Putri Kembar Sang Psychopath

Putri Kembar Sang Psychopath
81-Kemarahan Karla


__ADS_3

Karla dan Katrin kaget mendengar bunda mereka begitu kecewa dan marah pada daddy mereka, ternyata si kembar mendengar semua yang sedang Dinar dan Arsya bicarakan, mereka memang belum tertidur karena khawatir dengan ibu mereka karena wajahnya terlihat murung dan bersedih.


"Bagaimana ini kak? aku yakin bunda pasti sangat kecewa pada daddy." Katrin juga tidak menyangka ternyata daddy mereka tega melakukan hal itu, terlebih mereka sudah memiliki tiga anak.


Tok...tok....tokk....


Ketukan pintu menghentikan obrolan mereka, ini akan menjadi masalah serius dan sulit untuk meyakinkan Dinar, bahwa sebenarnya itu ulah Hayfa, dan Arsya telah terjebak di dalamnya. Ini sih bukan Hayfa yang di manfaat kan, tapi Arsya lah yang masuk dalam perangkap nya sendiri.


"Kak aku boleh masuk?." suara Andra dari balik pintu.


"Masuk saja adik." Andra memasuki kamar kakak kembarnya, wajahnya murung, mungkin dia juga mendengar pertengkaran orang tua mereka, dan hal itu membuatnya pergi ke kamar kakaknya.


"Kak ada apa dengan bunda dan daddy? apa ada masalah?."


"Duduk dulu Andra... " ucap Karla menyuruh adiknya untuk duduk dengan tenang. Andra pun duduk di kursi dekat Katrin, sebenarnya Andra belum bisa tidur, dan dia sedang live di youtube menceritakan berbagai kisah menarik, dia diam-diam telah menjadi youtuber tanpa ada yang tau, dan dia menyamarkan akun nya.


"Kamu tenang saja bunda dan daddy pasti akan baik-baik saja, biarkan orang tua kita tenang dulu." jelas Katrin, dia begitu lemah lembut pada sang adik. Andra mengangguk mengerti, namanya juga rumah tangga pasti akan ada permasalahan yang terjadi, dan sebagai anak kita harus bisa mengerti di saat seperti ini.


"Tapi firasat ku tidak enak, semoga saja tidak terjadi hal buruk, aku takut kak." Karla memegang pundak adik lelakinya, dan menunjukkan senyum indah yang belum pernah Andra lihat sebelumnya, begitu memenangkan, ternyata inilah keaslia kakak dingin nya.


"Optimis lah Ndra, yakinkan hatimu bahwa tidak akan terjadi hal buruk pada keluarga kita." ucapnya lembut, membuat Andra tersentuh.


"Emm baiklah... kita berdoa bersama agar keluarga kita baik-baik saja." Andra tidak boleh bersedih, mereka berharap akan ada hal baik setelah ini.


Sementara Arsya masih membisu ruangan itu, dia melihat dengan jelas di amplop yang ternyata berisi foto nya sedang tertidur lelap di ranjang, dengan di temani Hayfa di sampingnya, dan lebih parahnya Hayfa memeluk tubuh Arsya yang sedang bertelanjang dada dengan sangat erat, jika Dinar yang melihatnya pasti seratus persen dia akan langsung percaya.


"Sial...! semuanya berantakan, aku tidak akan mengampuni mu, meski kau adalah sahabat kecilku, aku tidak akan peduli." wajahnya berubah dingin, tangannya mengepal Arsya sudah menahan amarahnya, tapi untuk saat ini dia harus membujuk serta meminta maaf kepada istri yang sangat dia cintai, dan juga menjelaskan semuanya.

__ADS_1


Arsya berdiri dan berjalan menuju kamarnya, dia tidak sanggup melihat kesedihan dan kekecewaan yang di tampilkan di wajah Dinar, sangat jelas Arsya melihat berapa terluka nya Dinar.


Dinar memgunci kamarnya dan mematika semua lampu, menutup semua gorden, dia sudah lelah dan muak dengan hal ini, sibuk itu bohong semua tergantung prioritas, kini kata-kata itu mulai berkeliaran di kepalanya, di saat dia akan bahagia, tapi Tuhan memberikan kenyataan pahit ini.


Dia menangis dalam diam, hanya ada deruan nafas berat yang sedang Dinar rasakan, suasananya menjadi hening dan sepi, kini kehampaan sedang menjalar di hatinya. Sungguh dia sudah bersusah payah untuk bisa percaya, tapi dengan melihat dia tidur bersama wanita lain membuat kepercayaan nya luruh begitu mudahnya.


"Kau tega suamiku... lalu apa artinya dari kepercayaan yang telah aku beri? ." dia bisa saja memaklumi kesibukkan perusahaan nya, tapi jika dia bersama orang lain, dia sungguh tidak sanggup, itu karena Dinar sudah mencintai Arsya dengan hatinya, hatinya kini sudah terbuka untuk Arsya seorang.


"Sayang.... sayang tolong dengarkan penjelasanku, kita bicara tolong buka pintunya.... itu hanya salahpaham, aku tidak akan pernah melakukan hal itu, keluarlah sayang aku mohon." pinta Arsya dengan sangat.


Arsya berulang kali memohon, namun Dinar tidak mengidahkan permohonannya, hilang sudah keegoisan pria yang terkenal berdarah dingin, sekarang yang harus akan membunuh, dan kini tinggallah pria yang sedang rapuh hatinya, akibat dari kebodohan nya.


Si kembar dan juga Andra mendengar jelas rintihan daddy mereka, mereka merasa kasihan, tapi mereka juga tidak bisa membantu masalah yang sedang mereka alami. Tapi Karla masih berfikir jika ini adalah bagian dari rencana, dan ya itu hanyalah sabotase dari Hayfa, agar keluarga orang yang di cintainya hancur dan tidak bisa utuh kembali.


"Ini pasti ulah wanita lintah itu... bagaimanapun juga kita akan balas perbuatan nya." gumam Karla yang sudah muak dengan permainan si dalang.


"Kak tenanglah kak.... jangan terbawa emosi, kita pikirkan cara dulu untuk menyatukan kembali bunda dan daddy." Katrin mencoba menenangkan sang kakak, jika Karla sudah dalam mode kemarahan, maka dia pasti akan lakukan dengan sangat ganas.


"Iya kak Karla tenanglah, jangan seperti ini kak." Andra juga tidak mau hal itu terjadi pada kakaknya.


"Kalian diam saja.... biarkan aku yang membalas mereka." ucapnya datar, wajahnya sangat dingin, melebihi Karla yang biasanya.


"Tapi kak aku tidak bisa melihatmu seperti ini."


"Aku bilang diam...!." suaranya sedikit keras, membuat Katrin dan Andra terdiam seketika.


"Ini sudah menjadi keputusanku... aku sudah muak dengan mereka, akan kutemukan dalang itu." ucapan yang penuh dengan tekanan, dan tidak bisa di bantah, itu samgatlah mutlak dan tidak bisa di ubah.

__ADS_1


"Katrin kamu fokuslah pada daddy dan bunda, masalah dalang biar aku yang urus." Suaranya sudah sedikit menurun dan itu membuat Katrin sedikit lega.


"Dan Andra bantulah Katrin, apa kalian mengerti, ini kerjasama antara kita, jangan sampai ada yang tahu." setelah mengatakan hal itu Karla beranjak pergi meninggalkan kamar, entah hal besar apa yang akan Karla lakukan kepada mereka.


"Apa kak Karla akan baik-baik saja kak? aku khawatir dia akan melakukan hal nekat." Andra begitu khawatir dengan Karla, terlihat tatapannya begitu menyeramkan, seperti tatapan pembunuh.


"Dia pasti baik-baik saja, biarkan saja kak Karla butuh sendiri dulu agar kemarahannya padam, bukankah kamu lihat dia begitu marah? itu karena dia sudah tidak tahan keluarganya di permainkan, tapi setelah emosinya padam dia pasti akan tenang kembali." jelas Katrin yang sudah tahu sifat kembarannya, tapi ini kali pertama kemarahan itu begitu besar yang Katrin lihat.


"Benarkah kak?."


"Iya ya sudah sekarang kamu kembali ke kamar dan istirahat, sudah larut malam, biar nanti kakak yang urus kak Karla."


"Jika kakak sudah berkata begitu aku tidak bisa mengelak lagi, tapi jika ada sesuatu yang terjadi cepat beritahu aku ok." Andra tidak mau kakak perempuan nya terluka, karena bagaimanapun juga dia seoarang lelaki, dan tugasnya adalah melindungi mereka.


"Iya tenang saja pasti akan langsung kakak beritahu, ya sudah kembali ke kamar ya." Andra pun kembali ke kamarnya, meski pikiran dan perasaan nya masih tidak enak, tapi dia harus percaya akan ada hal baik terjadi.


Arsya sudah berhenti menggedor pintu kamarnya, seperti nya dia kelelahan, tapi dia masih bersandar di tembok dengan wajah putus asa, Andra yang melihatnya langsung menuju kesana, dia tidak tega melihat daddy nya bersedih. Bersamaan dengan itu Katrin juga keluar kamar untuk melihat keadaan saat ini, dia juga membantu sang daddy.


"Dad sudah dulu ya.... biarkan bunda tenang dulu, besok pasti sudah membaik." Katrin mencoba menenangkan Arsya.


"Iya dad ayo istirahat dahulu.... kami akan antar daddy ke kamar." Arsya tidak berkata apapun, Katrin memanggil penjaga untuk membantu menggotong tubuh berat Arsya. Sementara Arsya beristirahat di kamar tamu, Katrin membantu mengganti pakaian ayahnya.


"Sudah sayang biar daddy saja, kalian istirahat lah ini sudah malam."


"Tidak dad sini biar kami bantu." Katrin tetap memaksa, dia tidak tega melihat daddy nya seperti ini.


Akhirnya Arsya menurut saja, Katrin membantu membaringkan tubuh daddy nya dk ranjang, mungkin karena efek lelah Arsya langsung terpejam dengan sangat lelap.

__ADS_1


"Istirahat lah dad.... besok pasti akan ada hal baik." Katrin menyelimuti tubuh daddy nya sebelum keluar kamar.


__ADS_2