
Karla dan yang lainnya kembali ke markas utama milik Dafa, sekarang mereka akan membuat rencana baru. Robot pelacak milik Karla uang terhubung dengan Katrin tiba-tiba saja aktif dan memberi sinyal, namun hanya dalam hitungan menit milik Katrin sudah mati lagi, membuat Karla semakin panik tak karuan.
"Ahh siall.... padahal tadi udah aktif, gue mau cek ulang, bisa saja kita menemukan petunjuk." Karla beranjak pergi ke ruangan miliknya, sebenarnya dia bisa saja ke markas rahasianya, tapi dia tidak mau kalau daddy nya tahu, jadi dia sudah meminjam tempat di markas Dafa.
Karla dengan cepat mengeceknya dengan teliti dan tidak sampai terlewat, dia ingin segera menemukan Katrin, Karla benar-benar khawatir akan keselamatan adiknya, dan itu membuat hatinya gundah, sekarang dia harus bisa menemukan markas Red Heart, hanya itu yang sangat mencurigakan, bisa saja Katrin diculik oleh mereka.
"Bagaimana Dhafi? lo udah nemu markasnya?." tanya Dafa yang juga masih mencari tahu lokasi markas utama mafia bejat itu.
"Sejauh ini aku baru menemukan dua markas cabang, jaraknya lumayan jauh, dan sepertinya markas utama memasuki lokasi yang sulit untuk dijangkau, dan itu markas baru." karena setahun Dhafi markas utama Red Heart dulu sangat mudah untuk dilacak dan diselidiki, tapi sekarang Dhafi hanya menemukan dua markas cabang, dan jaraknya lumayan jauh dari sini.
"Syukurlah itu bisa jadi petunjuk kita, aku akan segera kerahkan pasukan untuk melumpuhkan kedua markas cabang, dan kita akan tangkap salah satu ketua yang berjaga di markas cabang itu." Dafa segera menemui tangan kanannya untuk segera mengeksekusi kedua markas cabang Red Heart.
"Berarti siswi yang hilang juga mereka yang melakukannya? mereka menculik para gadis?." tanya Farhan pada Arsya.
"Iya mereka pelaku sesungguhnya, kita akan cari tahu lebih dalam, dan menangkap leader nya, dengan begini markas Red Heart harus benar-benar dihancurkan sampai akarnya." jelas Arsya, dia juga sudah tahu kejahatan mereka, hanya saja leadernya belum diketahui secara pasti.
"Lalu kita harus mencari Katrin dimana om?." Farhan menjadi tidak tenang, karena bisa saja Katrin benar-benar telah diculik.
"Kamu tenang saja, Karla pasti akan menemukannya, setelah terdeteksi kita akan langsung berangkat. " Arsya juga sudah tidak mau berlama-lama lagi.
"Semoga saja om."
__ADS_1
"Aku dan Dhafi akan berangkat sekarang kak... jika nanti keberadaan Katrin sudah terlacak, segera hubungi aku, sekarang aku akan hancurkan markas cabang mereka." Dafa akhirnya ikut pergi membantai markas cabang Red Heart, karena agar nantinya tidak terlalu berat, ditambah mereka tidak tahu seperti apa leader dari mafia bejat ini.
"Baiklah... bawalah kemenangan.... " Harap mereka semua.
Suara dering ponsel milik Arsya memecah keheningan, ya Dinar menelpon, dia sungguh khawatir. Arsya segera mengangkat telponnya, dan sedikit menjauh dari mereka.
"Dad.... kemana saja kamu? kenapa tidak pulang? ini sudah hampir tengah malam... lalu kemana si kembar? kenapa mereka juga belum kembali."
Omelnya dari sambunhan telpon. Arsya tidak bisa mengatakan yang sebenarnya, karena bisa-bisa Dinar akan sangat marah, terlebih Katrin yang belum ditemukan.
"Maaf sayang..... aku belum bisa pulang sekarang, ada rapat mendadak diluar negeri, karena terburu-buru jadi aku belum mengabarimu."
Bohongnya, Arsya hanya bisa beralasan seperti itu, ah sungguh memalukan, mempunyai istri yang tingkat kepekaan nya tinggi ternyata sulit, tapi ini demi kebaikan bersama Dinar tidak boleh tahu.
Keluh Dinar, entah kenapa dia perasaan tidak enak sejak siang, tapi mau bagaimana lagi, sekarang dia sudah menjadi ibu, dan sangat wajar jika dia mengkhawatirkan anak-anaknya. Arsya berfikir keras, alasan apa agar Dinar percaya jika kedua putrinya tidak apa-apa.
"Ahh mereka, tadi mereka mengatakan akan ada acara sekolah untuk beberapa hari, jadi tidak bisa pulang dan menginap di rumah Farhan. " bohong Arsya, membuat Dinar kesal.
"Apa? kenapa mereka tidak memberitahu padaku dad? ya ampun mereka harus aku pertegas nanti." Dinar akan mendisiplinkan si kembar nanti, jika mereka sudah kembali, saat ini dia benar-benar harus bersikap tegas pada keduanya.
"Tenanglah sayang.... mereka tidak melakukan hal buruk, aku menyuruh Aryan untuk memantau mereka, jadi jangan marah ya..... " Arsya berusaha membuat Dinar tenang, setidaknya sampai Katrin dan masalah ini terselesaikan.
__ADS_1
"Ya sudah dad, jangan sampai terjadi hal buruk pada si kembar, aku akan menunggu mu kembali."
"Iya sayang..... aku pasti akan menjaga si kembar dengan baik, kamu juga disana harus tenang ok..... "
Dinar menutup sambungan telponnya, Arsya lega karena Dinar tidak curiga, tapi tetap saja Katrin belum ditemukan, rasanya Arsya kelimpungan, dia takut jika Dinar tahu Katrin hilang. Setelah sekitar dua puluh menit, Dafa menelpon ke markas, dan mengatakan jika misi mereka berhasil, kedua markas cabang akhirnya berhasil di lumpuhkan,Dafa dan Dhafi serta bawahannya sedang menuju kemari, kini tinggal menemukan markas utama Red Heart.
"Akhirnya kita berhasil melumpuhkan kedua markas cabang, kini tinggal kebenaran tentang siapa leadernya." Arsya sudah tidak sabar ingin menghancurkan mereka, yang membuat keluarganya tidak aman.
Sementara Karla masih mendeteksi sinyal robotnya, dia mencari data terakhir aktif milik Katrin, mungkin dengan itu Karla bisa segera menemukan Katrin, tapi yang sejak tadi dia pikirkan adalah, bisa jadi Katrin diculik oleh mafia bejat itu, tapi Karla tidak akan biarkan siapapun menyakiti adiknya, jika itu terjadi maka bersiaplah menuju neraka.
Karla terus mencari dan mencari, hingga ada satu titik sinyal yang sudah sangat lemah, ya itu robot pengintai milik Katrin, sepertinya baterainya sedang melemah, dan masih dibawa oleh Katrin, yang ternyata di sekitar hutan dimana Katrin kecelakaan mobil, tapi memang rutenya sangat sulit dan belum pernah terjamah manusia selain mafia Red Heart.
"Sial.... markas Red Heart ada di dalam hutan belantara itu, dan Katrin sudah memasuki markasnya, yang pasti dia diculik oleh salah satu anggota Red Heart." Karla terlambat satu langkah, andai saja dia bisa lebih cepat, tapi ternyata mereka sudah merencanakan ini dari jauh-jauh hari.
"Lagi dan lagi aku lengah, setelah ini aku tidak akan mengampuni siapapun." Karla bergegas menuju markas Dafa. Karla berjalan dengan penuh kemarahan di hatinya, gemuruh nya sudah menjalar ke seluruh tubuhnya, dia tidak akan mengampuni siapun.
"Dad kita pergi sekarang." Arsya mengerti, Karla telah menemukan Katrin, tapi dia melihat wajahnya cantik putrinya yang sedang menahan emosi, wajahnya merah padam.
Karla mengambil beberapa senapan dan pistol, jangan lupakan belatinya, yang selalu terselip di pahanya, yang berada tepat di bawah celana pendeknya. Farhan tidak menyangka gadis yang masih remaja bisa memegang senjata api dan senjata tajam.
Farhan juga membawa katana saja, karena dia pernah belajar di jepang pada waktu masih sekolah disana, terlebih dia tidak bisa menggunakan pistol. Sementara Arsya hanya mengambil belati dan pistol, dia memasukannya kedalam jas.
__ADS_1
"Ayo..... " Semuanya menuju mobil dan bergegas berangkat, akhirnya Arsya dan Farhan tahu dimana letak dari markas utama Red Heart.