
Dinar berjalan dengan tatapan kosong, dia sudah tak bisa menghindar lagi apapaun yang terjadi Dinar juga harus mengambil keputusan yang bijak, dia yakin jika ayah dari kedua putrinya akan kesini, apalagi tangan kanannya sudah datang menemuinya.
Dania keluar dari kamar Karla dan Katrin, dia melihat Dinar dengan wajahnya yang menyimpan ketakutan besar, dan juga kebimbangan dia pun mendekat untuk memastikan apa yang terjadi padanya.
"Dinar ada apa? apa yang lelaki itu katakan padamu?." tanya Dania dengan memengang pundak Dinar.
"Dinar.... " panggil Dania dengan menepuk pundaknya karena Dinar hanya diam. Dinar tersadar dia menatap Dania dengan tatapan sendunya, seakan dia butuh solusi saat ini, Dania menuntun Dinar dan mereka mendudukkan diri di sofa.
"Katakan padaku ada apa denganmu Dinar?." tanya Dania sekali lagi.
"Aku tak tahu Nia..... bagaimana aku bisa memberikan mereka.... mereka... mereka.... " ucap Dinar dia sudah tak bisa meneruskan perkataan nya, air mata yang sedari tadi di tahannya kini sudah membanjiri pipinya. Sekuat apapun Dinar menahan, dia tak akan sanggup jika di depan Dania.
Dania sudah menjadi sandaran dalam hidupnya, setiap saat Dania selalu menemaninya mereka sudah seperti saudara, Dinar berterima kasih karena Dania selalu ada membuatnya kuat dan selalu bersemangat meneruskan hidup, serta dia bisa merawat kedua putrinya berkat Dania.
"Ssssst.... Dinar jangan seperti ini.... aku tahu kamu bisa... aku yakin kamu bisa memutuskan yang terbaik untuk mereka berdua, putuskanlah dengan baik agar tak ada yang tersakiti."Ucapnya sambil memegang bahu Dinar. Dania mencoba memberi nasihat agar Dinar tak salah dalam mengambil keputusan.
Dinar diam dan mencerna semua yang di katakan Dania, pikirannya memikirkan masa depan kedua putrinya, dia harus benar-benar tepat dan tidak salah dalam memutuskan. Dinar mengusap air matanya dan menatap serius pada Dania.
"Baiklah akan aku putuskan dengan benar, agar tak ada yang tersakiti. " Dania tersenyum mendengar ucapan Dinar, dia yakin keputusan yang sahabatnya ambil adalah yang terbaik.
"Ini baru Dinar ku..... aku yakin kamu mampu mengatasi ini, jika ayah dari si kembar datang menemuimu maka putuskanlah." Dinar mengangguk lari dari masalah bukanlah jalan keluar terbaik, tapi selesaikan dengan bijak maka akan ada jalan keluar.
💕💖💕💖💕💖💕
Sementara Aryan yang gagal meyakinkan Dinar, dia pun kembali ke apartemen untuk menghubungi Arsya, karena hanya dia yang bisa menyelesaikan masalah pribadi nya apalagi perkataan Dinar tadi membuatnya kalah telak.
__ADS_1
Sesampainya di apartemen Aryan segera menghubungi Arsya, dia yakin jika masalah Arsya dengan Lena sudah berakhir. Panggilan pun tersambung pasti Arsya akan bahagia mendengar jika ibu dari si kembar adalah wanita yang dia cari.
"Bagaimana..... " tanya Arsya langsung tanpa berbasa-basi, karena dia sudah tak sabar mendengar kabarnya.
"Seratus persen terbukti tuan..... ternyata memang benar wanita yahh anda cari adalah ibu dari nona Karla dan nona Katrin." terang Aryan, senyuman terbit di bibir indah Arsya dugaan nya adalah benar.
"Bagus.... lalu apa yang dia katakan?."
"Anda harus datang sendiri tuan.... nona Dinar mengatakan jika akan menyelesaikan semuanya langsung dengan anda." jelasnya lagi, dia sudah tak mau membujuk wanita keras kepala seperti nona mudanya.
"Baiklah aku akan berangkat sekarang, jemput aku di bandara." titahnya dan menutup panggilannya, dia sudah ingin bertemu dengan wanitanya dan juga kedua putrinya.
"Akhirnya kita bertemu lagi..... sekarang tak ada yang bisa kau lakukan, meski kau pergi akan selalu ku kejar karena kau adalah wanita yang ku inginkan.... " batinnya Arsya yakin jika Dinar tak akan lari lagi darinya.
Arsya segera melakukan penerbangan pribadi dengan menggunakan jetnya, karena dia akan menjemput keluarga kecilnya, meski Dinar belum sah menjadi istrinya setidaknya ada kedua putrinya, dan jika Dinar menolak dia akan meminta bantuan pada putri kembarnya untuk merayu bundanya.
Jet milik Arsya sudah mendarat di bandara Jepang dan tentunya dengan izin, Aryan sudah stand by di sana. Melihat bosnya sudah datang Aryan pun segera menghampiri nya.
"Selamat sore tuan....." sapa Aryan sambil membungkuk.
"Hmmmm." dehemnya wajahnya seperti biasa datar dan dingin.
Aryan memberi jalan untuk Arsya memasuki mobilnya, Aryan yang menyetir dan membawa Arsya menuju mansionnya yang berada di Jepang.
"Apa kau sudah memberikan hadiahnya?." tanya Arsya ingin tahu apakah Karla dan Katrin menerima hadiah pemberiannya.
__ADS_1
"Sudah tuan, mereka menerima nya dengan baik." ucap Aryan, dilihat dari wajah Katrin yang tersenyum.
"Aku senang mendengarnya." singkat Arsya begitu tahu jika mereka menerima pemberiannya.
Mereka telah sampai di mansion besar Arsya yang berada di sana, para pelayan sudah menyambut kedatangannya, Arsya menyapa mereka dan langsung masuk ke rungan kerjanya di ikuti Aryan di belakangnya.
"Antar aku ke alamat Dinar.... dan biar aku saja yang kesana... aku akan membawa mereka." Arsya akan datang kesana sendiri, karena dari yang Aryan katakan jika Dinar hanya ingin bisa menyelesaikan langsung dengannya, dan itu adalah kesempatan emas, untuk bisa membujuk Dinar untuk ikut dia kembali.
"Baik tuan, kapan anda akan berangkat?." tanya Aryan.
"Hemmm... " Arsya berfikir sejenak untuk menentukan waktu yang tepat kapan dia bisa menemui Dinar dengan leluasa.
"Besok sore aku akan berangkat kesana, jika nanti malam maka ku tak akan bisa melakukan aksi dan juga rencanaku." ucap Arsya, dia akan menggunakan aksi dan rencana yang sudah terpikir di otaknya saat ini. Aryan tak tahu apa yang di rencanakan oleh bosnya.
"Baik tuan... jika tak ada yang di bicarakan saya permisi." pamit Aryan, tingkah Arsya kini berubah drastis hanya karena akan bertemu dengan mereka.
"Pergilah dan jangan lupa besok." Aryan pun meninggalkan Arsya dan beranjak pergi kembali ke apartemennya.
"Aku akan buat rencana ini berhasil seratus persen dan tak akan gagal." Arsya berencana untuk membuat Dinar mau tak mau harus ikut dengannya.
Apapun yang membuat Arsya menginginkan hal itu tak akan dia lepas begitu saja, itu adalah prinsipnya. Jika sesuatu itu sesuai dengan selerannya seperti halnya Dinar yang sudah berhasil membuat dia kalang kabut karena menghilang begitu saja selama delapan tahun lamanya.
Apalagi kini Dinar sudah menjadi ibu bagi kedua anaknya, dia tak akan menyia-nyiakan hal itu. Arsya akan segera mengikat Dinar dalam pernikahan sah, dan itu akan membuat Arsya tak akan di jodohkan dengan wanita lain, karena hatinya sudah untuk Dinar sepenuhnya meski belum tahu apa Dinar juga merasakan hal yang sama dengannya. Walaupun dia tahu bahwa cintanya belum benar-benar tumbuh.
Tapi wajah Dinar sudah tersimpan di hati dan pikirannya, dan itu yang membuat dia ingin terus mencari dan mengejar Dinar.
__ADS_1
"Sebentar lagi kita akan bersatu dan berkumpul bersama, entah kenapa ketika aku mengingat wajahnya aku ingin tetap berada di sisisnya." gumam Arsya ketiak dia mengingat wajah Dinar, dia selalu berharap bisa bersatu dan memiliki keluarga kecil bersamanya.