
"Sudah jangan lanjutkan itu semua sayang..... aku memafkanmu." suara yang dirindui nya kini sedang berbicara padanya, Arsya menjatuhkan pisau kecilnya, air matanya sudah berlinang di matanya. Dinar tidak tahu apa yang membuat Arsya menjadi pembunuh berhati dingin, dia tidak tahu apa yang telah dialami suaminya selama hidupnya, dia tidak tahu apapun.
"Sayang....... " suara lemahnya, membuat Dinar tidak bisa menahan tangis, Dinar bangkit dari kursi roda, dan berjalan pelan, karena keadaan nya belum begitu pulih. "Jangan lakukan lagi sayang, jangan..... " Dinar terus berjalan untuk bisa lebih dekat lagi dengan Arsya. Wajahnya sudah penuh dengan noda darah, begitu juga pakaian nya, kini dia begitu kotor.
Dinar memeluk erat suaminya, tububnya bergetar hebat, dia nampak lemah sekarang, hatinya begitu rapuh, bagaimana bisa seorang ayah menjadikan anaknya menjadi pembunuh, bahkan sudah amat sangat parah.
"Maafkan aku sayang.... maafkan aku..... " Arsya memeluk begitu erat tubuh istrinya, dia begitu tersiksa sekarang. "Aku sudah memaafkanmu dad.... tidak apa sekarang menangislah buatlah hatimu lega dad, aku akan menjadi sandaran mu di saat kamu terpuruk." Dinar memaafkannya, Asfi sudah memberitahu semuanya tentang kesalahpahaman nya terhadap Hayfa.
Dafa dan Asfi segera melepaskan Devan, dan membawanya ke rumah sakit, mukanya sudah cukup parah, meski hanya sayatan pisau kecil, tapi tetap saja dia harus mendapatkan pertolongan, nanti jika semuanya sudah selesai, mereka akan bicarakan ini secara kepala dingin dan kekeluargaan.
Semuanya pergi dari sana untuk memberi ruang keduanya, dan tinggallah Arsya dan Dinar disana, Dinar begitu lembut membelai kepala suaminya, dia sudah sangat rindu dengan bau Arsya, sudah lama mereka tidak seperti ini. Arsya masih menenggelamkan tubuhnya dalam pelukan istrinya, begitu dalam dan erat, seakan tidak mau Dinar pergi, tapi memang kenyataan nya Arsya tidak menginginkan hal itu, dia ingin Dinar selalu bersamanya.
Begitu lama Arsya berada disana, sangat nyaman dan hangat, tapi Arsya sadar, jika Dinar baru saja pulih, dia tidak boleh kelelahan. Arsya melepaskan pelukannya, menatap istrinya dengan tersenyum lembut, wajahnya masih pucat dengan rambut yang tergerai.
"Kamu harus istirahat sayang....ayo akan aku antarkan ke kamar." Arsya menggenggam tangan Dinar, dan membantunya berdiri. "Kamu harus bersihkan diri dulu, dan gantilah pakaian." matanya melihat keadaan suaminya sekarang.
Bahkan seketika Arsya melupakan Devan, hanya dengan pelukan Dinar, dia bahkan sudah tidak peduli lagi, yang terpenting adalah kesehatan Dinar. Dengan sigap Arsya menggendong tubuh Dinar, dia terkejut dengan perlakuan Arsya, tidak disangka Arsya begitu perhatian.
"Kamu tidak boleh kelelahan sayang, aku akan menggendong mu sampai kamar." matanya menatap istrinya dengan bahagia, Dinar tersenyum tipis. "Makasih dad... aku rindu semuanya." Dinar mengkalungkan tangannya pada leher Arsya, dan bersandar di dada bidang milik suaminya.
__ADS_1
💕💖💕💖💕💖💕
Devan segera mendapatkan pertolongan di rumah sakit milik keluarga Azhar, karena di bangun khusus untuk keluarga Azhar oleh Arsya, dan itu memang sengaja, bahkan Hayfa juga bekerja sampingan disini.
"Hah?!.....tuan Devan.... ada apa dengan dirinya? kenapa seperti ini." dokter Hans begitu terkejut dengan keadaan Devan yang sudah penuh darah.
"Sudah jangan banyak bicara, sekarang rawatlah ayah." titah Asfi, mereka pun segera membawa Devan ke ruang tindakan. "Apakah akan sempat kak?." ucapnya dengan nafas yang masih tersengal. Asfi menatap Dafa putus asa, entah sempat atau tidak, yang terpenting Devan sudah mendapatkan pertolongan dokter, sisanya hanya takdir yang memutuskan.
"Entahlah, dilihat dari keadaan nya mungkin hanya keajaiban saja yang akan menunjukkan nya. " Asfi tidak tahu harus berkomentar apa tentang keadaan Devan, yang pasti keadaan nya begitu darurat, bahkan mungkin Devan sudah kehabisan darah. Dafa terduduk di kursi tunggu, meski Devan sudah jahat pada keluarga mereka, tetap saja dia masih kepala keluarga.
"Huft...... memang sulit untuk di atasi, semuanya sudah berakhir, semoga tidak ada drama lagi." suaranya begitu lelah, menghadapi masalah keluarga yang baru saja usai. "Sudahlah, sekarang kita akan memulai lembaran baru, yang lalu biarlah berlalu, meski akhirnya kita masih memaafkan ayah kita." Ucapnya sambil meneguk air mineral, rasanya memang kita harus memperbaiki semuanya jika sesuatu itu telah rusak.
💕💖💕💖💕💖💕
Tapi dia berusaha tersenyum, tidak boleh bersedih karena istrinya sudah memaafkannya, tapi apakah hal Dinar benar-benar memaafkan nya? entahlah untuk sekarang Arsya belum mampu memikirkan hal itu, yang terpenting adalah kebahagiaan keluarga kecilnya.
"Daddy...... " Katrin langsung berlari kecil dan menangkap tubuh sang ayah, sungguh dia merindukan daddy nya, sejak kejadian itu, mereka seperti membatasi diri.
"Wahh putri daddy cantik sekali, terima kasih telah menjaga bunda dengan baik." Arsya mengelus perlahan rambut putrinya yang tergerai indah, senyumnya begitu manis. "Daddy aku rindu.... aku ingin semuanya baik-baik saja." Katrin mengeratkan pelukannya. "Jangan berpaling lagi dad." Arsya tertegun, apakah karena kesibukannya, dia melupakan ketiga anaknya? oh tidak padahal Arsya sudah berjanji untuk membahagiakan ketiganya, khusnya utri kembarnya yang dari lahir tidak ada Arsya di sampingnya.
__ADS_1
"Maafkan daddy sayang... maafkan daddy... daddy janji tidak akan seperti itu lagi... maafkan daddy." Andra dan Karla mendekat, dan keduanya ikut memeluk Arsya. "Kami ingin daddy seperti biasa lagi, tidak berpaling dan selalu meluangkan waktu meski sibuk, kami membutuhkan kasih sayangmu dad." Andra merasa kemarin adalah yang terburuk, dan dia tidak mau hal buruk itu terjadi lagi.
"Jika kau berpaling lagi, aku tidak akan segan dad." Ancam Karla, putri satu nya ini sungguh menyeramkan, terlebih Arsya susah melihat apa yang telah di lakukan putrinya. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tidak sayang, daddy tidak akan mengulangi nya lagi, jika itu terjadi hukum saja daddy. " Dinar begitu senang melihat kehangatan kembali keluarga kecilnya.
"Daddy mau bicara dengan bunda kalian ok..... " Arsya berjalan menuju istrinya, ketiga anaknya juga mengikutinya. Arsya meminta maaf dengan penuh ketulusan, dan menjelaskan semuanya, menceritakan bagaimana dia melakukan hal konyol itu.
Tiba-tiba saja Ivy masuk dengan nafas yang memburu, dia baru saja dapat kabar mengenai Devan. "Kita harus ke rumah sakit sekarang..... mamab menyuruh kita untuk kesana." dengan masih berusaha mengatur nafasnya. "Ada apa kak? apa terjadi sesuatu?." namun tanpa penjelasan Arsya membopong tubuh Dinar.
"Kita akan kerumah sakit sekarang." singkat Arsya, dan membawa Dinar bersama ketiga anaknya, sementara Ivy bersama dengan Aryan. Haya sudah lama berada di rumah sakit, dia begitu setia menunggu suaminya, sungguh wanita kuat, meski telah di sakiti berkali-kali oleh Devan, dia tetap bertahan dalam segala kondisi, apakah ada wanita sehebat Haya?.
Kondisi jantung Devan kini mulai melemah, alat bantu tidak membuat nya sadar, terlebih dia sudah terlambat mendapatkan donor darah. Namun samar-samar dia melihat masa lalu kelamnya, masa dimana dia menyiksa keluarganya, memberi luka, dan luka hingga bekasnya sulit untuk sembuh.
"Haya...... " suaranya begitu berat, nafasnya sudah mulai melemah. Haya memasuki ruangan, tubuh Devan sudah di penuhi dengan perban, tubuh Haya melemah melihat bagaimana suaminya saat ini. "Aku disini suamiku... aku disampingmu." Haya begitu lemah, dia mendudukkan dirinya di samping brankar Devan.
"M-maafkan a-aku....... " suaranya sudah tercekat di tenggorokan. Haya menangis pilu, tanpa bersuara, membuat seisi ruangan diam, melihat kesedihan dan penyesalan dalam waktu yang bersamaan. Devan telah tersadarkan di akhir hidupnya, bahwa dendam tidak akan menyelesaikan apapun.
Belum sempat mengucapkan apapun, tubuh Devan sudah melemah, dia tidak bisa terselamatkan, hanya terucap kata maaf, dan hal itu sudah sampai pada Haya. Syukurlah meski hanya itu yang bisa dia katakan pada istrinya.
"Jangan pergi...... jangan..... " pilunya bersamaan dengan datangnya Arsya dan yang lainnya, semuanya berkumpul di ruangan luas itu, melihat ketiadaan Devan, pada akhirnya Arsya tetap membencinya, dia hanya sebentar melihat dan setelahnya Arsya berlalu keluar ruangan.
__ADS_1
"Cihh lemah sekali dia..... membuat luka tapi tidak berani bertanggung jawab." Arsya hanya butuh menenangkan diri, dia menjauh karena hatinya masih di penuhi kebencian, siapa yang tidak benci, jika hidupnya hanya sebatas alat.
Semua akan kembali seperti semula, meski harus mengulang dari awal lagi, karena semuanya sudah rusak tak bersisa, hanya butuh di perbaiki dan diulang kembali menjadi lebih baik lagi.