
Matahari sudah menyambut pagi dengan keindahan dan kesejukan embun yang melebur di serial penjuru. Pagi ini seperti biasa Dinar menyiapkan sarapan pikirannya masih mengingat kejadian kemarin, di mana Aryan datang, dan dia yakin setelahnya Arsya pasti menyusul dan akan membujuk Karla dan Katrin untuk ikut dengan ayah mereka.
Ternyata rencana dari Karla dan Katrin berhasil, kini yang mereka tunggu adalah kedatangan dari ayah mereka. Sungguh kebahagiaan bagi mereka berdua bisa bertemu dengan ayah yang selama ini tak mereka ketahui.
"Karla... Katrin..... ayo sarapan sayang.... " panggil Dinar dia mencoba tetap tenang di hadapan si kembar, namun tetap saja mereka sudah tahu apa yang di rasakan bundanya, kekhawatiran bercampur dengan ketakutan.
"Iya bundaa..... " jawab mereka sambil menuruni anak tangga.
Mereka berdua mendudukan diri dan sarapan bersama, setelah selesai Dinar mengantarkan keduanya ke sekolah.
"Sayang bunda berangkat .... jika bunda belum menjemput kalian, tunggulah di tempat biasa." ucap Dinar dia wat sudah sampai di depan gerbang sekolah putrinya. Dinar senang karena kedua putrinya sangat mandiri dan juga pengertian.
Cup....cup....
Dinar mengecup kening kedua putri kembarnya, tak ada kebahagiaan selain bersama mereka. Setelah mengecup mereka Dinar melihat sampai kedua putrinya masuk ke dalam sekolah, Dinar pun beranjak pergi. Tanpa di sadari ternyata Arsya mengikuti mereka, dia ingin tahu kedua putrinya sekolah di mana, hingga dia memutuskan untuk mengikuti mereka.
Senyum terbit di bibirnya lagi-lagi dia sangat senang melihat mereka yang selalu bersama, walau Arsya memperhatikan dari jauh itu sudah cukup.
"Ternyata kedua putriku anak yang mandiri, daddy sudah tak sabar ingin mengecup kedua pipi kalian." Dia bangga karena melihat kedua putrinya tidak manja kepada ibunya, membuat Arsya ingin segera mengatakan semuanya pada putri kembarnya kalau dia adalah daddynya. Rencananya kini dia ubah, dia yang akan menjemput keduanya dan tidak jadi berangkat sore nanti bersama Aryan.
Arsya juga pergi setelah melihat taksi yang di tumpangi Dinar pergi, dia mengendarai mobilnya sendiri karena Aryan harus bekerja lebih awal untuk menyiapkan rapat penting yang akan terlaksana pukul sepuluh siang, jadi Arsya memutuskan untuk melihat kedua putrinya.
Karena pembangunan hotel sudah berjalan sangat baik tanpa kendala, membuat Arsya jarang datang kesana karena ada Aryan yang akan memeriksa dan juga mengawasi pembangunannya. Karena dia mengurus perusahaan besarnya, Arsya adalah pengusaha genius, dia bahkan mampu membuat perushaan nya maju hanya dalam beberapa tahun saja, dan itu membuat orangtua nya bangga.
Rapat pun di mulai dengan konsisten, mereka semua menyetujui kerjasama untuk menjadi investor hotel tersebut, karena Arsya ingin hotel barunya memiliki fasilitas lengkap dan juga nyaman. Fasilitas tersebut mencangkup berbagai aksesori yang di butuhkan hotel, dan mencangkup berbagai hal.
"Terima kasih atas kerja samanya, dan semoga berjalan lancar." Arsya senang karena hotel sudah mendapatkan semua yang di butuhkan, tinggal pembagunan hotel yang hati sedikit di percepat.
__ADS_1
"Iya kami setuju dengan kerjasama ini, hotel ini mampu berpotensi sangat maju dalam waktu dekat setelah berdiri kokoh, jadi mohon kerja samanya." ucap salah satu dari mereka, yang juga memiliki pendapat jika hotel ini sangat berpotensi.
Arsya hanya diam seperti biasa, karena semuanya sudah di perhitungkan olehnya modal dan juga hasil yang akan di peroleh, begitu juga dengan bonus yang akan di dapat dari pembangunan tersebut. Mereka mengakhiri rapat dan tinggalah Arsya dan Aryan di ruangan rapat tersebut.
"Kerja bagus..... tetap bekerja dengan baik.... " puji Arsya pada Aryan karena kinerja nya sangat bagus dan memuaskan seperti biasanya.
"Baik tuan... saya akan bekerja semaksimal mungkin... setelah ini anda akan ada jadwal kemana tuan?." tanya Aryan yang melihat atasannya akan pergi.
"Aku akan menjemput kedua putriku, aku yakin bundanya sibuk dengan pekerjaannya, berani sekali dia lebih mementingkan pekerjaan dari pada kedua putriku.... oleh karenanya aku ingin segera membawa mereka kembali." Arsya hanya tak mau kecelakaan pada waktu itu terjadi lagi, akibat dari Dinar yang sibuk membuat keduanya harus mandiri, dan Arsya tak suka hal tersebut, seharusnya di usia kecil Karla dan Katrin, Dinar harus lebih mengawasi mereka.
"Baik tuan.... apakah akan saya antar atau bagaiamana tuan?."
"Aku akan berangkat sendiri.... malam nanti akan ku pastikan jika Dinar akan memberikan keputusannya, dan sore nanti akan aku selesaikan masalah ini dengannya." Arsya sudah tak bisa menunda lagi, karena dia tak mau jika Dinar pergi darinya lagi.
"Oh satu lagi.... nanti tunggulah kami di depan dimana mobilku terparkir, dan jangan terlambat." titahnya Arsya sudah ingin segera membawa mereka dan memperkenalkan Dinar pada kedua orangtuanya sebagai calon menantu.
Bel sekolah berbunyi tanda jam pelajaran selesai, dan hari ini tak ada les tambahan di sekolah mereka.
"Ayo kak kita harus segera pulang... " Katrin menarik tangan Karla danenuji gerbang sekolah, yang ternyata bunda mereka belum menjemput.
"Katrin sebentar... kita harus tunggu bunda." ucap Karla untuk mengingatkan adiknya.
"Oh iya .... bunda kan menyuruh kita menunggu jika belum di jemput." Katrin menepuk keningnya karena terlupa, bertepatan saat itu mobil mewah berwarna hitam terparkir di depan gerbang tepat di hadapan mereka berdua.
Kedua terkejut karena mobil itu berhenti tiba-tiba, Katrin ketakutan karena mobil itu adalah mobil asing yang mereka tidak ketahui. Sedangkan Karla mencoba melindungi adiknya, siapa tahu orang yang berada di dalam mobil adalah orang jahat. Pintu mobil tebuka membuat Katrin semakin takut dan menggenggam tangan Karla dengan sangat erat, Karla juga sudah bersiap untuk menghajar orang tersebut.
Keluarlah Arsya dengan sejuta pesona wajah tampannya. Katrin mengintip dari balik tubuh Karla, dia tampak terkesima dengan ketampanan wajah ayahnya sendiri. Arsya berlutut di hadapan mereka menyetarakan dengan tubuh kecil mereka dan tersenyum manis kepada keduanya, membuat Karla dan Katrin bingung namun mereka menutupinya, karena merka tahu siapa lelaki itu.
__ADS_1
"Maaf anda siapa?." tanya Katrin sambil mengintip, karena Karla hanya bersikap acuh dan dingin seperti karena dia tahu bahwa lelaki di hadapannya adalah yang ada di foto. Katrin hanya berbasa-basi saja, dia juga masih ingat sama seperti Karla.
Arsya mengelus rambut keduanya dengan binatang bahagia terpancar jelas di wajahnya. Tangannya beralih pada Katrin agar tidak bersembunyi di belakang Karla.
"Kemari sayang..... jangan sembunyikan dirimu... daddy sangat rindu kalian.... " ucap Arsya dan langsung menyebut dirinya daddy. Tanpa berucap Katrin pun menurut dan berdiri di dekat Karla. Mereka mengerutkan keningnya, padahal mereka baru menerka bahwa dia ayah mereka, tapi dengan berterus terang membuat mereka sedikit terkejut.
"Apakah terkaan kita benar selama ini, tentang foto lelaki yang matanya mirip selain dengan kita? dia benar-benar ayah kita?." Katrin membatin pada waktu Karla menunjukkan foto itu, mereka masih ingin tahu lebih lanjut tentang siapa pria itu, tapi sepertinya sebelum mereka berhasil ayah mereka sudah lebih dulu mengetahuinya.
"Apa ini.... dia benar-benar daddy kita Katrin.... jadi foto itu adalah daddy.... " Karla pun sama dia tak menyangka tebakannya benar dan tidak salah sedikitpun, padahal mereka masih ingin menyelidiki sendiri.
"Pasti kalian terkejut kan.... tapi percayalah aku adalah daddy kalian." ucap Arsya membuyarkan lamunan keduanya, yang masih belum percaya jika mereka sudah di pertemukan dengan ayahnya dan tidak sesuai dengan rencana mereka.
"Maafkan daddy mu ini yang tidak ada pada saat kalian di kandung dan melahirkan... tapi daddy selalu mencari kalian berdua.... " terangnya kini matanya sudah berkaca-kaca karena tidak percaya jika dia sudah menjadi seorang ayah
Arsya memegang pundak keduanya dengan tangan bergetar, karena sedati tadi keduanya hanya diam membisu, sambil memperhatikan dirinya berbicara.
"Jadi benar ini daddy yang selama ini kita cari kak? yang ada di foto itu?." ucap Katrin yang juga sudah hampir menangis, namun berusaha di tahannya. Hanya anggukan yang di tunjukkan Karla yang berarti benar.
"D-daddy...... ini bukan mimpikan...? jika ini mimpi jangan bangunkan aku... " ucap Katrin terbata, dia mengusap wajah Arsya dengan tangan kecilnya.
"Iya ini daddy.... daddy sudah tahu melalui tes DNA kalian.... dan daddy akhirnya mengetahui semuanya kalian adalah kedua putriku." ucap Arsya dan menyentuh tangan Katrin. Karla masih saja dengan wajah datarnya, dia juga senang bisa bertemu dengan ayah mereka.
Arsya pun membawa keduanya ke dalam dekapannya, dia sudah sangat merindukan mereka. Arsya mengelus kedua punggung putrinya ini serasa bagaikan mimpi, tapi ini adalah kenyataan.
"Maafkan daddy sayang..... membuat kalian menunggu tapi daddy janji akan membahagiakan kalian berdua dan membayar hari yang hilang ketika tidak bersama daddy." Arsya merasa bersalah pada kedua putrinya karena tak ada di samping nya. Karla dan Katrin melepas pelukan daddy nya.
Tanpa sadar Arsya menitikkan air matanya, tangan kecil Karla mengusap air mata daddy nya, seorang psychopath seperti dia menangis, tapi itu tak masalah karena ini adalah air mata kebahagiaan.
__ADS_1
"Daddy..... kami merindukanmu." ucap Karla dengan tersenyum, begitu juga dengan Katrin mereka kembali memeluk tubuh yang di rindukan mereka selama delapan tahun lamanya. Ini adalah momen bahagia yang di tunggu mereka yang akhirnya di kabulkan.