
Arsya telah sampai di wilayah keluarga Azhar, disana sudah banyak penjaga yang sedang bersiaga, terlebih sangatlah ketat. Arsya masih harus berfikir agar langsung bisa menangkap ayahnya, dia tahu kemampuan Devan sangatlah hebat, dan Arsya tidak bisa meremehkan hal tersebut.
"Aku akan membuatmu mengakui semua kesalahan yang telah kau lakukan, dan kau harus membayarnya." Ucapnya dengan mengepalkan tangannya, dia sudah tidak tahan dengan kelakuan Devan.
Arsya mengeluarkan pistol dari jasnya, setelahnya dia melepaskan jas miliknya, dia akan melumpuhkan penjaga dan setelahnya dia akan menerobos masuk, ternyata setengah pasukan Devan berada di sini, Arsya sudah siap untuk melawan mereka semua termasuk Devan.
Dorrr..... dor.......dor........
Arsya berhasil melumpuhkan penjaga depan, dan segera menuju kedalam mansion. Bawahan Devan sudah stay dan menunggu kedatangan Arsya dengan senjata di tangan mereka. Tanpa banyak bicara Arsya langsung membabi buta dengan serangan psychopath nya, begitu brutal dan mematikan.
Menghajar dengan sangat tidak manusiawi, hingga mereka mati tanpa ampun di tangan Arsya. Sekitar seperempat nya sudah tewas mengenaskan, kini mansion nya sudah berlumuran darah, Arsya menghabisi mereka dengan belati kecil yang biasa dia pakai untuk melucuti lawannya. Kemeja putih miliknya sudah sedikit berwarna, akibat dari muncratan darah.
"Hebat sekali...... pembunuh yang telah kudidik akhirnya datang juga, ternyata kau masih hebat seperti biasa." puji Devan sambil bertepuk tangan, melihat alat yang telah dia asah menunjukkan batang hidungnya.
"Diam saja kau, aku tidak segan untuk membunuhmu sekarang." Devan berjalan kearahnya dengan tenang. Arsya masih terngiang dengan semua kenyataan yang Devan ceritakan waktu itu, pembunuhan yang dia lakukan karena dendam semata, dan juga obsesi.
"Membunuh ku? kau tidak akan bisa melakukannya, karena kau putraku."
"Cih tidak sudi aku memiliki ayah seperti mu, karena aku sudah memutuskan ikatan ini." Arsya sudah tidak mau lagi, kehidupan keluarganya ternyata hanyalah kepura-puraan yang telah Devan rancang, banyak yang Arsya tidak tahu.
"Kau tidak akan pernah bisa lepas dariku...!!."
"Aku tidak akan pernah mau lagi di peralat oleh mu, keluargaku telah hancur olehmu, kau tidak bisa di maafkan." Arsya menodongkan pistol tepat di kepala Devan, mungkin ini sangatlah jahat karena membunuh ayah kandungnya sendiri.
"Baiklah jika itu kemauan ku... " Devan bersiap untuk bertarung dengan Arsya, Devan tahu potensi anak laki-laki nya tidak bisa di remehkan, sebenarnya Arsya dan Asfi sangatlah berpotensi menjadi pembunuh yang sangat hebat dan tidak terkalahkan.
Devan dan Arsya akhirnya berduel, dengan kehebatan mereka terciptalah pertarungan yang sangat sengit, dan tanpa celah.
💕💖💕💖💕💖💕
Karla dan Dafa berhasil melumpuhkan markas utama dengan dan mengamankan Ferdian serta Hayfa, mereka segera di bawa ke markas Dafa untuk di interogasi dan menentukan apa hukuman yang pas untuk mereka.
"Aku akan menyusul daddy.... " tanpa menunggu jawab Asfi dan Dafa, Karla beranjak pergi, perasaan nya mendadak kalut, dia merasakan perasaan yang tidak enak pada hatinya, rasa takut dan gelisah.
__ADS_1
"Karla tunggu, kita akan kesana bersama." cegah Dafa, tapi Karla tidak mengidahkan perkataan nya.
"Kak cepat ikut Karla ke mansion utama, pergilah dahulu, aku akan bereskan semuanya yang ada di sini." Dafa harus segera membereskan semuanya, baru dia akan pergi ke mansion utama.
"Baiklah segeralah menyusul kami." Asfi pun bergegas menyusul keponakannya. Karla sudah menunggu di dalam mobil, Asfi segera menaiki mobil tersebut, dan pergi menuju mansion utama keluarga Azhar.
Asfi sedikit mengebut, pasti akan ada hal buruk terjadi, Devan tidak bisa di remehkan, meski Asfi tahu keduanya sama-sama seimbang dalam bertarung, tapi tetap saja hal itu harus di waspadai.
"Semoga mereka tidak saling bunuh." gumam Asfi, meski begitu mereka masih ayah dan anak, dan tidak baik jika harus saling membunuh, Asfi harus melerai sebisa mungkin.
"Uncle kita harus bergegas." Asfi pun menancap gas dan meluncur dengan cepat.
💕💖💕💖💕💖💕
Brakkkk........
Bughhhh.......
Suara keras memenuhi ruang tengah itu, keduanya sudah bersimbah di bagian wajah mereka, Arsya sudah membuat Devan babak belur, begitu juga dengan Devan, mereka menyerang dengan sangat luar dan kasar.
"Ini bayaran mu untuk segala dosa yang kau lakukan."
Bughhhhh.........
Arsya berhasil mendaratkan pukulan keras di perut Devan, membuat dia kehilangan keseimbangannya, dan terduduk di lantai. Devan tersenyum smirk, hari ini dia sangat menikmati pertarungan dengan putranya.
Terbayang lah bayangan masa lalu di pikiranya, dia yang melatih Arsya, dan membuatnya kuat hingga saat ini, mungkin ini adalah kekalahan nya, tapi dia akhirnya sekarang tersadar, hasrat dendam yang telah membutakan ku, keserakahan telah menyesatkan ku. Arsya mengambil pistol mengarahkan langsung ke kepala Devan, tinggal menarik pelatuk nya Devan akan mati. Tangan Arsya sudah tidak sabar ingin menghabisi nya, ingin segera menyudahi semuanya.
"Tunggu...... Jangan Arsya!!." teriak Asfi, kini mereka telah sampai tepat waktu, Arsya menghentikan telunjuknya untuk menarik peluru yang terkurung.
"Diam dan lihat saja kak... tidak ada ampun untuk ayah brengsek seperti nya." Arsya kembali menodongkan pistol itu tepat di bagian belakang kepala.
"Jangan lakukan itu Sya dengarkan aku, kita bawa saja ayah ke markas dan urus disana." Asfi mencoba untuk meyakinkan adiknya yang sangat keras kepala, Karla hanya diam memperhatikan percakapan mereka, semua sudah berakhir kakeknya sudah menemui kekalahannya.
__ADS_1
"Kita bawa kakek ke markas sekarang." tegas Karla, sekarang Arsya sedang di kuasai amarah, hatinya sedang panas dan tindakannya pasti tidak akan terhentikan.
"Daddy tidak akan membiarkan kamu membawa kakek mu, biar daddy selesaikan sekarang." tolak nya, tapi Karla tidak membiarkan ha itu.
"Bawa kakek uncle, ayo kita selesaikan masalah ini di markas uncle Dafa." Arsya tetap kekeuh untuk membunuh ayahnya. Asfi berusaha memaksa agar Arsya mau menurut.
Karla berjalan mendekati daddy nya, dia sudah babak belur dengan luka di wajah tampannya, begitu juga dengan Devan. Karla berdiri di hadapan daddy nya, menghalangi jarak tembak Arsya, Karla ingin daddy nya tenang, semua akan di selesaikan secepatnya.
"Awas Karla, jangan halangi daddy.... " suaranya sedikit meninggi, Karla memejamkan matanya, dan menghela nafas panjang, kali ini dia tidak akan lembut pada daddy nya.
Karla mendekati Arsya yang masih menodongkan pistolnya ke arah Devan, yang kini di halangi putri nya, tidak ada perasaan takut sedikitpun meski gadis remaja itu di todong senjata api. Matanya tidak berkedip dan begitu serius, dia berjalan hingga sekarang jaraknya beberapa centi saja dari daddy nya.
Arsya terlihat lemas dan nafasnya belum teratur, keringat nya sudah bercampur dengan darah, mengalir di pelipisnya, hingga turun ke rahang. Dengan tenang Karla mendekati nya, dan dengan gerakan cepat....
Bukkkk......
Dengan keras Karla berhasil membuat Arsya tidak sadarkan diri, ini demi daddy nya, karena Arsya harus segera mendapatkan perawatan, dan juga untuk menekan emosi yang sedang meluap dalam dirinya, itu karena daddy nya sudah mengetahui kebenarannya.
"Maaf dad aku terpaksa melakukannya." Asfi hanya melongo melihat apa yang baru saja di lakukan Karla kepada Arsya, bahkan dia sendiri pun tidak berani melakukan hal itu.
"Uncle akan bawa kakek mu dulu."
"Tunggu uncle.... sekalian langsung ke markas saja, aku akan memberitahu Katrin untuk menjemput ku, waktunya tidak banyak, sekarang uncle duluan saja."
"Ya sudah kamu hati-hati disini." Asfi pergi dengan menopang tubuh ayahnya, meski memang dia juga amat sangat membencinya, tapi tetap saja Devan adalah ayah mereka.
"Adik cepat suruh Aryan menjemput ku, sekarang aku ada di mansion utama keluarga Azhar, sekarang juga."
"Laksanakan kak." Aryan langsung pergi, dia segera menuju kediaman Azhar. Karla mencari kotak P3K untuk membersihkan wajah daddy nya dari lumuran darah, sambil menunggu kedatangan Aryan.
"Kita berhasil dad.... sabarlah jangan selalu terbawa emosi, sama aku juga tidak terima dad, tapi jangan terburu-buru." ucapnya sambil membersihkan darah di wajah Arsya. Sepuluh menit kemudian datanglah Aryan, dia segera memapah Arsya yang sudah tidak sadarkan diri.
"Segera berikan perawat pada daddy." mereka beranjak dari mansion utama beralih ke villa, untuk merawat Arsya.
__ADS_1