Putri Kembar Sang Psychopath

Putri Kembar Sang Psychopath
88 - Bekerjasama antar ayah dan anak bag 02


__ADS_3

"Ayo berangkat." Karla dan Arsya pergi bersama untuk menuntaskan misi. Misi awal mereka akan menemui Dafa untuk bersiap siaga, dan menyiapkan senjata yang di butuhkan.


Arsya takjub dengan Karla da Katrin, dia sudah melihat perkembangan hebat yang tersembunyi di antara keduanya, kemarin Arsya baru melihat kehebatan Katrin, yang membantu menyiapkan semua keperluan yang di butuhkan tim medis untuk Dinar, dan semuanya lengkap tanpa kekurangan atau kecacatan.


Dia baru menyadari kehebatan keduanya, mungkin dengan adanya Karla dan Katrin semuanya akan berjalan lancar, mereka berpotensi untuk keluarga Azhar, dan bisa membuat para pesaing takut.


Sesampainya di markas baru....


"Uncle..... "


"Kalian sudah datang?."


"Jadi di sini markasnya, tempat nya luas sekali, darimana kau mendapatkan tempat serahasia ini?." tanya Arsya yang penasaran dengan markas baru milik Dafa, yang ternyata tempatnya sungguh tersembunyi dan dengan rute yang tidak dapat di jangkau oleh siapapun.


"Karla lah yang memberikan saran tempat yang rahasia dan sulit di temukan." kesan Dafa juga sama seperti Arsya saat pertama kali dia melihat tempat nya.


"Wah hebat putri daddy satu ini... " lagi dan lagi Arsya di buat takjub dengan Karla, meski memang dia tidak terlalu mencolok di bandingkan dengan Katrin, tapi inilah bakat tersembunyi nya yang hebat.


"Kita akan mulai strategi.... " Karla tidak menanggapi pujian daddy nya, dan hal itu membuat Arsya gemas dengan sifat dingin Karla yang memang mirip dengannya pada saat dia masih usia remaja seperti nya.


"Aku dan daddy akan menemui dan membicarakan hal ini dengan kakek, jika dia tidak mau mengakui perbuatan nya maka kita gunakan cara kasar."


"Setelah itu kau Dafa carilah Ferdian dan Hayfa, jangan biarkan mereka kabur, tetap awasi mereka berdua dan jangan sampai lengah." Arsya juga ikut merundingkan, jika Ferdian dan Hayfa jangan sampai lolos, mereka juga harus membayar akibatnya.


"Lalu lebih waspadalah, kak Asfi akan ikut andil dalam mengatur pasukan mafia." tambahnya lagi, Asfi akan ikut dalam mengatur pasukan.


"Memang nya kak Asfi bisa melakukan hal itu?." Dafa tidak yakin jika kakak tertuanya bisa melakukan nya, terlebih dia hanya bekerja di perusahan yang hanya duduk dan berbicara saja.


"Aku tidak selemah itu bodoh.... " tiba-tiba saja Asfi datang dengan wajah tidak terima nya.


"Eh kakak... maksudku aku tidak pernah melihat mu bisa dalam seni pertarungan atau mengatur pasukan, terlebih mafiaku memiliki pasukan yang lumayan banyak.


"Kau saja yang buta, aku pernah menjadi pasukan pengintai rahasia di luar negeri, sebelum aku jadi pengusaha." Dafa kaget mendengar nya, kakaknya pernah menjadi pasukan rahasia, dan dia sama sekali tidak mengetahuinya.

__ADS_1


"Wah sungguh hebat kak.... kukira kau tidak bisa apapun." Asfi melotot dengan wajah kesal nya.


"Ampun... ampun kak... " Dafa hanya nyengir kuda dengan wajah menyebalkan nya.


"Sudah kita lanjutkan misi berikutnya." Ucap Arsya menghentikan keduanya.


"Aku akan pergi sekarang bersama Karla untuk menemui ayah, jika ada bahaya Karla akan mengirimkan sinyal lewat drone capung mikiknya, pertemuan ini akan di lakukan tidak jauh dari markas." Arsya ingin sekali berbicara empat mata dengan ayahnya. Karla akan menunggu di mobil sambil mengawasi sekitar.


"Ok itu tidak buruk." Asfi tahu jika Arsya pasti ingin berbicara penting dengan ayah mereka, apalagi mengenai Devan yang telah menjadikannya alat sebagai pembunuh.


"Dan uncle bersiap siaga di markas, karena jaraknya yang tidak jauh dari markas, aku yakin kakek tidak akan pergi seorang diri."


"Baiklah itu sudah cukup, sekarang kita mulai." Arsya dan Karla pergi keluar markas, agar tidak ada yang tahu keberadaan mereka, karena mereka khawatir akan ada pengintai dari pihak Devan.


Arsya menelpon ayahnya dengan alasan ada hal penting tentang perusahaan yang harus mereka bahas, dan pertemuannya di lakukan jam sembilan malam di sebuah cafe yang memang tidak jauh dari markas baru Dafa. Dan ternyata Devan menyetujuinya, dengan syarat Arsya harus seorang diri tanpa penjaga, karena ini masalah penting dan privasi mereka berdua, Arsya pun setuju.


"Karla kamu tunggu di sini ya sayang, daddy akan menemui kakek dulu, pastikan kamu akan baik-baik saja disini." bagaimanapun juga Arsya tetap khawatir akan keselamatan Karla, apalagi dia hanyalah gadis remaja.


"Huftt.... ya sudah daddy akan ke cafe sekarang." ucap Arsya, dia mengusap kepala Karla sebelum keluar dari mobil. Karla bersiap menerbangkan drone nya, dan mengawasi wilayah sekitar.


Sepuluh menit berlalu.....


Datanglah Devan menggunakan mobil sport nya, dia memarkirkan dengan jarak jauh dari mobil Arsya. Terlihatlah dua orang yang mengawasi di luar cafe, dengan penampilan serba hitam dengan kacamata hitamnya.


"Sudah di mulai rupanya." Karla tahu jika Devan adalah laki-laki licik yang penuh dengan kebusukan yang dia lakukan, dan itu harus membuat Karla selalu berhati-hati dengan kakeknya.


Karla masih fokus dengan drone nya, dia mencari lebih jauh lagi, di sekitar taman yang jaraknya tidak jauh dari cafe, dan terlihat beberapa orang dengan pakaian yang sama seperti dua orang tadi.


"Banyak juga... apa dia berencana membunuh daddy? semakin menarik." Karla tidak sabar untuk baku hantam dengan pasukan bodoh kakeknya, sudah lama dia tidak bermain.


💕💖💕💖💕💖💕


"Ada pembicaraan penting apa?." tanya Devan tanpa basa-basi, dengan wajah datarnya.

__ADS_1


"Ini mengenai keluarga Azhar akhir-akhir ini." Devan hanya diam tanpa menyaut, dia sebenarnya tidak tahu jika Arsya sudah mengetahui kebenarannya, dan masih percaya jika Arsya masih dalam pengaruhnya.


"Ada apa dengan keluarga?."


"Ayah masih bertanya? kukira kau sudah tahu jika keluarga mu sedang bermasalah." Devan hanya mengernyitkan dahinya, dia belum bisa memahami apa yang di bicarakan Arsya.


"Berbicaralah yang jelas, tidak usah berliku-liku." terang Devan, dia sangat tidak suka dengan pertanyaan rumit.


Arsya tersenyum smirk, pancingannya sudah mulai terkait, Arsya juga tidak suka dengan banyak pertanyaan, tapi ini demi keberhasilan strategi mereka, Arsya tidak mau gagal untuk kedua kalinya, niat menjebak malah dia yang terjebak.


"Begini ayah, aku mendengar ada yang berkhianat di keluarga Azhar, tapi sayangnya dia sudah terbunuh." Arsya mulai membuka tentang kematian yang terjadi di mansion di masa lalu, ya tentang kematian ayah Alan.


"Itu karena dia berkhianat, bukankah aku sudah menyuruhmu membereskan nya? dan itulah orang yang berkhianat itu." Arsya semakin tahu, jika dia memang hanyalah alat untuk keuntungan Devan.


"Ohh jadi karena dia berkhianat? kukira karena dia mengetahui suatu rahasia ayah?." suasananya semakin memanas, Devan semakin masuk dalam permainan Arsya, Devan diam untuk beberapa detik, sebelum akhirnya dia menjelaskan.


"Dia berkhianat karena membocorkan perusahaan, dan hal itu tidak bisa di biarkan, karena jika di biarkan perusahaan kita akan hancur." alibinya membuat Arsya muak dengan semua permainan ini, bahkan Devan keji membunuh kakeknya, hal itulah yang membuat Arsya ingin segera membereskan ayahnya sendiri, dan dengan tangan nya sendiri.


"Wow hebat sekali..... aku ingin tanya padamu ayah, apakah aku adalah alat yang menguntungkan mu?." Devan juga sudah muak dengan semuanya, setiap hari dia harus berakting dengan sangat mahir, untuk bisa membalaskan dendam keluarganya.


Dan kini mungkin dia harus memperlihatkan wujud aslinya, dengan cara ini dia akan segera menuntaskan dendamnya, dan menghabisi keluarga Azhar, agar tidak ada yang menghalangi rencana bejatnya.


"Begitu rupanya.... hebat kau sudah tahu semua nya.... " senyum jahatnya kini terukir jelas di wajah Devan.


"Tentu saja karena aku tidak akan sudi menjadi budak mu."


"Sungguh penolakan yang amat menyedihkan."


"Menyedihkan? bukanya kau yang menyedihkan... pada akhirnya kau membuka topengmu, sudah berapa lama kau memakai topeng itu?." Devan hanya tersenyum tanpa beban sedikit pun.


"Aku memang harus segera membukanya, untuk memperlihatkan kepada mu yang bodoh." Arsya mulai tersulut, mendengar hal memalukan seperti itu, dia hanya tidak menyangka akan di bodohi oleh nya.


"Akan ku beritahu kebenaran yang sesungguhnya padamu, jika kau memang benar-benar orang dungu."

__ADS_1


__ADS_2