
Dinar hanya menatap biasa pada Arsya, keputusannya sudah bulat untuk keluar dari mansion pribadi milik Arsya. Arsya menatap penuh keseriusan, di matanya kali ini dia tidak bisa terus mengikuti apa yang Dinar mau, mulai saat ini Arsya akan mempertegas semuanya.
"Selangkah kamu keluar dari mansion ini dengan membawa kedua putri ku, aku tidak akan membiarkanmu lolos dariku lagi." tegas Arsya yang kini sudah berada di depan tempat duduk Dinar.
Brakk....
Dinar menggebrak meja dan berdiri sehingga mereka saling berhadapan. Dinar menatap benci pada Arsya dia sudah cukup sabar mengikuti apa yang Arsya mau, namun yang di tatap hanya memandang remeh dirinya.
"Sudah ku katakan aku tidak ingin terlalu jauh berhubungan denganmu, cukup hubungan ini saja yang berjalan, apa kamu mengerti?!." bentak Dinar dengan menatap nyalang pada Arsya.
Arsya menarik tangan Dinar dengan paksa dan menyudutkan Dinar pada tembok, dengan gerakan cepat Arsya mengunci pergerakan Dinar sebelum dia memberontak.
"Lepaskan....!! .... " teriak Dinar, dia berusaha melepaskan diri, namun semuanya tidak berhasil, kekuatan fisik Arsya sangat kuat meski tidak terlalu menekan pada tangannya, tapi sangat berat untuk Dinar lepaskan.
Dia mendekatkan wajahnya pada wajah Dinar, sehingga jaraknya tinggal beberapa ceti saja, hembusan nafas Arsya menerpa rambut yang menutupi wajahnya, detak jantung mereka secara bersamaan berpacu dengan hebat, bagaikan gemuruh di musih hujan. Dinar secara langsung memalingkan wajahnya agar tidak mentap mata indah Arsya. Tanpa di sadari Dinar pipinya sudah bersemu merah.
"Tidak usah kamu palingkan wajahmu dariku, mana sikap berani mu yang tadi, aku ingin melihatnya lagi." bisik Arsya dengan jelas meski bukan di dekat telinga Dinar.
"L-lepaskan aku.... " ucapnya dengan terbata, rasanya dia ingin sekali menampar wajah tampan Arsya, karena Arsya sudah berani menyudutkan tubuhnya, seketika ingatan Arsya memutar disaat tragedi malam delapan tahun silam. Otaknya memutar dengan cepat, hingga terlihatlah dengan jelas ingatan saat dirinya meniduri Dinar dengan niat menolong.
"Sial... ingatan macam apa ini? di saat seperti ini seharusnya aku tidak mengingatnya, aku bisa kelepasan jika seperti ini." umpat Arsya dalam hati, ingatan jelas disaat dirinya menari di atas tubuh Dinar yang sedang terpengaruh obat perangsang.
"Jika kamu ingin pergi.... pergi saja, tapi jangan harap kamu bisa membawa keluar Karla dan Katrin dari sini." ucapnya dengan menekankan kata-katanya. Mendengar perkataan Arsya membuat Dinar semakin kesal, dan semakin memberontak.
__ADS_1
"Berhenti bergerak, jika kamu masih memberontak maka aku tidak segan menciummu saat ini juga." Ancam Arsya dengan senyum iblisnya.
"Jangan mengancamku dengan ucapan mesummu itu." Dinar tidak goyah dengan ancaman Arsya.
"Oh... jadi kamu ingin mengulang kembali malam panas itu?." tanya Arsya dengan wajah meremehkan, seketika Dinar menjadi malu jika mengingat hal tersebut.
"Tak usah membahas hal yang sudah menjadi masa_" Arsya tidak peduli dengan ucapan Dinar, karena kini dia hanya fokus pada bibir Dinar.
Mata Arsya kini tertuju pada bibir mungil Dinar, dengan tanpa persetujuan Dinar akhirnya ancaman itu terlaksana. Arsya langsung menyambar bibir Dinar dengan lembut, membuat Dinar terkejut dengan apa yang di lakukan Arsya, dia kira itu hanya gertakan saja, tapi Arsya tidak main-main dengan ucapannya.
"Emmm..... " Dinar mencoba melepaskan tautan itu, namun Arsya tidak menghiraukan hal tersebut. Arsya berusaha untuk bisa ******* bibir Dinar dengan susah payah, tapi Dinar tetap mempertahankan agar Arsya tidak menerobos masuk.
Hingga Dinar menggigit bibir Arsya dengan keras, membuat tautan bibir mereka terlepas, darah segar keluar dari bibir bawah Arsya, dia mengusap dengan tangan yang satunya, sungguh ini yang adalah hal yang paling Arsya inginkan, menyentuh bibir Dinar yang setelah sekian lama tidak pernah di sentuhnya.
"Lepaskan aku....!! apa kamu tuli...?!." marah Dinar dengan menampakkan wajah merah padamnya.
Karena dia adalah psychopath sejati, maka dia tidak akan bermain-main dengan semua ancaman yang terlontar dari lisannya. Apalagi Dinar baru saja merasakan jika ancaman Arsya adalah nyata dan langsung dia lakukan pada targetnya.
Dinar memutar otaknya memikirkan ucapkan Arsya, dia mencerna setiap perkataan yang baru saja Arsya katakan.
"Bagaimana?! masih tertarik untuk meninggalkan mansion ku? ini adalah keputusanku yang tidak bisa kamu ganggu gugat, itupun jika kamu setuju." Arsya terus saja membuat Dinar tidak bisa berfikir jernih.
Dinar tahu pasti Arsya akan melakukan hal ini, karena ini adalah cara agar Dinar tidak bisa melepaskan diri. Tapi dia tidak rela jika harus di pisahkan dengan kedua putrinya, bagaimanapun juga ancaman Arsya harus bukanlah sebuah penipuan.
__ADS_1
"Lepaskan dulu... aku akan menjawabnya." pinta Dinar, dia lelah karena Arsya belum juga melepaskan tangannya.
"Kenapa harus di lepaskan?! sudah katakan saja sekarang, atau mau ku tambah satu lagi tautan tadi?." goda Arsya membuat Dinar muak, lagi-lagi ancaman tak berbobot yang dia keluarkan.
"Baik.... jika kau tidak mau melepaskan aku tidak akan pernah menjawab keputusanku, kamu hanya berani mengancamku dengan membawa nama Karla dan Katrin, mereka masih anak-anak tidak usah libatkan mereka dalam masalah ini." Dinar kesal dengan Arsya yang menyeret Karla dan Katrin dalam masalah mereka.
"Karena jika bukan dengan membawa mereka dalam masalah kita, kamu tidak akan pernah luluh dan kamu pasti akan tetap bersikap egois, bersikaplah dewasa Dinar, mereka juga butuh kasih sayang dari kedua orang tuanya apa kamu tidak kasihan?." Kini Arsya berbicara dengan nada lebih bijak dan tertata.
Dinar terdiam seketika perkataan Arsya benar adanya, tidak ada yang menyalahkan jika seorang anak membutuhkan kasih sayang serta perhatian dari kedua orang tuanya.
"Tolong Dinar biarkan mereka merasakan indahnya di perhatikan oleh kita sebagai orang tua mereka, bukankah sakit jika hidup seorang anak tanpa orang tua yang lengkap? pikirkan itu juga Dinar." pintanya dengan sangat berharap, Dinar jadi teringat akan kisah hidupnya yang di abaikan oleh ayahnya, rasanya sungguh sakit dan tidak bisa terobati.
Bagaimana tidak seorang ayah yang tega mencaci bahkan sampai tega menyiksa anaknya sendiri, itu adalah hal paling menyakitkan yang pernah Dinar rasakan. Tanpa sadar mata Dinar sudah berkaca-kaca, dia mengingat kembali masa lalu menyedikannya itu, Arsya yang melihat Dinar yang mau menangis reflek Arsya melepaskan tangannya.
Dinar tertunduk lesu menampakkan luka yang amat terdalam dalam hidupnya, karena situasi sedang bersama Arsya, Dinar berusaha menyembunyikan hal tersebut.
"Ada apa Dinar?." tanya Arsya dengan nada khawatir. Dinar hanya menggeleng tanpa menjawab.
"Aku akan pikirkan lagi... tunggu dua hari ke depan aku akan memberimu jawabannya." jawabnya singkat dengan nada datar, Dinar pun pergi tanpa mendengar Arsya bicara.
Arsya merasa ada yang tidak beres dengan Dinar, dia bertanya-tanya kenapa Dinar tiba-tiba berubah dingin setelah Arsya mengatakan hal tersebut.
Tiba-tiba dia mengingat informasi yang di berikan Dhafi padanya tentang siapa Lena, Dhafi juga menceritakan segalanya tentang penyiksaan yang di lakukan oleh keluarga Dinar, mengingat semua itu membuat Arsya merasa bersalah karena telah mengatakan hal tidak mengenakan pada Dinar, Arsya menjadi geram dan ingin langsung menghancurkan mereka yang telah membuat Dinar tersiksa.
__ADS_1
"Sial.... aku salah bicara, Dinar pasti mengingat masa lalu kelamnya itu.... maafkan aku Dinar."
"Tapi aku sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak menghancurkan mereka, kamu tenang saja Dinar, selama kamu masih bersamaku tidak akan aku biarkan mereka atau siapapun menyakitimu..... itu adalah janjiku." tekad Arsya, dia akan terus menjaga dan melindungi Dinar, dan tidak akan membiarkan Dinar tersakiti lagi.