
"Jangan berani-beraninya kau mengatakan semua kebenaran padanya, jika sekali saja kau membuka mulut maka aku tak akan segan-segan untuk mencabut nyawamu." ancamnya membuat tubuhnya bergetar, tapi dia tetap tidak bisa melawannya, karena dia tidak mau keluarganya semakin dalam bahaya.
"A-aku tidak akan mengatakan apapun, jadi jangan kau apa-apakan keluargaku, ini akan tetap menjadi rahasia antara aku dan dirimu." mau tidak mau dia harus tetap merahasiakan kejahatan tersebut.
Sebenarnya rahasia ini sudah tersimpan amat rapat, tidak ada yang pernah tahu hal ini, Lelaki itu beranjak pergi meninggalkan wanita itu, dia masih diam terduduk dengan pandangan kosong, pikirannya tiba-tiba tertuju pada masa lalu yang terlintas, dia tidak pernah melupakannya hanya saja dia berpura-pura agar semuanya terlihat baik-baik saja. Dia berdiri dari duduknya, berlama-lama duduk malah akan membuat dirinya mengingat masa lalu. Tapi mau sampai kapan hal ini akan berlangsung sudah bertahun-tahun dia menyimpannya, ingin rasanya dia mengungkapkan semuanya, dan menyudahinya, hatinya sudah cukup sesak menahannya terus.
"Aku tidak akan seperti ini terus, aku tidak akan diam lagi, aku harus memberitahu kebenaran nya." batinnya sekarang dia tidak akan terus diam, karena laki-laki itu semakin mahir dalam memainkan perannya. Jika terus di biarkan maka orang itu akan segera mencapai puncak kemenangan, dan semua orang akan menjadi budaknya.
" Sial.... semenjak dia mati rencanaku gagal, untung saja aku menembaknya mati, jika tidak semua akan hancur, rencana yang sudah aku buat akan sia-sia." geram nya, ya lelaki yang di maksud adalah Alan, semenjak mati dia harus lebih waspada, apalagi Arsya sudah memulainya sejak beberapa tahun lalu.
"Aku akan terus mengatur kemanipulatifan ini, tidak akan ku biarkan semuanya hancur. Liat saja permainan ini baru bangkit lagi setelah sekian lamanya, dan sekarang adalah waktu yang sudah ditunggu-tunggu." ungkapnya dengan tersenyum smirk.
Sebenarnya dia sudah memainkan peran sangat lama, sebelum akhirnya Alan yang tiba-tiba mengambil perannya, hingga terjadilah permusuhan antara mereka. Dan lambat laun permain nya jadi semakin menarik, sembari melihat pertikaian di antara keduanya, dia sudah menyiapkan berbagai macam rencana. Tapi semuanya malah sudah di ketahui lebih awal, ketika Alan akan mati, dan itu benar-benar membuat Arsya dan yang lainnya percaya.
"Ini menjadi semakin menarik.... permainan ini akan terus berlanjut sampai waktunya tiba aku menampakkan diri dan menghancurkan mereka semua. hahaha.... " kelicikan nya membuat semuanya sudah dalam kendalinya, sungguh di luar dugaan, bahakan Arsya masih berusaha mencari kebenarannya, meski masih belum terungkapkan.
💕💖💕💖💕💖💕
"Aku sudah mendapatkan apa yang kamu mau." Dhafi memberikan secarik kertas.
"Bagus." Arsya membuka kertas itu dan membaca dengan teliti, ternyata benar adanya, setelah dia menyelidiki bawahan dalang di balik semua kejadian ini, dan memeriksanya beberapa tahun dan benar saja itu adalah kebenaran yang nyata.
"Ternyata beberapa tahun kita perhatikan dan selidiki, dia benar-benar bawahan nya. Baguslah aku tidak perlu repot-repot datang padanya, karena dia akan datang padaku satu minggu lagi." meski awalnya tidak menyangka bahwa dia bekerja sama dengan dalang itu, tapi hal ini akan menguntungkan dirinya.
"Aryan siapkan villa yang tidak dekat dengan keramian, karena dia adalah penyepi handal, kita liat saja mau sampai kapan dalang itu bersembunyi." Aryan langsung pergi untuk menyiapkan villa, karena tamu sebentar lagi akan datang.
"Terus lah bermain, karena yang kamu permainkan juga sedang merancang rencana."
Flashback on....
__ADS_1
"Arsya kenapa kamu tega meninggalkan ku." Arsya hanya menatap datar wanita yang kini telah berdiri di hadapannya.
"Apalagi kamu sudah menikah, dan yang lebih parah ternyata kamu sudah memiliki anak sebelum kalian menjalin cinta." ocehannya masih belum berhenti.
"Itu bukan urusanmu, bukankah kita hanya teman? jadi tidak perlu merasa tersakiti." kestusnya, Arsya memang tahu akan perasaan cinta teman kecilnya, tapi Arsya tidak pernah mencintainya.
"Kenapa kamu selalu berkata demikian Sya? apakah tidak ada secercah harapan untukku di hatimu?." wanita masih ingin tahu apakah ada dia di hatinya.
"Berhentilah berasumsi bahwa aku akan mencintai mu... "
"Kamu tega selama itu aku mencintaimu, tapi ini balasanmu." Arsya hanya diam tak peduli, semua dia lakukan agar Hayfa bisa masuk dalam perangkap nya, ya dia wanita yang bekerja sama dengan dalang dari semuanya. Meski telah menghabiskan waktu beberapa tahun untuk menyelidiki, tapi sekarang sudah sedikit terlihat titik temunya.
"Aku menemuimu karena ada hal penting, yang mau aku bicarakan, datanglah satu minggu lagi ke villa, aku akan kirimkan alamatnya nanti."
"Apakah ada jaminannya jika aku pergi ke villa itu? Apa Kau akan benar-benar menerima cintaku jika aku datang ke villa itu?."
"Ternyata kau tidak berubah ya, tidak ada penolakan. " tegasnya, dia muak mendengar ocehan nya yang sedari kecil Arsya dengar, tapi berulang kali juga dia menolaknya.
Flashback off
Sementara itu Karla dan Katrin sudah berhasil menerobos keamanan yang di buat oleh hacker kepemilikan perusahaan tersebut. Ya mereka sudah sudah jauh menyelidiki perusahaan sang kakek. Tapi mereka tak yakin jika kakek mereka adalah dalang, bisa saja Devan di jadikan alat, oleh karenanya Karla khawatir akan hal itu.
"Berhasil kak... tapi lihat data ini seperti palsu." Katrin merasa jika ini palsu, karena kemarin-kemarin mereka amat sulit membuka file tersebut.
"Coba ku periksa." Karla memeriksanya dengan teliti.
"Bukan ini bukan palsu, tapi milik bawahan nya, dan ini adalah data pribadinya." tertulis namanya adalah Ferdian, dan ini data milik salah satu tangan kanannya. Meski mereka tahu itu adalah perusahaan sang kakek, tapi tetap saja Karla ataupun Katrin masih amat ragu akan hal itu.
"Ferdian?." ucap mereka berbarengan, mereka tak menyangka kalau Ferdian adalah tangan kanan dari dalang. Si kembar masih belum menyadarinya tetang keberadaan sang dalang.
__ADS_1
"Apakah ini Ferdian yang selama ini bersama Alan?." Katrin masih belum percaya, bahwa yang selama ini bersama dengan Alan adalah pengkhianat sesungguhnya.
"Lebih baik kita beritahu daddy kak, jangan biarkan Ferdi kabur atau di bebaskan."
"Kita akan lakukan itu nanti, yang terpenting sekarang kita cari tahu data yang lebih penting darinya, siapa tahu kita bisa menemukan atasannya." Karla masih belum bisa memberitahukan ini pada Arsya. Karena menurutnya ini masih belum akurat, dan jika ingin memberitahukan semuanya maka harus benar-benar kuat buktinya.
"Ya sudah aku akan cari lebih banyak lagi data dan bukti agar mereka semua percaya pada kita." Katrin pun akan lebih jeli lagi agar semuanya terungkap perlahan tapi pasti.
"Benar, ya sudah kita kembali ke kelas." karena sudah bel masuk mereka pun kembali ke kelas.
Karena berlari tidak sengaja Katrin menabrak seseorang hingga terjatuh bersama.
"Awwww..... " Teriak mereka bersamaan.
Karla langsung membantu sang adik berdiri, tanpa memperdulikan yang di tabrak sang adik.
"Heh bisa nggak sih kalau jalan liat-liat?!." sentaknya dengan muka merah padam, dia berdiri dan merapihkan seragamnya.
"Eh maaf Farhan.... " mendengar Katrin yang meminta maaf, dia langsung menatap Katrin sinis.
"Oh ternyata lo.... dasar kerdil, bisa kan gak usah sok kecentilan kalau lagi di jalan, norak banget sih." ejeknya dengan wajah kesal, dan itu membuat Katrin seketika diam. Hal itu tidak luput dari pandangan mata Karla, dia masih diam di tempat tanpa berkata apapun.
"Awas aja lo nabrak gue lagi, hidup lo gak akan damai berurusan sama gue." ancam nya dengan tatapan tajam.
"Udah ngomong nya? sini gue bisikin.... " deg. membuat jantung Farhan berhenti seketika, bisikan yang amat tajam dengan unsur yang amat dingin.
"Heh.... ayo dek balik ke kelas." ucapnya dan menggandeng tangan Katrin dengan senyum menyeramkan nya. Farhan menelan liurnya dengan amat sulit, bisikan Karla masih terngiang jelas di telinganya.
"Kalau lo berani nyentuh adik gue maka gue sendiri yang akan turun tangan."
__ADS_1
Farhan berusaha tenang dan tidak emosi, seorang gadis sebayanya mengancam dia, sungguh membuat jiwa kelakian Farhan bangkit.
"Cih....aku yang akan menghancurkan mu lebih dulu dasar gadis kerdil." kesalnya, dengan mengepalkan tangannya.