
Sudah lima hari Karla di rawat di rumah sakit, dan lima hari pula Dinar dan juga Katrin setia menemaninya, kini Karla sudah diperbolehkan pulang, namun masih harus beristirahat dengan cukup.
"Yey..... kakak pulang, akhirnya kita bisa main lagi." sorak gembira Katrin.
"Iya... nanti di temani main." jawab Karla dengan sedikit tersenyum. Dinar hanya meggelengkan kepalanya melihat keakraban keduanya, selesai berkemas mereka pun pulang menggunakan taksi.
Sesampainya di rumah Dania menyambut mereka, karena sedang dinas dia tak bisa menjemput mereka, mata Dinar membola di kala melihat ternyata sebelah Dania sudah berdiri seorang lelaki dengan gagahnya dan menampakkan senyum manisnya. Ya Kenzo juga ikut menyambut kedatangan mereka.
"Kenapa dia di sini?..... bikin badmood aja." batin Dinar dan menyembunyikan ketidaksukaannya.
"Wah si imut sudah pulang, aunty membuatkan makanan kesukaan kalian berdua." ucap Dania dengan semangat, Karla dan Katrin langsung masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan Kenzo, apalagi setelah Dania mengatakan jika dia membuat makanan kesukaan si kembar.
Karla dan Katrin langsung menuju meja makan, karena mereka sudah lama tak memakan makanan yang di buat Dania di karenakan akhir-akhir ini sibuk dengan dinasnya.
"Wah aunty buat sebanyak ini untuk kami?." tanya Katrin antusias. Bersamaan dengan itu Kenzo dan Dinar masuk, dan ikut bergabung bersama mereka.
"Iya ini kan kesukaan kalian, aunty buat spesial,dan nanti bisa di hangatkan untuk malam nanti. Jadi kalian bisa makan sepuasnya." jawabnya, Dania sengaja membuat bayak karena bisa di hangatkan, jadi Karla da Katrin bisa makan sepuasnya.
"Iya dong kan di sini gak ada." Karla ikut berbicara, di Jepang memang tak ada makanan yang di buat oleh Dania, karena dia memasak makanan Indonesia, yang baginya sedikit sulit di temukan di Jepang.
"Tuan Kenzo silahkan ikut kami makan siang, maaf hanya ini yang kami punya." ucap Dinar menawarkan makanan pada Kenzo, bagaimanapun juga Kenzo adalah tamu.
"Iya tak usah repot-repot, saya tidak keberatan makan di sini. " jawabnya santai, dia malah senang.
Mata Kenzo melihat jika menunya seperti asing baginya. Namun dia tak masalah dia akan mencoba makanan yang ada di hadapannya.
Karla dan Katrin sangat menyukai bubur kacang hijau buatan Dania, dan itu adalah makanan favorit mereka, perbedaannya adalah jika Karla hanya menyukai kacang hijau tanpa beras merah, sedangkan Katrin menyukai keduanya, jadi Dania membuatnya dengan beras merah yang di pisah agar Karla bisa memakannya.
Mereka makan dengan lahap, sedangkan Kenzo masih mencoba, kamu lidahnya ternyata cocok dia pun sedikit menyukai makanan tersebut, mereka makan bersama dengan bahagia.
Setelah selesai makan siang Karla dan Katrin langsung memasuki kamarnya, tak lupa Karla meminum obatnya. Sedangkan Kenzo memberikan sebuah hadiah untuk si kembar dan pamit pulang begitu juga dengan Dania. Dinar memasuki kamar kedua putrinya untuk membereskan pakaian Karla ke lemarinya.
Di lihatnya Katrin yang tertidur pulas di dekat Karla, Dinar tak menyangka bisa menajdi seorang ibu dia anak, tanpa suami dan dia masih takut untuk pulang ke negaranya, karena dia tahu pasti orangtua dan saudaranya akan menghukum dia karena Dinar pergi tanpa pamit. Seketika ingatannya berputar, mengingat kejadian beberapa tahun silam, dimana kebahagiakan nya sirna dan semuanya berubah semenjak kedatangan mereka.
Flashback On
__ADS_1
Beberapa tahun silam.....
"Ayah akan menikah lagi." ucap lelaki yang sudah hampir memasuki umur empat puluh. Dia sedang meminta izin pada putrinya.
"Apa?! tidak ayah.... kenapa ayah tega menikah lagi." kagetnya dia tak menyangka sang ayah akan melakukan hal itu pada ibunya, padahal kematiannya baru saja sebulan.
"Harus ada yang mengurus mu Dinar, ibumu sudah bahagia di sana, dan ayah akan sibuk, jadi ayah ingin ada yang membantu keperluanmu di rumah." jelasnya Abbas masih saja memaksa. Dinar berdiri dan menatap ayahnya penuh dengan kekecewaan.
"Aku bisa mengurus diriku sendiri ayah, Dinar sudah besar dan Dinar hanya butuh ayah disisiku." Dinar tetap menentang permintaan ayahnya.
"Terserah tapi ayah akan tetap menikah lagi, agar ada yang merawat semua kebutuhan hidup di keluarga ini." Abbas tetap kekeuh, dan dia tak peduli dengan ketidaksetujuan putrinya.
"Ayah tega melakukan itu padaku dan juga ibu, kenapa ayah jadi berubah?." isaknya, air mata Dinar sudah mengalir. Abbas tidak memperdulikan tangis Dinar dan pergi begitu saja. Dia benar-benar berubah tidak seperti pada saat istrinya masih hidup, kini dia lebih sering terdiam dan melamun, dan tidak memikirkan Dinar, hanya saja dia masih membiayai kehidupan putrinya.
Tangis Dinar semakin menjadi, dan pada hari itu keluarga Dinar menjadi berantakan, ayahnya benar-benar menikah lagi, dan ibu tirinya mempunyai anak muda perempuan dua, yang umurnya satu tahun lebih tua darinya. Namun yang membuat muak Dinar adalah ibu tirinya selalu menyiksa bahkan Dinar di jadikan pembantu oleh mereka bertiga, ayahnya selalu menyayangi anak tirinya dan mengabaikan Dinar.
"Dinar..... " panggil ibu tirinya dengan keras. Dinar segera menghadap ibu tiri.
"Iya ada apa bu.... "
Dan yang paling di benci adalah hal itu, kedua saudara tirinya baru kembali dari shopping, mereka selalu menghabiskan uang Abbas untuk bersenang-senang, dan tak pernah memperdulikan perasaan Dinar, begitu juga sang ayah. Abbas lebih mempercayai anak tirinya di bandingkan dengan Dinar. Terkadang Dinar menangis di keheningan malam dengan kesendirian nya. Pada waktu itu dia masih menginjak sekolah menengah atas.
Dan yang lebih memprihatinkan adalah dia di tempatkan di kamar bekas pembantu, dan dengan teganya sang ayah sengaja memecat pelayan dan menjadikan Dinar sebagai pelayan di rumahnya sendiri. Dinar sudah selesai menyiapkan maka siang dan memanggil mereka bertiga untuk makan.
"Bu makanannya sudah siap. " mereka pun langsung menuju meja makan, terlihatlah masakan sop da ayam goreng. Dinar menunggu mereka makan sambil berdiri, Dinar juga di larang ikut makan di meja makan.
"Heh ini sop apaan rasanya gak enak." ucap salah satu saudara tirinya, dan memuntahkan makanan nya.
"Heh babu gak bisa masak yang lebih enak apa?." bentak satunya lagi sambil mengumpat nya.
"Maafkan saya.... tapi itu
saya sudah coba dan rasanya enak kok." jelas Dinar sambil menunduk, ucapan saudara tirinya begitu menusuk merka bahkan menyebut Dinar babu.
"Maaf.... maaf gak ada." sang ibu pun ikut membela kejahatan kedua anaknya, memang benar kata pepatah buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya, yang berarti sifat buruk ibunya menurun pada keduanya.
__ADS_1
Karena kesal melihat Dinar dengan tetelan ketidaksukaannya ibu tirinya mengambil mangkok berisi sop yang masih panas dan...
Byurr.....
Dengan sengaja dia menumpahkan sop tersebut kepada Dinar, dan mengenai tangan dan juga kakinya. Sontak Dinar menjerit keras.
"Aaaaaa... panas... panas... " teriaknya karena merasakan panas di tangan dan kakinya, dia hampir emnegekyarkan air mata karena saking sakitnya, bagaiamana tidak air panas ketika terkena kulit pasti akan merasakan sakit kuar biasa. Seketika tangan dan kakinya memerah dan sedikit melepuh, mungkin efeknya akan terasa nanti.
Dinar pun berlari ke kamar mandi untuk segera menyiramnya dengan air dingin dan harus segera di obati, setelah mendinginkan dengan air yang dingin Dinar langsung memberinya pasta gigi agar tidak terlalu sakit. Sedang mkan mereka tertawa penuh kemengan.
"Mamah the best.... biar di tau rasa tuh babu." ucapnya dengan nada mengejek.
"Iya biar nggak seenaknya, biar dia kapok." tambah satunya, dengan masih tertawa.
"Iya dong anak kaya dia harus di beri pelajaran, kita akan terus menyiksanya sampai dia memutuskan pergi sendiri dari mansion ini." Mereka tak sabar melihat Dinar angkat kaki dari mansion besar, yang kini mereka kuasai.
"Setuju tuh.... aku jiha pengin dia cepat pergi, muak liat wajahnya. "mereka terus saja menjelekkan Dinar.
"Aku juga sama udah jelek, babu lagi hahaha..... " mereka tak henti-hentinya mencerca Dinar.
Sebulan berlalu mereka terus menyiksa Dinar, bahkan Abbas sudah berani mengangkat tangan padanya, hati Dinar sudah sangat sakit mendapat perlakuan kasar dari mereka semua. Siksaan, cercaan selalu keluar dari mulut mereka.
Trang......
Suara pecahan vas terdengar sangat nyaring di telinga semua orang di mansion itu. Semua berlari untuk melihat apa yang terjadi. Mata Abbas membelalak melihat vas kesayangannya hancur. Dengan wajah yang penuh amarah dia menghampiri Dinar, sementara ketiga yang lainnya hanya memperhatikan Dinar dengan senang, tanpa kasihan sedikitpun.
"Dasar tidak becus..... ayah selalu memberimu uang apa itu tidak cukup hah?! dan lihat vas kesayangan ayah pecah... apa kau mempunyai ganti rugi hah?! ini vas mahal apa kau tahu." bentak Abbas dengan suara yang menggelegar.
Dinar hanya diam, ini adalah kesekian kali ayahnya membentak dengan suara penuh kemarahan dan kebencian. Hati Dinar bagai di tusuk ribuan pedang sang ayah benar-benar berubah drastis akibat menikahi wanita serakah seperti ibu tirinya, di tambah dengan saudara tirinya yang selalu bagaikan lintah, yang tak tahu malunya merebut semua yang Dinar punya.
Jangan lupa tinggalkan jejak dan bantu dukungan untuk karyaku dengan memberi like, comment dan vote agar semangat upnya😊☺🙏🙏
Don't forget guys☺☺
ikuti kisah nya terus dan terima kasih sudah meluangkan waktu untuk mampir ke karyaku😊☺🙏🙏
__ADS_1