Putri Kembar Sang Psychopath

Putri Kembar Sang Psychopath
63-Renggangnya Ikatan


__ADS_3

Masih Flashback....


Seminggu berlalu


Setelah kejadian itu Arsya benar-benar merubah dirinya menjadi lebih pendiam dan tidak banyak bicara, dan itu membuat Alan dan juga Rifa bingung, pasalnya Arsya tidak pernah seperti itu.


Ini adalah awal perubahan sikap Arsya, dia menepati ucapannya, dia menjadi lebih dingin dan tidak peduli meski itu pada kedua sahabat nya. Rifa masih belum tahu menahu bahwa Arsya telah di perintah untuk membunuh, begitu juga dengan Alan yang masih belum tahu jika ayahnya sudah tiada untuk selamanya.


Namun ini juga awal dari renggang nya hubungan persahabatan mereka, Arsya jadi lebih menyukai kesendirian, sementara Rifa dan Alan masih belum berani untuk berbicara, karena dilihat dari sikapnya saat ini, mereka dengan untuk bertanya.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Arsya? kenapa akhir-akhir ini sikapnya membuat kita tak bisa seakrab dulu.... " ungkap Alan membuka suara.


"Benar ada yang aneh dari dia sekarang.... dan ini terjadi setelah seminggu pada saat dia sedang berkepentingan dengan keluarganya." Rifa juga tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi dengan keluarga Arsya.


"Atau mungkin sedang ada masalah dengan keluarga nya? pasti kamu tahu sesuatu kan Fa?." tanya nya.


"Entahlah aku belum menemuinya, nanti akan aku tanyakan pada dia."Rifa akan bertanya jika dia berkunjung ke rumah Arsya.


"Baiklah... semoga itu bukan hal buruk." Alan harap tidak terjadi sesuatu hal buruk atau hal yang membuat mereka menjadi jauh.


Bel sekolah pun berbunyi tanda kelas telah selesai, semua siswa berhamburan pulang, hari ini Rifa tidak mampir ke rumah Alan, sedangkan Alan sendiri juga akan pergi karena ada keperluan mendadak. Di parkiran Rifa melihat Arsya yang akan pulang menggunakan mobilnya, dia berlari ke arah Arsya.


"Sya..... " panggilnya, membuat Arsya terhenti.


"Sya aku mau bicara hal penting sama kamu. " ajak Rifa, dia sudah sangat penasaran dengan perubahan sikap Arsya.


"Ok nanti ke mansion saja. " jawabnya dingin dengan tanpa ekspresi di wajahnya, dia langsung memasuki mobil dan melesat keluar parkiran tanpa memperdulikan Rifa.


"What..? dingin banget tuh bocah, sebenarnya ada apa sama kamu Sya.... sial makin rumit saja." kesal Rifa, karena Arsya meninggalkannya begitu saja. Rifa juga bergegas pergi menggunakan motornya.


Selang beberapa menit sampailah Arsya di pelataran mansion megah milik keluarga Azhar, Arsya memang belum pindah dari sana, dia juga sedang mempersiapkan diri untuk pindah dari mansion utama, karena dia ingin lebih memenangkan pikiran, meski kejadian kemarin adalah pertama kali baginya, dan dia tidak membenci ayahnya yang menyuruh melakukan hal tersebut, karena dia tahu jika itu adalah salah satu pekerjaan dari keluarga nya.


Tak lama datanglah Rifa dengan motor sport nya, Rifa langsung masuk mansion begitu saja, dan itu sudah biasa dia lakukan, karena Rifa sudah di anggap keluarga dan bahkan mereka sudah sangat dekat satu sama lain, terkadang jika weekend keluarga Rifa akan kesana, terlebih ayah Rifa dan juga Arsya bekerjasama salah perusahaan.


"Sore tante.... "sapa Rifa karena melihat Haya ada di ruang keluarga sedang menikmati teh nya.


"Eh Rifa sayang.... kamu dateng."Haya langsung berdiri melihat kedatangan Rifa, Rifa menyalami tangan Haya.

__ADS_1


"Iya tan.... Rifa mau mampir sebentar, mau main soalnya jenuh di rumah." jelas Rifa sambil tersenyum manis.


"Oh gitu... gimana kabar mamah? sudah lama belum ketemu orang tua kamu lagi."sudah sekitar sebulan keluarga Rifa belum berkunjung lagi ke mansion, dan itu membuat Haya rindu.


"Mamah sama papah masih dinas keluar kota tan mungkin bulan depan baru bisa pulang, soalnya lumayan sibuk." Rifa tahu jika kedua orang tua nya sangat sibuk, dan sudah sebulan orang tua nya pergi dinas keluar kota.


"Wah berarti sekarang Rifa sedang belajar mandiri ya... udu anak tante ini manis banget, ya sudah nginep saja di sini nanti tante yang minta izin sama mamah kamu." Haya memang sering melihat Rifa yang selalu di tinggal dinas oleh orang tuanya, tapi Rifa menjadi sosok anak laki-laki yang lebih berfikir dewasa, namun terkadang Rifa seperti kekurangan perhatian, jadi Haya hanya ingin memberikan perhatian pada Rifa dan memperlakukan dia layaknya seorang putra.


"Iya nih belajar mandiri lagi, tapi emang sekarang Rifa udah makin gede juga yang pasti ganteng kan tan." ujar Rifa dengan tersenyum bangga.


"Iya itu sudah pasti. Oh ya tante mau kasih tahu sebentar lagi Arsya akan pindah mansion, dia sudah tidak sabar ingin punya tempat tinggal sendiri." ucapnya membuat Rifa diam, dia tahu Arsya akan pindah dari mansion utama dan berpindah ke mansion baru miliknya.


"Ohh benarkah tan? aku baru tahu kalau Arsya akan pindah.... "


"Ya sudah tante Rifa mau nemuin Arsya dulu." Haya mengangguk dan mempersilahkan Rifa pergi. Rifa menaiki anak tangga, hatinya tidak berhenti berfikir sebenarnya ada apa dengan Arsya sehingga dia meminta pindah dari mansion orang tuanya. Sampailah dia di ambang pintu kamar milik Arsya.


Tok..... tok... tok....


"Masuk saja." singkat Arsya, Rifa membuka pintu dan memasuki kamar Arsya, kamar dengan nuansa gelap dan luas, dengan gaya dekor galaksi dan berbagai macam tata surya lainnya. Arsya sedang sibuk membereskan barang-batang miliknya.


"Hmm.... " Rifa mendudukkan diri di sofa kamar Arsya, memang benar ada yang berbeda dari Arsya sekarang.


"Apa benar kamu akan pindah mansion?." tanya Rifa basa-basi, sebelum dia menanyakan hal lainnya.


"Iya.... " singkatnya, Arsya masih fokus dengan barang-barang miliknya.


"Apakah ada alasan tertentu? yang membuatmu ingin pindah?." tanya Rifa lagi, membuat Arsya berhenti dari kegiatannya. Arsya menoleh hingga kini mereka bertatapan.


"Mungkin kamu tidak akan percaya dengan alasanku." jawabnya, dengan mimik wajah dinginnya, membuat Rifa berfikir sebenarnya apa maksud penjelasan Arsya itu.


"Aku tahu kamu kesini untuk memastikan perubahan ku bukan?." lanjut Arsya, dan itu memang pertanyaan yang ingin Rifa katakan kepada Arsya.


"Memangnya apa yang membuatmu berubah? aku tahu kamu dari kecil Sya, karena aku sudah mengenalmu lama, perubahan sedikit saja yang ada padamu aku pasti merasakan." Rifa sangat penasaran dengan perubahan Arsya, dan hari ini dia di buat semakin penasaran dengan kepindahan Arsya dari mansion keluarga besarnya.


Arsya tersenyum tipis, menampakan jiwa yang selama ini dia sembunyikan, darah keturunan pembunuh yang selama ini dia rahasiakan, bahkan kepada sahabat masa kecilnya. Dia berdiri dan berjalan mendekat ke sofa dimana Rifa duduk.


"Aku sudah membunuh... " bisikan tajam dengan senyum iblisnya, namun terasa sangat halus menerpa daun telinganya, membuat bulu kuduk nya berdiri seketika. Rifa seketika berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan? membunuh? siapa yang kamu bunuh Sya?." kaget Rifa, dia menatap tidak percaya dengan apa yang telah di katakan Arsya. Arsya hanya menatap santai Rifa yang sudah di banjiri keringat dingin.


"Iya aku telah membunuh.... bukanya kamu tahu sebenarnya keluargaku?." Rifa memutar pertanyaan Arsya di pikiranya, ayahnya memang pernah bilang jika keturunan Azhar adalah keluarga pembunuh, karena salah satu nenek moyang keluarga tersebut adalah seorang pembunuh, dan harus di turunkan secara turun temurun. Dan saat ini Arsya lah sang psychopath itu, dia bersedia menjadi pembunuh demi keamanan keluarga nya.


Namun ada alasan di balik keluarga pembunuh ini, seperti halnya pengkhianat atau orang-orang yang membahayakan keluarga Azhar maka akan di eksekusi, jadi jika ada yang berkhianat maka tidak akan ada ampun.


"Jadi kamu yang selanjutnya meneruskan hal ini?." Rifa terkejut bukan main, ternyata Arsya memilih menjadi pembunuh di keluarganya.


"Iya aku telah memilih jalan itu." jawabnya membuat Rifa frustasi. Rifa menghembuskan nafas nya dengan kasar.


"Lalu korban siapa yang pertama?." tanya Rifa dengan serius. Rifa tahu pasti akan ada korban pertama yang akan membuat Arsya menjadi psychopath. Arsya terdiam, dengan menatap Rifa bibirnya mulai mengatakan sesuatu.


"Ayah Alan..... " bagaikan sambaran petir tingkat tinggi mengenai jantung Rifa.


"Apa kamu bilang? ayah Alan? apa aku tidak salah dengar?." Rifa menatapnya dengan tatapan ketidakpercayaan bercampur dengan kekecewaan.


"Iya aku telah membunuhnya, dia berkhianat dengan keluargaku, ayah meminta ku untuk mengeksekusi dia dari keluarga Azhar." jelasnya, namun dengan cepat Rifa menarik kerah baju Arsya dengan amarah yang sudah membara.


"Kau gila Sya.... kenapa kau menyalakan api sebesar ledakan, apa kau tahu akibat dari ini semua hahhh!!.... kau telah menyalakan permusuhan dan dendam dalam persahabatan ini." sentak Rifa, dia tak tahu jika pada akhirnya persahabatan mereka akan menjadi dendam dan permusuhan.


"Heh.... iya aku gila, karena dia telah merusak kepercayaan ayah dan juga keluarga ini." ucapnya dengan senyum smirk nya membuat Rifa semakin muak. Rifa melepas kerah baku Arsya dan mendorongnya dengan kuat hingga mengenai tembok. Kamar Arsya adalah kamar yang kedap suara jadi siapapun tidak akan bisa mendengar perdebatan mereka.


"Sadarlah ini bukan jalan terbaik yang harus diambil, dia telah meracuni pikiranmu, persetan dengan keluarga pembunuh, aku tidak akan membiarkan kau terjerumus lebih dalam lagi." Suara nya semakin kasar dan meninggi, namun Arsya masih bersikap santai.


"Kau tidak akan bisa menghentikan ku... coba saja kalau kau bisa." remehnya membuat Rifa semakin marah. Perdebatan itu menjadi pemicu utama kekesalan Rifa, karena Arsya mengambil jalan kotor.


"Akan aku buktikan brengsek...... " umpatnya kasar sebelum dia beranjak pergi, Rifa membanting pintu kamar Arsya kasar membuat Haya terkejut, dia menuruni tangga dan dengan raut wajah merah padam menahan emosi, membuat Haya khawatir.


"Ada apa nak? ." tanya Haya khawatir.


"Tan Rifa pamit, Rifa tidak jadi menginap, ya sudah tan Rifa pulang." Rifa menyalami Haya dan langsung pergi dari mansion besar itu. Haya menatap punggung Rifa dengan persaan khawatir, karena tidak biasanya Arsya dan Rifa bertengkar.


Sementara Arsya seakan tidak peduli dengan apa yang mau Rifa lakukan, dia melanjutkan aktivitas nya dan segera bersiap untuk kepindahannya ke mansion pribadi miliknya.


Haya bertanya tentang kepergian Rifa dengan menahan amarah, namun Arsya hanya menjawab hal itu tidak usah mamah pikirkan, karena itu sudah biasa diantara laki-laki, Haya pun percaya, mungkin karena memang di usia mereka ini mereka masih labil, dan belum bisa mengontrol dengan baik.


Flashback Off

__ADS_1


__ADS_2