
Malam harinya Arsya keluar dari mansion sebelum Dinar dan juga kedua anaknya bangun, ada hal penting yang harus segera dia selesaikan. Dia melajukan kendaraannya menuju tempat rahasia miliknya, dia memang bukan seorang mafia, tapi memiliki tempat rahasia adalah hak penting yang harus dia miliki.
Aryan juga sudah berada di sana bersama dengan Dafa dan juga Dhafi, mereka akan melakukan penyerangan tersembunyi untuk pembalasan dendam pada Alan musuh bebuyutan nya. Tempat rahasia miliknya berada jauh dari keramaian, karena disana tempat di mana dia menghabisi semua musuhnya dengan sangat brutal.
Sampailah Arsya di tempat tujuan tempat yang sangat sunyi dan sepi, hanya ada dua penjaga yang menjaga pintu utama. Arsya memasuki ruangan tersebut, dia sudah memasang banyak pengaman yang dia jamin tidak akan terbobol oleh siapapun.
"Akhirnya datang juga..... " teriak Dafa ketika melihat sang kakak masuk ke ruangan utama miliknya. Arsya hanya menatap datang mereka, dan mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya.
"Hei bro.... mau apa memanggilku kemari? kau tahu kan aku sedang bersenang-senang. " kesal Dhafi, dia baru beberapa hari ini menyelesaikan tugas dari sahabatnya, dan dia sedang merilekskan diri tapi Arsya malah memanggilnya untuk datang.
"Ada hal penting yang harus di selesaikan, jadi dengarkan baik-baik." Arsya berbicara langsung pada intinya.
"Hal penting apa kak? bukannya masalahmu sudah selesai, kau sudah menemukan orang yang kakak cari." Dafa tak tahu rencana apalagi yang akan Arsya lakukan, dan dia juga tak tahu kepada siapa rencana itu tertuju.
Dafa memang tahu permusuhan kakaknya, tapi dia tak tahu pasti apa penyebab dari permusuhan tersebut, hingga sekarang melahirkan dendam kesumat pada kakak angkatnya.
"Kau diam saja.... karena ini adalah musuhku, dan dia harus segera mendapatkan balasannya." Arsya pun memberi isyrat pada Aryan untuk memberitahukan siapa musuh bebuyutan nya, Aryan juga sudah tahu, karena bersamaan dengan kepergian Dinar, Alan dan juga bawahan-bawahannya menghilang tanpa jejak.
"Yang di maksudkan tuan Arsya adalah membalaskan dendam pada musuh bebuyutannya, sudah hampir delapan tahun mereka menghilang tanpa jejak, dan belum juga di temukan." jelas Aryan.
"Oh jadi kau meminta bantuanku untuk melacak keberadaan mereka, kenapa kau tidak mencarinya sendiri saja Arsya.... " keluh Dhafi.
"Tuan tidak meminta bantuanmu tuan Dhafi, hanya saja tuan Arsya tak bisa terlalu sering keluar, karena sekarang tuan Arsya memiliki kedua putri yang harus terus di jaga, karena musuh bisa saja mengincar mereka, dan menjadikan sebagai batu loncatan." Aryan menjelaskan bahwa Arsya tidak bisa sering keluar, karena bisa saja musuh malah akan mencelakai keluarganya.
__ADS_1
Arsya dan Aryan sudah membicarakan hal ini setelah mengetahui jika Karla dan Katrin adalah putrinya, Arsya memutuskan untuk lebih waspada terhadap Alan, karena dia adalah manusia licik yang penuh dengan trik kotor. Arsya tidak bisa membiarkan keluarga yang baru saja dia temukan menjadi korban.
Dafa terkejut akan ucapan Aryan yang menjelaskan jika sang kakak sudah memiliki dua orang anak, bahkan Dafa tidak pernah melihat kakaknya membawa wanita, dan sekarang dengan sangat jelas dia mendengar kalau kakaknya sudah memiliki anak.
"Tunggu.... tunggu... apa maksudmu Aryan? kenapa kamu mengatakan jika kak Arsya memiliki dua anak? bahkan aku tak pernah melihat kakak membawa wanita." ucapnya dengan wajah yang bingung.
"Kau akan tahu nanti.... lanjutkan Aryan." Arsya tak suka ada penyelaan jika sedang membicarakan hal penting.
"Tapi kak..... " belum selesai Dafa berucap, Arsya lebih dulu menyelanya.
"Dafa... apa kau tak mendengarku?." Arsya menatap tajam Dafa seketika dia pun terdiam. Dhafi menahan tawa karena wajah takut Dafa.
Aryan pun melanjutkan penjelasannya tentang Arsya yang ingin segera menuntaskan dendamnya, dia sudah tak bisa membiarkan Alan berulah lagi. Setelah selesaienjelaskan segalanya sisanya Arsya nyang akan menjelaskan rencananya.
Dhafi paham dengan apa yang dikatakan Arsya, karena dia sudah tahu banyak tentang perseteruan antara Arsya dan Alan. Arsya melanjutkan ucapannya, dia ingin agar rencana ini tak tercium oleh musuh.
"Lalu kau Dafa.... tetaplah waspada karena bisa saja dia menyerang markasmu, karena dia adalah leader yang sangat handal dalam penyerangan mendadak." Arsya hanya memerintahkan agar adiknya bisa lebih waspada terhadap mafia Alan, karena dia dulu pernah kalah akibat dari kurang kewaspadaannya.
"Dan kau Aryan awasi setiap perusahaan cabang, entah itu luar ataupun dalam negeri, karena kita masih belum tahu apa rencana mereka, apa kalian bisa mengerti...?!."
"Siap tuan..... lalu bagaimana dengan perusahaan utama?."
"Aku yang akan mengawasi di sana, tapi jika aku membutuhkanmu kau harus datang."
__ADS_1
"Baik tuan saya akan melaksanakannya." Aryan hanya bisa berpasrah ini adalah pekerjaan berat pertamanya, biasanya mereka akan bekerja sama dalam menyelesaikan masalah perusahaan, namun tak apa karena Aryan adalah tangan kanan Arsya yang paling handal, karena kejeniusan otaknya.
Apalagi dia tak perlu repot untuk membuat keamanan, karena Arsya sudah memasang keamanan tingkat tinggi dan tersulit untuk membobol semua tentang perusahaan Theodore Corp. Arsya adalah jenius lebih tinggi di banding Aryan, apapun yang di lakukannya selalu sulit untuk orang mencari tahu tentangnya. Namun Alan lebih licik dari perkiraan Arsya, dan itu mampu membuat Arsya bisa kalah darinya.
"Ya sudah aku akan segera melakukannya, aku pamit." tanpa berkomentar Dhafi segera melakukan apa yang sahabatnya mau, dan pergi keluar dari ruangan tanpaenunggu Arsya berbicara.
"Tuan jika tak ada yang di bicarakan saya juga mohon diri." Aryan juga ikut pamit pergi, karena pekerjaan masih sangat menumpuk.
"Pergilah.... " singkatnya, kini tinggalah Arsya dan Dafa, Dafa masih belum mau pergi sebelum mendengar penjelasan dari kakaknya.
"Kenapa masih disini?." tanya Arsya, tanpa memandang adiknya karena sibuk memainkan ponselnya.
"Aku butuh penjelasan mu kak....ayah dan mamah pasti senang mendengar jika ternyata kau sudah memiliki anak." ujarnya, Dafa tak tahu apa permasalahan kakaknya sehingga tanpa sepengetahuan keluarga Arsya sudah memiliki anak.
"Penjelasan apa lagi.... bukannya Aryan sudah mengatakannya tadi."
"Tapi kak aku adikmu..... aku ingin tahu alurnya, dan bagimana kakak bisa menjadi seorang ayah?." Dafa terus saja mendesak agar kakaknya mau berbicara dan mengatakan yang sebenarnya.
"Kau tahu aku malas berujar panjang lebar, besok saja datang ke mansion pribadiku kamu bisa menanyakan nya pada calon kakak iparmu." setelah mengatakan hal itu Arsya beranjak pergi dia malas menceritakan flashback nya delapan tahun silam.
"Hey... kau mau kemana kak.... dasar kadal belang..... " teriak Dafa kesal karena kakanya pergi begitu saja.
Arsya tak peduli dengan umpatan adiknya, dia pergi karena sudah tak sabar ingin bertemu kedua permata hatinya, yang pasti mereka sudah bangun dari tidur dan menyambutnya dengan teriakan imut khas mereka.
__ADS_1
"Aku sudah tidak sabar bertemu mereka, pasti mereka sangat senang karena telah tinggal bersamaku, dan akan aku jamin mereka akan bisa menahan Dinar untuk tetap tinggal. " gumamnya Arsya akan meminta bantuan dari kedua putrinya untuk membujuk bundanya agar mau menikah dengannya.