Putri Kembar Sang Psychopath

Putri Kembar Sang Psychopath
39 Tante-tante rese


__ADS_3

Pagi hari mereka sudah bersiap kesekolah baru, mereka ke sana hanya untuk memastikan apakah Karla dan Katrin menyukai sekolah barunya, dan jika mereka tak menyukainya Arsya akan memindahkan mereka, dan memilih sekolah yang di sukai oleh putri kembarnya.


"Ayo sayang..... kita sarapan dulu.... " panggil Dinar.


"Iya bunda.... " jawab mereka serempak, mata Katrin berbinar tak menyangka jika ayah yang mereka cari adalah orang yang sangat kaya.


"Kak aku senang sekali bisa tinggal bersama daddy.... rasanya ini bagaikan mimpi." Katrin tak menyangka jika takdir mereka berubah dalam waktu sekejap.


"Kamu benar..... ini semua adalah berkat doa kita akhirnya kita di pertemukan dengan daddy." Karla bersyukur keluarga mereka sekarang sudah berkumpul.


"Ya sudah ayo cepat nanti bunda marah." mereka pun berhenti berbicara, karena jika Dinar sudah memanggil mereka harus segera menemui panggilannya, jika tidak pasti akan kena marah.


Dinar sebenarnya tidak terbiasa tinggal dengan bergelimang harta, baginya hidup sederhana sudah lebih dari cukup, tapi mau bagaimana lagi demi kedua putrinya dia ikhlas melakukannya. Arsya sudah turun dengan setelan jas berwarna hitam, Arsya akan mengantar langsung ke sekolah baru Karla dan Katrin.


"Dimana mereka?." tanya Arsya karena belum melihat kedua putrinya.


"Sebentar lagi mereka turun." singkatnya.


Karla dan Katrin pun turun dan ikut bergabung bersama daddy dan bundanya, senyum indah di bibir mungil Katrin, impian keluarga erek berkumpul akhirnya terkabulkan juga. Mereka sarapan bersama tanpa bicara ataupun bercanda karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh.


Selesai sarapan mereka menuju mobil, Arsya melihat Dinar memakai pakaian formal menjadi heran, Dinar seperti akan pergi bekerja padahal jadwalnya hari ini adalah menuju sekolah kedua anaknya seharusnya tidak usah terlalu formal seperti karyawan kantoran.


"Kenapa kamu mengenakan pakaian karyawan?." tanya Arsya sambil menatap penuh tanda tanya.


"Bukan urusanmu...!!." ketusnya, Dinar tidak suka jika Arsya selalu ingin tahu urusannya.


"Sekarang apapun yang akan kamu lakukan adalah urusanku juga." tegas Arsya dan menatap tajam Dinar, dia sungguh harus mempertegas Dinar agar dia mau menurut padanya.


Dinar menghela nafas panjang, dia tahu sekarang apapun yang akan dia lakukan pasti Arsya akan bertanya.


"Aku akan pergi mencari pekerjaan, kamu tahu sendiri kan aku juga mempunyai banyak kebutuhan." Arsya tak menyangka dengan jawaban dari Dinar, untuk apa dia bekerja apakah dia lupa apa yang dikatakan Arsya, jika dia yang akan bertanggung jawab mulai sekarang.


"Mencari pekerjaan....? Oh ya ampun kenapa dia begitu sulit untuk di beritahu." kesal Arsya, dia memijit pelipisnya, menghadapi Dinar butuh kesabaran yang sangat ekstra.


"Dengar ini baik-baik nona muda.... kamu tidak perlu mencari pekerjaan, apakah aku terlihat seperti lelaki pengangguran hah? aku masih sanggup menghidupi kebutuhanmu dan juga kedua anak kita.... jadi berhentilah bersikap seenaknya Dinar." Arsya benar-benar tak tahu jalan pikir Dinar.

__ADS_1


"Sekarang kamu hanya perlu menjadi ibu yang baik untuk anak kita, mengurus mereka dengan baik... jadi aku tegaskan sekali lagi kamu tidak usah bekerja apa kamu mengerti..... " Ucapnya dengan tegas dan penuh dengan keseriusan di setiap katanya, Arsya hanya ingin Dinar menjadi ibu yang baik untuk Karla dan Katrin, dan bisa lebih fokus merawat keduanya.


"Kenapa seperti itu? tidak usah mengatur ku.... aku bisa menjadi ibu yang baik untuk mereka, tanpa kamu perintahkan." Dinar tak mau kalah.


"Aku tetap tidak mengizinkanmu.... apa kamu lupa akibat kamu lebih mementingkan pekerjaan, Karla kecelakaan.... itu karena kamu jarang mengawasi keselamatan mereka." Akhirnya Arsya pun mengatakan perihal kecelakaan Karla di Jepang agar Dinar mau mengerti.


Dinar pun teringat kembali dimana Karla terbaring lemah dia atas brankar, namun yang aneh kenapa Arsya bisa tahu jika Karla kecelakaan. Itulah yang kini di pikirkan oleh Dinar.


"Tunggu kenapa kamu tahu Karla mengalami kecelakaan?." Tanya Dinar dengan menatap Arsya.


"Kamu tidak perlu tahu.... itu semua tidak penting... sekarang kamu harus menurut, ingat Dinar ini demi keselamatan anak kita... jadi mengertilah." Dinar pun berfikir sejenak, memang benar selama di Jepang Dinar membiarkan Karla dan Katrin pergi ke sekolah sendiri, sedangkan mereka hanyalah anak kecil, dan butuh pengawasan dari orang tuanya.


Dinar menghela nafas, perkataan Arsya memang benar, seharusnya dia lebih perhatian kepada Karla dan Katrin karena mereka juga butuh pengawasan dari orang tua dan juga ibu yang selalu ada di sampingnya.


"Huft.... baik.... baiklah aku akan menurut apa yang kamu katakan, aku akan lebih waspada tentang keselamatan mereka. " Dinar pasrah dia pun menuruti apa yang di katakan Arsya. Arsya tersenyum tipis, karena lagi-lagi Dinar mau menurut kepadanya.


"Baguslah jika kamu mengerti.... " Dinar dan Arsya pun berhenti berbicara karena Katrin sudah memanggil mereka untuk segera kesana. Mereka pun berangkat menuju sekolah baru Karla dan Katrin.


Sesampainya di sekolah, mereka di sambut hangat oleh pihak sekolah, kepala sekolah mempersilahkan mereka masuk ke ruangan untuk membicarakan hal penting. Banyak guru wanita yang menatap penuh kekaguman pada Arsya, apalagi wajah tampannya mampu memikat kaum hawa. Arsya seperti biasa memasang wajah datar dan dingin, Katrin kesal melihat guru menatap ayahnya. Semua tahu jika Arsya adalah donatur terbesar di sekolah tersebut, jadi mereka mengenal siapa Arsya.


"Bagaimana kalian suka sekolah ini? jika tidak suka katakan saja, daddy akan carikan sekolah yang kalian suka."


"Kami suka daddy..... sekolah ini bagus dan sesuai dengan kemauan kami... ya kan kak."Katrin pun sudah tahu jika Karla juga meminati sekolah ini.


"Sudah dad ini saja.... "singkatnya.


"Ya sudah jika kalian ingin sekolah di sini." Arsya pun menuruti kemauan mereka.


"Baiklah tuan.... besok kedua putri anda sudah boleh masuk ke sekolah." Setelah berbincang dengan kepala sekolah mereka pun pergi ke mall untuk membeli keperluan sekolah. Katrin senang gembira begitu juga dengan Karla, sementara Dinar tersenyum melihat kebahagiaan si kembar.


Sesampainya di mall yang ternyata milik Arsya, namun dia sudah memberitahukan kepada semua staff agar bersikap layaknya penjual dan pembeli, karena Arsya akan memberitahukan semuanya jika Dinar sudah menikah dengannya.


Pertama yang mereka tuju adalah tempat peralatan sekolah, Katrin dan Karla memasuki tempat tersebut, mereka takjub karena begitu lengkap dan sempurna. Mereka segera memilih keperluan mereka, Dinar memperingatkan agar tidak berlebihan dalam memilih karena lebih baik secukupnya saja. Arsya kagum dengan sosok Dinar yang mengajari anak dengan baik, membuat Arsya semakin penasaran dengan sosok Dinar.


"Aku ingin segera menikahimu Dinar.... bahkan kamu semakin membuatku penasaran." batinnya yang semakin terpesona akan sosok Dinar.

__ADS_1


Selesai berbelanja keperluan sekolah, Arsya mengajak mereka ke sebuah butik yang berada di mall tersebut, Arsya ingin membelikan pakaian baru untuk mereka. Butik tersebut adalah butik yang terbaik yang ada di mall tersebut.


"Kita mau kemana lagi?." tanya Dinar.


"Ke butik.... aku hanya ingin membelikan mereka pakaian baru." jawab Arsya tanpa menoleh ke lawan bicaranya membuat Dinar berdecak kesal.


"Wah kita akan beli baju baru dad?..... "


"Iya sayang pilihlah pakaian yang kalian suka... " Katrin pun senang mendapat tawaran dari daddy nya.


"Makasih dad... " Mereka sampai di sana, Karla dan Katrin masuk ke dalam tanpa menunggu bunda dan daddy mereka.


"Ingat sayang jangan jauh-jauh." Dinar mengingatkan mereka.


"Ok bunda.... "


Karla dan Katrin memilih beberapa pakaian, begitu juga Dinar sebenarnya dia enggan tapi Arsya terus mendesaknya jadi dia terpaksa menurut. Namun ketika sedang senang memilih pakaian tak sengaja Katrin menabrak tubuh seseorang, membuat dia terjatuh.


"Aduhhh..... " Karla pun segera menolong adiknya, dan membantunya berdiri.


"Hei bocah.... apa kau tidak punya mata hah....?! dasar mana ibu kalian hah? seenaknya main tabrak saja..... " celoteh orang tersebut sambil berdecak pinggang, wajahnya menor dengan pakaian minim dan di sampingnya ada satu wanita lagi.


"Ada apa sih kak?." tanya dari adik yang menabrak Katrin.


"Itu bocil main tabrak aja, bikin emosi saja.... " Karla sedikit tak terima dengan ucapan wanita itu, terkesan menyebalkan.


Karla akan maju untuk memberi pelajaran kepada wanita menor tersebut, namun tangannya di cekal langsung oleh Katrin, dia memberi isyarat sambil menggelengkan kepalanya.


"Sudahlah mereka hanya anak-anak.... kamu cerewet sekali kak." Lusi kesal dengan kakanya yang selalu membesarkan masalah kecil.


"Awas saja kalau aku bertemu kalian lagi.... tak akan aku maafkan dasar bocil tengil.... ya sudah ayo pergi... menyusahkan saja." Umpat Lena kesal dan beranjak pergi, Karla sudah sangat geram ingin memberikan bogeman pada bibir menyebalkan Lena.


Ternyata yang di tabrak Katrin adalah Lena saudara tiri dari bundanya, mereka tak tahu jika mereka adalah saudara tiri ibunya, karena Dinar tidak pernah bercerita tentang keluarganya pada si kembar.


"Sudahlah kak aku tidak apa-apa.... huh dasar tante-tante rese dan bar-bar....awas jika ketemu lagi aku yang akan mengumpat kejelakanmu." kesal Katrin, dia mengoceh karena tidak suka dengan Lena yang rese dan bar-bar.

__ADS_1


"Iya.... nanti jika bertemu lagi akan aku robek mulutnya itu... " Karla juga ikut emosi karena di umpat dengan bocil tengil, jika saja Katrin tidak mencegah maka habis sudah Lena di hajar olehnya.


__ADS_2