Putri Kembar Sang Psychopath

Putri Kembar Sang Psychopath
51- Keseriusan Arsya


__ADS_3

Kenzo kembali ke hotel dengan perasaan hancur, dia memasuki kamarnya dan mengunciya rapat-rapat. Dia berusaha tetap tenang, namun tetap saja hatinya sangat sesak seakan pasokan oksigen habis. Ini adalah kali pertama dia merasakan perasaan sakit luar biasa di hati, entah bagaimana kedepannya, dia memang harus bisa mengikhlaskan Dinar, mungkin memang bahagianya bukan bersama dia.


Zeni pergi untuk menyiapkan kepulangan mereka ke Jepang, semuanya sia-sia tuannya tidak berhasil mendapat balasan perasaan dari orang yang di cintainya, malah mendapatkan luka baru di hatinya.


Sementara Dinar tidak enak hati karena telah menolak Kenzo, bagaimanapun juga Kenzo sudah banyak membantunya, dia adalah lelaki baik yang menolong dia disaat dia kesulitan, bahkan semuanya berkat bantuan Kenzo, namun daripada nantinya akan lebih sakit, lebih baik saat ini dia mengatakan hal yang sebenarnya, meski dia harus menolak dengan halus.


Saat ini Dinar butuh seseorang untuk menceritakan semua masalahnya, semua kelelahannya dan semua kebimbangan nya. Dinar terduduk melamun di ruang tamu, setelah kepergian Kenzo hatinya merasakan hal tidak mengenakan dia merasa bersalah, hingga beberapa saat kemudian dia mengingat sesuatu yaitu Dania, satu nama yang kini terbesit dalam pikirannya.


"Oh ya ampun..... aku melupakan Dania, aku tidak memberitahukan dia kalau aku pergi ke Indonesia, dia pasti sangat mengkhawatirkan aku, aku harus segera menghubungi nya." Dinar baru saja ingat jika dia belum memberitahukan kepada Dania bahwa sekarang dia berada di indonesia, Dinar pun segera pergi ke tempat telepon umum untuk menelpon sahabat nya, untung saja dia masih menyimoan nomor ponsel Dania di dalam buku catatan kecilnya.


"Karla.... Katrin bunda akan pergi keluar sebentar, kalian jangan keluar dari rumah ok, makan malam sudah ada di meja makan." ucap Dinar pada kedua putrinya, dia sudah membelikan makanan untuk kedua putrinya.


"Baik bunda." jawab mereka bersamaan. Dinar pun segera menuju tempat penelponan umum yang tidak jauh dari rumah sewanya.


Sampailah dia di tempat tujuan, rasanya dia ingin segera berbicara pada Dania, dia pasti mengkhawatirkan dirinya, apalagi Dinar tidak izin kepada sahabatnya. Sinar segera mengetik nomor ponsel Dania. Hingga beberapa detik kemudian ternyata nomonya masih aktif, dan masih bisa di hubungi.


Telpon pun tersambung.....


"Maaf dengan siapa ini?." tanya Dania dari sebrang telpon, membuat Dinar rindu sahabatnya.


"Dania..... ini aku Dinar." jawab Dinar dengan tergagap, dia masih tidak enak hati karena pergi tanpa berpamitan pada Dania, apalagi sudah seminggu lebih setelah dia tinggal di Indonesia dia lupa mengabari sahabatnya.


"Dinar... ya ampunn apakah benar ini kamu?." tanya Dania, dia juga sebenarnya sedang mencari tahu kenapa Dinar pergi, karena tiba-tiba saja Dinar lost contact dengannya.


"Benar ini aku Nia..... maafkan aku Nia, aku pergi tanpa pamit padamu." jelas Dinar, dia meminta maaf dahulu agar hatinya lega.


"Akhirnya kamu menghubungi aku, kenapa pergi secara tiba-tiba tanpa menghubungiku? aku khawatir padamu dan juga kedua putri kembarmu." Dania benar-benar khawatir, setelah kepulangan dia dari luar ibukota, mengetahui jika Dinar pergi dari negara Jepang membuatnya syok, dan menjadi khawatir akan keselamatan mereka.


"Maaf Dania kemarin mendadak sekali, aku sampai lupa memberitahumu." Dinar hanya bisa meminta maaf.


"Iya Dinar tidak apa-apa, yang penting kalian semua baik-baik saja." Dania lega karena Dinar dan kedua putrinya tidak apa-apa.


"Lalu bagaiamana kamu bisa berurusan dengan pengusaha kaya itu?." Tanya Dania, dia tidak tahu kenapa sahabatnya berurusan dengan Arsya pengusaha yang sangat kaya.


"Cerita nya panjang Nia.... yang pasti itu membuatku kesal." Jelas Dinar, mau sejauh apapun Dinar dan Arsya mereka akan tetap bertemu, karena mereka sudah terikat oleh anak hasil hubungan mereka.


"Ceritakan saja Nar.... aku tahu itu berat untuk mu, jadi berbagilah denganku." tawarnya, dia tahu jika Dinar sedang dalam kesulitan. Dinar pun menceritakan segalanya, alasan kenapa dia sampai dibawa ke Indonesia.


"Jadi dia sudah tahu jika Karla dan Katrin adalah kedua putrinya? pantas saja dia sampai memaksa." Ucapnya sedikit kesal, karena tahu jika Arsya membawa sahabatnya paksa.

__ADS_1


"Iya dia sudah mengetahuinya, tapi aku tidak bisa terus disana, karena kedua putriku belum di perkenalkan kepada keluarganya, padahal mereka sudah tinggal disini selama satu minggu, aku tidak masalah jika tidak diakui sebagai keluarganya, tapi masih terlalu dini untuk mereka Nia, apalagi Arsya sudah menjanjikan hal itu pada Karla dan Katrin, namun tidak ada bukti dari ucapannya." jelas Dinar, bukan karena dia haus akan harta, yang lebih penting baginya dan juga kedua putrinya adalah bukti dari ucapan Arsya.


"Aku tahu perasaan mu Dinar... kamu harus kuat, aku akan kesana dan kamu bisa bercerita lebih banyak lagi tentang masalahmu." Dania tidak bisa untuk mengabaikan keduanya, apalagi sahabat dekatnya, dia akan kesana menemui Dinar jika ada waktu luang.


"Terima kasih atas perhatianmu Nia.... tapi aku tidak mau merepotkan mu lagi, kamu sudah banyak membantuku."tolak Dinar dengan halus, dia sudah tidak mau merepotkan sahabatnya.


"Tidak Dinar, aku ikhlas membantumu, jika kamu butuh sesuatu katakan saja, aku akan selalu ada buat kamu, begini besok aku cuti, dan aku berencana pulang ke Indonesia, aku akan mampir ke rumahmu, dan kita bisa bicara lagi." jelas Dan ia, libur musim panas ini dia berencana pulang ke Indonesia.


"Baiklah Nia.... aku tidak keberatan, ya sudah ini sudah malam, kasihan Karla dan Katrin, kita sambung lagi besok obrolannya." Dinar menyudahi percakapan nya dengan Dania, karena sudah menjelang malam.


"Ohh baiklah Dinar, jaga diri kamu baik-baik, besok aku akan mengurus keberangkatan ku ke Indonesia." Dinar pun mengakhiri panggilannya, rasanya lega setelah berbicara pada Dania.


Dinar pun kembali ke rumahnya, waktu menunjukkan pukul delapan malam, suasana sedikit sepi apalagi rumah sewa Dinar jaraknya sedikit jauh dari pusat jalan raya. Dinar sengaja menjauh dari keramaian karena tidak mau jika Arsya menemuinya. Hingga beberapa menit sampailah dia di pelataran dekat rumah sewanya, dia melihat ada mobil sedan terparkir di halaman samping rumahnya.


Hatinya mulai khawatir takut jika Arsya sudah menemukannya, dia sudah tidak mau berurusan dengan Arsya, karena semenjak dengan Arsya hidup Dinar menjadi sedikit terganggu.


"Mobil siapa ini? yang aku tahu tidak ada yang memiliki mobil di area rumah sewa ku." gumam Dinar, dia tahu jika tetangga nya tidak ada yang pernah membawa mobil.


Dinar menggelengkan kepala, dia yakin mungkin hanya ada tamu yang sedang berkunjung. Dia melangkahkan kakinya menuju rumahnya, entah kenapa dia merasakan perasaan tak enak, namun berulang kali dia menepis nya. Kakinya terus melangkah, dan rasa khawatir itu semakin besar, ketika dia melihat pintu rumahnya terbuka, dan dilihatnya seorang lelaki berdiri di depan pintu rumahnya.


"A-arsya.... mau apa kamu kemari?." ucapnya dengan tergagap, dia tidak berhasil bersembunyi dari Arsya.


Arsya hanya menatapnya datar, membuat Dinar takut, dia merasakan kemarahan besar dalam diri Arsya. Dinar tidak berani menatap Arsya, dia memilih menundukkan kepala. Arsya sengaja bersikap dingin agar Dinar tidak bersikap seenaknya, apalagi ini sudah menyangkut masalah anak.


Arsya menarik lengan Dinar, dan membuatnya berada dalam dekapan Arsya, hal itu membuat Dinar semakin kesal, dia berusaha melepaskan diri, namun cekalan Arsya sangatlah kuat.


"Lepaskan aku.... aku sudah tidak mau berurusan denganmu." Ucapnya dengan ketus. Arsya masih tidak menjawab, bahkan dia masih bersikap dingin.


"Aku tidak mau jika Karla dan Katrin mendengar pertengkaran aku dan kamu, jadi lebih baik lepaskan aku." Dinar tetap bersikeras untuk melepaskan dirinya, Arsya hanya tersenyum tipis.


"Mereka tidak akan mendengar kita bertengkar."singkat nya, membuat Dinar diam seketika.


"Apa maksudmu? mereka ada di dalam, pasti Karla dan Katrin akan mendengar." Dinar tetap mengelak.


"Aku sudah menyuruh Aryan membawa mereka berdua ke mansion, dan mereka sudah bertemu dengan kakek dan neneknya, jadi disini kita hanya berdua." ucap Arsya dengan tertawa iblis, membuat Dinar bergetar. Sebenarnya Arsya susah menyuruh Aryan membawa kedua putri kembarannya ke mansion, karena dia tidak sanggup melihat kedua anaknya tinggal dengan penuh kekurangan.


"A-apa maksudmu?. " tanya Dinar tergagap.


"Bukankah sudah aku katakan padamu nona Azhar, jika kamu berulah aku akan membawa kedua putri kita pergi berpisah jauh darimu? tapi kamu tidak mau mendengarku." ucap Arsya dengan menekan nama marganya, karena Dinar akan menjadi anggota keluarga Azhar.

__ADS_1


"Kembalikan Karla dan Katrin padaku, kenapa kamu selalu saja mengusikku Tuan Arsya? bukankah sudah cukup urusan kita." teriak Dinar, dia sudah lelah menghadapi ini, dia ingin lepas dari jeratan ini, namun hal itu pasti sangatlah tidak memungkinkan.


"Mereka juga milikku nona, aku akan terus mengusikmu sampai kamu mau menjadi istriku, tapi karena kamu keras kepala jadi aku akan sedikit memaksamu nona Azhar." ucap Arsya dengan lebih mendekatkan tubuhnya lagi.


"Berhenti memanggilku dengan sebutan Azhar." Dinar tidak suka jika dia harus di panggil dengan nama marga Azhar.


"Sekarang lepaskan aku, aku sudah tidak mau berurusan denganmu lagi, jadi kumohon padamu berhenti mengganggu hidupku." pintar Dinar, dia sudah muak dengan ikatan itu.


Mendengar perkataan Dinar membuat Arsya sedikit tersulut api amarah, Arsya menarik tangan Dinar lembut namun sedikit memaksa, meski dia sedang marah, Arsya tidak bisa kasar pada orang yang dia cintai. Dinar tetap memberontak, dia takut Arsya akan melakukan hal aneh, terlebih pikirannya kini memutar kejadian delapan tahun lalu, dimana mereka bercinta tanpa kesengajaan.


"Lepas Arsya.... lepaskan aku... " Dinar mencoba melepaskan diri, namun usahanya sia-sia, Arsya diam membisu, bahkan suasana menjadi tegang, Dinar tidak bisa melakukan apapun.


Arsya membawa Dinar menuju kamarnya, dia membaringkan Dinar ke ranjang dengan sedikit paksakan, karena Dinar terus memberontak. Arsya menindih tubuh Dinar hingga jaraknya sangat dekat. Dinar memalingkan wajahnya, dia tidak mau kejadian beberapa tahun lalu terulang.


"Kenapa berpaling dariku? tatap aku Dinar, kamu sudah membangunkan amarahku, aku tidak akan melepaskanmu sekarang." ucap Arsya.


Dinar mendorong sekuat tenaga tubuh kekar Arsya, dan akhirnya Dinar bisa lepas dari Arsya.


"Diam jangan sentuh aku.... " teriak Dinar, Arsya berdiri dari jatuhnya, dia berjalan mendekati Dinar.


"Aku sudah mengatakan padamu Dinar.... jangan pernah keras kepala terhadap apapun yang kuucap, bukankah aku menunggu jawabanmu? kenapa kamu malah pergi hah, dengan membawa Karla dan Katrin, apakah kurang cukup semua yang aku lakukan padamu?."Arsya sedikit meninggikan suaranya, dia harus bisa mengatasi sifat Dinar yang sangat keras kepala. Amarahnya masih dia tahan karena tidak mau sampai menyakiti Dinar, ini hanya untuk gertakan agar Dinar mau menurut.


Arsya menarik nafas dalam, dia sudah tidak tahu harus melakukan apa dengan sifat keras kepala Dinar, dia sudah berusaha agar Dinar segera menjadi mikiknya, tapi dia juga harus menunggu jawaban Dinar. Dinar hanya diam tidak menjawab semua yang di katakan Arsya.


"Aku mau kamu menjawabnya sekarang, apakah kamu mau menjadi istriku?." Arsya menanyakan sekali lagi pada Dinar, dan apakah Dinar akan menjawab iya atau tidak.


Dinar masih diam, dia tidak tahu harus menjawab apa, dia tidak tahu hatinya untuk siapa. Apalagi setelah kejadian itu, dia sudah tidak mau berurusan dengan lelaki.


"Sekarang ini adalah keseriusan ku yang sesungguhnya, aku akan buktikan semua yang kuucapkan padamu dan juga kedua putri kita, bukankah itu maumu?." tambahnya lagi, dia tahu alasan kenapa Dinar dan kedua putri kembarnya pergi.


"Dan ini juga bukan kesalahn ku saja, tapi kamu juga Dinar, seandainya kamu langsung menyetujuinya mungkin hal rumit ini tidak akan terjadi." ungkapnya lagi, ini bukan seratus persen kesalahannya, Dinar juga bersalah atas semua ini.


"Aku tidak mau lagi menunggu jawabanmu itu, aku ingin sekarang kamu menjawab nya, jawab dengan kejujuran dan juga bukan karena keterpaksaan, jangan karena aku melakukannya dengan terpaksa kau menyalahkan hal itu juga." kini Arsya menjadi cerewet, sang psychopath dingin kini menjadi hangat meski menggunakan paksaan.


"Bisakah kamu berhenti bicara Arsya....? aku sedang memikirkan jawaban yang tepat, jadi aku mohon padamu untuk berhenti berucap." potong Dinar sebelum Arsya melanjutkan ucapannya. Seketika Arsya kembali dalam mode datarnya, dia belum mau tersenyum sebelum mendapat jawaban yang indah, yang keluar dari bibir Dinar.


Suasana menjadi hening seketika, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing, Dinar sibuk memikirkan jawaban yang akan dia beri, sedangkan Arsya sibuk memikirkan jawaban apa yang akan Dinar lontarkan.


Hingga beberapa menit kemudian.....

__ADS_1


"Huft...... "


"Baiklah.... aku akan memberikan jawabannya." perkataan yang Arsya tunggu, dia sudah tidak sabar akan jawabannya.


__ADS_2