Putri Kembar Sang Psychopath

Putri Kembar Sang Psychopath
67-Kabar Gembira


__ADS_3

Dua minggu berlalu.....


Arsya sudah menyiapkan konferensi pers untuk mempublikasikan keluarganya dengan jelas, meski dia sudah melakukan pernikahan di depan umum, tetap saja masih ada pertanyaan tentang kedua putri mereka.


"Semua sudah siap tuan... " ucap Aryan setelah persiapan nya beres.


"Baiklah kita berangkat sekarang." Arsya dan keluarganya berangkat menuju lokasi. Sesampainya disana sudah banyak awak media yang menunggu, Arsya tidak mau jika hal itu akan mengganggu ketenangan keluarga nya, dia telah menjamin keamanan ketat.


"Ternyata ini rasanya menikah dengan orang terkenal, aku sangat tidak menyukai hal seperti ini." batin Dinar melihat sorotan media, bahkan banyak sekali wartawan yang datang menghadang mereka. Arsya menggandeng erat tangan Dinar, dia tahu jika istri nya tidak menyukai hal ini, dan harus melakukannya agar tidak terjadi kesalahpahaman kedepannya.


Sementara Karla dan Katrin bersama dengan Aryan berasal tepat di belakang Arsya. Aryan juga berusaha untuk menjaga si kembar, dia juga kesal melihat para wartawan berlarian agar bisa mengetahui lebih dekat seperti apa wajah putri kembarnya itu.


Dalam kurun waktu beberapa menit, akhirnya mereka sudah berada di dalam, rasanya lega meski sekarang adalah puncaknya, Arsya dan keluarga nya menjadi sorotan media, semuanya penasaran tentang anak kembar nya, karena dia baru saja menikah, tidak mungkin akan langsung memiliki anak, pasti Arsya sudah menjalin hubungan lama dengan wanita itu, pertanyaan yang cukup logis untuk menjelaskan semuanya.


Arsya menjelaskan semuanya bahwa itu adalah kecelakan, yang pasti pertemuan dia dengan istrinya adalah ketidaksengajaan, namun itu adalah pertemuan yang tidak akan pernah bisa terlupakan.


"Aku sudah menerimanya dengan segenap hatiku, jadi jangan ada yang menghinanya, dan ingat bahwa kedua putri kembarku adalah anak kandungku, jika ada yang berani maka akan aku hancurkan." ucapnya, ini pertama kalinya Arsya berbicara banyak, karena biasanya dia akan berdiakpa acuh dan cuek.


Para wartawan pun tidak lagi mempertanyakan perihal anak kembar Arsya, mereka lebih baik diam, karena jika Arsya sudah menjelaskan panjang lebar, maka tidak ada pernyataan ulang.


Dua jam berlalu....


Konferensi pers sudah teratasi, Arsya mengantarkan pulang si kembar dan juga istrinya, sejak tadi Dinar hanya diam, dan tidak mengeluarkan sedikitpun kata, begitu juga dengan si kembar.


"Daddy.... tadi begitu ramai, aku sampai tidak bisa berbicara apapun." Katrin akhirnya membuka suara.


"Tak apa sayang, daddy hanya ingin memberitahu pada semua orang bahwa kamu dan kakakmu adalah putri kandung daddy..... maafkan daddy ok, karena baru sekarang daddy memperkenalkan kalian." jelas Arsya, dia senang semua mengetahui bahwa Karla dan Katrin adalah putri kandung nya, padahal tadinya dia ingin mengatakannya pada saat pernikahannya dengan Dinar, tapi tak ada waktu karena banyak hal terjadi, jadi inilah rencananya.


"Iya tak apa dad.. " mereka pun kembali ke mansion.


Sesampainya di mansion....

__ADS_1


Karla langsung pergi ke kamar tanpa keingintahuan nya terhadap apa yang terjadi, jadi bisa di katakan Karla adalah tipe yang tidak banyak bertanya, tapi memperhatikan. Sementara Katrin masih menempel pada daddy mereka, itu karena Katrin belum bertemu daddy mereka beberapa hari.


"Dad aku ingin bicara denganmu.... "ucap Dinar, sebenarnya dia ingin memberitahunya dua hari lalu, tapi karena Arsya sibuk jadi saat ini adalah waktu yah tepat.


"Bunda sedang hamil dad. " ucap Katrin tiba-tiba, si kembar memang sudah tahu kehamilan Dinar, karena ketidaksengajaan Dinar berucap pada saat tes kehamilannya positif, dia terbawa suasana hingga si kembar tahu jika mereka akan segera memiliki adik.


"Sayang apa benar yang di katakan Katrin? kamu hamil?."tanya Arsya langsung, untuk memastikan kalau itu benar, Dinar gelagapan padahal dia ingin memberitahukan Arsya sendiri, tapi sudah terlanjur terucap oleh Katrin.


"Benar dad.... aku hamil." seketika Arsya memeluk Dinar, dia memeluk sangat erat, Katrin tersenyum manis sekali, Katrin tahu pasti, daddy nya akan sebahagia ini.


"Maaf bunda... malah Katrin yang memberitahukan, ya sudah Katrin pamit ke kamar, daddy dan bunda berbahagialah..... " belum Dinar menjawab, Katrin sudah berlalu pergi, karena dia tak mau mengganggu kemesraan orang tuanya yang baru saja terjalin ini.


"Terima kasih sayang..... kamu sudah memberikan kebahagiaan ini... Terima kasih. " senang Arsya, kebahagiaan nya kini sempurna, dengan adanya kabar gembira ini. Dinar mengangguk karena dia sudah tidak bisa berkata apapun lagi.


💕💖💕💖💕💖💕


"Lepaskan aku...... lepas...... " teriak seseorang di ruangan gelap dengan keadaan mata di tutup kain, dia di ikat di tiang bangunan tersebut.


Sementara ruang sebelah adalah Ferdi yang berhasil di tangkap, pada saat penangkapan Alan. Ferdi ditangkap karena masih banyak yang harus Arsya tanyakan dan juga dia urus, seperti permintaan Alan.


"Berisik sekali kalian, sudah lah ini adalah ketegasan dari kak Arsya, karena kalian telah mengusiknya." ucap Dafa dengan puas. Setelah pembicaraan Rifa dan Arsya minggu lalu, mereka lebih waspada dari biasanya, karena masih ada yang mengintai di luar sana, bahkan bisa lebih berbahaya lagi.


Satu jam menunggu, akhirnya Arsya datang dengan wajah dinginnya, semuanya memberi hormat, meski dia bukan anggota mafia, tapi Arsya banyak membantu dan mengajarkan mafia milik adiknya agar bisa menjadi mafia terbaik.


"Arsya.....!!. " teriak Lena, dia berharap Arsya akan membebaskan nya. Arsya hanya melirik kilas tanpa memperdulikan Lena yang terus berteriak.


"Ternyata kau masih belum puas juga? heh ingatlah kata terakhir tuan Alan yang dia lontarkan padamu." sekali lagi Ferdi mengingatkan akan ucapan terakhir dari tuannya.


"Masih ada yang mengintaimu diam-diam, dia sudah masuk terlalu jauh ke dalam keluargamu."


"Bisakah kau diam?... aku muak mendengarnya." decih Dafa yang sudah muak mendengar ocehan Ferdi.

__ADS_1


"Aku sudah tahu.... mata-mataku sudah mendapatkan sedikit bukti." jawab Arsya singkat, ternyata Arsya memang sudah berjalan perlahan tapi pasti, meski dengan petunjuk yang tidak mencangkup banyak bukti.


"Aku tidak menyangka kau sudah tahu, tapi ingatlah dia sangat picik, dan manipulatif, aku tidak yakin jika kau bisa langsung menemukan dia." Ferdi masih tidak mempercayai, jika Arsya sudah menemukan sedikit bukti.


"Aku tahu itu meski sedikit, tapi sebentar lagi pasti akan terungkap." ucap Arsya dengan penuh keyakinan.


Tiba-tiba saja Arsya berbisik tepat di telinga Ferdi, entah apa yang mereka bicarakan, tapi hal itu membuat Ferdi terbelalak, bahwa itu sudah mendekati kebenaran, sebenarnya siapa penjahat yang masih tersembunyi. Alan memang mengatakan hal itu pada Ferdi, agar tidak memberitahukan pada Arsya ataupun Rifa, karena Alan hanya ingin ini bisa di selesaikan oleh kedua sahabatnya.


"Kenapa kau tahu dia? sebenarnya seberapa jauh kau menyelidiki rahasia ini."Arsya memang sudah menyelidiki pada saat selesai menguburkan jasad Alan, dia menyuruh Dhafi untuk sedikit demi sedikit mencari tahu rahasia yang di maksudkan Alan, meski memang belum di ketahui siapa dalang yang sesungguhnya.


"Baru saja ku mulai." ucapnya singkat, dengan tatapan penuh misteri. Dhafi adalah detektif andalannya, meski sekarang memang sangat sulit, jadi Arsya juga ikut mencari dan menyelidiki secara diam-diam.


"Dia yang kau sebutkan adalah salah satu bawahannya yang masih sangat jauh untuk mengetahui yang sebenarnya."


"Apa kau tahu sesuatu tentang dia? apa kau juga termasuk bawahan dia untuk memata-matai Alan?." pertanyaan menohok yang langsung pada poinnya.


"Apa maksud pertanyaan mu? untuk apa aku berkhianat pada tuanku yang sudah banyak membantuku." elak Ferdi dengan tegas, meski ada ketakutan di matanya.


Arsya hanya tersenyum simpul dan kembali pada mode datarnya, tanpa menjawab perkataan Ferdi, Arsya keluar dari sana, dan menuju ke Lena serta keluarganya.


"Dafa aku ingin kau menghancurkan karier Lusi dan juga Lena di dunia hiburan, jangan sampai ada perusahaan manapun yang mau menerima mereka berdua." ucap Arsya yang tahu jika keduanya adalah model yang terus membintangi berbagai majalah dan iklan.


"Siap kak, aku akan lakukan sekarang." Dafa pun segera melaksanakan tugas kakaknya.


"Apa yang kamu lakukan hah? kenapa karier ku yang harus kau hancurkan... ? hah..... " marahnya dengan emosi yang meluap-luap.


"Ini semua karena mu kakak sialan, karena mu kami semua kena imbas, lihatlah dia juga menghancurkan karier ku." Lusi juga tak kalah emosi, akibat dari perbuatan kakaknya yang tidak berfikir panjang, mereka akhirnya jadi korban.


"Itu agar kalian bisa merasakan neraka."


"Tante mohon padamu Arsya, bebaskan lah tante." pintanya dengan memohon, tapi Arsya tidak menghiraukan, dia harus membalaskan sakit yahh di rasakan oleh Dinar.

__ADS_1


"Terus berikan mereka penderitaan, katakan ini pada leader kalian." Arsya pun berlalu pergi, dengan senyum menyeramkannya.


"Baik tuan."


__ADS_2