
Bom sudah berfungsi dengan baik, mereka telah meledak tepat bersamaan dengan penyerangan markas utama. Senyum iblis Karla belum padam, dia masih menikmati nya, bahkan ingin segera menghabisi mereka, hawa membunuhnya makin kental.
"Cepat bereskan mereka." titah Dafa pada bawahannya, untuk segera menumbangkan markas utama, yang ternyata tidak ada Devan disana, hanya ada Hayfa dan Ferdian.
"Sial mereka telah menemukan markas utama, aku harus beritahu leader." Ferdian segera menghubungi Devan, dia tidak tahu ternyata Arsya akan langsung menyerang setelah pembicaraan nya dengan Devan.
Ferdian menghubungi Devan, namun naas telponnya tidak aktif, hak ini membuat Ferdian tidak bisa berbuat apapun, tapi dia harus bisa membalas serangan musuh.
"Baiklah aku akan membalas serangan dadakan mereka." Ferdian belum tahu jika seluruh markas milik Devan sudah hancur akibat dari ledakan bom, dia menghubungi markas lain, tapi ternyata semuanya tidak bisa di hubungi.
"Bagaimana ini Fer....? aku tidak mau tertangkap."Hayfa panik tak karuan, dia tidak mau berakhir dengan mengenaskan apalagi Hayfa tahu jika Arsya sangatlah ganas.
"Kita akan balas... ayo kerahkan pasukan." belum sempat mereka mengerahkan bawahan, peluru sudah menembus pintu tempat keduanya berada.
Aaaaaaa...
Jerit Hayfa histeris, ingin rasanya Hayfa segera pergi dari pertempuran, dia sudah terlalu takut untuk sekedar mendekat. Karla kini berada sekitar beberapa meter dari tempat persembunyian Hayfa dan Ferdian, ya peluru itu milik pistol andalan Karla.
"Dad disini tidak ada kakek.... seperti nya dia sudah pergi tanpa memberitahukan keduanya." Karla yakin jika Devan sudah tidak ada di markas utama ini, bisa saja sekarang dia sedang menyiapkan pasukan untuk membalas, tapi seperti nya Karla tahu lokasi nya.
"Benar.... daddy juga berfikir begitu, seperti nya dia juga sedang menyiapkan untuk serangan balasan, dilihat kamera pengawas disini lumayan banyak."
"Dad lebih baik, daddy pergi ke mansion, sepertinya kakek ada disana." ucap Karla dengan penuh keyakinan.
"Wah kesempatan... daddy akan kesana, kamu tetaplah berhati-hati, Ferdian sangatlah licik." Arsya pun beranjak pergi, mereka harus segera membereskan semuanya.
"Aku tidak senaif itu dad.... " bisiknya dengan senyum iblisnya, Karla menembakkan lagi pistolnya ke pintu tersebut, namun karena tidak melihat ada Ferdian tepat di belakang pintu, Karla terkena pukulan di bagian bibirnya, dan membuat nya sedikit mengeluarkan darah di sudutnya.
Karla terduduk di lantai dan membelakangi Ferdian, hal itu membuatnya makin emosi. Segera Karla mengusap sudut bibirnya kasar, dan segera bangkit dari duduknya, dengan masih membelakangi Ferdian.
__ADS_1
"Hmm anak kecil jangan sok jagoan, lebih baik pulang saja bertemu ibumu." olok nya, Ferdian hanya tidak tahu sedang berhadapan dengan singa betina yang sedang terbakar api.
Dengan cepat kaki lincah nya menendang ke arah bagian belakangnya, sudah cukup lama dia bersabar, dan kini ingin rasanya dia mengamuk dan melenyapkan mereka.
Bukkkkkk........
Seketika tubuh Ferdian terpental dengan keras ke samping Hayfa, Hayfa terkejut dengan hal itu, baru kali ini dia melihat seorang gadis sebrutal itu, dan dia masih remaja.
"Opss.... maaf paman kau menghalangi." ejeknya dengan menatap rendah Ferdian. Ferdian berusaha bangun karena tubuhnya tengkurap, dan hal itu membuat nyeri sekujur tubuhnya, dia tidak menyangka gadis remaja memiliki kekuatan sebesar itu, apalagi sampai membuat dia hampir pingsan.
Hayfa semakin panik, dia berusaha kabur dan pergi, namun tidak ada jalan keluar, karena Dafa sudah menyuruh bawahannya untuk mengamankan ruangan yang di masukin Karla, dan parahnya ruangan tersebut tidak ada satupun jendela.
"Aku akan balas kau bocah..... " nadanya meninggi, kini giliran Ferdi yang akan membalas,
"Kita lihat saja kucing penakut." Karla tahu jika Ferdi sudah gemetaran.
"Dan ingatlah nona gatel, jangan kau dekati daddy ku, apalagi sampai merayu, ingatlah dia punya putri tangguh." ucapnya dengan penuh penekanan, dengan wajah dinginnya, membuat bulu kuduk Hayfa merinding.
Dengan gerakan cepat Karla berhasil memegang rambut Hayfa yang lumayan panjang, dan dengan keras Karla menarik rambut Hayfa tanpa ampun. Wajahnya tanpa ekspresi, dia akan membungkam mulut kotor yang telah merendahkan bunda nya.
"Tutup mulut kotormu dasar tidak tahu diri.... kau akan menderita mulai saat ini juga." Karla menarik keras rambut Hayfa, sehingga sang pemilik rambut menjerit histeris.
"Aaaaa.... lepaskan aku.... lepas.. sakit... sakitt.... " rintihnya keras, namun tidak di dengar oleh Karla, dia tidak akan bercanda jika sudah ada yang menghina bunda nya.
"Kita lihat seberapa kuat kau menahan sakit ini." Senyum iblisnya terpancar jelas, Ferdian berusaha membantu Hayfa, tapi Karla tidak akan membiarkan nya.
"Lepaskan dia bocah sialan !!. " sentaknya keras, dengan cepat Karla menodongkan pistol tepat dikepala Hayfa, seketika Ferdian terdiam ditempat.
"Jika kau banyak bicara dia akan mati saat ini juga, lihatlah wajah menyedihkan nya ini, ingin rasanya aku bermain dulu dengan nya hahaha..... " seringai nya membuat Ferdi tidak berani untuk mendekat, terlebih pistol yang di pegangnya bukanlah mainan, tapi asli.
__ADS_1
"Uncle target ada disini, tembak sekarang." bisiknya lewat earpod yang sudah tersambung, mereka menggunakan nya untuk berkomunikasi dengan mudah, dan itu juga buatan Karla sendiri.
"Ok." Dari jarak yang tidak terlalu jauh, dan mudah sekali dalam jangkauan Asfi, pertama dia akan melumpuhkan Ferdi di bagian kaki, agar dia tidak bisa kabur.
Dorr.....
Lesatan peluru yang langsung mengenai target dan bidikannya sangat pas, inilah penembak jitu keluarga Azhar, seketika Ferdi terduduk memegangi kakinya yang sudah terluka dan banyak mengeluarkan darah.
"Sial.... akhh sakit sekali. " rintih Ferdi, rasanya kakinya akan patah.
"Uncle sekarang tangkap Ferdian dan amankan dia." Karla segera menghubungi Dafa untuk menangkap dan mengamankan Ferdian.
Segera setelah di hubungi Dafa langsung ke tempat Karla berada, dengan cepat Dafa langsung menangkap Ferdian yang masih menahan sakit. Dafa tidak menyangka jika Karla sangatlah hebat, bisa menangkap keduanya, dan bertindak dengan cepat.
"Ini baru akan di mulai aunty gatel, ingatlah tidak ada kata ampun untukmu." Karla langsung mengikat tubuh Hayfa, air matanya luruh di pipinya, semuanya berantakan, tidak ada yang berhasil.
"Aku mohon maafkan aku Karla.... aku mohon, akan aku tebus kesalahan ku, jadi lepaskan aku, aku hanya diperintah." pintanya Hayfa tidak ingin hidupnya hancur, sebenarnya tanpa diketahui oleh Hayfa, dia hanya di jadi akan alat oleh Devan, apalagi jika Devan tahu Hayfa sangat menyukai putranya.
"Baiklah, jika kau bisa memberikan kesaksian atas apa saja yang kakek lakukan, dan pengakuan mu kepada bunda ku, itu bisa membuat hukuman mu sedikit ringan."
"Tapi kau tidak akan lepas dari jerat penderitaan atas dosa yang kau lakukan." Karla hanya perlu bukti agar bisa menjatuhkan sang kekek, dan pengakuan Hayfa agar orangtua nya bisa berbaikan dan kembali normal lagi.
"Baiklah akan aku lakukan, meski nanti aku masih harus mendapat hukuman, aku siap, tapi aku mohon jangan bunuh aku."
"Itu tergantung pendapat keluarga yang lain." setelah mengatakan itu, tanpa menunggu jawaban Hayfa, dia sudah lebih dulu meninggalkan nya.
"Bawa mereka uncle, kita akan menginterogasi mereka berdua." ucapnya setelah berada di luar.
Rasa takut selalu menyelimuti hatinya, mungkin ini adalah balasan dari dosa yang telah di lakukan selama ini. Tidak terima karena dia sadar bahwa Devan hanya memanfaatkan nya.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu orang tua sialan."