Putri Kembar Sang Psychopath

Putri Kembar Sang Psychopath
54-Hari Pernikahan


__ADS_3

"Tuan dia akan melangsungkan pernikahan nya dengan wanita itu." ucap Ferdi kepada Alan, yang kini mereka sudah berada jauh dari Indonesia. Mereka berhasil melarikan diri sebelum Dhafi dan yang lainnya datang.


"Itu kabar bagus, kapan hari pernikahan nya?. " tanya Alan, karena kemarin gagal dalam rencananya, maka kali ini harus berhasil, memang dia senang pada saat Arsya tertembak, namun siapa sangka dia terselamatkan.


"Seminggu lagi tuan.... apakah akan ada rencana baru untuk hal itu?." Tanya Ferdi, dia ingin tahu apa rencana Alan saat ini.


"Kau akan tahu besok, kita akan berpesta disana." ucap Alan dengan senyum liciknya, dia tidak sabar menunggu waktu seminggu.


"Dan jangan lupa bawa Lena untuk berkomplot." titahnya lagi, karena mereka sudah tahu jika Lena adalah saudara tiri dari wanita yang akan di nikahi oleh musuhnya. Mereka berencana menggunakan Lena lagi, karena hal itu sangatlah menguntungkan.


"Baik tuan..... " Ferdi pun pergi untuk menyiapkan hal itu.


"Saatnya bermain, lihat saja akan ada kejadian indah di hari behagiamu." batin Alan dengan tersenyum iblis.


💕💖💕💖💕💖💕


Seminggu kemudian......


Akhirnya datanglah waktu pernikahan yang Arsya nantikan, selama seminggu semua orang sibuk untuk menyiapkan segala nya. Arsya dilarang bertemu dengan Dinar selama seminggu oleh karenanya Dinar berada di mansion utama keluarga Azhar, hal itu membuat Arsya semakin merindukan calon istrinya.


Sementara Aryan sudah berbicara kepada Abbas mengenai pernikahan putrinya dan mengatakan bahwa Dinar ingin Abbas yang menjadi wali nikahnya. Betapa senang hati Abbas karena Dinar masih mau menjadikan dia sebagai wali nikah.


"Benarkah nak.....?. " tanya Abbas yang masih tidak percaya kalau ternyata Dinar ingin dirinya menjadi wali di hari bahagianya.


"Tentu saja paman, itu adalah permintaan dari nona Dinar, dia ingin anda yang menjadi wali nikahnya." jelas Aryan sekali lagi, dan membuat Abbas tersenyum bahagia. Aryan tahu itu adalah perasaan bahagia dari seorang ayah, dia akan melihat putrinya menikah, dan berbahagia, walau Aryan tahu perlakuan Abbas pada Dinar tidak bisa di maafkan, namun Dinar sangatlah mulia dan berlapang hati untuk memaafkan ayahnya.


"Baiklah aku akan datang kesana demi putriku." Ucapnya dengan wajah sumringah.


"Baiklah kalau gitu paman, saya hanya menyampaikan permintaan ini, datanglah besok saya akan menjemput anda dan juga keluarga anda yang lain, karena nona Dinar mengundang seluruh keluarga nya." Dinar tidak hanya mengundang sang ayah bahkan kepada ibu dan juga saudara tirinya.


"Terima kasih nak....mungkin hanya ini kesempatan untuk meminta maaf kepada putriku, atas perlakuanku padanya, aku sungguh menyesal sekarang." ucap Abbas dengan penuh penyesalan. Dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.


"Iya paman, aku tahu perasaanmu, nona Dinar pasti akan memaafkan anda. Kalau begitu saya pamit karena masih ada urusan yang lain." Aryan pamit mengundurkan diri, Abbas hanya mengangguk, dan mengantar Aryan hingga depan rumah.


Siska menguping pembicaraan suaminya, dia senang karena Dinar juga mengundanganya dan juga kedua putrinya, dia sudah merencanakan hal bagus untuk menghancurkan acara bahagia Dinar.


"Kita lihat saja Abbas, di hari bahagia putrimu aku pastikan akan ada kendala yang membuat kenangan istimewa itu menjadi kenangan buruk." gumam Siska dan pergi berlalu dari situ.


💕💖💕💖💕💖💕


"Akhirnya aku berada di titik ini, dimana dia akan menjadi milikku seutuhnya." Arsya sangat senang, hari yang dia tunggu tiba juga, memiliki Dinar seutuhnya.


Arsya sudah bersiap dengan setelan kemejanya, Arsya kini terlihat sangat tampan, tak dapat di pungkiri sekarang dia bahkan sangat tampan di bandingkan dengan hari-hari biasanya. Tidak hanya Arsya semua keluarganya sudah bersiap dengan baju yang sudah Haya di persiapkan sebelumnya.


Haya memilih pakaian yang sesuai dengan tema pernikahan ini, Dinar meminta kepada para pendekor untuk menggunakan warna putih, karena Dinar ingin jika di hari ini penuh dengan kemurnian hati, dan juga acara ini penuh dengan kesucian. Dinar tidak meminta untuk membuat resepsi yang terlalu mewah, Dinar hanya meminta yang sederhana saja, dan diadakan di luar ruangan.


Gaya dekorasi yang terkesan sederhana, di tambah dengan keasrian taman yang berada di mansion utama keluarga Azhar, Dinar juga meminta untuk di adakan di area mansion saja, dia tidak mau menyewa tempat karena baginya itu sudah lebih dari cukup. Walaupun Dinar tahu calon suami dan keluarga suaminya adalah keluarga yang amat kaya, meski Haya sudah menawarkan berulang kali, tetap saja Dinar tidak mau yang terlalu mewah.


Taman milik keluarga Azhar sangatlah luas, mungkin bisa di samakan dengan lapangan bola, namun yang membuat indah adalah berbagai macam bunga yang di tanam di taman itu, sungguh sangat menakjubkan. Acara akan di adakan di samping kanan mansion, karena disana nuansanya sungguh indah dengan kolam yang cukup besar.


"Semoga acara ku ini berjalan lancar, aku menantikan kedatangan ayah dan juga keluarga yang lainnya." Batin Dinar dengan melihat dirinya yang sudah berbalutkan gaun indah pilihannya, lengkap dengan aksesoris nya, rambutnya yang di sanggul kepang, membuat Dinar semakin anggun.


Dinar masih berkaca di depan cermin, dia tidak percaya sekarang dia berada di titik ini, menjadi pengantin yang dia harap-harap. Dania juga sudah berada disana, dia sudah pulang beberapa hari lalu, karena dia merindukan sahabatnya dan juga si kembar. Dinar juga sudah berbicara dan mengobrol bersama Dania beberapa hari lalu, sebelum dia menikah.


Sang perias Dinar di buat takjub dengan kecantikan Dinar yang alami, sehingga mereka tidak terlalu menebalkan make up, karena wajahnya tanpa make up pun sudah sangat mempesona. Di tambah mahkota berlian dengan campuran perak, membuatnya semakin anggun, dan terlihat seperti seorang putri bangsawan.


Tak lupa sepatu dan juga bunga sebagai pelengkap, dan hari bahagia ini, Dinar membawa buket bunga berwarna senada, Dinar memilih bunga tulip yang berwarna putih, karena melambangkan kesucian dalam pernikahan, meski Dinar belum mencintai Arsya sepenuhnya, dia akan belajar untuk mencintai sepenuh hati, oleh karenanya dia ingin pernikahan nya penuh dengan kesucian.

__ADS_1


Tidak lupa dengan sepasang cincin pernikahan yang sudah Arsya siapkan, untuk menyatukan cinta mereka, Arsya memilih cincin perak dengan hiasan berlian di sekitarnya.


Para keluarga dan tamu sudah menunggu kedua mempelai, Abbas dan keluarga Dinar yang lain juga sudah berada disana, keluarga besar Azhar mengenakan pakaian seragam agar lebih serasi, begitu juga dengan keluarga Dinar, Haya sudah menyiapkan baju untuk mereka juga. Tak hanya itu putra pertamanya Asfi sudah datang bersama dengan istrinya Ivy dan juga cucu Haya yang pertama bernama Rayhan Maulana Azhar.


Arsya berjalan keluar menuju tempat pelaminan, dimana dia akan mengucapkan sumpah dan janji suci bersama dengan Dinar. Semua keluarga melihat penuh haru, Arsya akhirnya bisa melepas masa lajangnya, meskipun awalnya adalah pertemuan yang tidak pernah di sangka, sampai memiliki dua putri kembar.


Arsya berdiri menunggu kedatangan Dinar, jantung Arsya berdebar hebat, tangannya berkeringat dingin, dirinya menjadi sangat gugup, namun dia berusaha tenang dengan wajah dinginnya seperti biasa. Beberapa saat menunggu akhirnya yang di tunggu telah datang, Dinar berjalan dengan di gandeng si kembar, semua mata tertuju pada pengantin yang sangat anggun dan mempesona berjalan menuju Arsya yang sudah menunggunya, di temani Karla dan Katrin.


"Dia cantik sekali.... ohh Dinar kamu selalu membuatku berdebar tak karuan, setelah kita sah aku pastikan tidak boleh ada yang menyentuhmu sedikitpun." batin Arsya melihat berapa anggunnya Dinar di balut gaun pengantin.


Sementara Lena menatap penuh kebencian kepada Dinar, begitu juga dengan Lusi dan Siska. Lena benci karena dia telah gagal mendapatkan Arsya lelaki yang ingin dia kuras habis hartanya. Berbeda dengan Abbas, kini dia hanya berharap setelah pernikahan ini putrinya bisa hidup dengan bahagia.


Dinar menatap sang ayah yang sudah duduk di hadapan Arsya calon suaminya, dia memang tidak akan pernah bisa melupakan perlakuan kasar ayahnya semenjak ibunya meninggal, semenjak ayahnya menikah lagi. Matanya berkaca-kaca jika dia mengingat masa lalu kelam itu. Dianr mengusap halus air mata yang menetes di pipinya, dia tidak boleh bersedih di hari bahagia nya.


"Ayah aku sangat merindukanmu, bagaimanapun juga kamu tetaplah ayahku meski kamu pernah melukai anak perempuan mu ini." gumamnya dalam hati, Dinar ingin semua kembali berbaikan, memperbaiki keretakan dalam hubungan ayah dan anak, meski sudah sangat terlambat.


Sampailah Dinar di hadapan kursi pengesahan pernikahan, Arsya akan mengucapkan ijab qabul yang akan mengikat keduanya. Dinar mendudukkan dirinya di samping Arsya, sementara putri kembarnya kembali berkumpul bersama keluarga yang lainnya. Abbas tahu jika Dinar sudah memiliki dua anak, karena Aryan menceritakan semuanya.


Semua menatap kedua mempelai yang akan mengesahkan hubungan mereka. Arsya berjabat tangan dengan wali nikah Dinar yakni Abbas dengan tenang karena hal itu penting agar dia tidak gugup mengucap ijab qabul.


Dengan sekali tarikan nafas Arsya mengucap sumpah, dan mengikat tali pernikahan antara dirinya dan Dinar. Semua keluarga bernafas lega, akhirnya mereka sudah sah sebagai suami istri. Dinar mengecup tangan Arsya dengan penuh keihlasan dia akan menerima segalanya tentang Arsya, meski di hatinya belum tumbuh besar cinta terhadapnya.


Arsya mengecup kening Dinar sangat lama, dia berharap Dinar mau menerimanya dengan sungguh.


"Selamat kalian telah sah menjadi suami istri, maafkan ayahmu ini Dinar yang pernah membuatmu terluka batin dan juga fisik, nak Arsya tolong jaga putriku, ayah yakin kamu bisa menjaganya, dan itu membuatku tenang." ucap Abbas dengan berlinah air mata, dia lega karena setakah ini putrinya akan aman, dan dia tidak perlu khawatir akan hal itu.


Sementara dari jauh seseorang menatap penuh kesedihan, seakan dunianya hancur, karena sudah tidak tahan melihat pernikahan tersebut, dia pun beranjak pergi dengan air mata yang sudah tidak terbendung lagi.


"Tentu saja ayah aku akan menjaga dia dengan baik-baik, jadi ayah tidak perlu khawatir."meski Arsya sangat membenci ayah dari istrinya, dia akan menahan kebencian ini demi Dinar.


Setelah selesai ijab qabul, Arsya dan Dinar banyak di beri ucapan selamat, begitu juga dengan ibu dan saudara tirinya, meski dengan tatapan benci dan penuh dengan wajah yang sinis, Dinar tetap memberi senyuman tulus kepada mereka.


"Dengan senang hati saudaraku..... " ucap Dinar dengan penuh tekanan namun terlihat sangat santai. Lena yang mendapat balasan ucapan Dinar membuatnya semakin geram dan kesal. Tapi di saat yang bersamaan dia ingat jika rencana nya akan terlaksana sebentar lagi.


Setelah semua mengucapkan selamat kepada kedua mempelai, Arsya pergi untuk berbicara dengan para tamunya, sementara Dinar dia duduk bersama dengan para keluarga dari suaminya, dan juga bersama dengan kedua kembar imut tentunya. Ini adalah kesempatan bagus untuk mengajak Dinar berbicara sejenak berdua.


"Maaf nyonya Azhar... bolehkan saya berbicara dengan Dinar sebentar saja." izin Abbas pada Haya. Sementara Karla dan Katrin masih memperhatikan Abbas, karena ini adalah kali pertama mereka bertemu dengan kakeknya.


"Iya boleh saja tuan Abbas, tapi jangan terlalu lama, karena masih banyak tamu disini." Haya mengizinkan Abbas untuk mengobrol berdua dengan putrinya. Dinar pun pergi dan ikut dengan Abbas untuk berbicara. Namun belum sampai mereka ke tempat lain untuk berbicara, sebilah pisau terbang melesat dan mendarat tepat di kursi pelaminan mereka. Dinar dan Abbas sudah agak jauh dari tempat acara jadi mereka tidak terlalu paham situasinya saat ini.


Jlebb........


Semua terkejut dengan hal itu, Dinar dan Abbas juga berhenti berjalan, Arsya yang tahu akan ada bahaya, dia segera menemui Dinar dan juga keluarga yang lain. Devan dan Asfi juga menuju Haya dan Ivy, mereka tidak mau


"Ada apa ini? Siapa yang melemparkan pisau itu?."Haya mulai panik karena tiba-tiba saja ada sebilah pisau yang bisa di artikan sebagai sebuah ancaman, apalagi ada yang melemparkan secara sengaja.


"Mamah baik-baik saja?." ucap Dafa yang tadi juga melihat pisau itu.


"Mamah tidak apa-apa, lebih baik kamu segera temukan Dinar, dia tadi pergi untuk berbicara dengan ayahnya, mamah khawatir." perasaan Haya menjadi tidak tenang, dia takut terjadi apa-apa pada Dinar.


"Tenang mah kak Arsya sedang mencari kak Dinar, aku juga akan membantu mencari, tapi tunggu sampai ayah dan kak Asfi datang." Dafa juga akan membantu mencari Dinar, namun karena Haya dan Ivy begitu juga dengan keponakannya masih ada di sini, dia harus menunggu sampai kakak dan ayahnya datang.


Selang beberapa saat Devan dan Asfi tiba disana, Dafa segera pergi untuk membantu Arsya mencari Dinar dan Abbas. Arsya berlari ke sekitar mansion sebelah, karena taman sebelah tidak di pakai.


"Aryan caritahu dan selidiki sekitar mansion, jangan sampai ada yang merusak acara bahagia ini." tutah Arsya lewat telp.


"Baik tuan." Aryan segera melaksanakan tugas, dia menambah perkatatan penjagaan, dan juga menambah orang lagi untuk keamanan.

__ADS_1


"Sial....!! kemana Abbas membawa Dinar, aku harus segera menemukan mereka." Arsya bergegas menuju ke tempat Dinar dan Abbas. Perasaan Arsya masih tidak enak, dia masih tidak tenang sebelum menemukan istrinya.


Karena ada suara keriuhan di mansion samping kanan, Abbas dan Dinar kembali kesana untuk memastikan keadaan.


"Hati-hati nak.... tetap tenang dan waspada, kita tidak tahu akan terjadi masalah apa sekarang." Abbas berusaha menenangkan Dinar, yang di khawatirkan Dinar adalah Karla dan Katrin begitu juga dengan semua keluarga suaminya.


"Iya ayah aku hanya khawatir dengan kedua putriku." Dinar juga berusaha tetap tenang.


Yang di khawatirkan akhirnya terjadi, disaat Arsya sedang mencari Dinar, Lena sudah lebih dulu menemukan Dinar dan juga Abbas, ini adalah rencana Alan, untuk bisa menghancurkan acara ini. Lena menarik keras kerudung yang ada di kepala Dinar, sehingga tubuh Dinar tertarik ke belakang.


"Aww..... " ringis Dinar.


"Dasar wanita tidak tahu diri..... kau sudah merebut dia dariku." teriak Lena, dan masih menarik keras kerudung pengantin Dinar. Abbas yang tahu hal itu, segera membantu Dinar.


"Lepaskan Dinar... Lena, apa yang kamu lakukan pada saudaramu." Abbas berusaha membantu Dinar, tapi dengan keras Lena mendorong Abbas hingga terjatuh.


"Diam kau... tidak usah ikut campur..!!."sentak Lena keras, Dinar yang melihat ayahnya terjatuh menjadi geram, dia melepaskan jepit di kerudung pengantin nya, dan berbalik menjambak rambut Lena, dan mendorong Lena hingga tersungkur.


"Apa yang kau lakukan hah?!!." sentak Dinar dengan tatapan tajamnya, dia membantu ayahnya berdiri.


"Ayah tidak apa-apa kan?."ucap Dinar dengan khawatir.


"Tidak apa-apa nak... "


"Sudah cukup kau selalu merendahkan dan menyiksaku, aku sudah muak memiliki saudara yang angkuh seperti mu, aku sudah cukup bersabar tapi kali ini aku tidak akan tinggal diam." tegas Dinar penuh dengan penekanan di setiap ucapannya.


"Heh sombong sekali kau.... setelah menikah dengan lelaki kaya kau jadi besar kepala, dasar wanita tak tahu diri." Lena berdiri dan mendorong keras tubuh Dinar, tapi Dinar berhasil menahannya. Lena yang menyembunyikan sesuatu di balik gaunnya, dia menyelipkan sebilah pisau tajam di pahanya, Lena mengarahkan pisau itu pada Dinar, Abbas yang melihat itu menjadi semakin panik.


"Seharusnya dari dulu aku membunuhmu. " Dinar tersentak melihat saudaranya yang kesetanan.


"Jangan lakukan itu Lena.... lepaskan Dinar." teriak Abbas dengan keras, Arsya yang mendengar teriakan itu segera mencarinya.


Lena terus berusaha melukai Dinar, Dinar berusaha mati-matian agar pisau itu tidak mengenainya. Abbas juga masih membantu agar Lena melepaskan Dinar. Dinar sangat kesulitan melawan Lena karena gaunnya, mahkotanya pun hampir terjatuh.


"Lihatlah ayah, dia akan mati di tangan ku." teriaknya lagi dengan tawanya yang menggema, perasaan Arsya menjadi semakin khawatir, dia masih berjalan ke sumber suara.


"Jangan lakukan itu Lena.... dia saudara mu." Abbas berusaha untuk menenangkan Lena, pisau itu semakin dekat dengan perut Dinar.


"Sial wanita itu bisa menggagalkan rencana, aku harus melaporkan pada tuan Alan." batin Ferdi yang melihat Lena yang bertindak tidak sesuai dengan rencana Alan kemarin. Ferdi segera pergi dan melapor pada Alan.


Dengan sekuat tenaga Dinar mendorong tubuh Lena dengan keras, hingga akhirnya tubuh Lena terlempar ke rumput, begitu juga dengan pisaunya.


"Aw.... " pekiknya kesakitan karena tubuhnya terlempar sangat keras.


"Dasar ****** berani sekali kauu..... " hina Lena, membuat Dinar semakin emosi, dia mendekat ke tubuh Lena yang masih terduduk. Dinar mendorong hingga kaki Lena sedikit cedera.


Plakk.....


Suara tamparan keras telah Dinar daratkan pada pipi Lena, hingga memerah. Lena memegangi pipinya yang sakit dia tidak menyangka Dinar akan melakukan hal itu.


"Ingat baik-baik.... jika kau mengusik ku dan keluargaku maka aku tidak akan tinggal diam." gertaknya dengan wajah dinginnya, membuat Lena sedikit menciut.


"Ayo ayah kita pergi dari sini." Dinar dan Abbas beranjak pergi. Dari kejauhan terlihatlah Arsya dengan wajah leganya, karena yang di cari sekarang baik-baik saja.


Lena yang sudah di permalukan bahkan hingga di tampar oleh Dinar, dia tidak terima. Dia bangkit dari duduknya, dan mengambil pisau yang tadi terjatuh, dengan hati yang penuh amarah Lena berlari menuju Dinar dan Abbas. Arsya yang melihat jika Lena akan menusukkan pisau, dia juga ikut berlari. Karena jarak Lena lebih dekat dari Arsya, dia kalah cepat dengan Lena hingga...


Jlebb.....

__ADS_1


Suara tusukan benda tajam yang mengenai daging terdengar jelas di telinga psychopath nya, dia tahu jelas jika ada yang terkena tusukan pisau itu.


"Dinar..... "


__ADS_2