Putri Kembar Sang Psychopath

Putri Kembar Sang Psychopath
48-Hal Tak Terduga


__ADS_3

Dhafi telah datang dengan membawa bala bantuan, ya Dafa menghubungi Dhafi karena mereka hampir kewalahan, kepungan dari mafia milik Alan terlalu banyak dan juga tergolong kelas elit, yang sudah di latihan khusus untuk penyerangan dadakan. Namun berkat bantuan Dhafi mereka bisa memenangkan semuanya.


Setelah selesai baku hantam dengan pasukan Alan, mereka segera memasuki gedung dan mencari keberadaan Arsya, sebagian dari mereka memeriksa bangunan tersebut, untuk memastikan apakah masih ada musuh atau tidak.


"Sebagian periksa tempat ini bersama Dhafi, dan yang lainnya ikut denganku untuk mencari kak Arsya." titah Dafa kepada para bawahannya.


"Terima kasih telah datang membantu, jika kamu tidak datang mungkin aku sudah kewalahan." Dafa berterimakasih karena Dhafi mau membantunya, karena kurangnya persiapan jadi mereka hampir kewalahan.


"Tak usah sungkan..... tapi ingat ini Fa kau harus bisa lebih baik dalam hal ini.... bukankah ayah dan kakakmu memberikan tanggung jawab ini padamu." Dhafi sebenarnya belum yakin jika tanggung jawab mafia dari ayah sahabatnya di berikan kepada Dafa, karena terkadang dia masih teledor dalam memimpin.


"Iya.... iyaa tenang saja, aku akan mulai belajar mengembangkan setiap kekurangan yang ada dalam mafia ini, kau tahu sendiri kan kalau aku baru saja terjun di dunia mafia." jelas Dafa, dia juga sadar kalau dia masih sulit dalam menata mafia nya yang baru saja di berikan oleh ayahnya.


"Aku akan menantikannya, jangan sampai kamu mengecewakan yang memberi amanah ini, ya sudah cepat temukan Arsya dan yang lain." Dhafi menepuk pundak Dafa, dia akan menunggu hasil nya dan berharap mafia dari keluarga sahabatnya bisa berkembang sangat pesat.


"Tumben sekali dia berkata bijak, kesambet apa dia? tenang saja aku akan menjalankan amanah itu, dan akan kupastikan bahwa mafia keluarga Azhar akan menjadi yang paling di takuti." Tekad Dafa, dia berjanji akan memberikan yang terbaik kepada keluarganya.


Dhafi dan sebagian pasukannya sudah mulai memeriksa keadaan, begitu juga dengan Dafa dia segera mencari dimana kakaknya.


💕💖💕💖💕💖💕


Mata Karla membelalak sempurna ketika dia tahu siapa yang terkena tembakan Ferdi. Karla sudah berhasil membebaskan bunda dan juga Katrin, bersamaan itu ternyata Alan dan Ferdi sudah tidak ada di tempat.


Karla terpaku dengan tubuh yang sudah terkapar di lantai, dia tidak menyangka akan terjadi hal tak terduga hari ini. Dafa sudah berada di sana bersama dengan yang lainnya, dia langsung di suguhkan dengan tubuh yang sudah tidak sdarkan diri dan bersimbah darah.


"Daddy...... " teriak Karla dengan keras membuat Dinar dan Katrin sadar, mereka berdua langsung melihat kearah dimana Karla berlari.


Dafa juga tersadar bahwa yang terkapar adalah kakaknya, dia segera berlari menghampiri Arsya, begitu juga Dinar dan Katrin.


"Dad bangun buka matamu..... jangan seperti ini." tangis Karla, dia memeluk tubuh sang ayah. Katrin juga ikut menyusul dan langsung memeluk erat Arsya.


"Daddy...... " jerit Katrin, Dinar hanya diam membisu, namun air matanya sudah membasah di pipinya. Dinar terduduk lesu melihat keadaan Arsya yang sudah tidak sadarkan diri.


"Kak..... bangun lahhh, ohh ya ampun kenapa jadi seperti ini." Dafa berusaha memeriksa keadaan Arsya. Ternyata denyut jantungnya melemah, Ferdi menembak tepat di bagian dada kiri, namun tidak terlalu dalam, tapi ini sudah fatal.


"C-cepat bawa tuan Arsya ke rumah sakit." Dinar yang sudah tersadar, dia langsung meminta pada Dafa untuk segera membawa Arsya ke rumah sakit, karena ini harus segera di tangani oleh dokter.


Dengan cepat Dafa pun langsung menurut, dia tahu keadaan ini sudah darurat, Karla dan Katrin langsung memeluk bundanya dan masih dengan tangis mereka. Tubuh lemah Arsya di bawa ke mobil, Dhafi yang melihat itu pun ikut khawatir.


"Aku serahkan yang disini padamu Kak Dhafi." setelah mengatakan itu dia langsung meluncur ke rumah sakit. Sementara Dhafi membantu Dinar dan putri kembarnya keluar dari sana, dan mengantar mereka pulang ke mansion.


"Sial mereka kabur...... aku tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi lagi." gumam Dhafi, yang tidak menemukan Alan dan bawaannya, mereka berhasil kabur setelah penembakan terjadi. Dia juga akan mencari cara agar bisa menangkap keduanya.


Di mobil Katrin masih menangis di pelukan ibunya, sementara Karla sudah tidak menangis lagi, bahkan sekarang dia sudah bermode dingin lagi. Karla mengepalkan tangannya, dia gagal dalam misi penyelamatan ini, di tambah daddy nya terluka cukup parah.


"Aku gagal.... daddy terluka, aku akan mencari tahu siapa mereka, aku akan mengorek semuanya tentang mereka." geram Karla sampai-sampai dia memukulkan tangannya ke jok mobil yang dia duduki. Karla janji akan mencari tahu siapa mereka, sampai dia benar-benar menemukan identitas sebenarnya mereka.

__ADS_1


"Bunda..... aku tidak mau kehilangan daddy, aku masih merindukan daddy." rengek Katrin, mereka baru saja bertemu belum lama. Dinar mengusap lembut rambut putrinya, dia tahu apa yang mereka rasakan.


"Daddy pasti akan baik-baik saja Katrin jangan sedih ok." hibur Dinar, berharap agar Katrin berhenti bersedih. Pelukan Katrin semakin erat terhadap nya, Dinar mengelus kepala putrinya, dia menatap Karla yang sudah dalam mode datar, dia tidak usah menenangkan putri satunya.


"Kita akan kemana? apa kita tidak ikut ke rumah sakit?." tanya Dinar kepada Dhafi.


"Maaf sebelumnya nona, tapi kedua putri anda kelelahan, labih baik kita kembali dulu, nanti setelah itu aku akan mengantar ke rumah sakit." jelas Dhafi, dia khawatir dengan kedua putri sahabatnya dan juga kepada Dinar, jadi dia memilih kembali dulu ke mansion.


"Tapi aku khawatir dengan keadaan tuan Arsya, dia terluka karena menyelamatkan aku." jelas nya dengan menunduk lesu, Dhafi hanya menarik nafas dalam.


Sebenarnya pada saat Ferdi mengeluarkan pistol, dia mengarahkan ke arah Dinar, dia tidak menyadari hal itu, karena dengan begini Arsya pasti akan melindungi Dinar. Dan benar saja peluru itu mengarah ke arah Dinar, reflek Arsya yang melihat hal itu langsung berlari untuk melindungi Dinar. Hingga pda akhirnya Arsya lah yang tertembak, Dinar merasa bersalah, karena akibat dari menyelamatkan dia, sekarang Arsya berada di ambang maut.


"Tenanglah nona..... Arsya akan baik-baik saja, dia lelaki tangguh, dia pasti akan kembali dengan selamat." ucap Dhafi, dia sebagai sahabat nya mengakui jika Arsya bukanlah lelaki yang lemah.


"Tapi tetap saja, lebih baik aku dan kedua putriku ikut ke rumah sakit sekarang." Dinar tetap bersikeras ingin ikut langsung ke rumah sakit. Sifat keras kepala nya muncul lagi, entah perasaan apa yang membuat dia khawatir akan keselamatan Arsya.


"Huft..... baiklah nona baiklah...." Pasrah Dhafi, orang yang di sukai sahabat nya memang sangat keras kepala. Dhafi memutar jalan dan menyusul Dafa ke rumah sakit.


💕💖💕💖💕💖💕


Mobil Dafa sudah sampai di pelataran rumah sakit, dia langsung membawa Arsya menuju ruang UGD dengan di bantu petugas rumah sakit. Dafa tidak bisa masuk ke ruangan, jadi diaenunggu di luar, dia menghubungi pihak keluarga yang lain, hatinya belum bisa tenang sebelum mendengar kondisi Arsya.


Beberapa menit kemudian.....


Dinar dan Dhafi sudah sampai di rumah sakit, mereka segera pergi ke ruang UGD. Karla dan Katrin juga ikut untuk memastikan keselamatan daddy mereka.


"Bagaimana keadaan tuan Arsya?." tanya Dinar sambil menatap wajah Dafa.


"Dokter masih merawat nya, jadi kamu tenanglah." ucap Dafa, dengan tenang, dia tahu jika kakaknya akan baik-baik saja.


Dafa memperhatikan penampilan Dinar, dia wanita yang sederhana bahkan jauh dari kata mewah, dia juga melihat kedua anak kembar itu bergantian, dia tidak menyangka mereka berdua sangat mirip, dan yang membuat dia tak bisa berkata lagi adalah warna mata yang sangat mirip dengan kakaknya.


"Benar-benar mirip kak Arsya, dia banyak berhutang penjelasan pada semua keluarga." batin Dafa, tidak di sangka Arsya sudah memiliki anak bahkan berjumlah dua.


Selang beberapa menit ayah dan ibu Arsya telah tiba di sana, wajah Haya terlihat sangat khawatir, berbeda dengan Devan yang bersikap tenang seperti biasa.


"Bagaimana keadaan kakakmu nak?." tanya Haya kepada Dafa sambil memegang pundaknya.


"Duduk dulu Mah..... tenangkan diri mamah, kakak pasti baik-baik saja, kita berdoa untuk keselamatan nya." Dafa mencoba menenangkan Haya, agar sakitnya tidak kambuh, karena Haya memiliki penyakit kecemasan berlebihan, dia tidak mau kesehatan Haya terganggu.


"Benar kata Dafa Mah, tenanglah dia tidak akan kalah hanya karena luka tembak." Devan ikut menenangkan Haya, dia juga percaya jika Arsya akan baik-baik saja.


Namun ada yang membuat Haya tertarik, dia melihat dua anak perempuan di samping sebelah kanan sedang duduk bersama satu wanita, dia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju mereka. Karla dan Katrin masih tertunduk, mereka berdua terus berdoa dalam hati untuk keselamatan daddy mereka.


"Permisi nak..... bolehkah saya ikut duduk disini?." ucap Haya pada Dinar, entah dorongan darimana yang membuat Haya ingin duduk di samping mereka.

__ADS_1


"Ohh silahkan bu...." Dinar mempersilahkan Haya, dia juga tahu jika dia adalah ibu kandung Arsya. Dinar tidak berani berkata lebih.


"Bunda apakah daddy sudah bisa kita lihat?." ucap Katrin lagi, sontak itu membuat Haya mengeryitkan dahinya, dia berfikir siapa yang di panggil daddy oleh anak perempuan itu.


"Sebentar lagi sayang." ucap lembut Dinar, sebenarnya dia tidak mau jika Katrin terus bertanya tentang keadaan Arsya, karena dokter juga belum keluar dari UGD, apalagi di sebelah nya ada ibu Arsya.


Haya semakin penasaran dengan mereka, untuk apa mereka disini, sedangkan dia tidak mengenalinya, namun Haya tahan untuk tidak bertanya apapun dulu, karena ini masih di kawasan rumah sakit.


"Bolehkan saya berkenalan dengan kedua putrimu? saya sangat menyukai anak kecil, karena anak pertama saya jauh dari saya, sehingga saya tidak bisa bertemu dengan cucu saya." jelas Haya, dia penasaran seperti apa wajah keduanya, Haya belum tahu jika mereka kembar, karena sedari tadi mereka tertuduk, bahkan katika Katrin bertanya pun dia tidak menoleh kepada sang ibu, karena dia sedang meyenderkan kepalanya di dada Dinar.


"Boleh nyonya , ayo sayang ada yang mau berkenalan dengan kalian." ucap Dinar pada Karla dan Katrin. Mereka pun mengangguk dan menghampiri Haya.


Karla dan Katrin menghampiri Haya, mereka masih malu-malu karena mereka berdua tahu jika itu adalah ibu dari daddy nya.


"Sini coba kenalkan satu per satu." ucap Haya, sambil memegang lengan mereka masing-masing.


Mereka memberanikan diri menatap Haya, betapa terkejutnya dia setelah melihat keduanya menatap Haya. Mata hijau menyala itu membuat Haya terpaku dalam memandang nya.


"Perkenalkan nama saya Karla Louisa dan ini kembaran saya Katrina Luana." Karla bersikap seramah mungkin, walaupun dia sulit mengaturnya, tapi dia harus bisa.


Haya sampai melamun memperhatikan kedua bocah kembar di hadapan nya. Hingga tepukan tangan Karla menyadarkan lamunannya.


"Nenek apa kamu baik-baik saja....?." Haya pun tersadar, dia langsung tersenyum lembut.


"Mata Arsya.... kenapa sangat mirip sekali, sebenarnya siapa kedua anak kembar ini?." batin Haya dia tidak tahu jika keduanya memiliki mata yang sangat mirip dengan putranya. Devan melihat Haya yang akrab dengan orang lain membuatnya heran, karena Haya tidak mudah berbaur dengan orang yang baru saja di temui nya.


"Dhafi siapa kedua anak dan wanita itu? kenapa dia berada disini?." tanya Devan kepada Dhafi, Devan belum pernah bertemu dengan mereka.


"Oh anu mereka....."


Belum sempat Dhafi memberitahu, dokter keluar dari ruang UGD, hingga membuat Devan melupakan hal itu, begitu juga dengan Haya, dia kembali kesana untuk mendengar penjelasan dokter. Namun karena tahu akan situasi Karla dan Katrin masih duduk disana bersama ibunya, mereka hanya mendengar saja, mereka sadar jika keluarga besar ayahnya belum mengetahui siapa mereka, karena Arsya belum memberitahukan.


"Bagaimana keadaan putra saya dok?." tanya Haya, dia kasih sangat khawatir.


"Kami sudah berhasil mengambil pelurunya, dan sekarang keadaannya masih kritis, jadi kita akan menunggu sampai dia siuman baru kami akan memindahkan nya ke ruang rawat." jelasnya, membuat Haya belum lega dengan keadaan Arsya saat ini.


Setelah mendengar hal itu, mereka harus menunggu sampai keadaan Arsya stabil jadi belum ada yang boleh menjenguknya ke dalam ruangan. Karena sudah mendengar keadaan Arsya, Dinar pun mengajak Karla dan Katrin pergi dari rumah sakit, Dinar sadar bahwa mereka bukanlah keluarga dari Arsya, meski dia mengakui bahwa putri kembarnya adalah anak kandung Arsya.


Bersamaan dengan keluarnya Dinar, Aryan baru saja sampai disana, dia segera menuju ruangan UGD untuk memastikan bahwa Arsya baik-baik saja.


"Kita pergi saja ya sayang.... disini kita bukan siapa-siapa, meskipun dia adalah daddy kalian, tapi mereka semua belum tahu bahwa kalian adalah putrinya, maafkan bunda membuat Karla dan Katrin berpisah dari daddy." Dinar tidak bisa terus disana, karena pasti keluarga Arsya akan bertanya-tanya siapa mereka.


"Iya bunda, tidak apa-apa kami paham, kita berdua tidak akan memaksakan bunda lagi." ucap Karla, Katrin juga hanya mengangguk, mereka kini tidak akan memaksakan bunda mereka untuk bisa bersatu dengan daddy nya. Mereka hanya berharap ada keajaiban Tuhan yang akan membantu mereka mempersatukan kedua orang tua mereka.


Dinar dan juga kedua kembar imut akhirnya pergi dari rumah sakit, mereka pergi dan tidak kembali ke mansion Arsya, untungnya dia membawa tasnya, pada saat penculikan memang dia tidak membawa tasnya, dia juga membeli eskrim dengan uang yang dibawa Dinar di katung bajunya, dan tasnya berada di mobil Arsya, jadi tadi dia membawanya.

__ADS_1


Katrin dan Karla hanya diam membisu, hal tak terduga ini membuat mereka harus pergi, mereka sadar bahwa ayahnya belum memperkenalkan mereka pada keluarga besarnya, padahal mereka sudah satu minggu lebih tinggal disana.


Karena ada uang di tabungannya Dinar pun menyewa kontrakan untuk mereka tinggali sementara waktu, dia masih menunggu Arsya membuktikan semua omongannya, tapi dia tidak bisa tinggal di mansion sementara Arsya masih terbaring di rumah sakit.


__ADS_2