Putri Kembar Sang Psychopath

Putri Kembar Sang Psychopath
82-Kebenaran Sesungguhnya


__ADS_3

Bagian 01


"Kita harus beritahukan dia semuanya, kita tidak boleh terus menyimpannya." masih ada rasa takut dalam dirinya untuk bisa membuka kebenarannya.


"Tapi ini adalah yang terbaik, agar dia tidak mengganggu keluarga kita." elaknya dengan nada yang sedikit meninggi. Sudah beberapa tahun lamanya mereka menyembunyikan hal tersebut.


"Terbaik apanya? lebih baik jika dia tahu nak... " dia tetap bersikeras membujuk putra nya.


"Ini sudah waktunya, mamah tidak bisa menyimpannya lebih lama, dengan ini pasti dia akan di adili, dan keluarga kita akan mendapatkan keadilan."


"Tapi mah itu tidak semudah membalikan telapak tangan, dia sangat berbahaya dan licik, aku yakin kita tidak akan bisa menangkapnya." dia tetap bersikeras untuk memikirkannya kembali.


"Tapi mamah tidak mau keluarga kita terus dalam ketakutan, sekarang kamu dan adikmu sudah dewasa, kita akan menguak dia ke depan publik, mengumumkan jika lelaki itu hanyalah perusak dalam keluarga besar kita." dulu memang mereka masih belum kuat untuk melawan lelaki itu, tapi sekarang dia yakin kedua putra nya mampu mengembalikan keadaan seperti semula.


"Aku tahu mah, apa yang di katakan mamah benar, tapi kita harus pikirkan matang-matang sebelum bertindak, karena ini adalah masalah yang amat serius, ya sudah aku pamit pulang dulu mah, aku akan pikirkan agar segera menyelesaikan masalah besar ini." Dia akan pikirkan cara untuk memberitahukan adiknya, karena hanya dia yang belum tahu sebenarnya kejadian apa yang terjadi di masa lalu.


Flashback On


"Aku tidak mau menikahinya ayah... aku sudah punya seseorang yang sangat aku cintai." teriak Haya, dia tidak sudi untuk di jodohkan oleh lelaki yang belum pernah dia temui sekalipun.


"Jangan membantah ini perintah, dan ini demi politik." ayahnya tidak suka dengan bantahan.


"Politik apanya, semua yang ayah lakukan hanya untuk egomu saja, Haya sudah muak yah, kumohon jangan seperti ini." Haya sudah tidak bisa menahan tangisnya, dia sudah muak dengan apa yang di lakukan ayahnya, semenjak ibunya meninggal Haya harus selalu patuh dengan perintah ayahnya.


Dia selalu berada di bawah sang ayah, semua peraturan nya sangatlah ketat, bahkan meski dia kaya, Haya tidak bisa menikmati hidup dengan bahagia.


"Kenapa nasibku seperti ini, tak adakah yang bisa menolongku? aku sudah tidak kuat hidup seperti ini lagi." keluh nya, dengan tangis yang selalu menghiasi malam kelam, tangis keputusasaan, tangis pilu yang menginginkan pembebasan.


Satu minggu lagi Haya akan segera menikah dengan laki-laki yang ayahnya pilih, dia di kurung seperti burung dalam. sangkar, tak ada celah untuk dia kabur. Haya merindukan kekasihnya sunggub dia tidak mau melakukan ini.


"Persiapkan semuanya untuk acara pernikahan putriku nanti, jangan sampai ada yang terlewat." titah ayah Haya, dia mau acaranya berjalan dengan lancar.

__ADS_1


"Siap laksanakan tuan. " mereka segera mengerjakan apa yang telah di titahkan.


Hingga tiga hari sebelum acara di mulai Haya berhasil kabur dan datang menemui kekasihnya, betapa sakitnya setelah tahu jika kekasihnya sudah menikah minggu lalu.


"Maaf Haya aku sudah menikah, jadi berhenti lah mengganggu ku dan juga keluargaku, pergilah." usir nya dengan nada tidak mengenakan.


"Kamu tega kenapa kamu lakukan itu padaku..... " tangis Haya sudah tidak bisa terbendung lagi, semua sudah hilang darinya.


"Pergilah jangan temui aku lagi." dia terus mengusir Haya.


"Baiklah terima kasih untuk segalanya, aku senang bisa mengenalmu, semoga kamu bahagia." Haya pun pergi dengan perasaan hampa, hingga pada akhirnya manusia hanya akan menerima takdir yang sudah di atur yang maha kuasa, semuanya Haya pasrahkan pada Nya.


Hujan membasahi bumi, seakan mereka ikut bersedih dengan keadaan yang Haya alami sekarang kesedihan, ketidakadilan, rasa sakit dan derita lainnya, sekarang Haya hanya bisa menerima kenyataan pahit dengan lapang dada.


"Darimana saja kamu, bukankah sudah ayah katakan untuk tetap di mansion. " marah nya.


"Maaf ayah, Haya hanya berkunjung ke makam ibu untuk meminta restunya." bohongnya, tapi ayahnya sudah tahu, bahkan sebenarnya kekasih Haya di paksa untuk menikah dengan wanita lain, agar Haya mau meninggalkan nya, jika tidak mereka lakukan maka keluarga kekasih Haya akan mati.


"Gantilah pakaian mu jangan sampai di acara pernikahan kamu sakit, ayah hanya mau acaranya berjalan lancar." Haya pun beranjak pergi untuk membersihkan diri.


Hingga ucapan sah menggema di aula tersebut, Haya sudah sahenjaid istri Devan, dia tidak bahagia dengan ini, tapi dia harus menerimanya mau tidak mau.


"Aku tidak akan sungkan karena kamu adalah istriku sekarang."


"Iya aku juga senang... "


Haya bersikap baik dan Devan juga tidak melakukan hal kasar padanya, semuanya berjalan begitu indah, dan buih-buih cinta akhirnya tumbuh, Haya jatuh hati pada suaminya, setiap ada waktu luang Devan selalu melakukannya, hingga satu tahun berjalan, lahirlah anak pertama mereka yaitu Asfi, Devan senang karena Haya melahirkan anak laki-laki yang begitu tampan.


"Terima kasih karena telah memberiku seorang putra." ucapnya dengan wajah tersenyum.


Tiga tahun berlalu, Haya juga melahirkan anak keduanya yang ternyata laki-laki lagi, itu juga membuat Devan bahagia, dengan begini rencananya akan berjalan lancar.

__ADS_1


Hingga di umur yang kedua belas Asfi melihat sebuah tragedi yang tidak akan terlupakan seumur hidupnya, Haya hanya bisa memeluk tubuh putranya yang menegang, melihat kebrutalan ayahnya.


Siang itu Arsya sedang pergi bersama aunty nya, dan menginap di rumah nya, dia baru akan kembali esok hari.


"Ini saat nya aku membalaskan dendam untuk keluarga ku yang telah kau bantai, karenamu semuanya hancur, semuanya tak terselamatkan....."


"Lihatlah Haya... ayahmu telah membunuh keluarga ku dengan tanpa ampun.... aku muak melihatnya selalu bahagia, aku tidak akan memgampuninya hahaha..... " tawanya menggema di ruangan itu, Devan sudah menghabisi bawahan ayah Haya tanpa sisa.


"Pergilah Haya bawa kedua putramu, pergilah.... " teriak sang ayah, Asfi sudah ketakutan dengan situasi ini.


"Jika kau pergi selangkah saja kedua cucumu akan mati bersamaan denganmu." ancam Devan serius.


"Mereka anakmu kanapa kau begitu tega." Haya tidak menyangka akan terjadi hal sekeji ini.


"Aku tidak peduli, ini hanyalah ambisiku untuk menghabisi keluarga Azhar... dan mengambil alih semuanya dari ayah bodohmu." ternyata semua itu sudah di rencanakan oleh Devan, tak hanya ingin membantai tapi juga merebut kekuasaan keluarga Azhar.


"Tetaplah diam dan perhatikan apa yang akan ku lakukan, jika kau menurut padaku, maka keluargamu akan aman... termasuk kedua anak ini." Haya tidak mau Asfi dan Arsya menjadi korban, mereka hanyalah anak kecil yang tidak tahu apapun.


Di depan matanya Devan menggorok leher ayah Haya, seketika dia mati, darah mengucur deras hingga membanjiri lantai, Haya berteriak histeris begitu juga dengan Asfi yahh sudah menangis dengan tubuh bergetar. Melihat kakek yang sangat di sayangi mati dengan keji di hadapannya.


"Haya jika kau mengatakan semuanya pada Arsya, maka kau dan juga keduanya akan aku bunuh...dan jangan lupa anak ini jangan sampai buka mulut apa kau mengerti." Tawanya begitu mengerikan, membuat Haya tidak bisa meebantahnya, dia tidak mau kedua putranya celaka.


"A-aku tidak akan mengatakan apapun, begitu juga dengan Asfi." Haya tidak bisa berkutik, jika itu menyangkut kedua putranya.


Asfi memeluk erat tubuh Haya dengan kuat, tapi dia sudah mengerti apa yang di bicarakan oleh ayahnya, dan akhirnya mereka berpura-pura tidak terjadi apa-apa saat kepulangan Arsya mansion.


"Kakak akan sekolah di luar negeri? Yah Arsya boleh ikut kan...?." Asfi memutuskan pergi dari Indonesia dan memulai kehidupannya tanpa memikirkan masa lalu kejam itu, dia ingin tenangkan pikirannya.


"Tidak apa Sya kamu disini saja jaga mamah ok."


"Ya sudah jika itu mau kakak aku apati akan menjaga mamah." Sebenarnya Devan lebih menyukai Arsya, karena menurut Asfi, Arsya lebih mirip dengan Devan, dan lebih brutal, Asfi tidak menyukai perkelahian apalagi sampai menumpahkan darah, jadi dia memutuskan untuk pergi saja.

__ADS_1


Tapi Asfi takut jika dia kembali Arsya sudah berubah menjadi seperti Devan pembunuh berdarah dingin, dan Asfi tidak mau itu terjadi.


"Kakak hati-hati di jalan semoga semuanya tercapai." Asfi pun beranjak pergi, dengan berat hati, tapi ini sudah menjadi keputusannya, dia akan bekerja keras dan membawa kebahagiaan kepada keluarganya, dia akan menjadi pembisnis hebat dan juga bisa menyaingi ayahnya, dia akan buktikan bahwa Asfi bukankah anak lemah.


__ADS_2