Putri Kembar Sang Psychopath

Putri Kembar Sang Psychopath
35 Keberangkatan


__ADS_3

Setelah selesai membeli apa yang diinginkan si kembar, mereka pun kembali Arsya mengantarkan mereka pulang. Hanya ada keheningan di dalam mobil, mereka dalam situasi canggung sehingga mereka memilih saling mendiamkan. Padahal dalam hati Arsya ingin mengajak berbicara wanitanya, namun dia terlalu malu untuk hal tersebut.


Sedangkan Karla dan Katrin sudah tertidur karena kelelahan bermain, sehingga keheningan melanda mobil miliknya. Beberapa menit dalam perjalanan mereka pun sampai di depan gang perumahan Dinar. Dinar mengambil rumah sewa yang berukuran sedang karena dia juga harus bisa menjalani kehidupan baru di negara asing, serta biaya hidup di Jepang tidaklah murah seperti di Indonesia, tapi untungnya Dania selalu membantunya.


Arsya membukakan pintu untuk Dinar, entah sejak kapan Arsya bisa bersikap hangat, setelah bertemu dengan Dinar lagi, dia seakan menemukan kehidupannya. Dinar pun turun dengan sedikit rasa malu karena baru pertama kali di perlakukan dengan baik oleh seorang lelaki. Dinar membuka pintu belakang untuk membangunkan kedua putrinya. Baru saja Dinar akan menyentuh tubuh Karla, Arsya segera mencegahnya.


"Eits...... tunggu jangan bangunkan mereka, biar aku yang menggendong mereka berdua, kamu bawa saja barang yang sudah di beli." titah Arsya, tanpa menjawab Dinar langsung saja menurut, seakan terhadap di hipnotis oleh lelaki tampan itu.


Arsya menggendong kedua putrinya di kanan dan di kiri, sementara Dinar membawa barang yang tadi di beli. Arsa berjalan di depan dan Dinar di belakang, sekarang sudah pukul sembilan malam jadi jalanan agak sedikit sepi. Sesampainya di sana, Dinar memberitahukan letak kamar si kembar Arsya pun langsung menuju kesana, karena dia tidak mau jika Karla ataupun Katrin terbangun dari tidurnya.


Arsya membuka pintu kamar, dan tampaklah kamar dengan dua ranjang yang bersebelahan, hati Arsya teriris perih melihat keadaan kamar kedua putrinya yang tidak terlalu besar, dan hanya di pasangi kipas angin. Ranjangnya pun seperti bekas dan sangat terlihat sederhana, rumah sewa ini sebenarnya berukuran tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar serta cukup untuk di tinggali tiga orang.


Dengan perlahan Arsya menidurkan keduanya satu per satu, dan menyelimuti keduanya di ranjang masing-masing. Hatinya masih merasakan sesak karena perabotan dikamar putrinya tidak lengkap seperti meja belajar, dan masih banyak lagi, padahal Arsya bisa membelikan lebih bagus dan berkualitas, melihat semua ini membuat dia merasakan bersalah pada mereka.


"Maafkan daddy yang terlambat menemukan kalian, jika saja daddy tahu sejak awal maka daddy akan berusaha membuat kalian bahagia bagaimanapun caranya." Arsya tidak tahu lagi, seandainya dia bisa memutar waktu mana Arsya tidak akan melepaskan Dinar begitu saja. Arsya tahu mengapa Dinar tidak memberitahukan yang sebenarnya, dan Arsya tak bisa menyalahkan Dinar sepenuhnya.


"Tapi sekarang.... karena daddy sudah menemukan kalian, daddy tidak akan membuat kalian berpisah lagi, begitu juga dengan bunda kalian." gumamnya lagi tak akan dia biarkan mereka hilang dan pergi lagi, sudah cukup selama delapan tahun dia berpisah.


Setelah puas bergumam karena sebuah kesesakan hati, Arsya pun keluar kamar dan menutup pintu dengan perlahan. Di lihatlah Dinar sedang membereskan barang-barang milik putrinya.


"Ekhemmm." dehem Arsya, Dinar pun menoleh ke sumber suara.


"Terima kasih telah mengajak merka bersenang-senang... " ucap Dinar seraya mendekat pads Arsya, membuatnya menjadi gugup.


"Oh.... iya itu memang di perlukan agar kita semakin dekat, ok bersiap dan istirahat lah besok kita akan berangkat, Aryan akan menjemput kalian." Arsya memperjelas lagi agar wanitanya yang keras kepala bisa mengerti dan tidak mencoba pergi lagi.

__ADS_1


"Kamu itu lelaki tapi sangat cerewet, aku tak akan lupa tuan muda." kesal Dinar


Arsya terkekeh melihat kekesalan di wajah cantik wanitanya, ingin rasanya mencium bibir nya yang sedang cemberut, tapi dia akan menahannya sampai waktunya tiba Dinar akan menjadi miliknya seutuhnya dan tak akan boleh ada yang memilikinya selain dirinya.


"Baiklah nona muda kalau begitu aku pergi dulu... " ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya membuat Dinar ilfil.


"Idih... dasar pria anehh..... jika bukan ayah dari anakku jangan harap kau bisa mendekati ku." gumam Dinar tak menyangka jika Arsya yang terkenal dingin bisa bersikap seperti itu padanya.


Arsya mendengar jelas gumaman Dinar, dia hanya menggelengkan kepalanya dengan kelakuan Dinar. Setelah keluar dari pemukiman tempat Dinar tinggal, wajah Arsya kembali dalam mode datarnya seakan senyumnya hanya dia tampakkan kepada kedua putrinya dan juga Dinar.


"Aku semakin tertarik Dinar..... sebentar lagi kamu akan menjadi ratu di hatiku." ucapnya dengan senyum tipisnya.


Keesokkan harinya Aryan sudah menyiapkan semuanya dan kini dia tengah menjemput Dinar beserta si kembar, sementara Arsya sudah standby di sana, mereka akan berangkat menggunakan jet pribadi milik Arsya, karena baginya waktu bersama mereka adalah hal paling terpenting mulai sekarang hingga seterusnya.


"Tak usah berbicara seperti itu.... lagi pula aku bukanlah nona muda keluarga tuanmu." tegas Dinar, dia tidak suka dengan apa yang baru saja di katakan Aryan, sebutan nona muda tidak pantas untuknya karena di belum tentu akan menikah dengan Arsya.


"Baiklah maafkan kelancangan saya.... kalau begitu mari, tuan sudah menunggu anda dan juga nona kecil." tak mau memperpanjang masalah Aryan pun mengalah, dan bergegas membawa mereka ke tempat dimana tuannya berada. Wajah Dinar membuat Aryan sedikit takut, apalagi ucapan tegasnya.


Mereka telah sampai di bandara dimana Arsay sudah menunggu mereka. Aryan menunjukkan jalan menuju jet pribadi milik Arsya, sesampainya di sana Dinar dan juga si kembar langsung memasuki jet tersebut, Katrin senang bisa pergi ke negara ayahnya, karena ini adalah momen berharga dalam hidupnya, begitu juga dengan Karla, meski wajahnya menampakkan seperti tidak peduli sebenarnya hatinya sangat berbunga-bunga.


"Daddy.... " panggil Katrin dan berlari menuju Arsya yang sudah terduduk manis di kursi penumpang.


"Jangan berlari sayang, nanti bisa jatuh." Arsya tak mau jika Katrin terluka. Katrin tidak mendengarkan ucapan sang ayah, hingga dia sampai di hadapan daddynya, tanpa berbicara Katrin langsung duduk di pangkuan Arsya.


"Oh... jadi Katrin ingin di pangku.... baiklah nona manis daddy akan menurutinya." Arsya senang karena Katrin langsung bisa akrab dengannya, sebenarnya Karla juga sama namun semua itu tertutup oleh aura dinginnya.

__ADS_1


"Ayo kak sini.... ikut duduk di pangkuan daddy." ajak Katrin, namun dengan segera Karla menolak.


"Tidak Katrin, aku mau duduk di sana saja." Karla menunjuk tepat duduk yang berada di belakang kursi pilot. Seketika Katrin mengerucutkan bibir mungilnya, dan bersikap dada ke dalam dengan Karla. Membuat Arsya ingin tertawa namun dia menahannya.


"Ish.... kakak kau ini kebiasaan diajak malah menolak, dasar wajah es batu.... " kesal Katrin sambil melirik sebal kearah Karla. Arsya dan Dinar hanya terkekeh melihat kemarahan yang begitu menggemaskan di wajah cantik Katrin.


"Sayang tidak boleh berkata seperti itu.... kamu kan tahu jika Karla memang seperti itu." Tegur Dinar agar Katrin bisa mengerti jika itu memang sifat asli dari kakaknya.


"Iya.... tapi bunda sifat siapakah yang menuruni nya? bunda kan tidak memiliki sifat dingin seperti itu." Katrin heran karena sifat ibunya tak ada yang menurun pada kakaknya.


Seakan kena pukulan keras mendengar ucapan dari putrinya bahwa keturunan siapa Karla mendapat sifat dingin dan datar, dan yang pasti sifat yang menuruni nya adalah sifatnya. Arsya menggaruk rambutnya yang tak gatal, semantara Dinar melirik tajam pada Arsya.


Dinar tahu jika sifat datar dan dingin Karla adalah turunan dari daddynya. Dinar pernah melihat sifat dingin dan datar Arsya pada saat dulu pertama kali dia bertemu dengannya, dan memang sangat mirip dengan Karla.


"Sudahlah sayang sekarang tidak usah memikirkan hal itu ya." ucap Dinar agar Katrin tak bertanya lebih jauh.


"Ya sudah bunda.... tapi aku mau duduk di sini bersama daddy... aku tidak mau bersama kakak." pinta Katrin, dia masih marah pada Karla.


"Baiklah bunda akan menemani Karla, jika butuh sesuatu katakan saja pada bunda ok." Dinar memutuskan menemani Karla, daripada dia harus duduk bersebelahan dengan Arsya.


"Duduklah di dekatku Dinar .... " cegah Arsya, dia ingin Dinar duduk di sampingnya.


"Maaf aku menolak." dengan cepat Dinar menolaknya, membuat Arsya menghembuskan nafas berat. Dinar beranjak pergi menemui Karma dan duduk di samping putrinya.


"Huft.... cepat sekali dia menolak ku.... " gumam Arsya kecewa, karena Dinar menolaknya cepat.

__ADS_1


__ADS_2