Putri Kembar Sang Psychopath

Putri Kembar Sang Psychopath
61- Pertemuan kembali


__ADS_3

Dafa sudah menunggu cukup lama di markasnya, sesekali dia melirik jam tangannya, yang sudah menunjukkan angka sebelas.


"Tidak biasanya dia telat...." gumamnya kesal. Beberapa detik setelah mengatakan hal tersebut datanglah Arsya dengan wajah datarnya.


Dia melirik tajam Dafa, yang tahu bahwa dia habis menggumaminya. Arsya mendudukkan dirinya tepat di hadapan Dafa, dan memberikan ponselnya pada Dafa.


"Buka dan lihat dengan teliti." singkatnya, Arsya sudah memindahkan semua bukti wuxia group di ponsel miliknya, jadi dia tidak perlu membukanya lewat komputer. Dafa mengambil dan membuka ponsel milik Arsya.


Di lihatlah dengan penuh teliti agar tidak terlewat hal penting apapun, karena Arsya memang tidak suka jika dia yang harus menjelaskan, jadi Dafa harus bisa melihat keadaan dan suasana.


"Wuxia group? darimana kakak mendapatkan ini?." tanya Dafa heran, karena dalam waktu singkat Arsya bisa mendapatkan informasi lengkap sebuah perusahaan misterius milik musuhnya.


"Kamu tidak perlu tahu... yang pasti kita persiapkan semuanya untuk pembalasan."seringainya dengan tatapan penuh amarah, dia sudah menahan semua yang di lakukan Alan, tapi kini Arsya tidak akan diam, karena bisa saja Alan membahayakan keluarga nya, dan hal itu yang selalu Arsya khawatirkan.


"Baiklah aku mengerti kak, kita akan segera menangkap mereka dan jangan sampai mereka lolos lagi." Dafa juga sudah muak melihat kelakuan mereka yang mengganggu ketenangan orang lain.


"Kita akan atur segera." Arsya dan Dafa pun mengatur strategi lengkap untuk bedebah Alan itu, mereka mengatur sebaik dan semulus mungkin agar mereka tak curiga, karena Arsya tahu betul, jika Alan adalah maniak penipu, dia bisa memanipulasi musuh dan lawannya dengan sangat lihai.


"Baiklah.... " Dafa juga tidak bisa terus seperti ini, mereka akan segera meringkus Alan dan juga semua yang berkaitan dengan dirinya. Sekarang Arsya merencanakan strategi baru, karena mengikuti permainan lawan hanya akan membuang-buang waktu, dan jika lengah sedikit saja maka semuanya akan gagal sama seperti kemarin, dan akhirnya hanya akan ada korban.


Dafa akhirnya paham informasi tersebut, dia mengamati dengan teliti tanpa terlewat. Dan pada saat mencari keberadaan Alan saat ini tiba-tiba saja seseorang mengirimkan GPS yang memberitahukan lokasi Alan saat ini, dimana lokasi yang lumayan jauh dari markas, tapi sepertinya pergerakan mereka terhenti.


"Kak ada yang mengirimkan lokasi Alan saat ini, dan semua lengkap dengan tempat serta alamat nya, siapa sebenarnya yang mengirimkan hal penting ini?. " Dafa kaget karena data rahasia pun bisa di peroleh oleh orang tersebut, bahkan semuanya lengkap. Terlebih lagi hal ini sangat sulit di temukan oleh hacker andalannya.


"Aku sudah tahu, karena dia juga yang mengirim surel padaku tentang perusahaan si brengsek itu." Arsya tahu jika pengiriman nya adalah Srikandi group, yang sebelumnya sudah mengirim informasi.


"Wah kita beruntung kak, ok sekarang kita bersiaap untuk penangkapan Alan dan para antek-antek nya." Dafa menjadi bersemangat, sudah lama dia tidak melakukan hal tersebut semenjak penyerangan markas waktu itu.


"Kak arah GPS ini menuju hutan yang pasti tidak akan ada sinyal, dan jaraknya sekitar sepuluh kilometer dari sini." Dafa melihat pergerakan mereka, yang menuju hutan yang jaraknya lumayan jauh dari markas, bahkan jika mereka tidak segera menyusul, bisa saja Arsya kehilangan jejak, karena hutan itu sulit sinyal.


"Kita bergerak, hubungi semua bawahanmu sekarang." Arsya sudah tidak punya banyak waktu, malam ini dia harus bisa menangkap Alan.

__ADS_1


Dafa akhirnya menurut dan menghubungi bawahannya, mereka akan merencanakan di mobil nanti, karena waktu nya tidak bayak. Arsya yang mengambil alih kemudi, Dafa juga ikut masuk ke mobil yang sama. Dafa sebenarnya tidak mau bersama Arsya, dia bisa senam jantung jika berkendara bersama Arsya, apalagi jika dalam keadaan mendesak, bisa-bisa jantungnya keluar dari tempat nya.


Jiwa psychopath Arsya mulai bangkit lagi, dia muak terus di permainkan, maka sekarang giliran dia yang akan membalas. Arsya menyetir sangat cepat, dia sengaja menggunakan mobil sport nya agar bisa sampai secepat kilat.


"Lihat saja brengsek." gumamnya dengan tatapan membunuhnya, membuat Dafa mematung, sudah lama dia tidak melihat Arsya yang seperti ini, yang haus akan darah, mungkin malam ini akan menjadi malam indah nya. Arsya terus menancapkan gas nya hingga sampai di titik awal Alan sebelum mereka menuju hutan.


"Sudah kamu hubungi?." tanyanya dengan masih berwajah dingin, namun kali ini sungguh mencengkam.


"Sudah mereka akan segera tiba."jawab nya.


"Aku akan bergerak sendiri kesana, dan kamu tunggu semuanya berkumpul."


"Tapi kak itu terlalu berisiko, aku tidak mau kamu kenapa-kenapa."Elak Dafa, dia tidak mau kakaknya melakukan hal itu sendiri. Arsya menatap tajam Dafa, membuat dia tidak bisa melawan keinginannya.


"Huft baiklah.... " Dafa hanya bisa berpasrah, karena dia tahu Arsya tidak akan mendengarkan nya. Arsya melajukan lagi mobilnya, dia meninggalkan Dafa disana. Selang beberapa menit setelah kepergian Arsya, bawahan Dafa datang, mereka segera berkumpul untuk menyusun strategi.


"Tiga orang berada di sini, awasi wilayah sekitar sini, kita tidak tahu kapan bala bantuan dari mereka datang, aku akan menyusul kak Arsya bersama Aryan dan juga Rifa." Dafa sudah menyusun rencana, karena ini mendadak mungkin sedikit kemungkinan keberhasilan nya, tapi dia sudah percaya pada mafianya, dan pasti akan berhasil.


"Dasar dia selalu saja pergi seorang diri." kesal Rifa yang tahu kelakuan sahabat nya, tak habis pikir dengan apa yang Arsya lakukan.


"Akhirnya pertemuan kita akan berlangsung, persahabatan ini yang kini di penuhi permusuhan akan berakhir karena ini adalah janjiku pada kalian." gumam Rifa dia tidak sabar pertemuan yang sudah dia tunggu, meski dia kecewa tapi dia harus tetap berada di samping Arsya, karena dia tak mau jika Arsya terjerumus semakin dalam.


"Sudahlah tuan Rifa, tuan Arsya memang seperti itu." Aryan mencoba menenangkan Rifa, dia masih kesal karena tidak di undang ke acara pernikahan Arsya kemarin.


"Dasar sahabat tidak tahu diri.... " umpat nya lagi, Rifa masih kesal. Dia bergumam sendiri di sepanjang jalan. Rifa adalah sahabat Arsya, sedari kecil mereka selalu bersama, sifat Rifa adalah kebalikan dari Arsya, dia sangat ceria dan cerewet, tapi dia juga termasuk orang yang tenang.


Aryan dan Dafa hanya bisa melihat kekesalan Rifa, mereka hanya menggeleng kan kepalanya, melihat kelakuan Rifa yang tidak berubah meski sudah dewasa. Mereka segera menyusul Arsya, yang entah sedang apa dia sekarang.


Sampailah Arsya disana, terlihat banyak sekali bawahan Alan yang berjaga disana. Ternyata ada markas besar yang berdiri di tengah hutan, bahkan bisa di katakan itu adalah markas utama yang selama ini Arsya cari. Dia memarkirkan sembarang mobilnya, jaraknya sekitar seratus meter dari dia memarkirkan mobilnya.


"Disini rupanya... " gumam Arsya dengan senyum smirk nya, dia berjalan sembari melepaskan jasnya dan mengendurkan dasinya. Arsya berjalan ke arah markas sambil membawa pistol di tangannya, dia menembak dari kejauhan untuk memancing Alan keluar.

__ADS_1


"Tuan ada yang datang?." lapor salah satu bawahan Alan.


"Siapa dia? kenapa bisa tahu markas ini?." Tanya Ferdi, karena tidak ada yang tahu markas utama mereka yang berada di tengah hutan.


"Tidak tahu tuan, dia masih berada seratus meter dari sini." jelasnya, karena melihat jarak Arsya yang masih jauh dari markas.


"Periksa dengan teliti siapa dia.... tangkap dan jangan sampai dia lolos." Titah Alan pada Ferdi dan bawahan yang lain, untuk memeriksa sebenarnya siapa yang berani mengusik markas utama.


"Baik tuan." Ferdi keluar dari ruangan Alan dan pergi memeriksa keluar. Benar saja ada orang yang berjalan menuju markas.


"Siapa penyusup yang secara terang-terangan memasuki markas ini? sungguh besar juga nyalinya." Ferdi tidak menyangka jika akan ada seseorang yang berani memasuki markas secara terang-terangan. Arsya memang bukan tipe orang yang akan menyerang secara langsung, tapi ini adalah bagian dari rencananya, dia hanya ingin bertarung melawan Alan seorang diri, dan yang lainnya dia tidak akan peduli.


Hingga terlihatlah Arsya oleh Ferdi, membuat dia membulatkan matanya, dia kaget ternyata orang itu adalah Arsya seorang yang terkenal dengan pembunuh berdarah dingin. Ferdi segera kembali untuk melaporkan kepada Alan siapa penyusup itu.


"Kalian tetap disini, jangan sampai orang itu memasuki markas, aku akan melapor kepada tuan Alan." Ferdi berjalan cepat kedalam untuk melaporkan hal tersebut.


"Tuann dia datang...." Alan menatap Ferdi, dia tahu apa yang di maksud Ferdi.


Tanpa menjawab Alan beranjak keluar dari ruangan nya, tatapannya berubah tajam, seakan amarahnya meluap. Sementara Dafa dan yang lain baru saja sampai di tenang Arsya menyimpan mobilnya, karena tahu jika tidak ada Arsya disana, mereka bergegas mencari Arsya.


Arsya masih berjalan santai sembari melepas jas dan juga mengendurkan dasinya, permainan sengit akan segera di mulai. Semua bawahan yang berjaga disana berusaha untuk tak membiarkan dia memasuki markas, seperti yang di titah kan oleh Ferdi.


Dor......


Satu lesatan peluru mengenai kepala salah satu bawahan Alan, dan tumbang seketika. Jiwa psychopath nya bangkit, dia sudah tidak bisa menahan lagi, dia akan menghabisi siapa saja yang menghalangi.


Semua bawahan Alan menyerbu ke arah Arsya, mereka harus bisa menangkap Arsya, tapi dengan cepat Arsya menembak semuanya dengan tepat sasaran, bahkan Arsya masih berjalan dengan wajah tenang dan dinginnya, dia terus berjalan sambil menembak bawahan Alan, dan sampailah dia di ambang pintu, semua bawahan Alan sudah tewas tertembak semua, tak tersisa begitu juga dengan pelurunya.


Bersamaan dengan itu Alan juga sudah sampai di hadapan Arsya, dan saat ini mereka sudah saling berhadapan, hawa dingin dan mencengkam seketika menyelimuti markas tersebut, hawa kemarahan yang amat besar terkumpul di situ, Alan dan Arsya menatap dengan tatapan penuh amarah dan dendam.


Mereka teringat akan masa itu, dimana semua bermula dan pada akhirnya dendam harus tercipta.

__ADS_1


"Akhir nya kau datang juga..... " Ucap Alan dengan menampilkan senyum tipis menyeramkannya.


__ADS_2