
Devan sudah terduduk di bangku itu, bersiap untuk mendapatkan hukuman, matanya masih tertutup dengan kain hitam, indra penciuman nya menncium aroma amis yang begitu menyengat.
Asfi sudah berusaha menyakinkan Arsya untuk tidak memberikan hukuman pada ayah mereka, dan memaafkan kesalahan nya, tapi Arsya tetaplah Arsya yang sulit sekali untuk di bujuk, dia sangatlah kerasa kepala. Asfi tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikan Arsya, hanya menunggu keberuntungan saja.
Dafa juga tidak bisa berbuat apapun, Arsya sudah sangat marah, wajahnya sudah merah padam, kali ini amarahnya sudah di atas ubun-ubun, dan sudah memangsa hatinya. Devan sudah pasrah, hukuman apapun akan dia terima, meski harus mati sekalipun, dia memang pantas mendapat nya.
"Kak apa kita hentikan daddy saja? aku tidak mau jika daddy membunuh kakek, karena bagaimanapun juga kakek ayah dari daddy." Katrin tahu sekarang sedang sangat genting, Karla masih duduk dengan tenang seakan tidak peduli dengan hal tersebut, terkesan jahat memang, tapi itulah sifat asli Karla.
"Ini masalah orang dewasa adik, kita tidak perlu ikut campur." tekannya, membuat Katrin tidak bisa berkata lagi, Andra juga mulai khawatir, dia tidak mau ada pertumpahan darah antar keluarga. Ketiganya masih setia menunggu Dinar yang juga masih belum sadarkan diri.
"Jika bunda bangun pasti bisa meredakan amarah daddy, aku mohon Tuhan sadarkanlah bunda.... aku mohon, aku ingin semuanya kembali membaik seperti semula." bisik Andra dalam hati, meski dia laki-laki, tapi karena dia masih anak-anak, dia tidak bisa melakukan apapun, hanya memohon pada yang kuasa lah harapannya.
Andra semakin erat menggenggam tangan bunda nya, berharap bunda nya bisa membuka matanya, dan menghentikan ini, daddy pasti akan mendengarkan bunda nya, karena Dinar adalah penunduk raja iblis yang sedang marah. Haya juga tidak bisa berbuat apapun, semua nya akan berakhir dengan pembunuhan, dan hal ini dilakukan oleh putranya sendiri Arsya, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.
Arsya mengambil pisau kecil untuk memulai dengan goresan ringan, untuk memperlihatkan kepada Devan rasa sakit saat tersayat, karena berulang kali dia membuat Haya tersayat-sayat hatinya, dan membiarkannya melebar dan menjadi luka yang sulit untuk di sembuhkan.
Srekkkk.......
Arsya menyobek kemeja yang digunakan ayahnya, terlihatlah dada bidang milik Devan dengan bulu halus yang menutupi dadanya, Arsya mulai menggores dengan halus di bagian dada nha, tapi tidak terlalu dalam Arsya hanya ingin sedikit mengukir luka disana, hal itu membuat Devan meringis. Arsya tersenyum bengis, ini baru awalan, belum sepenuhnya.
"Ini untuk mamah...... dan ini untuk kakak." Arsya menggores lagi, hingga Devan tidak bisa menahan sakitnya.
"Kak hentikan aku mohon, bukan seperti ini cara menyelesaikan masalah, kau sudah membunuh Ferdian, itu sudah cukup kak." Pintar Dafa untuk menghentikan kakak nya, tapi Arsya menulikan pendengaran nya. Dafa sudah tidak bisa melakukan apapun, jika Arsya sudah seperti ini, jalan satu-satunya adalah kakak iparnya.
"Siall!!." gumamnya dengan suara yang amat pelan. Dafa frustasi dengan sikap kakaknya saat ini, dia memang tahu jika Arsya adalah seorang psychopath, dan dia yakin Arsya tidak peduli entah itu keluarga nya atau bukan, jika mereka sudah berurutan dengan Arsya, maka dibunuh adalah jalan akhir hidup mereka.
Andra melihat gerakan kecil dari jemari bunda nya, apakah bunda nya akan segera sadar, itulah yang kini Andra rasakan, ada harapan kecil yang akan terkabulkan, Andra berharap bunda nya sadar dari koma.
__ADS_1
"Kak bunda menggerakan sedikit jemarinya, aku melihatnya tadi." ucap Andra bahagia, Karla dan Katrin segera mendekat ke ranjang Dinar.
"Benarkah.....??." Katrin juga tidak sabar, karena sudah beberapa hari Dinar belum membuka matanya, Dania juga berasal disini saat ini, dia memastikan keadaan Dinar.
Garakan jemarinya semakin jelas terlihat oleh ketiga anaknya, Haya dan Dania juga ikut melihatnya, semoga ini pertanda Dinar akan sabar. Dania memeriksanya menggunakan stetoskop, Dania bisa memastikan keadaan Dinar, karena meskipun dia dokter kandungan, dia tetap saja dokter yang tahu keadaan pasien apakah membaik atau tidaknya.
"Bagaimana aunty? apakah keadaan bunda sekarang sudah membaik?." tanya Andra yang tidak sabar dengan keadaan Dinar saat ini.
"Keadaan nya memang sudah normal, tapi kita harus tunggu beberapa saat untuk memastikan apakah itu gerakan biasa atau gerakan kesadaran." jelas Dania, Andra mengangguk mengerti, butuh kesabaran yang besar untuk semua ini.
"Bunda aku mohon sadarlah, kami merindukanmu." Katrin berharap sekarang bunda nya bisa bangun.
"Bunda pasti akan segera sadar." singkat Karla, dia yakin dalam waktu dekat, atau bisa saja sekarang bunda mereka akan bangun, Karla memasang wajah tenangnya, disaat Katrin dan Andra begitu khawatir, Karla hanya memperhatikan dengan tenang, meski begitu Karla sangat teliti, dia selalu dalam ketenangan hatinya.
Mereka berdoa untuk kesadaran dari Dinar, Haya juga berharap menantunya sadarkan diri, dan membujuk Arsya, karena Haya yakin Arsya pasti akan menurut, tapi entahlah waktunya cukup atau tidak, yang ditakut ketika Dinar sadar, Devan sudah selesai dieksekusi oleh Arsya.
"Bunda..... " Andra memanggilnya dengan mata berkaca-kaca, Karla juga begitu bahagia. "Syukurlah bunda sudah sadar." Katrin mengucap syukur, dengan ini ada harapan yang tercipta.
Dania segera menghubungi rumah sakit untuk datang memeriksa keadaan Dinar, Haya begitu bahagia menantunya sudah sadar dari komanya, tapi masih dengan tubuh lemasnya. Haya tersenyum lembut seakan tidak terjadi apa-apa.
"Aku dimana mah?." tanya Dinar yang masih bingung, dengan keadaan nya sekarang. "Kamu berada di villa sekarang, kamu koma sayang sudah hampir satu minggu." Dinar lupa akan hal itu, dia tidak tahu jika sudah terbaring cukup lama.
"Ohh begitu." dokter pun dateng dengan beberapa suster untuk membantu membuka semua alat medis yang menempel pada tubuh Dinar. "Keadaannya membaik nyonya, anda tidak perlu khawatir lagi, tinggal istirahat yang cukup dan minum obat yang sudah saya resepkan." dokter tersebut memberikan resep, Haya segera menyuruh seseorang untuk menebus obatnya di apotek.
Suster dengan berhati-hati melepaskan semua alat medis yang ada di tubuh Dinar, dan membereskan semuanya hingga selesai. Sekitar satu jam, suster sudah selesai melakukan tugasnya, karena sudah beres mereka pun pamit untuk kembali, karena keadaan Dinar juga sudah membaik.
Andra dan Katrin sudah berada disana, mereka mengajak bicara Dinar, untuk sekedar melepas rindu, sungguh tidak menyangka kejadian buruk itu menimpa bunda mereka.
__ADS_1
"Mendekatlah sayang..... bunda rindu kalian." Dinar menepuk samping ranjang, mereka berdua langsung mendekat dan memeluk keduanya. "Syukurlah bunda tidak apa-apa, aku sangat khawatir dengan keadaan bunda." Andra terus berbicara, dia sangat bahagia bunda nya telah kembali.
"Iya sayang maafkan bunda telah membuat kalian khawatir, sekarang bunda sudah tidak apa-apa." Karla hanya memperhatikan mereka dengan senyum tipisnya, Dinar sudah paham akan hal itu, Karla memang seperti itu.
"Ketiga anakmu sangat khawatir Nar, untung saja sekarang kamu sudah sadar, dan membaik." Dania tahu jika ketiga anak Dinar sangat cemas. "Benar sayang, mereka selalu menemanimu." Haya senang ketiga cucunya sangat menyayangi bunda mereka, dan mereka juga menyayangi keluarga besar mereka.
"Dinar....... oh syukurlah kami sudah sadar." Ivy yang tahu Dinar sadar, dia segera pergi ke kamar adik iparnya, dan bernafas lega. "Ah iya kak aku baik saja sekarang, terima kasih sudah mengkhawatirkan aku." Dinar bahagia karena keluarga suaminya begitu perhatian padanya. Asfi juga menyusul bersama kedua anak mereka.
Mata Dinar mencari sesuatu yang belum juga datang, padahal dia berharap Arsya lah yang menunggu dirinya sadar, tapi ternyata tidak ada.
"Mah.... kemana Arsya? kenapa dia tidak datang kemari?." tanya Dinar, karena dia sudah tidak sabar ingin bertemu suaminya. Semua mata saling pandang, entah bagaimana menjelaskan nya, ini sungguh situasi sulit, terlihatlah wajah sedih Haya, dan sangat terlihat oleh Dinar.
"Ada apa mah? apa ada sesuatu terjadi? dimana Arsya? kak jawab.... ayolah." Dinar benar-benar tidak mengerti kenapa mereka malah diam. "Daddy ada di markas bund.... " dengan santai Karla menjawab nya, membuat semua orang keringat dingin.
"Markas? maksud nya markas apa?. " Dinar tidak tahu jika ternyata keluarga Azhar memiliki dunia gelap seperti mafia. "Nanti akan kami jelaskan Dinar, sekarang lebih baik kamu istirahat dulu, tenangkan dirimu." Asfi mencoba untuk menenangkan adik iparnya.
"Tidak kak lebih baik jelaskan sekarang saja." Dinar tetap memaksa, hingga akhirnya Asfi menjelaskan semuanya dengan singkat dan mudah dipahami. Dinar nampak terkejut dengan penjelasan tersebut, sungguh tidak menyangka suaminya adalah psychopath, dan keluarga nya memiliki mafia.
"Antar aku kesana... aku bisa menghentikan Arsya." Dinar tidak mau Arsya terjun ke dunia gelap itu lagi, terlebih sekarang dia akan menghabisi ayahnya sendiri. "Tapi mungkin kita sudah terlambat." Asfi tahu ini sudah cukup lama untuk menghentikan semuanya, mungkin Arsya sudah selesai melakukan pembunuhan. Tubuh Haya melemas, dia tahu sekarang suaminya sudah tiada.
"Aku yakin masih sempat, ayo cepat kak kita harus hentikan ini." Dinar yakin masih ada harapan, mereka belum terlambat. Mereka belum yakin dengan apa yang dikatakan Dinar. "Kita masih sempat. " singkat Karla, mereka pun menyiapkan kursi roda untuk Dinar, dan bergegas menuju markas, yang jaraknya tidak terlalu jauh.
"Bagaimana ayah......? apa kau sudah sedikit merasakan rasa sakit? hahaha....... " tawanya seperti kesetanan, sekarang tidak ada yang berani menghentikan Arsya, dia seperti kerasukan iblis. Rintih dan tangis Devan tidak diidahkan oleh Arsya, mukanya sudah mulai parah, setelah menggores luka di dadanya, kini dia sedang bermain di kaki dan tangan Devan, dan sudah satu jam Arsya masih bermain-main.
Tanpa pikir panjang Asfi langsung menendang pintu penyekapan, semua terkejut dengan apa yang telah terjadi, mata mereka melotot sempurna, darah sudah membasahi lantai dengan warna nya, Haya tidak bisa bayangkan apa yang Arsya lakukan, putranya begitu tidak manusiawi.
"Suamiku sudah cukup...... "
__ADS_1