
Brukkkk.......
Rifa berlari melihat salah satu dari mereka tumbang, rasanya sangat lemas, pada akhirnya yang dia takutkan terjadi di hadapannya.
Sementara Arsya hanya diam terpaku melihat tubuh Alan tergeletak di tanah, seakan pikiran nya kosong, dia membisu seribu bahasa. Ya Alan lah yang terkena tembakan itu, mereka tidak tahu menahu siapa yang tiba-tiba melesatkan peluru.
"A-alan...... " panggil Rifa lemas, dia melihat tubuh sahabat nya yang sudah tergeletak dengan darah yang sudah menodai pakainya. Rifa mendekati tubuh Alan, sementara Arsya masih berdiri dengan tatapan kosongnya.
"R-rifa.... " bisiknya dengan suara yang amat lirih, membuat siapa saja yang mendengar nya ikut teriris hatinya. Hatinya merasa lega, karena dengan ini penderitaan nya akan selesai.
"Aku disini Lan, bertahanlah aku akan membawamu ke rumah sakit." Alan menggelengkan kepalanya, di tahu bahwa waktunya tidak akan lama lagi. Rifa berada di samping Alan dengan menggenggam erat tangannya, peluru itu mengenai tepat di bagian kiri dadanya, dan dua peluru telah mengenai organ vital lainnya yang berakibat pada kematian.
"Tidak Fa.... mungkin sampai sini saja, aku sudah puas memukul berandal itu." tunjuk Alan pada Arsya sambil tersenyum tipis, Alan terbatuk hingga keluar darah dari mulut nya.
"Sudah jangan bicara lagi Lan, kau akan menghukum Arsya lagi jika kau sudah pulih ok." Arsya mendengar dengan seksama percakapan mereka, entah kenapa ada rasa haru dan pedih bercampur jadi satu. Arsya terduduk berhadapan dengan Rifa yang dimana Alan ada di tengah mereka.
"Apa maksud ucapanmu tadi Alan? jelaskanlah." tanya Arsya seperti menyadari sesuatu, tadi sempat Alan mengatakan tentang pembunuhan yang Arsya lakukan pada ayahnya semata-mata ada sesuatu yang mengaturnya dengan sempurna.
"Carilah jawabanmu sendiri Sya.... dengan ini aku sudah memafkanmu dengan segala kesalahan mu, dengan pukulan yang aku berikan padamu. Berhati-hati lah sahabatku." Alan memaafkan apa yang di perbuat Arsya, di akhir hidupnya dia hanya ingin tenang, tak ada beban atau rasa bersalah, karena hal terakhir yang dia inginkan hanyalah berkumpul kembali dengan kedua sahabatnya.
"Entah mengapa ucapanmu itu membuat aku terluka, membuat aku merasa bersalah." hati Arsya seakan tidak terima dengan apa yang telah dia perbuat. Rifa dan Alan melihat Arsya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kau tidak usah merasa bersalah, aku sudah memaafkan mu, ini adalah pelajaran bahwa apapun pasti ada hikmahnya, entah itu perbuatan baik atau buruk. Maka setelah ini kita perbaiki apa yang sudah terjadi di masa lalu, dan jangan membawanya ke masa depan." Alan ingin hubungan persahabatan ini kembali utuh dengan indah, jangan biarkan masa lalu merenggut kebahagiaan di masa yang akan datang, oleh karenanya Alan ingin semuanya membaik.
"Maaf tapi kalian berdua lah yang harus perbaiki semua ini." ucapnya dengan suara yang sudah tersengal.
"Tidak kau juga akan ikut dengan kami, kita bertiga harus bisa merubah kesalahan ini, kau pasti bisa Alan." Rifa ingin persahabatan mereka utuh kembali. Alan menggelengkan kepalanya lagi.
Dafa dan Aryan akhirnya mengetahui bahwa Alan adalah sahabat mereka, sungguh ironis karena akhir dari persahabatan mereka adalah sebuah luka kehilangan, yang tidak akan bisa kembali.
__ADS_1
"Aku pamit, tolong urus mafiaku Fa, Sya.... karena mereka semua yang menjadi bawahan ku sangat menyayangi keluarga nya, jadikan mafia ku ini mafia yang taat akan hukum, maaf sudah merepotkan kalian." salam perpisahan Alan membuat Arsya tak bisa menjawab apapun. Hembusan nafasnya mulai memudar, tangannya mulai melemah.
Pandangan Alan perlahan kabur, bersamaan dengan tersayat nya luka baru. Dia memejamkan matanya untuk dunia dan tidak akan pernah terbuka selamanya. Rifa dan Arsya hanya bisa menahan tangis dan jerit, mereka tak akan membiarkan kepergian Alan membawa luka dalam pusaranya.
"Alan..... " bisik Arsya pilu, begitu juga dengan Rifa.
Akhhhhh......
Jerit mereka penuh dengan kepiluan, di tambah keheningan yang mencengkam.
Namun tak lama suara sirine ambulance datang, Aryan telah menghubungi ambulance sesuai yang Rifa titah kan tadi.
Karena Alan sudah tiada maka ambulance itupun membawanya ke kediaman Rifa, mereka akan merawat jenazah Alan dengan layak. Hanya para bawahan mafianya yang menghadiri pemakaman king mereka, dan sahabatnya. Karena hari sudah larut malam, jasad Alan akan di kebumikan besok, Rifa masih tidak bisa menerima nya, namun apalah daya bahwa kematian adalah hal mutlak yang tidak bisa di ganggu gugat, dan akan terjadi kapan saja, dan Rifa harus bisa mengikhlaskan kepergian sahabatnya.
"Semoga kamu tenang Alan, kami semua ikhlas dengan kepergian mu.... maafkan aku yang belum bisa menjadi sahabat baik untukmu. " batinnya melafalkan doa. Arsya hanya memandang jasad itu terkubur dengan tanah.
Arsya juga merasakan kesedihan, namun dia memilih untuk menahannya, dia juga meminta maaf karena permusuhan ini adalah awal perbuatannya, Arsya juga masih terpikirkan ucapan terakhir Alan.
"Akhirnya hanya luka yang di dapat dari akhir hancurnya persahabatan kita."ucap Rifa menatap nisan Alan dengan tatapan sendu.
"Kau benar.... banyak hal telah terjadi, dan hanya seperti ini yang kita dapat, aku akan mencari tahu maksud ucapannya, dan mencari tahu kebenarannya." Arsya ingin tahu apakah ada rahasia yang Alan ketahui tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku juga penasaran, terlebih aku juga ingin mencari tahu siapa yang menembak pada saat perkelahian mu dengan Alan." geram Rifa, mereka juga penasaran siapa yang melesatkan tembakkan itu pada Alan.
"Kita harus menangkap nya jangan beri dia ampun." Arsya juga tidak akan tinggal diam. Karena hari sudah menjelang sore, mereka pun kembali ke mansion mereka masing-masing.
Sesampainya di mansion.....
"Daddy.......... " teriak Katrin dengan wajah cerianya.
__ADS_1
"Wah ada princess daddy. " ucap Arsya merentangkan tangannya untuk memeluk putri kecilnya, namun dia mencari putri satunya, tapi dia tidak ada, hanya ada Dinar dan Katrin yang menyambut di depan.
"Kemana Karla sayang....?." tanya Arsya.
"Oh kakak ada di ruang keluarga, dia sedang sibuk dengan tab nya dad." jelas Katrin, dia juga kesal dengan Karla yang sedari tadi bermain dengan tab nya, padahal Katrin sudah mengajaknya bermain berulang kali.
"Oh begitu rupanya." Arsya tak habis pikir Karla akan mirip dengannya.
"Ya sudah dad gantilah pakaianmu dan beristirahatlah, aku sudah siapkan semuanya di kamar." ucap Dinar, dia sudah mendengar semuanya dari Dafa kalau mereka baru saja kehilangan sahabat dekat mereka.
"Terima kasih sayang, ya sudah daddy akan membersihkan diri dulu, dah sayang." ucap Arsya dengan mengecup pipi kecil putrinya. Katrin kembali ke ruang keluarga untuk bermain kembali.
Sementara Dinar ikut ke kamar untuk menemani Arsya, mungkin banyak hal yang ingin dia ceritakan bersamanya. Arsya memasuki kamar mandi dan berendam di bathup, pikirannya sedang kalut tertuju dengan setiap apa yang yang di katakan Alan, semuanya masih terngiang jelas.
Hingga tanpa di sadari sudah satu jam dia berada di dalam kamar mandi, dan itu membuat Dinar khawatir, dia dengan terpaksa akhirnya memasuki kamar mandi untuk memastikan keadaan suaminya.
Dinar terkejut karena ternyata Arsya sudah tidak sadarkan diri di dalam bathup, dia panik karena tak biasanya Arsya seperti ini, dengan cepat dia segera memanggil Aryan karena kebetulan tadi dia masih berada di sini.
Aryan memapah tubuh Arsya yang sudah terbalut handuk dan menidurkan nya di kamar.
"Tolong ambilkan air dan handuk kecil, biar aku yang merawatnya di sini." Aryan pun segera mengambilkan apa yang Dinar perintah.
Dinar membuka handuk yang melilit di tubuh telanjang Arsya, mau tak mau dia harus melakukannya, dia memakaikan pakaian ke tubuh Arsya dan segera menyelimuti tubuh Arsya. Ternyata Arsya demam karena terlalu lama berendam. Aryan memberikan air dan handuk kecil untuk mengompres Arsya.
"Terima kasih Aryan."
"Sama-sama nona... kalau begitu saya permisi." Aryan pun beranjak pergi. Setelah kepergian Aryan, Dinar mulai merawat Arsya dengan teratur.
"Sebenarnya ada apa dad? kenapa sampai demam? biasanya kamu tidak seperti ini." gumamnya, tidak biasanya Arsya seperti ini, banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul di pikirannya.
__ADS_1
"Dinar..... " bisiknya terdengar sangat pelan. Dinar pun mendekat dan memeriksa demamnya, ternyata belum turun, namun tiba-tiba saja tangan Arsya menggenggam tangannya dengan sangat erat seakan dia tak akan melepaskannya. Akhirnya Dinar pun mengalah dan tetap menunggu tanpa berniat melepaskan tangannya dari genggaman Arsya.