Putri Kembar Sang Psychopath

Putri Kembar Sang Psychopath
74-Terbukanya rahasia si kembar


__ADS_3

Arsya masih melakukan rencana nya, dan terlihat begitu sibuk, tapi hal ini pasti akan memicu kecurigaan Dinar padanya. Arsya pun memutuskan kembali siang ini ke mansion, karena mendengar putri kembarnya akan pulang dari sekolah.


"Aku akan kembali ke mansion.... tetap awasi dia." ucapnya, dia pun beranjak pergi.


"Siap tuan..... "


Di perjalanan pulang menuju mansion entah kenapa pikiran Katrin begitu riuh, dia memikirkan agar bisa memiliki bisnis, sudah lama dia tidak membuka akun bisnis miliknya, mungkin Katrin akan memulainya lagi, seperti dulu saat sebelum bertemu dengan daddy nya.


"Aku akan mulai membuka bisnisku kembali, akan aku kembangkan bisnisku menjadi bisnis besar, ada yang membuatku sangat tertarik." batinnya, sebenarnya beberapa hari ini Katrin sudah memikirkan nya untuk kembali membuka bisnis yang pernah dulu dia lakukan.


Karena pada saat Katrin memeriksa berkas milik kakeknya, ada hal yang membuat dia sangat tertarik, apalagi saat tahu tangan kanan sang dalang adalah Ferdian, dia tidak tahu meski itu perusahaan milik kakeknya tapi benar-benar ada kejanggalan. Entah dalangnya orang lain yang memperalat kakek, atau bisa saja kakek sendiri yang menjadi dalang, hal itu masih belum bisa mereka temukan kebenarannya.


"Rumit sekali." gumam Katrin, selama empat tahun memang aman-aman saja, tapi sekarang mulai ada kerumitan dan teka-teki.


Hingga beberapa saat sampailah mereka di mansion pribadi milik Arsya. Terlihatlah mobil pribadi milik Haya, yang berarti ada sang nenek di rumah besar tersebut, begitu juga dengan mobil milik Asfi.


"Kami pulang..... " teriak Katrin dengan sangat ceria, di ikuti Rayhan dan Karla di belakangnya.


"Wah cucu nenek sudah kembali." sambut Haya dengan penuh senyuman.


"Eh ada nenek...." mereka memberi salam papda Haya dan juga yang hadir di sana.


"Kakak sudah datang...." teriak Andra dan juga Nida bersamaan.


"Adek."


"Nida makin cantik aunty...di tambah lesung pipinya makin manis." puji Katrin melihat sepupu kecilnya yang sudah terlihat cantiknya, di tambah lesung pipi yang membuat daya pikat siapa saja yang melihat.


"Iya aku juga menyukainya." Karla ikut berbicara, namun tetap saja dengan muka datar.


"Iya dong cantik dan manis, kan putri uncle.." Asfi juga ikut memuji Nida. Meraka tertawa bersama melihat ekspresi malu Nida .


"Sudah pah lihat pipi Nida sudah memerah." Ivy tahu jika Nida sangat pemalu, apalagi sampai di puji-puji.


"Iya Mah, papah cuma gemas sama anak perempuan papah satu ini." gemas Asfi dengan mencubit pipi gembul Nida.


"Ini juga keponakan uncle sudah pada besar, makin cantik dua-danya." Katrin tersenyum, begitu juga dengan Karla yang tersenyum simpul. Katrin seperti mencari sesuatu, tapi dia tidak menemukannya.


"Daddy kemana bun? kok aku nggak liat, biasanya daddy sudah menyambuut kami." tidak biasanya daddy mereka tidak menyambut kedatangan mereka.


"Oh daddy masih sibuk dengan pekerjaannya, pasti nanti daddy akan kembali tunggu ya sayang." jelals Dinar, agar kedua putrinya tidak khawatir .


"Begitu ya....ya sudah bunda." sebanarnya Katrin sedikit kecewa karena Arsya tidak menyambutnya, padahal ini pertama kalinya mereka kembali dari sekolah baru mereka. Berbeda dengan Karla yang malah curiga dengan daddy mereka.

__ADS_1


Namun Karla merasa ini adalah hal aneh, itu bukanlah daddy yang mereka kenal, karena Arsya selalu tepat waktu. Tapi jika sudah seperti ini akan mengundang kecurigaan terhadap keluarga, Dinar pasti akan menyadari hal tersebut.


"Sudahlah Katrin daddy pasti sedang dalam perjalanan." Karla mencoba membuat situasi tenang, Katrin pun akhirnya  tersenyum kembali.


"Aku akan bertanya langsung nanti, ini saat nya daddy tahu tentang aku dan juga Katrin." batinnya, mungkin ini saat yang tepat untuk memperlihatkan nya.


Dan benar saja, suara mobil milik Arsya terdengar di halaman mansion, Katrin pun bergembira lagi. Tapi tetap saja ini aneh, mereka berdua tidak akan tinggal diam.


"Anak-anak..... " panggil nya dari depan pintu, dan berjalan menuju ruang keluarga.


"Daddy...... " Katrin langsung berhambur memeluk Arsya dengan erat, seperti biasa Karla hanya memperhatikan dan berjalan ke arah keduanya.


"Kami pulang dad." ucapnya dengan wajah datarnya. Rayhan yang melihat Karla, hanya bisa membatin.


"Bisa-biasanya Karla memasang wajah datar seperti itu di saat seperti ini.... duhh dasar es batu." batinnya dengan ekspresi yang tidak bisa di jelaskan.


"Dad ada yang ingin aku bicarakan nanti... aku akan datang ke ruang kerja daddy nanti." bisiknya dengan nada yang amat dingin, seperti sedang mengintimidasi musuh.


"Baiklah manis." Arsya baru saja mengingat kembali masa itu. Mendengar bisikan itu entah kenapa membuatnya mengingat masa lalu. Tanpa menjawab Karla pergi ke kamarnya.


"Kedua putri kembarku sudah bertambah besar saja." Arsya bahagia melihat pertumbuhan mereka yang amat singkat.


Sementara malam ini mereka makan malam bersama, untuk merayakan masuk nya mereka bertiga ke sekolah baru mereka. Untuk awal yang baru dengan kegiatan dan peraturan baru.


"Apa Karla tidak ikut makan malam Dinar?." tanya Haya yang belum melihat Karla datang ke ruang makan.


"Iya tidak apa-apa namanya juga masih anak-anak, kita harus sabar menghadapi sifat mereka." Haya mengerti mengurus anak tidaklah mudah.


"Iya mah.... makasih nasehat nya." Dinar senang memiliki mertua yang amat mengerti dan baik hati padanya, jarang ada menantu yang bisa mendapatkan mertua yang menerimanya seperti anaknya sendiri.


Sementara Karla masih di kamarnya, dia sedang tidak ingin di ganggu, oleh karenanya Karla menolak makan bersama, meskipun keluarga besar mereka sedang berkumpul.


"Aku akan tetap mengawasi mereka." gumam nya, matanya tidak berpaling dari tab yang di pegangnya, sebenarnya Karla memiliki akun peretas pribadi miliknya yang Katrin tidak tahu, sudah banyak yang meminta bantuannya untuk menghack atau membuat pengamanan khusus sebuah rahasia perusahaan besar, jadi itung-itung Karla mencari uang sendiri, tanpa orang lain tahu.


"Akhirnya tabungan ku sekarang cukup untuk membangun markas ku sendiri." Karla memang berencana membuat sebuah markas pribadi, untuk menyimpan perlengkapan miliknya, karena dia juga akan membangun sebuah group peretas untuk mengamankan para penjahat atau korup yang berkeliaran menghancurkan perusahaan, atau yang bekerja sama dengan para mafia dan group berbahaya lainnya.


Markas itu di buat supaya memudahkan para pembisnis bisa dengan tenang membangun dan mengembangkan perusahaan mereka. Karla diam-diam membangunnya, dan hasilnya ternyata sangat maju, hal ini bisa jadi bisnis untuknya, dan juga penghasilan dengan nominal bayaran yang lumayan tinggi.


"Kak ayo makan dulu.... daddy menunggu kita soalnya." tiba-tiba saja Katrin masuk dan membuat Karla sedikit terkejut.


"Iya bawel, nanti sebentar lagi." Karla segera log out agar Katrin tidak curiga, Karla akan memberitahukan rahasia ini kalau waktunya tepat, karena ini baru saja tahap awal, jadi sebisa mungkin sampai markas nya berhasil di bangun.


"Sibuk banget kak.... udah setahun ini kita jarang ngobrol bersama, karena kita sibuk sama urusan sendiri, jadi selagi sekarang liburan ayo kita habiskan waktu bersama." Katrin sadar jika waktu mereka setahun terakhir ini semakin sibuk, apalagi Katrin juga berencana akan memulai bisnisnya lagi.

__ADS_1


"Iya kita akan habiskan waktu bersama." ucapnya tersenyum, mungkin Karla akan rehat sebentar sebelum memulai nya lagi.


Satu jam berlalu......


Mereka sudah selesai berbincang dengan Arsya dan juga Dinar, biasa untuk mengobrol ringan dengan keluarga. Mereka semua kembali ke kamar masing-masing, karena sudah larut, sementara Arsya dan Karla kini sudah berada di ruang kerja.


"Apa yang ingin kamu bicarakan sayang?." tanya Arsya penasaran, tidak biasanya Karla akan seserius ini.


"Begini dad..... apa daddy masih menyelidiki dalang pembunuhan paman Alan?." tanya nya dengan sorot mata serius. Arsya kaget karena Karla mengetahui hal itu, padahal itu sudah tertutupi secara rahasia.


"Bagaimana kamu tahu nak...?." Arsya penasaran kenapa putrinya tahu rencana nya itu.


"Tentu saja mencari tahu dad." jawaban yang membuat Arsya syok, dan pada malam hari ini, Arsya tahu bahwa kedua putrinya bukan anak sembarangan, bahkan tidak bisa di remehkan.


"Mencari tahu dengan cara apa sayang?."


"Meretas misalnya, atau menghack itu adalah keahlian putrimu satu ini." jawabnya dengan datar, namun menusuk. Tapi diam-diam di luar pintu ruang kerja, Katrin sedang menguping. Karla tersenyum miring, mengetahui jika kembarannya ada di balik pintu.


"Tidak usah menguping Katrin.... itu tindakan yang akan membawamu ke dalam bahaya." ucapnya membuat Arsya bingung.


"Ups ketahuan..... maaf kak, daddy soalnya aku penasaran hehe." ucapnya sambil membuka pintu ruangan yang memang tidak di kunci.


Kini mereka duduk saling berhadapan, Arsya masih butuh penjelasan dari kedua putrinya, bagaimana mungkin di umur mereka yang terbilang masih sangat muda, apalagi untuk berurusan dengan hal yang di lakukan orang dewasa dalam hal pekerjaan mereka tahu pasti seperti sudah berpengalaman.


"Daddy pasti bertanya-tanya kan? terlihat sekali di wajah daddy." Katrin tahu kebingungan di wajah sang daddy.


"Iya daddy ingin tahu penjelasan kalian berdua." Katrin melirik sang kakak yang ternyata memberi kode untuk segera menjelaskan semuanya.


"Begini dad kami adalah....... " Katrin menceritakan panjang lebar kisah hebat mereka, yang hanya mereka saja yang tahu, Dinar hanya tahu jika kedua putrinya adalah si kembar hebat, namun masih banyak yang Dinar tidak tahu.


Arsya melongo mendengar penjelasan keduanya, ya meski hanya Katrin yang berbicara, tapi tatapan Karla juga memperlihatkan kalau itu benar adanya.


"Benarkah? kedua putri daddy bisa melakukan hal gila di umur kalian yang masih dini?." Arsya masih tidak percaya.


"Percayalah dad, kami akan beritahu buktinya besok, ya karena sekarang sudah larut malam, jika tidak bunda akan marah melihat kita masih terjaga." Katrin meyakinkan daddy nya.


"Huft baiklah daddy percaya pada kedua putri daddy, daddy takjub melihat jika kedua putri daddy sangat hebat daddy bangga." Meski begitu Arsya sangat mempercayai si kembar.


Karena mereka tetaplah anak di bawah umur, mungkin dengan dia mengetahui jika kedua putri kembarnya berpotensi sangat besar, Arsya akan membimbing keduanya agar bisa mengelola dan mengembangkan talenta mereka.


"Daddy akan membantu kalian berdua, agar bisa mengembangkan keistimewaan kalian berdua, jadi kalian berdua akan ada dalam pengawasan daddy."


"Ok dad kami pasti akan bisa menjadi kebanggaan daddy."

__ADS_1


"Kalian sudah menjadi kebanggaan daddy sejak dulu, sebelum kalian lahir." Arsya sudah amat bangga pada keduanya sejak dulu sebelum mereka bertemu.


"Makasih dad." mereka berdua berhambur memeluk Arsya, meski sekarang mereka dalam pengawasan, itu tidaklah masalah, dan hal itu sangat membantu si kembar.


__ADS_2