Putri Kembar Sang Psychopath

Putri Kembar Sang Psychopath
56-Pilu


__ADS_3

Dinar sudah tidak sadarkan diri, Aryan membawa Abbas ke ruang sakit untuk benar-benar memastikan kalau dia sudah tidak ada. Arsya membawa Dinar ke mansion pribadi nya, di sangat khawatir dengan keadaan Dinar, dia yakin jika Dinar sangat shock dengan keadaan sang ayah, hingga dia tidak sadarkan diri.


Para pelayan membantu melepas gaun pengantin Dinar dan menggantinya, juga membantu membersihkan noda darah yang masih menempel. Dinar terbaring dengan wajah yang masih pucat, membuat Arsya semakin sakit melihat keadaan wanita yang baru saja dia nikahi.


"Sadarlah sayang.... jangan buat aku khawatir, aku tahu kamu pasti kuat." Arsya menggenggam erat tangan mulus Dinar, berharap segara sadar.


Dia mengambil ponsel di sakunya untuk menghubungi Aryan, memastikan jika Abbas benar-benar meninggal.


"Bagaimana? apa dia benar-benar sudah tidak bisa di selamat kan?."tanya Arsya dengan serius.


"Maaf tuan, tuan Abbas tidak bisa di selamatkan akibat dari tusukkan yang cukup dalam hingga mengenai organ." jelas Aryan, Abbas sudah benar-benar meninggal dunia.


Arsya menghela nafas panjang, Dinar pasti akan sangat sedih, di hari bahagia nya Dinar malah mendapat hal pilu yang sangat mendalam. Arsya tidak bisa melihat keadaan Dinar nantinya setelah tahu ayahnya benar-benar pergi untuk selamanya.


"Baiklah bawa jasadnya ke mansion pribadiku, kita akan urus pemakanan nya secara layak." Arsya mengakhiri panggilan telponnya. Dia kembali menatap Dinar yang masih belum sadar.


"Maafkan aku sayang.... aku tidak bisa melindungi yang kamu sayangi, maafkan akuu."Arsya merasa bersalah karena tidak bisa menjaga keluarga dari istrinya.


"Biar aku perlihatkan neraka yang sebenarnya, karena kalian telah mengusik ketenangan ku dan juga keluargaku." Geram Arsya, dia sudah muak selalu ada yang mengusiknya.


Arsya pun memberitahu semua keluarganya untuk bersiap-siap memberi penghormatan terakhir untuk ayah Dinar, meski banyak yang membencinya karena perlakuan nya dulu pada Dinar, tapi bagaimanapun juga dia tetap mertuanya. Dinar juga sudah memaafkannya, dan Arsya tidak bisa melakukan hal itu jika istrinya sudah dengan tulus memaafkan ayahnya.


Mansion utama sedang di bereskan, kejadian tadi akhirnya berakhir dengan gagal total, sungguh miris di hari bahagia nya malah terjadi musibah. Devan sudah memerintahkan bawahannya untuk segera membereskannya, jadi semantara waktu mereka tinggal di mansion pribadi Asfi. Sementara jasad Abbas sedang dalam perjalanan menuju mansion pribadi Arsya.


Sementara Dafa dan Karla sudah berhasil membekap mereka semua termasuk Lena, tinggal Dafa yang mengurus sisanya, semua pelaku dibawa ke markas mafianya begitu juga dengan Lena, karena pasti Arsya akan bertindak setelah perlakuan mereka yang telah mengusik ketenangan keluarga Azhar.


"Kita pergi ke apartemen uncle, Karla harus mengganti pakaian, karena semua keluarga sudah berada di mansion daddy mu." Ucap Dafa, dia juga sudah mendapat telpon dari Arsya. Karla mengangguk paham, sebelum ke apartemen Dafa juga mengajak nya membeli pakaian, karena Karla tidak membawa baju ganti lagi.


Dafa dan Karla pun bergegas pergi. Setelah selesai membelikan Karla pakaian, mereka pun meluncur menuju apartemen untuk membersihkan tubuh mereka sehabis baku hantam tadi.


"Uncle apa kakek benar meninggal?."tanya Karla yang sedang menunggu Dafa selesai menggunakan dasinya. Dafa terdiam sejenak dia memperhatikan Karla dan tersenyum lembut.

__ADS_1


"Karla jangan bersedih yaa.... kakek pasti bahagia disana kita doakan saja agar kakekmu tenang." ucap Dafa dan mengelus lembut rambut Karla. Karla mengangguk mengerti, meski dia belum pernah tahu ayah dari sang bunda, dan bahkan belum mengenalnya.


Dafa dan Karla sudah selesai, mereka bersiap ke mansion Arsya. Setelah lima belas menit akhirnya Dafa dan Karla tiba di sana, para keluarga sudah berkumpul disana, termasuk ibu dan saudara tiri Dinar yang satunya, karena Lena tidak akan di biarkan bebas oleh Dafa.


Semua menggunakan pakaian serba hitam karena untuk menghormati hari terakhir Abbas sebelum di semayamkan ke tanah. Dinar sudah sadar, namun wajahnya sangat pucat bahkan terlihat putus asa, matanya menatap kosong dengan air mata yang di biarkan melucur terus menerus di pipi indahnya.


Karla menghampiri Katrin yang sudah berada di dekat Bunda dan Daddy mereka. Arsya memasang wajah dinginnya seakan ada sesuatu hal yang sedang dia rencanakan.


"Kakak.... " panggil Katrin dan langsung menggandeng tangan Karla. Karla melihat Katrin yang juga bersedih, Karla mengelus kepala sangat adik.


"Aku baik -baik saja, kamu jangan bersedih, kakek pasti bahagia disana." ucap Karla dengan tersenyum, Katrin mengangguk.


Semua sudah di persiapkan, dan jasad Abbas sudah selesai di urus, kini tinggal di bawa ke pemakaman untuk di semayamkan, Dinar berjalan lemah seakan tidak berpijak pada tanah, Arsya terus menuntun Dinar hingga ke pemakaman, Arsya tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada sang istri.


Jasad Abbas di semayamkan ke dalam tanah bersamaan dengan tangis Dinar yang menyakitkan, pilu rasanya baru saja dia melihat kembali sang ayah, kini dia harus rela dan ikhlas melihat kepergian ayahnya, sungguh memang tidak adil.


Karena Dinar tidak kuat melihat pemakaman Abbas, tubuhnya lunglai Dinar terjatuh, namun Arsya sudah menangkapnya terlebih dahulu.


"Bunda... " teriak Katrin melihat Dinar yang tak sadarkan diri.


"Iya kak, kasihan kak Dinar." Dafa juga mengkhawatirkan Dinar. Arsya membopong tubuh Dinar, dia juga sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya, dengan cepat dia membawa Dinar ke mobil.


"Aku titip si kembar." ucapnya sebelum beranjak pergi.


"Iya kak." jawab Dafa.


Satu jam kemudian.....


Jasad Abbas sudah selesai di kebumikan, mereka semua menabur bunga di atas pemakan Abbas yang masih basah. Setelah selesai mereka meninggalkan pemakaman, Dafa membawa Karla dan Katrin dan mengantarkan mereka ke mansion kakaknya.


"Uncle apakah bunda akan baik-baik saja?." tanya Katrin, dia masih memikirkan bundanya.

__ADS_1


"Bunda kalian pasti baik-baik saja, jadi jangan bersedih yaa."Dafa berusaha menenangkan Katrin.


Katrin hanya mengangguk, beberapa saat kemudian sampilah mereka di pelataran mansion Arsya yang megah dan mewah. Karla dan Katrin turun bersama, mereka memasuki mansion dan langsung menuju kamar bunda mereka.


"Dad.... " panggil Katrin dan berlari untuk menghampiri Arsya yang masih setia menunggu di samping Dinar yang belum sadar.


Karla berjalan pelan menyusul Katrin, dia juga khawatir dengan bunda nya. Arsya tersenyum melihat kedua putri kembarnya, akhirnya keluarga mereka sudah bersatu setelah sekian lama.


"Apa bunda akan baik-baik saja dad?." tanya Katrin dengan wajahnya khawatir nya.


"Bunda tidak papa sayang, bunda hanya perlu istirahat, jadi jangan khawatir yaa." ucap Arsya sambil mengelus kepala sang putri.


"Dad wanita yang menusuk kakek sudah uncle Dafa amankan, apakah dia masih saudara bunda?." Tiba-tiba saja dia teringat Lena yang tadi menusuk sang kakek dan membuat bunda nya jadi shock, sebenarnya Karla ingin sekali menghajar Lena, tapi Dafa meparangnya karena ini akan di urus olehnya dan juga daddynya.


"Ohh iyaa itu saudara tiri bunda kalian, daddy yang akan mengurus itu, jadi kamu tidak usah khawatir sayang." jelas Arsya dia bisa melihat kebencuan yang besar di mata Karla.


"Aku hanya khawatir pada bunda, karena dia bunda jadi seperti ini, jangan biarkan dia dan keluarga nya hidup tenang Dad..... " Ungkap Karla, dia tidak bisa menyembunyikan kekesalannya kepada saudara dari bunda nya itu, dia ingin hidup mereka yang menyakiti bunda nya sengsara. Katrin juga berfikir hal yang sama, ternyata keluarga bunda nya sejahat itu pada bunda mereka.


"Iya sayang.... daddy pastikan mereka akan mempertanggung jawabkan apa yang mereka lakukan pada bunda kalian. " Arsya juga tidak akan membiarkan mereka hidup tenang.


"Ya sudah daddy ingin berbicara pada uncle Dafa, kalian di sini jaga bunda ok."


"Ok dad..... " ucap mereka bersamaan.


Arsya mencari keberadaan Dafa, yang ternyata sedang bersantai di rooftop atas dengan minuman soda dan juga cemilannya. Dia melihat kakaknya yang memasang wajah dingin seperti biasa, tadi dia melihat fenomena yang tidak bisa dia lihat di wajahnya sang kakak.


"Gimana keadaan kakak ipar?." tanya Dafa basa-basi, agar tidak terlalu datar.


"Dia baik... " singkat nya, membuat Dafa menarik nafas.


"Huft..... syukurlah kalau begitu." Dafa kembali meminum sodanya. Berbicara pada orang yang dingin akan percuma karena pasti hanya jawaban singkat yang dia lontarkan.

__ADS_1


"Ikut ke besment ada yang ingin aku bicarakan denganmu." tanpa basa-basi Arsya menyuruhnya, dia sudah tahu Arsya pasti akan melakukannya. Setelah mengatakan hal itu dia langsung beranjak pergi.


"Ok kak."Dafa tahu kakaknya tidak akan tinggal diam setelah melihat kejadian hari ini. Apalagi membuat orang yang di cintainya di sakiti.


__ADS_2