
Mendengar suara itu tubuh Dinar menegang, Dinar tersadar seketika dia menjauhkan pandangannya untuk tak menatap wajah Arsya. Tanpa menunggu Dinar mempersilahkan masuk, Arsya sudah memasuki rumah tersebut dengan santai. Matanya tak di alihkan sedikitpun, Arsya masih menatap wanitanya itu, wajah yang membuat Arsya selalu terbayang akan kejadian dulu, yang membuat dia tak bisa berpaling.
"Berhenti disitu... " cegah Dinar dengan tegas, dia tak mau jika Arsya akan berbuat seenaknya.
Arsya menghentikan langkahnya, dan menatap tajam pada Dinar, dia paling tidak suka di bantah seperti ini, namun dia berusaha tenang agar si kembar tak takut karena melihat sisi buruk ayahnya. Karla dan Katrin hanya menatap keduanya, ingin sekali keluarga mereka bersatu dan menjalin ikatan yang bahagia.
"Dania bawa Karla dan Katrin ke kamar mereka, biar aku yang selesaikan masalah ini dengannya." ucap Dinat yang tak ingin jika kedua putrinya melihat perdebatan mereka.
"Eits... tunggu biarkan mereka disini.... agar mereka tahu jika aku adalah benar-benar ayahnya." cegah Arsya, karena dia sudah membuat rencana dengan kedua putrinya untuk menyakinkan Dinar, agar bisa ikut kembali. Dania pun berhenti melangkah dan menatap Dinar meminta keputusan, apakah si kembar kemar atau di sini saja.
"Mereka masih anak-anak jadi tak baik jika mendengar apa yang akan kita bicarakan."
"Itu tidak perlu biarkan mereka tahu bahwa selama ini kamu lah yang berusaha menjauhkanku dengan mereka, bahkan mereka baru melihatku setelah delapan tahun lamanya." sarkas Arsya tegas, selama ini Dinar menyembunyikan dan bahkan tak memberitahu kedua putrinya jika dia adalah ayahnya.
"Aku katakan sekali lagi... mereka tidak boleh mendengarkan apa yang akan kita selesaikan sekarang." elak Dinar, karena bagaimanapun juga kedua nya masih anak di bawah umur, yang tidak layak mendengarkan perdebatan orang dewasa.
"Kamu masih saja mengelak, aku hanya ingin mereka mendengarkan, kita akan bicara baik-baik, bukan bedebat nona...." ucapnya dengan penuh penekanan, tak lupa dengan nada dinginnya, karena Dinar sedikit keras kepala Arsya harus sedikit tegas agar Dinar tak bisa menolaknya.
"Kita akan bicara baik-baik saja apa kamu paham, tak usah ada percekcokan di antara kita, jika kita selesaikan ini dengan kepala dingin maka semua masalah akan cepat terselesaikan." tambahnya lagi, Arsya tak mau menyelesaikan masalahnya dengan berdebat, cukup dengan kepala dingin.
Dinar menarik nafas dalam-dalam, apa yang di katakan Arsya adalah benar, bedebat hanya akan memperpanjang masalah lebih baik bicara perlahan tanpa percekcokan maka masalah akan cepat teratasi.
__ADS_1
"Baiklah kita bicarakan dengan kepala dingin, dan ini demi kedua putriku." pasaran Dinar, dia suah tak bisa mengelak lagi dan dia setuju dengan usulan Arsya dan berusaha meredam kemarahannya.
Lengkungan tipis tergambar di bibir Arsya dan tak tampak oleh siapapun, dia senang langkah pertama berhasil, Arsya berhasil membujuk Dinar untuk bicara baik-baik. Arsya di persilahkan masuk dan kini mereka duduk di ruang tamu, Karla dan Katrin juga berada di sana, mereka berharap keputusan bundanya adalah pilihan terbaik untuk mereka semua, dan tak menyakiti banyak pihak.
"Sekarang apa maumu? kenapa kamu tiba-tiba datang?." Dinar bertanya lebih dahulu, karena dia dulu mengira bahwa Arsya tak akan mencarinya jadi dia memutuskan meninggalkan negera kelahirannya, namun siapa sangka ternyata di mengandung benih Arsya.
"Mauku adalah membawa kalian bertiga kembali ke Indonesia, dan kenapa aku tiba-tiba datang kemari itu karena mereka berdua adalah anakku, dan aku berhak atas mereka." jelas Arsya dengan wajah tenang, berbeda dengan Dinar yang sudah berwajah tegang.
Seberkas masa lalu telintas di kepalanya, Dinar sudah bahagia berada di sini, dia sudah memutuskan untuk tidak lagi kembali ke sana, dan akan hidup dengan tentram di Jepang tanpa mengingat rasa sakit itu.
"Aku tak akan biarkan mereka ikut denganmu... apa kamu tahu aku sudah bahagia di sini, jadi aku mohon padamu untuk tak membawa kami kembali kesana." tegas Dinar, dia tak mau jika terjadi sesuatu pada keduanya.
"Apa kamu tidak kasihan pada mereka berdua hah? kamu bahkan tega memisahkan aku dengan kedua putriku selama delapan tahun lamanya..... " Arsya menarik nafas dalam, agar bisa menata ucapannya dengan baik, sehingga Dinar akan sedikit luluh, jika cara ini tak manjur maka dia akan ambil cara kedua.
"Lihatlah kedua putriku sangat ingin bisa bersama dengan ayahnya, apa kamu tidak mengerti perasaan mereka yang rindu kasih sayang seorang ayah? seharusnya kamu sebagai ibunya bisa mengerti..... " habis sudah kesabaran Arsya dengan sikap egois dan keras kepala dari Dinar.
"Dan kamu begitu tega memisahkan aku dengan mereka, bahkan lebih parahnya kamu tak memberitahukan pada mereka jika aku adalah ayahnya.... apakah itu benar?." Arsya sebenarnya kesal dengan sikap Dinar yang malah tak memberitahu siapa ayah dari Karla dan Katrin.
Perkataan Arsya membuat Dinar bungkam, dia menatap kedua putrinya yang sedang menunduk, dan saling menggengam erat tangan di antara keduanya. Dinar tahu jika apa yang dia lakukan adalah kesalahan, menjauhkan kedua putrinya dari sang ayah. Arsya akan meneruskan perkataan nya, namun Dinar lebih dulu menghentikan.
"Cukup sudah jangan kamu katakan apapun lagi." cegah Dinar, dia tak mau jika Karla dan Katrin bersedih karena telah mengetahui kebenaran tentang ayahnya.
__ADS_1
"Baiklah.... tapi aku ingin tahu alasan apa yang membuat kamu pergi setelah malam itu?." kini Arsya yang bertanya alasan kepergian Dinar setelah malam panas itu. Dinar menatap malas Arsya, ini yang tidak mau Dinar jelaskan karena akan sangat lama dan sulit. Dania juga tak bisa membela Dinar karena bagaimanapun juga ini adalah masalah pribadi mereka.
"Aku hanya..... " Dinar tergugu dia tidak bisa menjelaskannya.
"Lihatlah.... bahkan kamu sendiri tak bisa memberitahukan padaku.... dan kamu tidak bisa memberikan argumen yang jelas terhadapku." Arsya menatap remeh namun di hatinya sangat senang dengan begini tak ada alasan Dinar menolak ajakannya.
"Karena kamu tak memberikan aku kesempatan untuk menjelaskan ...... " kesal Dinar, memang dia sulit, tapi tatapan Arsya sangat meremehkan dirinya.
"Sudah tak usah membuang-buang waktu lagi, sekarang berikan kami keputusan yang bijak, agar anak kita tak tersakiti karena keegoisanmu." ucap Arsya dengan menekankan anak kita, membuat Dinar semakin geram. Arsya tidak suka sesuatu yang akan menguras waktu tanpa mendapatkan hasil bagus.
"Kanapa kamu berlagak seperti orang yang telah mengurus mereka.... dan tak usah membawa nama anak kita dalam penyelesaian masalah ini."
"Wahhh..... aku memang pantas menyebut mereka anak kita karena memang itu adalah benar adanya nona Dinar..... " ucap Arsya tak mau kalah membuat Dinar skak mat.
"Sudahlah sekarang ambil keputusan mu." Kini Arsya berubah dalam mode dinginnya dengan tersenyum smirk.
Dinar sudah tak bisa menjawab perkataan Arsya, dia juga tak tega melihat kedua putrinya selalu mengeluhkan keinginan besar mereka yang ingin bisa mendapat kasih sayang keluarga pada umumnya. Dinar selalu memerhatikan kedua putrinya setiap sebelum mereka tidur, Karla dan Katrin selalu berdoa agar bisa bertemu dengan ayah mereka, membuat hati Dinar teriris perih ibu mana yang tega melihat kesedihan mendalam yang di rasakan oleh anaknya, meski Karla dan Katrin tidak menampakkan nya.
Dinar merasa sangat bersalah pada keduanya, dan kali ini mungkin waktu yang tepat untuk Karla dan Katrin merasakan kasih sayang seorang ayah. Dinar mengambil nafas dalam-dalam dan menatap kedua putrinya bergantian. Dengan sedikit keraguan dalam hati karena dia masih belum yakin jika Arsya benar-benar mengakui kedua putrinya, namun mau bagaimana lagi Dinar harus memutuskannya.
"Baiklah... ini keputusanku..... "
__ADS_1