kamu lupa?." Katrin berfikir keras, hah sudah? kapan? itulah yang terpikirkan saat ini.
"Iya itu villa milikku.... belum ada yang tahu kecuali uncle Dafa, karena markas utama mafianya juga berada di sekitar villa, dan masih banyak ruangan untuk penelitian ku, begitu juga dengan markas detektif rahasia yang sudah ku bangun." jelasnya panjang kali lebar, agar Katrin tidak bertanya lagi.
"Owhh begitu, pantas saja uncle Dafa tiba-tiba beroindah markas utama." akhirnya terjawab sudah rasa penasaran Katrin.
Mereka sudah sama-sama memberitahu semua rahasia masing-masing, dan semuanya memang berjalan baik, pada saat penyelesaian Devan, semuanya semakin maju dan berjalan lancar. Baik itu markas ataupun perusahaan, keduanya sama-sama berkembang sangat pesat.
"Tapi aku tidak akan memberitahukan keluarga lain, karena sekarang bukan waktu yahh tepat kak, mungkin jika aku sudah selesai dengan pendidikan ku."
"Aku juga setuju, biarkan kita sekarang bersikap layaknya remaja, dan mengawasi keluarga kita."
Itulah sifat mereka, memang Karla dan Katrin tidak berencana memberitahukan kepada keluarga mereka cukup Dafa dan Kenzo saja cukup, selebihnya Karla ataupun Katrin belum bisa memberitahukan keluarga lainnya.
__ADS_1
"Karla... Katrin ayo makan malam..." teriak Dinar, dari lantai bawah.
Mereka menghabiskan waktu bersama, dan ya tentunya berbincang hangat, Andra tumbuh menjadi laki-laki berparas tampan seperti Arsya, dan tak kalah cerdas seperti kedua kakak kembarnya. Bahkan dia langsung dinaikan ke kelas enam sekolah dasar, dan tahun depan dia sudah memasuki sekolah menengah pertama, bukti bahwa keluarga Azhar sangatlah genius.
"Dad aku ingin berlatih bersama uncle Dafa, bolehkan?." Arsya mengeryitkan dahinya, maksudnya berlatih bela diri atau apa?.
"Berlatih apa sih dek?." tanya Katrin langsung, dia juga tidak paham apa maksud Andra.
"Tentu saja kak, aku juga ingin bisa bela diri, untuk menjaga kedua kakakku." Andra harus bisa dalam bela diri, untuk melindungi kakak kembarnya.
"Widihh beneran emangnya?." tanya Katrin ragu, karena umur Andra terbilang masih sangat dini. Tapi semangatnya membara, Katrin menyukai laki-laki seperti Andra yang penuh dengan keseriusan.
Karla hanya melirik kilas, dan melanjutkan makannya tanpa ikut berbicara, sebenarnya dia bisa saja membantu Andra, tapi biarlah dia memilih untuk dilatih oleh siapapun.
"Bener dong kak.... aku cowok harus kuat dan berani."
"Iya boleh saja tapi harus tetap hati-hati ok." Arsya mengizinkannya, karena dia percaya Dafa pasti mau melatihnya, Arsya jadi teringat masa kecilnya yang harus menjalani latihan bersama dengan Devan, tapi semua sudah berlalu.
Arsya masih menghukum mereka yang mengkhianatinya, karena agar mereka jera, karena banyak orang yang meremehkan keluarga Azhar, terkadang Arsya bertindak keras dan tanpa ampun, jika Dinar tidak mencegah, maka mudah bagi Arsya untuk mencabik tubuh mereka, mungkin semua sifatnya menurun pada Karla.
"Yey makasih dad... aku akan berlatih dengan baik." ucapnya dengan senyum manis, Andra melirik Karla, sebenarnya di lubuk hatinya, ingin sekali kakak Karla yang melatihnya, karena kakaknya sangat mahir dengan segala aspek bela diri, bahkan dia penembak hebat.
Suatu ketika Andra pernah melihat bagaimana Karla berlatih diruang latihan baru miliknya, Arsya memang sengaja membangunnya, untuk latihan dirinya dan juga keluarga yang lainnya, berhubung Karla juga menyukainya terkadang mereka berlatih bersama, dan pada saat itu Andra bertekad untuk bisa ilmu bela diri. Tidak hanya itu Andra bahkan melihat kakaknya sangat hebat menembak tanpa meleset satupun peluru miliknya, Andra sebenarnya sangat mengagumi kedua kakaknya, mereka berbeda karakteristik, tapi satu hati.
"Tapi ingat ya sayang.... harus inget waktu, kalau waktunya belajar kamu gak boleh terus latihan." Dinar mengingatkan agar putranya tidak melupakan belajarnya.
__ADS_1