Putri Kembar Sang Psychopath

Putri Kembar Sang Psychopath
38 Hentai (mesum)


__ADS_3

Sesampainya di mansion tepat pukul sembilan malam, Arsya masuk ke dalam dan melihat suasana terlihat sepi, bahkan di ruang makan masih tersaji makan malam yang belum tersentuh. Arsya pun langsung menuju kamar Karla dan Katrin, pasti kedua putrinya sedang menunggunya.


Benar saja kedua putrinya sedang menunggu kepulangan sang ayah, mereka menunggu sambil bermain di kamar. Arsya membuka pintu dan terlihatlah kedua permata hatinya sedang bermain dengan gembira walaupun wajah Karla sangatlah datar. Katrin mendengar pintu terbuka dia menoleh ke pintu dan ternyata Arsya sudah berdiri di ambang pintu.


"Daddy..... " panggil Katrin dan langsung berlari menuju ayahnya, Dinar dan Karla menoleh melihat kedatangan Arsya.


Arsya menangkap tubuh kecil Katrin dan menggendongnya, dia tersenyum sumringah melihat Katrin yang sangat manis. Arsya menyentuh hidung kecil Katrin.


"Hai putri cantik daddy.... " ucapnya dengan gemas.


"Kakak ayo sini.... apakah kakak tidak rindu daddy?." panggil Katrin ketika melihat tak ada pergerakan dari Karla, dia hanya melihat saudara kembarnya hanya berdiri tanpa berniat mendekat pada Arsya.


Tanpa menjawab Katrin, Karla menuju mereka dengan masih berwajah datar, Arsya yang melihat wajah Karla membuat dia teringat akan sifatnya, dia hanya menggelengkan kepalanya melihat sifatnya sangat mirip dengannya.


"Daddy dari mana saja? kami menunggumu dad... " Katrin sangat merindukan Arsya tadinya mereka ingin berkeliling melihat rumah baru mereka, tapi karena tidak ada Arsya jadi mereka memilih menunggu sampai daddynya pulang.


"Iya kemana saja dad?." kini Karla juga ikut berbicara, dia juga rindu di tinggal ayahnya, namun tidak terlalu menampakkan nya. Baru saja Arsya tinggal sebentar mereka sudah rindu.


Arsya menurunkan Katrin dan menjajarkannya dengan Karla sehingga mereka bersebelahan. Arsya menekuk kakinya dan berlutut mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh kecil kedua permata nya.


"Sayang maafkan daddy ok.... tadi ada keperluan sebentar jadi daddy keluar untuk menyelesaikannya." jelas Arsya sambil tersenyum, kedua putrinya sangatlah imut dan cantik membuat Arsya tak henti menatap wajah mereka bergantian.


"Oh jadi begitu... " Namun tiba-tiba saja terdengar suara perut dari Katrin, membuat Arsya menatapnya dan langsung tersenyum.


"Wah anak daddy belum makan rupanya." Katrin hanya tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya.


"Eee.... iya dad... kami sangatlah lapar karena menunggumu pulang." Ucap Katrin dengan suara khas anak kecil.


"Baik ayo kita makan bersama sekarang.... " ajak Arsya, mereka pun keluar dari kamar dan menuju meja makan, Dinar tak banyak berkomentar dan memilih diam.


Mereka makan bersama di meja makan, sudah sangat terlihat keluarga yang harmonis dan bahagia, mereka makan sambil mendengar celoteh Katrin yang tidak hentinya memuji makanan yang sangat berbeda dari di Jepang dulu. Mereka tertawa bersama sesekali melihat wajah datar Karla yang membuat Katrin kesal.


Arsya sangat bahagia dan berharap keluarga kecilnya bisa di bangun dari awal, yaitu dengan menikahi Dinar, hatinya sudah menetapkan bahwa Dinar lah yang akan menjadi pendamping nya. Selesai makan mereka sedikit bersantai dan tepat pukul sepuluh malam Dinar mengantarkan kedua putrinya ke kamar untuk istirahat.


Dinar keluar dari kamar si kembar setelah mereka tertidur, ternyata Arsya sudah menunggunya di luar sambil menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan dengan tangan yang bersidekap dada.

__ADS_1


"Kenapa menatapku seperti itu?." tanya Dinar dengan nada ketusnya.


"Bukan apa-apa hanya ingin saja." jawabnya santai sambil berjalan kearah Dinar.


"Ada hal penting yang mau aku bicarakan denganmu." Ucapnya langsung tepat di depan wajahnya membuat Dinar kesal.


"Tidak usah terlalu dekat, sekarang bicara saja di sini." cegah Dinar agar Arsya tak lebih mendekatkan dirinya. Arsya tersenyum tipis melihat kegugupan di wajah cantik Dinar.


"Ikut denganku." Arsya langsung menarik tangan Dinar dan membawa ke rumah kerjanya, karena hal penting ini menyangkut kedua nama mereka.


"Lepaskan tanganku... " Dinar berusaha melepaskan tangannya karena dia merasa tak nyaman dengan apa yang di lakukan Arsya. Arsya pun melepaskan tangan Dinar, kini mereka sudah sampai di ruang kerja Arsya.


Arsya menundukkan dirinya di kursi kerjanya, Dinar masih berdiri dan malah terdiam membuat Arsya geleng-geleng kepala, wanitanya adalah wanita yahh sulit untuk dia taklukan karena sifat keras kepalanya di tambah dia bukanlah wanita yang mudah untuk di bujuk.


"Sampai kapan kamu akan berdiri? duduklah karena pembicaraan ini akan sedikit panjang." Arsya pun menyuruh Dinar untuk duduk dahulu, kelakuan Dinar memperlihatkan jika dia tak mau berlama-lama berduaan di sana.


Dengan kesal dia menarik kursi di depan meja kerja Arsya sehingga posisi mereka kini berhadap-hadapan. Dia mendudukkan dirinya, terlihat jelas wajah kesal Dinar, dia mengerucutkan bibirnya, tapi tidak menghilangkan paras ayu dan naturalnya yang tanpa make up, membuat Arsya menatapnya tanpa berkedip.


"Ekhemmm." dehem Dinar karena sejak tadi Arsya hanya menatapnya tanpa berkedip.


"Ee...maaf." Arsya menjadi salah tingkah karena terpergok menatap Dinar.


"Baiklah santai saja.... ini adalah masalah Karla dan Katrin." Arsya membuka pembicaraan.


"Memangnya ada apa dengan mereka?. " tanyanya.


"Mereka sudah aku pindahkan sekolah, dan besok mereka sudah bisa bersekolah, karena mereka tak akan pergi kemanapun." ucapnya.


"Ohh masalah sekolah.... jadi kamu sudah memindahkan mereka untuk bersekolah di sini? baiklah itu bukan masalah toh mereka akan tetap disini." Dinar tidak keberatan mereka pindah kemari, dia juga bersyukur karena Arsya masih memikirkan kedua putrinya.


"Baguslah jika kamu tidak keberatan.... itu akan mempermudah masalah kita cepat selesai, jadi tetaplah menurut seperti ini." Arsya labih menyukai Dinar yang menurut.


"Tapi ingatlah aku menurut karena ini demi masa depan kedua putriku.... jadi jangan harap jika untuk membujuk ku menikah denganmu." Dinar bisa menebak arah pembicaraan Arsya yang ingin memanfaatkan nya karena dia menurut.


"Percaya diri sekali dirimu..... aku hanya suka jika kamu tidak bersikap keras kepala dan egois." Dinar bertambah kesal dengan penuturan Arsya.

__ADS_1


"Aku juga tak berharap bisa menikah dengan lelaki seperti mu.... " sewot Dinar, dia juga tidak berharap menikah hanya karena ada anak diantara mereka. Arsya mengutuk dirinya mengatakan hal yang malah membuat Dinar semakin sulit untuk di bujuk.


"Dasar bodoh..... kenapa mengatakan hal itu.... " batin Arsya mengomel pada kebodohannya.


"Terserah kamu saja..... " Tak mau memperpanjang ucapannya tadi Arsya memilih untuk tidak meneruskan perdebatan nya.


Dinar pun bangkit dari duduknya berniat pergi, namun dekat cepat Arsya bangkit dari duduk dan langsung mencekal lengan Dinar membuat Dinar tidak meneruskan langkahnya. Dinar yang tidak suka di sentuh dia berusaha melepaskan tangan Arsya, namun Arsya sangat kuat mencari lengannya.


"Heh lepaskan..... jangan sentuh aku... " Dinar berusaha, tapi Arsya tidak menghiraukan nya. Dia malah mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Dinar. Dinar merasakan hembusan nafas Arsya yang menerpa wajahnya.


"Jangan bergerak lagi..... aku sudah pernah merasakan dirimu, jadi diamlah sebentar." Wajah Dinar seketika bersemu merah, dia tahu pada saat itu dia dalam pengaruh obat dan Dinar yakin pada saat melakukannya dia menjadi wanita liar.


Arsya semakin mendekatkan wajahnya, Dinar menjadi salah tingkah dengan apa yang di lakukan Arsya. Matanya memperhatikan bibir indah Dinar, ingin rasanya dia mencium Dinar dalam kondisi sadar.


Arsya semakin mendekatkan bibirnya bahkan tubuh mereka juga sangat dekat dan kini menuju bibir indah Dinar, Dinar yang tahu jika Arsya akan mencium bibirnya dia menggerakan tangannya dan langsung menakup bibir nakal Arsya yang tinggal beberapa centi lagi akan menyatu dengan bibirnya.


Dinar dengan paksa mendorong tubuh Arsya dengan kuat, hingga tubuh Arsya sedikit menjauh dari tubuhnya.


"Hentaiiiiii......" teriak Dinar keras dan menggema di ruangan tersebut, untung saja ruang kerja Arsya kedap suara jadi tidak akan ada yang mendengar teriakan Dinar.


Arsya menutup telinganya karena teriakan Dinar mengiang di telinganya, dia mengerutkan kenignya dengan apa yang di ucapkan Dinar.


"Hentai....??" Arsya menjadi gagal mengerti dengan apa yang di ucapkan Dinar.


"Iya kau hentai.... mesummm.... apa yang kamu mau lakukan kepadaku hah?!." Dinar menyilangkan tangannya di dadanya.


Arsya pun tersadar dia pun paham bahwa dia hampir saja mencium bibir Dinar, Arsya pun mendekat, Dinar semakin mundur karena dia tak mau berdekatan dengan Arsya.


"Hey jangan mendekat.... menjauhlahh..... " usir Dinar.


"Heh apa kau bilang mesum.... aku tidak mesum." Arsya tidak Terima dengan apa yang di katakan Dinar.


"Iya kau hentai mesummm..... dasar angsa main sosor aja.... untung saja aku bisa menghindarinya." umpat Dinar, dengan segera dia pun keluar dari ruang kerja Arsya, dan berlari menuju kamarnya, karena dia takut Arsya akan melakukan hal yang lebih.


"Berhenti Dinar...... " teriak Arsya, nmau tidak dihiraukan olehnya. Arsya pun berfikir kenapa dia bisa melakukan hal itu tadi.

__ADS_1


"Apa yang kulakukan? kenapa aku jadi bernafsu... sial.... niat ingin membujuk dia agar mau menikah denganku.... malah jadi bernafsu..... " rutuknya, sebenarnya Arsya berniat membujuk tapi malah terjadi hal lain.


"Sial.... sial..... " Arsya terus mengumpati dirinya, entah setan dari mana yang membuat dia ingin mencium Dinar, dan itu sukses membuat dia malu. Bagaimana besok dia akan berbicara pada Dinar, pasti akan sangat memalukan jika mengingat tingkah bodohnya.


__ADS_2