Putri Kembar Sang Psychopath

Putri Kembar Sang Psychopath
64-Sekelebat Rahasia


__ADS_3

Masa yang telah berlalu, kenangan yang telah rapuh, hingga kini masih teringat jelas di pikiran mereka. Setelah setahun pembunuhan ayah Alan, akhirnya Alan mengetahuinya, dan dia berencana balas dendam kepada keluarga Azhar, dan yang paling menyakitkan bagi Alan adalah Rifa malah memilih bersama Arsya di bandingkan denganya.


Hingga pada akhirnya dendam itu tercipta, meski Arsya tahu jika hal ini akan terjadi, tapi baginya Alan sudah kelewat batas dalam membahayakan keluarga nya.


"Lama tak berjumpa kawan.... "sapa Arsya dengan senyum tipisnya. Suasana di sana berubah mencengkam, tak ada yang berani mendekat, karena Alan juga sudah menyuruh bawahannya agar tak ikut campur.


"Rupanya kau masih sombong seperti biasa... tapi aku akan mencabut itu semua darimu."ucap Alan dengan remehnya.


"Wah aku terkesan, kita lihat saja siapa yang akan bertahan." Arsya tidak akan kalah oleh Alan sekalipun.


Rifa yang masih dalam perjalanan menyuruh untuk mempercepat laju kendaraan nya.


"Cepat Aryan.... aku tak mau hal buruk terjadi pada mereka berdua." titah Rifa, membuat Dafa dan juga Aryan berfikir maksdunya siapa mereka berdua itu, bukanya hanya Arsya yang berada di sana.


Baik Dafa ataupun Aryan hanya mengetahui persahabatan antara Rifa dan Arsya, kalau dengan Alan mereka tak tahu menahu, karena baik Rifa ataupun Arsya menutupinya sangat rapat.


Karena sekarang sedang dalam keadaan genting, Dafa ataupun Aryan tak ada yang bertanya, dan segera melajukan mobilnya agar segera sampai.


Namun tanpa di sadari mereka ada mata yang sedang mengawasi Alan dan Arsya, dia tersenyum iblis seakan permainan nya berjalan sesuai dengan apa yang dia inginkan.


"Oh menarik sekali, dengan ini semuanya berjalan lancar, dan kau akan tetap menjadi pion dalam keberhasilan keluarga ini..... " gumamnya dengan menatap puas semuanya.


"Tunjukkan saja jiwa membunuhmu itu bajingan, perlihatkan lah, wajahmu ketika membunuh ayahku." teriak Alan lantang, diaenantang seseorang yang telah membunuh ayahnya dulu.


"Ohh kau sungguh penasaran rupanya, kau aku sangat menikmati nya ketika wajah ayahmu kesakitan.. hahaha.. " tawa Arsya membuat kesabaran Alan terkuras, dia sudah tidak bisa lagi memaafkan Arsya.


Bugh.......


Dengan cepat Alan berhasil memberikan pukulan hingga Arsya terjatuh, sudut bibirnya juga mengeluarkan darah, Arsya mengusap darah segar itu dengan jarinya.


"Hem..... hanya itu saja kemapuan mu hah!?.... itu tak akan membuatku tumbang." ucap Arsya yang kini sudah berdiri tegak kembali, luka kecil itu tidak ada apa-apanya.


Dengan cepat Arsya membalas pukulan itu dengan membabi buta, membuat Alan tersungkur di tanah. Tak lama mobil Dafa tiba disana, Rifa segera turun dari mobil tersebut dan berlari untuk melerai Arsya dan Alan. Rifa membantu Alan berdiri, namun dengan kasar Alan menghempaskan tangan Rifa.


"Jangan sentuh aku.... aku tidak sudi di sentuh oleh pengkhianat seperti mu." Umpat Alan, namun Rifa tidak memperdulikan nya.

__ADS_1


"Sudahlah Fa, tak usah pedulikan sampah sepertinya, biarkan aku selesaikan urusan dengan dia, kamu menonton saja."umaptan Alan membuat Arsya muak, ini tidak ada sangkut pautnya dengan Rifa, tapi karena Alan sudah di butakan dendam maka semuanya akan di anggap sama. Padahal Rifa selalu mencari tahu keberadaan Alan, memastikan jika sahabatnya itu baik-baik saja.


"Diam kalian berdua !!.... aku muak melihat permusuhan ini, bisakah kalian berhenti saja? kalian tahu aku jijik melihat kalian yang saling menyalahkan, seharusnya kalian berkaca dengan kesalahn masing-masing, tapi nyatanya kalian masih saja terjebak di masa lalu."sentak Rifa, ini kali pertama mereka melihat Rifa marah.


Kesabaran Rifa sudah di batas ambang, dia ingin meluapkan semua kemarahannya pada kedua sahabat bodohnya, karena mereka tidak sadar telah di jadikan pion agar semuanya bisa berjalan lancar oleh sang pemain.


Ternyata selama ini Rifa mencari tahu semua tentang keluarga Azhar, tanpa sepengetahuan Arsya dan keluarga lainnya, tapi sayangnya dia masih belum menemukan titik temu tentang kebenaran dari semuanya.


"Sudah kukatakan padamu Fa jangan ikut campur."


"Aku bilang diam...!! apa kalian tuli hah!?.... "suara Rifa semakin meninggi, membuat mereka diam.


"Oh jadi sekarang kau baru mau melerai, kemana saja kau dulu bajingan?!.... pergi dengan tanpa ada penjelasan yang jelas, dan kini kau mau menyuruhku untuk diam... heh sekarang juga akan aku akhiri dendamku.... "Alan tak mengidahkan bentakkan Rifa, dia sudah tidak peduli semenjak Rifa pergi.


Rifa terdiam, sementara Dafa dan Aryan menyimak pembicaran mereka bertiga, dengan banyak pertanyaan di pikiran mereka.


"Kita bisa selesaikan ini dengan cara baik-baik, jangan sampai kalian saling membunuh." Rifa tak mau kehilangan siapapun.


"Aku tak peduli, biarkan aku balaskan dendam ini pada si brengsek ini, jadi diam lah kau."Alan tidak peduli dengan omongan apapun yang keluar dari mulut Rifa.


"Fa... diam saja, ini adalah urusanku dengan dia." Ucap Arsya, dia juga ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat.


"Lepaskan aku... kau tidak tahu apapun, jangan halangi aku untuk melerai mereka." Rifa tetap melawan dengan kuat.


"Maaf tuan Rifa, ini adalah titah dan saya tidak akan membiarkan anda mendekat. "


"Persetan dengan titah.... cepat lepaskan aku...!!. " Rifa masih saja berusaha melawan. Aryan tetap memegang erat Rifa.


"Tenanglah kak Rifa, tenang... sebenarnya apa yang terjadi antara kalian bertiga?." Dafa ingin tahu hubungan mereka bertiga itu seperti apa.


"Bagaimana aku bisa tenang hah..?!.. kau tahu mereka akan saling membunuh, jadi lepaskan aku.... " teriak nya dengan keras. Dafa masih berusaha menenangkan Rifa, meski di benaknya banyak sekali yang dia tanyakan.


"Lebih baik biarkan mereka selesaikan urusan mereka kak... aku yakin setalah mereka berdua selesai hal ini tidak akan terjadi lagi."Karena tak mendapatkan jawaban dari Rifa, dia memutuskan untuk tidak menghentikan Alan dan juga Arsya, mungkin dengan begini masalah mereka akan terselesaikan.


Rifa menatap tajam Dafa, namun dia hanya mengabaikan, karena dia sudah tidak peduli. Tapi perkataan Dafa mulai merasuk ke dalam pikirannya, apa yang di katakan Dafa memang benar, tapi yang Rifa khawatirkan adalah dia tidak mau ada korban.

__ADS_1


Sementara Alan dan Arsya sudah saling berhadapan, jiwa amarah mereka sudah bangkit, tatapan tajam mereka saling mendominasi, seakan akan terjadi perang besar.


Dor......


Alan memulai peperangan, Arsya hanya tersenyum miring, tak ada ketakutan dalam hatinya, yang Arsya rasakan adalah sebuah kelegaan yang tidak bisa di jelaskan, bebannya seakan meringan, melihat Alan yang ternyata masih memikirkan dirinya, meski itu dalam bentuk dendam.


Terjadilah baku hantam antara Alan dan Arsya tanpa ada yang melerai, mereka saling berteriak dan memukul satu sama lain, tak hanya itu mereka benar-benar brutal dan tak ada yang mau mengalah.


"Lemah..... ternyata hanya segini saja kekuatan mu sekarang Alan..... " ejek Arsya untuk lebih memanasi suasana, wajah mereka berdua sudah hampir bonyok, banyak luka lebam di wajah mereka, namun tetap saja mereka tak mau berhenti.


"Aku mohon sudahi ini semua kalain berdua....!!. " teriak Rifa melihat situasi saat ini yang semakin memburuk.


"Dia sungguh berisik... " gumam Alan kesal, karena sedari tadi Rifa terus mengoceh untuk menghentikan mereka berdua.


Hingga tak terasa sudah setengah jam Alan dan Arsya berbaku hantam, nafas mereka sudah saling memburu, wajah mereka sudah kelelahan dan kini sudah di penuhi darah segar, pakaian mereka sudah kotor oleh debu dan darah yang bercampur dengan keringat.


Huft.... huft..... huft.....


Hembusan nafas berat mereka mengisi kesunyian malam, dan masih belum ada yang mau mengalah. Rifa juga masih terus mengoceh, namun Alan ataupun Arsya tidak menghiraukan nya.


"Huft...apa kau tahu penyebab ayahku terbunuh?.. huft.. " tanyanya dengan nafas yang masih tersengal, seakan dia baru saja lomba lari. Arsya hanya memicingkan matanya, untuk apa menjawab sesuatu yang sudah jelas jawabannya.


"Bukankah tak usah ku jelaskan?." singkatnya membuat Alan tertawa.


"Hahaha.... rupanya kau sudah jadi pionnya, dasar bodoh, dungu bahkan seseorang yang sejenius dirimu bisa di manfaatka seperti ini." Tawa Alan membuat Arsya naik pitam, apalagi Alan mengataimya bodoh dan dungu.


Tanpa basa-basi Arsya menonjok ttepaat di wajah Alan, hingga Alan terduduk dengan sudut bibir yang berdarah lagi. Alan mengusap darahnya dan bangkit dari duduknya, matanya memperhatikan Arsya.


"Hahaha.... kau marah rupanya, tapi ingatlah ini Arsya jika kamu tidak menyadarinya maka keluarga mu akan dalam bahaya." Lagi-lagi Alan tertawa seakan tak ada yang terjadi, namun sekarang Arsya diam setelah Alan mengatakan hal tersebut. Rifa tidak bisa mendengar apa yang mereka berdua bicarakan, dan itu membuat dia kesal.


"Dan kau tahu alasan apa kau di suruh membunuh ayahku itu karena dia..... " belum selesai Alan bicara, sebuah peluru telah di keluarkan dari sarangnya.


Dor.... dor.... dor.....


Tiba-tiba saja suara tembakkan mengejutkan mereka, membuat semua yang ada disana saling memandang. Karena yang Rifa dan lainnya tahu tidak ada yang boleh memegang senjata api, karena Alan menyuruh kepada semua bawahan serta yang melihat untuk menurunkan senjatanya.

__ADS_1


Rifa segera memastikan jika bukan Alan ataupun Arsya yang menggunakan senjata api itu untuk saling menghabisi, begitu juga dengan Dafa dan Aryan, mereka mendekati Arsya dan Alan. Keduanya masih saling berhadapan dengan wajah babak belur mereka, tapi ada yang aneh, karena mereka berhenti bicara, dan hanya saling diam.


Brukkkk......


__ADS_2