
Farhan akhirnya tahu keluarga Azhar yang sebenarnya, itu bukan sekedar rumor, tapi ini adalah kenyataan yang tidak bisa diganggu gugat. Karla kembali ke mansion lebih awal sebelum Katrin pulang, mansion terlihat sepi karena memang keluarganya sedang sibuk dengan urusan masing-masing.
"Oh jadi ini keluarga Azhar yang banyak dibicarakan itu, benar-benar keluarga yang hebat." puji Farhan, dia takjub melihat keindahan mansion megah milik keluarga Azhar. Farhan mengikuti langkah Karla, mereka memasuki mansion megah tersebut, hanya ada penjaga yang sedang berpatroli, dan terlihat sepi karena seperti biasa mereka melakukan kesibukannya masing-masing.
"Karla.... kamu sudah pulang sayang?." Dinar melihat Karla yang sudah kembali dari liburannya. Dia tidak sengaja melihat laki-laki yang sedang bersama putrinya, oh jadi sekarang kedua putrinya sudah memiliki partner.
"Eh ada tamu.... siapa dia sayang? kok gak di kenalin sihh sama bunda?." Farhan menjadi gugup, ini pertama kalinya dia berkunjung kerumah perempuan.
"Maaf tante.... saya teman Karla, kebetulan tadi ketemu dijalan, jadi mau sekalian mampir." ucapnya dengan wajah malu.
"Dia Farhan bund... temen SMP dulu yang waktu di asrama." singkat Karla, Farhan kaget, meski terkadang sikap Karla dingin, tapi dia memperkenalkan nya pada ibunya.
"Ohh jadi dulu pernah satu sekolah..."
"Iya tante... "
"Ya udah duduk dulu, tante akan bawakan minum dan cemilan."
"Eh gak usah repot-repot tante, saya kesini cuma mau mampir saja." Tolak nya halus, dia tidak mau merepotkan.
"Udah gak papa, duduk aja." Akhirnya Farhan pasrah dan duduk di ruang tamu tersebut.
"Gue mau ke kamar dulu ganti baju, lo tunggu disini." Karla pergi, tinggallah Farhan seorang diri, di mansion tersebut sangat tenang, tidak berisik, dan banyak sekali pajangan antik yang berjajar dengan rapih diruang tamu tersebut.
Beberapa menit Dinar membawa nampan berisi cemilan dan minuman, dia menyuguhkan nya di meja, dan ikut duduk berhadapan dengan Farhan, satu kata untuk Farhan, ibunda dari si kembar memang sangat cantik, tapi seperti nya si kembar lebih dominan ke ayahnya, karena tidak ada kemiripan yang benar-benar mirip.
"Bunda aku pulang." Andra memasuki mansion, dia baru pulang dari sekolahnya. Dia menyalami Dinar, dan tidak lupa dengan Farhan.
"Di minum kak jangan sampe nggak ya, buatan bunda enak banget." celetuk Andra yang melihat tamunya belum menyentuh jamuan yang bunda nya hidangkan.
"Ehh iya nanti akan ku minum... oh ya tante ini berarti adik dari Karla?." tanya nya penasaran, Andra lebih mirip Dinar, dibandingkan dengan si kembar, ya dominan asia, sementara si kembar lebih ke eropa.
"Iya ini Andra anak tante yang nomor tiga." Dinar memperkenalkan putranya, dia senang ada yang bertamu ke rumahnya. Andra juga beranjak pergi untuk mengganti pakaiannya.
__ADS_1
"Sekali nak Farhan sekolah dimana? atau bersekolah yang sama dengan Karla dan Katrin?." tanya Dinar untuk menghilangkan kecanggungan Farhan, karena sejak tadi dia hanya diam, sambil memperhatikan sekitar.
"Tidak tante... saya tidak satu sekolah dengan Karla dan Katrin, saya bersekolah dijepang." jelasnya, setelah kelulusan sekolah SMP nya, Farhan langsung pindah ikut dengan Kenzo, dan bersekolah disana itu karena kemauan dari kedua orang tuanya, yang tidak bisa Farhan tolak.
"Wah... dulu juga tante tinggal beberapa tahun di sana." Farhan tidak kaget dengan hal tersebut, karena pada saat si kembar bertemu dengan Kenzo, akhirnya dia tahu bahwa mereka pernah menetapkan beberapa tahun dijepang.
"Benarkah...? saya senang mendengarnya." Farhan berbicara dengan formal, mungkin karena efek tinggal di jepang.
"Udah jangan formal bicara nya, tante seneng ternyata kedua putri tante sudah mulai memiliki teman, karena dulu mereka selalu berdua, dan sangat susah buat mereka akrab sama anak seumurannya, jadi tolong ya nak Farha, bertemanlah yang baik dengan keduanya." Dinar senang, karena sekarang kedua putrinya sudah mulai bersosialisasi dengan baik.
"Iya tenang aja tante.... hehehe... "
Karla sudah selesai mengganti pakaiannya, dia ikut mengobrol dengan bunda dan juga Farhan, mereka terlihat akrab, ya karena Farhan tipe orang yang mudah berbaur, tidak seperti dirinya yang lebih tertutup dengan orang lain, sebenarnya itu tidak salah sih, karena pemikiran orang memang berbeda-beda.
"Ya udah tante mau siapin makan siang, kalain ngobrol aja." Dinar kembali ke dapur untuk melanjutkan masaknya. Karla mendudukkan dirinya di hadapan Farhan, pakaian keseharian Karla terlihat seperti laki-laki, seperti kaos dan celana selututnya, hal tersebut membuat Farhan terkejut.
"Wih badass.... lo tiap hari kalau dirumah pake baju kaya gitu?." tanya Farhan, karena melihat wanita memakai pakaian laki-laki, terlihat keren, dan menang langka.
"Bawel banget sih lo, ya gue emang gini."Sungut nya, Karla memang sudah terbiasa berpakaian seperti ini.
"Ya seperti yang lo liat.... "
Sedang asyik berbincang, Farhan melihat seseorang yang sudah dia tunggu, ya Katrin kembali, tapi yang membuat Farhan sangat terkejut adalah, melihat Katrin dengan laki-laki seumuran dengannya, matanya membelalak sempurna melihat pemandangan menyakitkan tersebut, dia sengaja datang karena ingin sekali bertemu dengan Katrin, karena sudah lama mereka tidak berjumpa, tapi apa ini? dia bersama laki-laki yang tidak Farhan kenal.
Katrin melirik kilas, melihat kakaknya sedang bersama laki-laki yang tidak asing baginya, Katrin samar-samar mengingat siapa laki-laki tersebut.
"Bunda Katrin pulangg..... Gala mau mampir." teriak Katrin, mereka tidak jadi mampir ke cafe, karena tiba-tiba saja Gala ingin berkunjung kerumah nya.
"Iya sayang.... kakakmu sudah pulang, dia akan mulai sekolah besok." balas Dinar, sebenarnya Katrin selalu menanyakan kemana Karla pergi, karena dia tidak bilang apapun setelah perseteruan itu.
"Iya bund...."
"Biarkan Gala duduk dulu di ruang tamu, kamu ganti dulu.... " Gala berjalan kearah Karla dan Farhan, dengan tampang yang membuat Karla muak, begitu juga dengan Farhan, dia kalah satu langkah dari lelaki yang belum jelas asal-usulnya.
__ADS_1
Dia duduk dengan santai dan mengabaikan Farhan serta Karla, wajahnya benar-benar sok ganteng, dia sibuk menatap ponselnya, tanpa memperdulikan orang sekitar, sungguh tidak punya etika. Karena muak melihat lekaki tidak jelas, Karla pun pergi ke ruang belajar miliknya, Lagi-lagi Farhan mengikutinya.
"Heh ngapain lo ikut gue? udah sono nggak usah kesini, gue sibuk." wajah Farhan tidak seperti awal tadi, yang semangat dan ceria, kini dia terlihat murung.
"Heh.... Farhan.... Farhann.... " panggilnya, Farhan terkejut, entah kenapa ada rasa yang sulit dijelaskan, rasa sesak bercampur tidak terima Katrin dekat dengan lelaki tadi, dia tidak menyukainya, dari tampang nya saja sudah terlihat ada sesuatu yang sedang dia sembunyikan.
"Sorry gue gak fokus."
"Lo kenapa? tiba-tiba badmood." Farhan harus tahu siapa laki-laki itu, dan kenapa Katrin mau berteman dengannya.
"Gak papa... lo kenal cowok tadi? udah berapa lama dia sama Katrin?." Karla memitar bola matanya malas, sebenarnya Karla tahu jika Farhan sedikit ada rasa pada Katrin, taki dia pandai untuk menyimpan rasa, tapi Karla bisa memahami hal tersebut.
"Ya dia seangkatan sama kita, dan mereka baru deket belum lama ini." Karla mengobrol sambil fokus pada laptopnya.
"Lalu.... apa hubungan mereka?." tanyanya lagi, membuat Karla kesal.
"Nanya terus lo, kaya wartawan, udah sono tanya sendiri sama anaknya, gue lagi males ngurusin hal yang nggak penting." kesal Karla, dia sedang melihat perkembangan informasi tentang Red Heart, yang masih belum menemukan titik temu nya, sebenarnya siapa yang membangkitkan mafia itu, Karla ingin tahu motif yang sebenarnya.
"Lah lo mah gak asik... lagi liat apaan sih lo? serius amat." Farhan penasaran dengan apa yang Karla lihat di laptopnya.
"Bukan urusan lo."
"Gue niat kesini itu buat ketemu sama Katrin, eh dia sama cowok lain, dan akhir-akhir ini gue ngerasa kangen sama Katrin, dan gue udah sadar sejak dulu, saat kalian berdua pindah sekolah." Karla mendengar, dan benar tebakannya, jika Farhan memang memiliki rasa kepada Katrin.
"Curhat lo? tumben.... biasanya lo genit sama cewek? udah tobat lo...?. " Karla tahu apa yang Farhan rasakan, sesak dan sakit, ya rasa yang amat sulit untuk dijelaskan.
"Lo mah.... ya gue lagi curhat Kar.... tega bener sih lo mah." Farhan tahu Karla sedang menghiburnya.
"Gue suka sama Katrin, Kar... gue gak bisa liat dia sama orang lain, makanya gue belain buat ikut sama lo ke mansion lo, ya alesan utamanya buat ketemu sama dia." jujur Farhan, rasanya lega, meski tidak langsung mengatakan pada orangnya, tapi rasa sesaknya belum hilang.
"Oh lo suka sama Katrin.....? hahaha..... lo telat dari dia Far.... kalau lo mau bareng sama adek gue, udah kejar dia, jangan sampe Gala yang dapetin Karla..... " Karla menjeda ucapannya, dan mendekat ke telinga Farhan.
"Gue juga gak suka liat mereka bareng, gue khawatir adek gue baperr." ini kesempatan bagus, Farhan bisa membantu untuk menjauhkan Gala dari Katrin. Farhan yang sudah mendapatkan kartu hijau dari Karla, membuat dia semakin bersemangat.
__ADS_1
"Oh gituu..... siap gue akan lakuin apapun, gue bakal dapetin hati adek lo..... lo tunggu aja, Katrin pasti bakalan nolak laki-laki itu." yakin Farhan, Karla tersenyum smirk, dia tahu Farhan akan bisa membantu rencananya.
"Lebih baik gue liat adek gue sama lo, daripada laki-laki modelan Gala, gue udah muak liat kelakukan nya."